logo text

Bab 8 Kejahilan Jonathan

Saat tiba di rumah Tante Mira, aku langsung menuju ke kamar sepupuku Rio yang sejak tadi bicara terus saja, meskipun sudah kutinggalkan dia, dasar si Rio kalau bicara tidak bisa direm kayak mobil rem blong.
Kupandangi wajah di cermin, kenapa jadi begini? Kok, bisa kesel sendiri, sih! Jonathan bukan siapa-siapa di kehidupanku. Stop, Rara jalanin hidup seperti biasa! batinku.
Kubersihkan wajah dan menganti pakaian, lalu beristirahat di atas ranjang.
Entah, sudah berapa lama aku tertidur hingga saat suara azan menggema baru terbangun. Kucari handphone di brangkas meja, waktu menunjukkan pukul 18.30 sudah Magrib. Aku segera melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Perutku sudah demo minta diisi setelah merapikan mukenah dan sajadah lalu turun tangga.
Ada Oma dan Opa di ruang keluarga aku pun ikut duduk bersama mereka.
“Gimana keadaanmu, Rara?” tanya Oma sambil memandangiku.
“Alhamdulillah sudah enakan Oma.” Rio dan Fery adiknya datang berdiri di samping Oma.
“Mbak Rara itu enakan apanya? Tubuhnya apa suasana hatinya yang terbakar cemburu seharian lihat Jonathan gandengan dengan cewek cantik!” selidik Fery. Jika bukan statusnya sepupuku, sudah kusumpal mulutnya dengan kaus kaki, lalu aku lempar badan berisinya itu ke Zimbabwe.
“Oma, Opa, kalau Mama nanya bilangin, kami pergi ke minimarket depan mau beli cemilan!” Rio duduk di antara Oma dan Opa, lalu dia berdiri di dekat Fery.
“Fer lihat mata Mbak Rara, kayak mata elang mau menerkammu. Yuk, kabur!” Rio menarik tangan adiknya. Mereka pun keluar meninggalkan kami. Aku asik bercengkrama bercerita dan bercanda dengan Opa dan Oma.
Tante Mira dan Tante Dira menghampiri kami. “Mama, Papa, makan malam sudah siap. Ayo kita makan dulu, yuk ikut, Ra.” Kami berempat pun menuju ruang makan.
Di sana sudah berkumpul semua anggota, Rio dan Fery pun sudah pulang. Pengantin baru Tia dan Topan baru datang duduk di depan Tante Mira.
“Ciye, pengantin baru, ayo makan malam dulu,” goda Om Gery.
“Kalian makan yang banyak jaga kesehatan, ya. Ngundo mantu besok di rumah Topan biar tubuh kalian tidak ngedrop.” Tante Yuan memberikan piring ke Tia dan Topan.
“Ngundo mandu itu acara apa Tante Yuan? Apa sama seperti pesta pernikahan diadakan di rumah pengantin lelakinya yang membawa menantu wanita?” tanyaku.
“Iya bener Ra, besok diadakannya di rumah Topan. Kamu juga jaga kesehatan Ra, tadi kamu pulang mendadak karena sakit buat panik kami semua. Untung sudah pulang ke rumah di anter Rio.” Tante Mira melirikku.
Setelah makan malam bersama aku kembali ke kamar untuk beristirahat.
**
Langit sudah terang menyingkap selimut malam, kini matahari mulai bergelinding. Kami sarapan pagi bersama, lalu berpakaian seragam pesta dengan rapi. Para tim hias sedang bertugas menghias semua keluarga besar Tante Mira dan Om Farhan. Aku di kamar sibuk mencari sepatu liken yang kemarin kulempar karena melampiaskan rasa kesal dengan Jonathan.
“Waduh ... Sepatu liken kemana kamu? Semua gara-gara kesel sama Jonathan ini kemaren jadi melempar itu sepatu liken kesayangan ku,” ucapku mengomel sambil mencari setiap sudut kamar tidur.
“Ayo kita berangkat, Ra. Cepat turun! kami tunggu yang lain sudah berangkat.“ Tante Dira berteriak dari ruang bawah.
Aku mencari itu sepatu sampai masuk kolom ranjang, jidatku terbentur dengan kayu jati ranjang. Aku berkaca jidat ini sudah dihiasin benjol kayak kelereng. “Ah ....!”
Kutelepon Tante Dira. “Halo, Tante Dira pergi duluan aja, ya. Rara mules mau ke toilet dulu.”
[Ya sudah Rara nanti dijemput Rio, ya. Kamu tunggu aja di bawah nanti. Tante Dira berangkat, ya.]
Kudengar suara mobil yang digunakan Tante Dira sudah keluar dari halaman rumah Tante Mira.
Kucoba menutup benjol merah itu di jidat dengan bedak padat. Kok, terlihat lucu kayak badut ya? Ahhh ....! Aku pasrah setelah lelah mencari sepatu liken tidak ketemu, jidat pun dihiasin benjol.
Terdengar ada seseorang mengetuk pintu kamarku, Siapal?” tanyaku.
“Jonathan, tolong dibuka Ra. Saya diminta Tante Dira jemput kamu. Rara buruan keluar!” teriaknya.
Ini benar ya lelaki nyebelin. Sepatu liken hilang karena melampiaskan kesel kemarin lihat dia yang bergandengan dengan cewek lain, ngetuk pintu kayak collector aja mau nangih hutang maksa dibukain. Uhh ... Nyebelin!
Kubiarkan Jonathan ngomel di balik pintu, rasain lu Jonathan biar bibir dower itu ngomel terus.” Aku merasa senang sudah membalasnya.
Kok, hening? Tidak ada suara Jonathan ngomel lagi. Hmm ... Pergi kemana itu lelaki tengil? Begitu saja kekuatan dia minta aku keluar? Kubuka perlahan pintu kamar, Jonathan sudah tidak ada lagi, bahkan di bawah tangga pun sudah kucek.
“Syukur deh kalau dia sudah pergi ke rumah Topan,” ucapku masuk kamar lalu mengunci pintu. Saat berbalik tubuh menghadap kamar bertapa terkejutnya aku melihat kain putih bergerak-gerak di hadapanku.
Kain itu bergerak di hadapanku lalu berkata, “Rara ... “
“Pergi kamu Jin! Dagingku pahit tidak enak, sana menjauhlah!” Aku menutup mata lalu berlari meraih handle pintu, eeeh ... Kunci kamar malah terjatuh di lantai. Sial banget sih kamu Rara.
Tidak ada jalan keluar lagi kain putih itu terus mendekatiku.
“Tolong ... “Aku menutupi mata dengan kedua tangan.
“Rara kamu bisa lawan itu Jin! Mama sudah mengajarkan surat dan doa untuk mengusir Jin 'kan!”
Kubuka mata ini. “Hei kamu Jin sini kalau berani.” Saat kain putih itu mendekat aku malah tersandung menindih kain yang bergerak-gerak itu di atas lantai.
“Kok, aku merasa menindih tubuh manusia, ya?” Kubuka kain itu pelahan.
“Jonathan!” ucapku kesal. Kupukulin dia karena sudah menjahili diriku.
“Hentikan Rara, sakit tahu!” ucapnya memandangiku. Aku pun menghentikan pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan ke tubuhnya.
“Maaf, kamu sih jahil nakutin aku, pura-pura jadi Jin gangguin,” celaku.
“Maaf Rara aku sudah jahilin kamu, habis kamu tidak mau buka pintu, sih. Jadi aku lewat blakon aja.” Jonathan berdiri merapikan pakaiannya.
Tangannya diulurkan untuk membantu aku bangkit dari lantai. Kutolak soalnya masih kesal dengan Joni -Jonathan tengil-
Aku berusaha bangkit sendiri malah terpleset menimpa tubuhnya lagi, hingga mata kami saling pandang. Kenapa jantung ini berdebar kencang, ya? Uhh...
“Oi...! Mau berapa lama lagi menimpa tubuhku, Rara! Kamu gendut banyak makan tahu,” ucapnya melotot ke arahku. Aku yang tadi terpaku segera berdiri menjauh darinya.
“Kamu kenapa buka pintu lama, Rara?” tanyanya duduk di sofa.
“Aku lagi cari sepatu liken sudah bolak-balik tidak ketemu,“ ucapku menjelaskan kepadanya.
“Itu sepatu liken kamu nyangkut di dinding kamar.” Jonathan menunjuk sepatu liken yang tergantung di paku dinding kamar.
“Iya itu sepatuku,” ucapku meloncat tidak bisa juga mengambilnya.
“Otak itu digunakan dong, Rara. Kamu mau loncat terus tidak bakalan itu sepatu liken jatuh ke bawah! Sini, Rara berdiri di atas kursi!” Tanganku ditarik Jonathan ke kursi yang sudah disiapkannya.
Aku pun bisa mengambilnya, Jonathan duduk nyongkok lalu memakaikan sepatu liken ke kakiku.
“Tidak perlu aku bisa sendiri, kok.” Aku merebut sepatu liken yang ada di tangan Jonathan.
“Biar aku saja kamu itu lelet kayak keong, Rara. Sudah jam berapa ini keluarga Tante Mira dan Tante Indri menunggu kita di sana,” ucap Jonathan sambil memakaikan aku sepatu liken.
Aduh, jantungku jadi berdebar kencang lagi. Tolong Mama aku tidak kuat dengan perasaan ini. Uhk! Sadar Rara, dia itu sudah punya pacar. Jangan baper deh, Rara. batinku bergerutu sendiri

Komentar Buku (59)

  • avatar
    NiariMelisya

    sangat menarik

    18/03/2025

      0
  • avatar
    apa aja dah

    sangat menarik

    20/10/2024

      0
  • avatar
    Ngendok fc

    seru

    24/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru