Bab 10 negende

Gwen memberanikan dirinya menatapi Ghali yang berkali kali mencuri tatap ke arahnya. Gwen terlihat kesal. Sangat kesal tetapi Ghali seolah tidak peduli.
Benigno yang menatapi dua orang yang duduk di hadapannya itu tersenyum gemas, dia merasakan hatinya greget.
"Ya, ampun. Mereka benar-benar bikin kesel, buang waktu saja. Apa susahnya hanya sekedar buka kata saja," gerutu Benigno pelan dengan wajah bingung dan dahi mengernyit.
"Aduh, mereka ini sama-sama bodoh!" seru Benigno dalam hati dengan senyum masam.
Lalu ketika sesosok tubuh langsing berbalut dress biru tua, sambil memamerkan senyum cantiknya datang menghampiri.
Benigno segera menyungging senyum lebarnya dan sementara itu, Ghali bergeming. Wajahnya datar tanpa sedikit pun menatap gadis bermake up tebal itu.
"Si cantik sudah datang!" seru Benigno denger ceria dengan senyum lebarnya.
"Hei Ben, Hei Ghali. Ada apa kalian memintaku datang?" tanya wanita itu sambil duduk tenang di sebelah Benigno.
"Maretta, beautiful as always."
Sambutan Benigno riang sambil dengan ringan mendaratkan ciumannya di pipi gadis bernama Maretta yang tergelak mendapatkan perlakuan manis Benigno.
"Kau tidak ingin menciumku, Ghali?" tanya wanita itu sambil mengerling manja.
Gwen langsung menatap tajam wanita yang masih memamerkan senyuman cantiknya itu. Ghali pun tersenyum kecut.
"Ah, aku lupa. Hanya lelaki tampan satu ini yang tidak pernah mau menciumku," ucapnya tenang sambil kembali tergelak. Ghali mendengus kasar.
"Apa adik kecilku ini masih saja tak acuh dengan semua gadis. Ben, apa kau masih belum juga bisa membuatnya menjadi lelaki sejati?" tanya Maretta sambil menatap Ghali penuh ejekan.
Ghali menatap wanita itu galak sambil mendengus, lalu matanya melirik sedikit ke arah Gwen yang kini menatapnya lekat.
"Aku lelaki sejati, asal kau tahu saja," ketus Ghali. Maretta tergelak.
"Lelaki sejati yang tidak pernah berani mencium gadis," timpal Maretta sambil mencebik.
"Shut up!" geram Ghali.
Benigno tergelak. Gwen sendiri hanya terdiam, dia menatapi Ghali yang terlihat kesal. Gadis itu tanpa sadar pipinya merona merah. Mengingat ciuman Ghali waktu itu.
"Jadi, lelaki ketus ini belum pernah mencium gadis sebelumnya. Apa aku yang pertama?" tanya Gwen dalam hati. Pipinya yang sudah memerah terasa kian memanas.
"Sudah, kalian ini kakak beradik tapi tidak pernah akur. Ada yang harus kita bicarakan dan ini sangat penting. Kau harus tahu Maretta. Gadis yang duduk di sebelah adikmu yang kaku dan tidak pernah juga mencium gadis itu anak dari Wilhelmima..."
"Ya Tuhan, apa dia Gwen? The Queen kecil kita? Ya, ampun. Kau sudah besar dan sangat cantik. Mima, ibumu itu sahabatku dan kedua orang tua kami juga bersahabat. Oh my gosh, come to aunty."
Maretta memotong ucapan Benigno dan langsung saja beranjak menghampiri Gwen, lalu wanita itu pun langsung memeluk hangat tubuh Gwen yang seolah-olah membeku.
Ada tangis yang menghiasi mata bulat cantik milik Maretta, kesedihan begitu jelas tergambar di wajah wanita itu
Kemudian bibir wanita itu dengan begitu ringannya memberikan ciumannya di kedua pipi Gwen yang terlihat masih memerah.
"Akhirnya kita bertemu, sayang. Maaf aku terlambat menemuimu. Tugasku banyak. Aku mendengar kau dalam pengawasan Giorgino, adikku itu dan Athalla tunangannya tapi mereka pun harus bernasib sama seperti kedua orang tuamu," tutur Maretta dengan nada bergetar sedih.
"Aku rasa dendamnya Vallidas tidak akan pernah hilang sebelum dia mendapatkanmu," ucap Maretta lembut yang membuat Gwen mengerutkan dahinya.
Gwen semakin bingung dengan keadaannya saat ini. Hidupnya seolah-olah berubah dalam kurun waktu hampir satu tahun ini.
"Entahlah, aku tidak mengerti!" seru hati Gwen resah.
Tepatnya semenjak kaki gadis itu mulai melangkah memasuki perusahaan tempatnya bekerja yang begitu mudah menerimanya.
Terkadang memang gadis itu merasa sedikit aneh. Dia yang hanya lulusan sekolah menengah atas bisa diterima bekerja di perusahaan besar tanpa tes yang rumit.
Gwen menghembuskan napas beratnya. Dia jadi merasa pusing, dia merasa aneh dengan hidup yang saat ini dijalaninya.
"Ya, Tuhan. Aku merasa bingung dan tak tahu harus bagaimana dan apa yang harus aku lakukan?" batin Gwen mengeluh antara sedih dan bingung.
"Aku tahu, kau pasti bertanya tanya tentang semua ini bukan? aku yakin Beni dan juga adikku itu belum bercerita banyak tapi jangan takut sayangku. Kami akan selalu melindungimu," ucap Maretta lembut.
"Vallidas memang terlalu sulit untuk kita kalahkan. Pemerintah ini seolah berpihak kepadanya dan dia tetaplah menjadi manusia bersih dan juga teramat dikagumi," lanjutnya lagi.
"Dia itu pemilik saham terbesar dan penyumbang donasi kebutuhan alat-alat kesehatan di negeri ini. Tidak ada seorang pun yang mau bersuara dengan semua kejahatan yang telah dilakukannya. Mereka terlalu takut," ucap Maretta seolah menerawang. Mata bulatnya lurus menatap ke depan.
"Ayah dan ibumu yang saat itu begitu beraninya membongkar siapa Vallidas harus rela kehilangan nyawa mereka."
Maretta menatap Gwen dengan berurai air mata dan mengusap lembut pipinya, gadis itu tanpa sadar juga mengurai air matanya walaupun dia belum sepenuhnya mengerti.
"Meninggalkan putri kecilnya yang cantik dalam asuhan pelayannya. Membuat putri kesayangan mereka tidak mengenalnya dan hidup dalam keadaan susah," tutur Maretta lagi dengan suara tercekat.
Maretta merengkuh tubuh ringkih Gwen yang mulai terisak. Membelai sayang kepalanya dan menciumi sisi wajahnya.
"Mima, lihatlah. Putrimu begitu cantik dan hebat. Dia gadis yang berani. Aku berjanji, aku akan selalu menjaganya," ucap Maretta lembut dan juga penuh kasih.
Wanita itu kembali mengusap kepala Gwen sambil dia mengguar pelukannya, lalu dia menatap wajah Gwen penuh rasa sayang.
"Kau tidak lagi sendiri, Gwen. Kau punya kami dan tidak usah canggung atau juga merasa malu untuk meminta bantuan," ucapnya di hadapan Gwen yang terlihat mengangguk.
"Tersenyumlah, cantik. Kau adalah Queen kami tersayang, kau adalah bukti cinta kasih sahabat kami. Tersenyumlah!" pinta Maretta sambil tangan wanita itu menepuk-nepuk pelan pipi Gwen.
Gwen menatap wanita cantik di depannya, lalu dia mulai memunculkan senyumnya secara perlahan dan menambah cantik wajahnya, Maretta begitu senang menatapnya
Kemudian mata bulat Maretta pun beralih menatap Ghali yang seolah-olah tak peduli akan tatapannya, lelaki itu santai saja seakan-akan tidak sadar akan keadaan sekitarnya.
"Ghali, tidakkah kau melihat. Gadis ini begitu cantik. Sangat cantik. Walaupun memang terlalu muda untukmu tapi aku merasa yakin, Mima tidak akan keberatan jika kau mencintainya," tutur Maretta dengan senyum, wanita itu sepertinya sengaja menggoda Ghali.
"Ghali, apa kau mendengar ucapanku? Tidakkah kau tertarik pada gadis cantik ini?"
Maretta menatap Ghali yang terlihat salah tingkah. Lelaki itu membuang tatapnya sembarang. Benigno tergelak melihatnya dan sembarut merah kembali mewarnai wajah cantik Gwen.

Komentar Buku (72)

  • avatar
    Nurhayeni 03

    sangat bagus aku suka

    06/03

      0
  • avatar
    Autumn Autumn

    sangat sangat bagus

    05/10/2025

      0
  • avatar
    AlpariskiAbil

    wow amazing👍

    15/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru