Aku jadi mules lihat dua bocah ini kasmaran cinta, kurang asem dah! Gas kentut pun tidak bisa diaba-abakan keluar saja. Untung tidak ada orang di belakangku, kasihan dia pinsan entar mencium aroma terapi dari tubuhku. Berusaha bertahan di padang cinta mereka. Syukurlah, akhirnya obrolan memuakkan ini berakhir. Kalau tidak, tanganku yang sudah gatal bakal nyekek mereka berdua dan mungkin bakal muntah betulan. Butik pertama yang kami datangi hanya berjarak beberapa langkah kaki dari Restoran Bebek Tepi Sawah. Papan namanya terlihat merah menyala. H&M. Saat kaki kami baru melangkah masuk tiga kali, seorang pramuniaga cantik memberi sapaan ramah. “Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?” “Saya mencari setelan blazer untuk dia.” Bang Tomi yang menjawab. “Bisa tolong diantarkan?” “Mari, ikuti saya!” Wanita tadi menunjuk dengan sopan ke arah deretan rak di sebelah kanannya. Senyumnya masih menetap. Kami mengekor. Sekilas melihat tangan Bang Tomi dilingkarkan ke pinggang krempeng Loli kayak papan pengilasan ikan, saat mereka berjalan. Ah, sialan. Seharusnya aku tidak ikut. Untuk mendinginkan kepala yang mendidih karena melihat pemandangan menjengkelkan, aku selancaran di dunia maya. Mencari medsos Dokter Ferdian dan Dokter Jonathan, masih kepo aja bagaimana nasib mereka kutinggal? “Rara, ayo!” Panggilan Loli membuatkj mendongak. Wajahnya bersemburat rona merah. Air mukanya begitu ceria. Dan tangannya … duilah, pegang tangan terus, kayak takut ilang aja. Sembari mengikuti langkah Loli, aku selancaran dulu ke sosial media. “Ra, jangan berjalan sambil bermain ponsel. Nanti kamu menabrak orang lain.” Loli menegurku. Suaranya tegas tetapi lembut. “Simpan dulu ponselnya." Aku pun menyimpan handphone ke tas. Selepas dari H&M, kami masuk ke Mango. Di sana Loli dan Kak Tomi berjalan ke deretan rak yang menggantung koleksi kardigan. Loli terlihat bahagia ketika dibantu Bang Tomi memilih motif dan warna. Wajahnya berlumur tawa. Sementara aku nelangsa karena jadi obat nyamuk. Di kursi di pojok toko, aku mengempaskan diri dan menatap kosong ke arah Loli dan Bang Tomi. Situasi ini seperti viagra yang membangkitkan birahi khayal. Jika seandainya yang di samping mereka ada Om dan Tante orang tuanya si Loli tidak akan ada adegan bergandengan tangan saat berjalan. Tidak akan ada juga sketsa roman picisan seperti yang saat ini dipertontonkan oleh mereka. Bang Tomi mengusap wajah Loli dan lengan Bang Tomi disandari Loli kepala . Sungguh memuakkan! Tiba-tiba aku merasa dicekam gelisah mahahebat. Pada detik yang sama, aku merasakan nada pilu masuk ke dalam batin. Perasaan inikah yang dirasakan para jomblo ngenes kayak gue? Sialan! Seharusnya tidak pernah memegang janji kepada Mama dan Papa si Loli, jadi aku harus ikut ngawal si Loli. “Ra!” Suara nyaring Loli pecah tepat di samping telingaku “Ayo, kita jalan lagi!” Aku menarik napas panjang sebelum bangkit dari kursi. Rasanya tungkai kaki sudah malas untuk digerakkan. Tapi, aku tidak berani protes karena memegang penuh amanah ke Om Bambang papanya Loli, biar amanah, biarkan mereka tertawa dulu sesaat. Jadi, aku hanya bisa pasrah bagai kerbau yang dicucuk hidung. Di belakang Bang Tomi dan Loli, langkah kaki membawa masuk tubuh yang sudah lelah ke Giordano. Di sana Bang Tomi membeli tiga lembar kemeja dan dua potong pantalon untuk kuliah sedangkan Loli dibelikan lagi dua setel blazer. Lalu, Charles & Keith menjadi pemberhentian selanjutnya. Di sana Bang Tomi membayar belanjaan Loli berupa tas selempang. Selanjutnya … entahlah, aku sudah muak mengikuti mereka. Rasanya ingin segera mengakhiri acara gesek kartu debit Bang Tomi. Sinyal di otakku mulai kusut dan ruwet. Kepalaku mendengung dan mengapung. Tenaga Bang Tomi dan Loli krempeng setara badak ujungkulon saat mengelilingi mal, sedangkan tenaga dan perasaan kuhabis bagai darah disedot drakula. Tubuh reot karena ngekor mereka selama hampir empat jam. Energi aku hanya tersisa sebanyak upil kuda nil. Bunyi napas terdengar seperti suara penderitaan yang nelangsa. Aku kesulitan mengumpulkan suplai oksigen untuk mengisi paru-paru hingga serasa bengek mendadak. Kedua tangan Bang Tomi dan Loli sudah digandoli tas belanjaan. Masing-masing membawa dua sampai tiga kantong yang berlabel merek ternama. Di tangan Loli, Loli berubah menjadi maniak belanja cewek matre. “Loli, aku capek.” Akhirnya mulut ini berani bersuara saat Bang Tomi dan Loli hendak masuk ke gerai selanjutnya. “Pulang, yuk!” Loli melirik Bang Tomi yang kemudian memberi anggukan, lalu kembali menatapku. Dia tersenyum. “Baiklah. Maaf, ya, sudah membuat kamu lelah, Ra,” ucap Loli. Aku tidak memberi tanggapan. Langkah sudah terseok-seok. Jika sudah sampai kos, ingin rebahan dan mengistirahatkan semua isi ototku Otak pun perlu butuh istirahat dari kemumetan di hadapan ku. Pukul 16.00 kami sampai di kos, Loli masih beradegan mesra di depan sana. mengantar kekasihnya pulang. Aku berlalu pergi ke kamar, capek hati pikiranku. Ya, Tuhan! kapan alu dapat cinta sejati, mana lelaki buat jatahku, pengen maksa kagak bisa! Kasihan kagak ada apa yang mau samaku. Depan cermin aku berkaca, tampangku kagak jelek-jelek amat, sih! Apa semua lelaki semua buta, yak? doyan ma tipe kayak Loli. Nasib, aku apes kalau berhubungan dengan dunia percintaan. Kagak beruntung kayakku jadi anak emas Mama di rumah. *** Selama ngekos sudah empat hari gak begitu perhatian sama penghuni kos yang lain. Selain sombong, kegiatan di meneliti daun ashabata untuk menjadi menu makanan dan minum di Restoran Rasenja. Yang lain ribut soal ada yang diam-diam kumpul kebo, aku diam. Yang lain ribut soal sepatu dan baju yang tetiba raib, aku diam. Yang lain ribut soal air yang sering gak ngucur, ya gak mandi. Santuy aku mah. Sampai akhirnya dipertemukan dengan Ekong Dahlan yang sukses bikin hidupku gak lagi santuy. Gak lagi apatis. Sisi keperawanan eh kemanusiaan ku tersentuh oleh nasib Bapak Kos yang lebih cocok dipanggil Ekong minta dipanggil sama anak kostan - Mas Dahlan- Suka-suka kelen aja, lah. Atur-atur. Soalnya, di usianya yang sudah masuk tujuh puluh tahun, beliau hidup sendiri di rumah kos yang memiliki belasan kamar. Bersyukur toiletnya leher angsa semua. Bukan sok, tapi untuk meminimalisir bokongku disundul si tikus got yang nyusup ke lubang kloset saat aku dalam mode 'busy'. Meskipun tampak hidup bergelimang harta, tapi makan dan minumnya sering bikin pengen elus dada. Beberapa kali aku mergokin Si Ekong Dahlan makan nasi dingin cenderung keras. Lauk pun sangat tidak sepadan dengan harga setiap kamar yang beliau sewakan. Sangat sederhana. Beliau bilang, "Sudah biasa, Neng." "Bi, itu Si Ekong Dahlan kenapa makannya gitu amat, sih? Kasian. Anak istrinya ke mana?" tanyaku ke Bi Surti saat dia ngasihin baju yang telah disetrika. Bi Sutri adalah seorang ART di kosan yang datang pagi pulang sore. Sesekali dia juga menerima jasa laundry. "Begitulah, Neng. Sudah biasa," jawabnya datar. Kemudian pergi tanpa penjelasan berarti. Aku berdecak kesal. Dalam hati, aku mensyukuri Si Bapak memiliki fisik yang kuat dan bugar. Gimana tidak? Saat aku minta dipanggilin tukang buat benerin genteng kamar yang geser sekalian pindahin posisi lemari kayu yang berat, Si Ekong Dahlan malah bilang, "Gitu doang mah saya juga bisa." Gayanya seperti superhero. Dan bener, saat itu juga Si Ekong Dahlan ngambil tangga dan naek genteng. Selama Si Ekong di atas, jujur aku ketar ketir. Takut beliau jatuh atau meninggal di sana. Secara udah sepuh banget kan, yes? Untungnya beliau sangat baik-baik saja. Berhasil benerin genteng, Si Ekong lanjut geserin lemariku seorang diri. "Saya bantu sebelah sini ya, Pak? Berat banget ini." "Gak usah, kamu perempuan. Biar saya saja! Saya kan dulu tentara," ucapnya bangga sambil tersenyum memperlihatkan gusinya yang gundul. Nyes .... Gue jadi kagum ma si Ekong Dahlan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
18/03/2025
0sangat menarik
20/10/2024
0seru
24/09/2024
0Lihat Semua