logo text

Bab 29 Menghapus Jejak Jonathan

“Aku juga Jelita, ini kesannya elegant tidak glamour. Kamu pintar memilih, Ra” puji Tante Citra.
Dia tidak tahu kalau di balik wajahku tersenyum, aku pengen mencakarnya karena cemburu. Kalau tidak ingat dengan itu dosa sudah habis tubuh Tante Citra kuserang.
Aku tersadar kenapa harus marah dan kesal? Apa hubungannya Jonathan denganku? Tidak pantas aku untuk kesal apalagi marah, baik pada Tante Citra maupun Jonathan.
Sampai sore Tante Citra di rumah, dia tidak bosen kalau main ke rumah ini.
Aku pengen angkut ini rumah pindah saja ke pinggir pantai atau tempat terpencil jauh dari rumah Jonathan.
Mendengar kabar dari Tante Citra, Jonathan ingin melamar seorang wanita. Hati ini remuk sedih harapanku kini musnah, beruntung wanita itu dipilih Jonathan. Jonathan orangnya baik dan bertangung jawab, kukemas barang besok pukul 07.00 pagi aku berangkat ke bandara. Dengan kepergian ini aku berharap sedikit menghilangkan kekecewaan hati.
Suara azan bersautan antar masjid satu dengan yang lainnya, aku sudah membersihkan tubuh dan menunaikan kewajiban ibadah kepada Sang Pencipta. Pagi pukul 06.00 aku sudah sarapan, diantar oleh Mama ke bandara.
Pukul 06.30 aku sudah check in. Pesawat Garudaku berangkat Pukul 07.00 lima jam perjalanan naik pesawat, berhenti pesawat di Bandara Internasional Airports.
Untuk menuju Lombok Timur aku menaiki mobil damri dari fasilitas aplikasi perhotelan yang kupesan. Butuh waktu satu jam tiga puluh menit perjalanan dari Lombok tentgah ke Lombok tim Timur, aku memilih Villa Rinjai.
Sesampai di sana Mama menghubungiku, aku pun menerima telepon karena sinyal jelek ada angin topan jadi terputus.
Aku pun hanya bisa beristirahat di villa, besok pagi akan berjalan ke perkebunan teh ashitaba.
Setelah angin topan di Lombok Timur, hujan deras kini menguyur daerah ini. Aku hanya bisa berkuliner dengan makanan khas Lombok, kupesan lewat fasilitas Villa Rinjani. Tiga puluh menit kemudian pesanan sudah diantar ke kamarku.
Ada ayam taliwang, plecing kangkung, sate pucut, makanan yang kaya rempah, kunikmatin setiap sendoknya.
Benar kata orang memasak dan makan itu pelampiasan paling baik buat hati kita yang galau, aku tidak tahu sekarang Jonathan lagi apa? Mungkin bersiap melamar pujaan hatinya.
Aku hanya mampu berdoa agar pernikahan mereka berjalan dengan baik, ketika aku pulang ke Pangkal Pinang, Jonathan sudah bahagia dengan pilihannya.
Begini mungkin akhir sebuah cintaku, lebih baik aku menghindar daripada di posisi tengah tersenyum di antara mereka, aku tidaklah sekuat itu. Memasang wajah penuh drama, hidup apa adanya, hati dan pikiran akan bahagia.
Aku berusaha ikhlas apapun takdir cinta yang kujalani.
Suara azan mengema meskipun di daerah sini beragam kepercayaan para penduduk, tapi semua hidup dengan damai.
Setelah salat aku membuka jendela villa, udara sejuk memasukin cela jendela, hujan masih terlihat jelas jejaknya di dedaunan yang basah.
Tanah yang diguyur hujan memberikan aroma nikmat berpadu dengan pepohonan buah yang masak di sekitar Villa Rinjani.
Saat sarapan ku di antar oleh pramusaji, aku mau meminta tukang pemandu wisata, tetapi banyak yang off pertugasnya. Aku pun memutuskan pergi sendiri ke perkebunan budidaya teh ashitaba.
Persiapan di tas ransel berisi perlengkapan sepanjang perjalanan, jaraknya dari Villa Rinjani tidaklah jauh. Aku berjalan kaki menyelusuri setiap setapaknya jalan, udara sujuk pagi keramahan penduduk, membuatku tidak sulit menemukan lokasi perkebunan budidaya teh ashitaba.
“Maaf, Pak. Ini benar gerbang masuk perkebunan budidaya teh ashitaba?” tanyaku pada sosok Bapak yang memakai topi terbuat dari bambu itu.
“Benar, Neng. Mari silakan masuk, izin dulu sama pertugas,” ucap Bapak itu.
Setelah aku memberikan data foto copy KTP dan membayar uang masuk dua puluh ribu, di sana banyak petani lagi menanam, ada yang sedang membersihkan rumputan. Kulihat daunnya seperti seledri berbeda dengan teh biasa. Aroma nya juga berbeda, kandungan yang banyak manfaat. Menjadikannya berkualitas unggul dari daun teh varian biasa.
Saat asik berkeliling, kupandangin langit yang awannya begitu indah pemandangannya. Semua bernuansa biru langit, teh ashitaba daunnya hijau menambah sejuk mata memandang ciptaan-Nya.
Aku anak dimanja tidak pernah jauh dari Mama, kali ini aku mau hidup di Lombok dalam waktu satu sampai dua bulan.
Ingin membuktian ke semua keluarga, khususnya Mama bisa hidup seperti biasa. Meskipun, Jonathan akan menikah dengan wanita lain. Rara wanita karir yang kuat dan tegar.
“Akhirnya aku terbebas dari penjara perasaan! Gimana tidak membuat obrak-abrik hatiku di penjara rasa ini, cinta tiada berbalas. Mampu hanya menatap dari kejauhan.
Setelah tiba semalaman langsung searching cari kosan di dekat perkebunan teh daun ashibata , jiwa santuy sudah mengakar kini manfaatkan kecangihan. Langsung aku booking itu kosan, biar kagak direbut orang lain. Setelah keliling perkebunan rencananya sore baru ke kostan bareng Loli teman kuliah dulu.
Namanya milik kita direbut itu sakit guys! Teman aku si Loli diputusin pacarnya, kini tubuhnya yang bahenol jadi kurus krempeng. Kalau ditiup angin saat naik motor, tubuh melayang kayak kipas mirip punya Mama dari bambu sering dibawa kondangan. Untung kagak bunuh diri tu Loli di pohon cabe, bisa berabe bersihkan tubuhnya dari kepedasan. Aku pun senasib kayak Loli, beda tipis haluan aku mampu cinta dalam diam.
Siang ini setelah makan di Villa Rinjani, aku berkemas koper.
"Halo, Loli, lu di mana sekarang? Sudah on the way belum?" tanya aku penasaran, habisnya sudah hampir setengah jam itu ratu lelet belum juga terlihat batang hidungnya.
" Gue baru mandi, Ra." Loli tertawa merasa tidak bersalah. Kurang asem ini anak! Aku dari tadi sudah siap berangkat, dianya baru saja selesai mandi.
"Lu, ngapain aja Loli setengah jam yang lalu habis kita teleponan?" tanya gue kesal pada ini bocah, kalau sudah dekat sudah kuremas jadi serpihan peyek.
"Tadi habis telepon aku selancaran di medsos, lihat cowok ganteng banget sumpah, deh. Ra! Mata gue tidak bisa berkedip lihat fotonya di medsos, dia follow, awal follow, habis itu pedekate, terus---"
"Stop! Tambah lama dengarin lu cerita, buruan siap-siap! Aku tunggu di Villa Rinjani! Cepatan, ya, awas kalau Lu lama!" Aku langsung menutup telepon. Lelah dah duduk lama biar pantat tambah lebar, biar diri bisa semakin sabar.
Mama menelepon, segera kuterima.
“Assalamu’alaikum, Ma.”
“Walaikumsalam, gimana kabarmu, Ra? Kenapa tidak kasih kabar seharian kemarin?” tanya Mama sambil menatap ke vidio call yang sedang berlangsung.
“Di sini hujan lebat ditambah ada angin topan, Rara hanya di dalam Villa Rinjani mati lampu, sebab itu tidak bisa mengabarkan Mama, sulit menggunakan alat komunikasi kalau hujan.” Aku menatap wajah ayu Mama di depan camera.
“Ya sudah lain kali kabari Mama, ya! Jangan bikin khawatir, Mama ada kabar buat kamu.”
“Ma, nanti lagi kita telepon, ya. Loli sudah jemput.” Aku melambaikan tangan ke arah kamera, langsung mematikan telepon Mama. Berjalan menuju lobi Villa Rinjani.
“Loli,kamu di mana?” tanyaku sambil mencari sekeliling ruangan lobi.
“Gue di parkiran, Ra. Males masuk, buruan gue tunggu!” ucapnya.
Aku langsung mematikan telepon bisa geleng kepala aja dengan tingkah temanku ini. Saat di pakiran dia tertawa merasa tiada bersalah sudah membuatku menunggu lama.

Komentar Buku (59)

  • avatar
    NiariMelisya

    sangat menarik

    18/03/2025

      0
  • avatar
    apa aja dah

    sangat menarik

    20/10/2024

      0
  • avatar
    Ngendok fc

    seru

    24/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru