Aku ketiduran terlalu lama, hingga suara azan magrib sudah lewat. Saat kulihat jam di dinding kamar tamu pukul 19.15, bergegas untuk mengambil wudu, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim salat Magrib dan diteruskan salat Isya setelah azan isya berkumandang. Aku membersihkan diri lalu bersiap turun tangga. Kudengar suara ramai di bawah, acara pemuda-pemudi membaur bersama dalam acara lempar selendang dari adat Kota Lampung dari daerah suaminya Tante Mira yang dibuat modern. Acara pelepasan status si mempelai ini memberikan warna tersendiri menumbuhkan keakraban bagi keluarga besar kami dan keluarga besar besan Tante Mira, ada teman kantor Topan dan Tia pun ikut meramaikan acara ini. Aku menggunakan gamis berwarna coklat muda dipadukan dengan jilbab coklat tua. Saat aku turun tangga sudah banyak tamu yang hadir. Mereka sudah berkumpul berbaris para pemuda dan pemudinya, di bagian sebelah kiri para lelaki dan para perempuan sebelah kanan. Situasi rumah Tante Mira sangat ramai sekali aku takut latah ini kumat, lebih balik bersembunyi saja saat acara selesai baru ke sana. Kulihat Tia sedang sibuk berbicara dengan para tamu, kesempatan ini tidak ingin dilewatkan, bergegas menuju dapur untuk duduk di sana saja, saat sampai di dapur ada Tante Mira dan Tante Dira yang sibuk mempersiapkan jamuan buat tamu, pekerjaannya dibantu banyak asisten dapur. Aku batalkan masuk ke sana, sebelum mereka melihat, aku berusaha lari menuju ke taman. Saat melangkah ke taman, Rio anak Tante Yuan menepuk pundakku. “Kamu, mau pergi ke mana Ra? Di dalam banyak tamu kok malah keluar, sih. Ayo ikut acara pemuda pemudi lempar selendang, itu mau dimulai,” ucapnya, sambil menarik tanganku, masuk ke ruang acara. Aku bisa apa saat semua sudah melihat kedatangan kami, kulihat di sudut sana di beberapa lelaki sedang berdiri. Di barisan mereka ada sosok lelaki tidak asing pernah kulihat. “Ups, itu lelaki sok baik dan sok perhatian yang membuat aku malu saat di kapal! Ternyata itu bukan mimpi, saat aku bangun pasti dia sudah pergi. Oh, No! Kenapa harus bertemu lagi, sih!" ucapku lirih, sambil menutup wajah ini dengan tangan, agar tidak dilihatnya. Tia sepupuku malah menarik tangan ini, untuk berbaris berdiri di antara para wanita single di sebelah kiri. Setelah semua sudah berbaris aku terus menutupi wajah ini, menggunakan tangan dan tubuh wanita yang berdiri di depanku dari lelaki genit itu. Pembawa acara memperkenalkan diri mereka Indri dan Doni, lalu mereka membacakan peraturan lempar selendang. Jika saat musik berhenti selendang di posisi wanita, maka pasangan yang menari tadi harus dihukum bernyanyi bersama. “Waduh, kenapa aku terjebak di kondisi seperti ini.” Kulihat, lelaki itu mengedipkan mata kirinya ke arah diri ini, sambil tersenyum dia mengeluarkan lengsung pipi kiri dan kanannya. Musik pun diputar lagu menikahimu, dinyanyikan oleh penyanyi Kahitna mengiringi saat selendang sudah ditarik oleh Topan dan Tia, lalu diteruskan ke Orbet sepupuku menuju ke wanita di barisan dua di depanku. Kulihat, barisan Rio memberi kode, agar dia memilih untuk mengalungkan selendang itu untukku. “Amit-amit dah jangan sampai ya, Allah, lelaki genit itu harus mengalungkan selendang itu di leherku. Jangan sampai juga harus menari bersamanya,” ucapku lirih. Saat orang yang di depan Rio mengalungkan ke leher wanita di depanku, Rio sepupuku itu malah izin dengan Tia keluar barisan. Saat kuberi isyarat Rio menjawab, “Ingin pergi ke toilet.” Semoga musiknya segera berhenti saat giliran lelaki tengil itu. Uhk. Rio belum juga keluar dari toilet padahal keadaan sudah genting. Musik kini berputar lagu A Whole New World dari penyanyi Paebo Bryson dan Regina Belle ini menghidupkan suasana romantis. Selendang itu sudah di tangan lelaki tengil yang bertemu dengan diriku saat di kapal waktu lalu, dia berjalan menuju ke arah depan melemparkan selendang di leherku dengan terpaksa ikut maju ke depan untuk menari bersamanya. Kulihat sorot mata itu punya magnet tersendiri, terhipnotis larut dalam suasana. “It's crystal clear that now I'm in a whole new world with you.” Dia menari sambil bernyanyi. “Don't you dare close your eyes.” Dia menutup mataku dengan telapak tangannya, lalu membukanya. Jari tangannya kini menujuk ke sekeliling kami. “A hundred thousand things to see.“ Aku seperti berada di hamparan taman bunga yang sangat indah hanya berdua dengannya, di bawah langit yang penuh bintang, menari bersama. Saat musik terhenti, aku baru sadar berada di acara sepupuku lempar selendang, Semua bertepuk tangan dengan tarian kami. “Kamu, sangat cantik malam ini, teruslah tersenyum seperti tadi,” ucapnya berbisik di telingaku. Kami pun dihukum berdua harus bernyanyi bersama. Aku mau tidak mau didorong sepupuku Tia untuk maju. Lagi dan lagi aku di posisi tidak enakan untuk menolak. “Waduh ....“ Aku menutup mata, sebelum maju ke depan untuk bernyanyi dengannya. Dia mengulurkan tangan seperti aku tuan putri yang dia layani, aku tetap menolak uluran tangannya. Pergi saja meninggalkannya. Kami pun berjalan bersama ke depan. “Kita nyanyi, apa, Ra?” tanyanya tersenyum, melihatkan deretan gigi putihnya. “Terserah, kamu saja mau apa,” ucapku ketus. “Lagu Vidi dan Andien judul hingga nanti, Mas.” Lelaki tengil itu berkata kepada pemain brand. "Kamu hapalkan lagunya, Ra?" bisiknya ke telingaku. Musik pun mulai mengiringi lelaki tengil itu. “Kau berikan arti saat kutuliskan namamu di hati, tak akan kusesali. Dirimu hadir dan menjadi Detak di jantungku.” Kulihat dia begitu menghayati lagunya bernyanyi di depan banyak orang Aku sejak tadi hanya diam merasa tidak percaya diri, dia yang senantiasa bergerak aktif ke sebelah ke kiri dan kananku. Lagu ini masih panjang lagi musiknya, akhirnya giliran aku pun bernyanyi. Saat kami terhanyut bersama dengan lantunan musik. Perutku mules. “Gawat ini aku harus segera pergi," ucapku lirih. Bagai putri cinderela, versiku cinderela melarikan diri karena mau keluarkan gas di dalam tubuh. Semua bertepuk tangan, setelah kami bernyanyi, acara lempar selendang pun selesai. Saat makan dan minum bersama aku berlari bergegas menghilang dari keramaian, sebelum latahku kumat dan perutku yang mules mengeluarkan gas. Saat di dekat tangga mau naik, aku terkejut ada suara balon pecah yang merupakan bagian hiasan dekorasi acara lempar selendang malam ini. “Balon pecahnya pecah dor.. Dor.. Dor .... “Aku terkejut, latah ini pun keluar begitu saja kuucapkan, hingga tubuh ini tidak seimbang naik ke tangga bagian ke anak tangga. Jonathan menangkap tubuhku yang terjatuh. Rio sepupuku tertawa, diikutin oleh para tamu. “Latah kamu lucu, Ra! “Orbet terpingkal-pingkal tertawa sampai celanannya melorot. Orbet yang tubuhnya kurus bergaya memakai jeans Rio yang bertubuh atletis, membuatnya mengikat celana menggunakan ikatan tali. Tadinya, dia ingin terlihat kece jadi harus menahan malu, itu kualat menertawa aku sepupunya. Semua tamu tertawa melihat adegan itu. Orbet segera pergi menjauhi keramaian. Lelaki tengil itu masih menggendong tubuhku, aku sejak tadi menahan kentut dengan terpaksa mengeluarkannya, saat tubuhku digendong lelaki tengil itu. Aroma dari kandungan hidrogen sulfida, sulfur, dan zat merkaptan keluar menyengat hidung. “Kamu tidak apa-apa ‘kan, Ra? Kok bau apa ini, ya, Ra?” tanya lelaki tengil itu. Aku malu ingin berkata itu kentut yang tidak sengaja harus kekeluarkan, aku menahan kentut saat tadi kami bernyanyi. “Bodo amat sana pergi! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, ya.” Aku mendorong tubuhnya agar berhenti menahan tubuhku. Aku berlari naik tangga menuju ke kamar sambil ketawa puas. Rasain kamu lelaki tengil kentutku bau ‘kan? “Oh, jadi tadi kamu kentutin aku, ya, Ra?” Langkahku terhenti, mendengar lelaki tengil itu sudah di belakangku. Kulihat ekspresinya menahan kesal, “Sini kamu Ra.” Dia dengan muka menakutkan, seperti mata Elang seakan siap menerkamku. “Matilah kamu, Ra,” ucapku lirih ketahuan. Aku pun berjalan menujunya. "Ayo mendekat ke sini, Ra!” teriaknya. Aku diam tidak mampu berkata-kata, tanganku langsung ditariknya. “Aduh, aku celaka mau diapain ini?” ucapku bergumam. “Wek ... Bau sekali apa ini?” tanyaku meliriknya. “Kamu ini, Ra. Jangan 'kan bilang terima kasih kepadaku, sudah menolongmu agar tidak jatuh dari tangga. Eeh ... Malah kentutin aku. Sekarang, kita deal, ya, Ra!” ucapnya tertawa sambil mengarah turun ke tangga. “Ah ... Dasar cowok tengil awas aja entar kalau kita ketemu lagi, aku balas!" Aku bergegas masuk kamar, menuju kamar mandi untuk mandi lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
18/03/2025
0sangat menarik
20/10/2024
0seru
24/09/2024
0Lihat Semua