Bab 22 Perhatian Jonathan Meruntuhkan Pondasi Rasa
Suara azan zuhur menggema, Johathan berpamitan ke masjid, buat dia menjalankan salat berjamaah. “Aku, bantu kamu dulu,” ucapnya, dia mengendong tubuhku. Seandainya, dibawa ke ranjang pun aku mau, ayo jangan traveling? Mau tidur siang dulu maksudnya, sambil nunggu dia balik masjid, tapi dia bukan tipe orang melalaikan waktu tanpa kebaikan. Dia membawaku ke kamar mandi, perlahan dia menurunkan kakiku menyentuh lantai. “Kamu, bisa berwudu sendiri Ra? Apa, mau aku wudu, kan?” “Aku sudah besar, Jonathan. Bisa sendiri berwudu. Sana, kamu keluar dulu,” ucapku melirik ke Jonathan. Jonathan pun keluar kamar mandi, menutup pelan pintu. Aku ini kenapa sih, jahat banget yak! Kayak ibu tiri mau menerkam anaknya, habis tiap hari, dia, aku marahin, tapi dia tidak pernah memasukannya ke hati. Marah aja kagak, luar biasa dia sabar denganku! Walaupun, kadang-kadang dia jahil, aku sembunyi kayak pil kerbau nahan malu pada diriku sendiri. Seminggu dia harus jadi bodigatku. Aku tidak ingin merepotkannya, setelah berwudu aku perlahan melangkah menuju pintu. Tangan kananku menahan tubuh seperti keong kehabisan lendir aku terseok-seok meraih handle pintu. Saat aku ingin membuka, Jonathan malah masuk. Aku jadi terhimpit di pojokan sudut pintu, jidat tercium daun pintu. “Aduh, apes banget hidupku,” ucapku. Jidatku tidak bisa milih, apa? Selalu dicium dengan benda mati, pagar, pintu, jendela. Milih itu makhluk hidup dong, lelaki tampan, apa? Kan kagak apes itu kalau lelaki tampan itu suami yang halal. “Kamu, kenapa, Ra?” Jonathan memandangiku heran. Kiranya aku main sembunyikan dengan dia kayak bocah ingusan. “Dia lalu mengendongku ke tempat untukku salat, semua perlengkapan salat sudah dia siapkan. Ya, Allah jadi melumer rasaku semakin di dekatnya, kagak tahan dengan perbuatannya manis banget. “Ra, aku tinggal wudu dulu, ya,” ucapnya, lalu berlalu pergi ke kamar mandi. Aku sudah memakai mukenah, melihat pintu kamar mandi terbuka, Jonathan keluar kamar mandi. Wajahnya bercahaya kayak ada senternya, pesonanya tambah berkedipan di mataku. Ya, Allah aku tambah kesemsem dengan si Joni. Bisa gila dengan pesonanya. “Aku berangkat dulu, ya, Ra,” ucapnya, sambil keluar rumahku. Aku menghembuskan nafas panjang, rasa sesak kurang oksigen karena lihat pesona Jonathan. Berkali-kali aku istigfar, jangan sampai aku membaca doa iftitah terbaca, “Jonathan, kamu ganteng banget.” Setelah aku tenang dan siap salat. Langsung melaksanakan salat sunnah dan wajib. Alhamdulillah, tenang sudah setelah selesai salat. Aku bisa melewatinya hatiku yang sedang merona berwarna merah jambu. Aku duduk bersandar di sofa berlahan-lahan belajar berjalan, sudah agak enakan setelah dipijit dan diobatin tradisional oleh Jonathan. Suara salam terdengar dari balik pintu, Jonathan sudah pulang. Dia membawa bungkusan, ternyata dia beli sesuatu. “Yuk, kIta makan siang.” Jonathan ke dapur mengambil peralatan untuk makan, perlahan dengan rapi dia mewadahi makanan dibelinya. Kulihat bungkusan packing dari Restoran Rasenja. “Makanlah, tomyannya, Ra,” ucap Jonathan menyuguhkan untukku. “Kamu beli ini, Jo? Biar nanti kita bayar bagi dua, ya,” ucapku tidak enak sudah banyak merepotkan saja. “Ya, ela, Ra. Makanan aja mau hitungan, santai aja kali! Tadi juga aku buat spaghetti bolognese bahan semua dari rumahmu.” Jonathan menikmatinya kuah tomyannya. “Berbagi itu tidak buat kita miskin, bahkan itu jadi aset invitasi terbaik kita bawa nanti di akhirat. Yang penting itu luruskan setiap perbuatan dengan niat yang baik!” ucap Jonathan. Untuk telingaku sudah tebel dengan nasihat Jonathan, bahkan setiap uraian katanya seperti magnet menyeret diriku, untuk ingin selalu di dekatnya. Jonathan tersenyum manis, manisnya kelewatan dibumbui bubuk formalin awet banget di hatiku. Aku pun tersenyum manis di hadapannya, Jonathan mendekatiku menghapus jejak bekas kuah yang menempel di daguku. Aku berharap segera terjadi kiamat, biar aku mati bisa dekatnya. Seandainya, dia tidak punya pacar Tante Citra, aku mau jadi pacarnya, tanpa ada penolakan. Hidup di dunia kadang kagak adil, nasib jomblo ngenes itu kagak enak. Mau kondangan sendiri, mau jalan sendiri, pengang handphone kayak meraba batu nisan, sepi tanpa kata dalam rasa. “Kamu, mau istirahat tidak Ra?” tanya Jonathan sudah kembali dari westafel dapur mencuci piring. “Aku biasa tidur siang qailulah, sebelum zuhur atau sesudah zuhur tidur, itu dianjurkan buat kita muslim karena ada hadis menerangkan bahwa setan tidak tidur siang, jadi kita diperintahkan untuk tidur.” Suaranya Jonathan adem banget kayak ubin masjid menyejukan. Tempat ternyaman dan tenang bisa berada di sisinya. “Ya, sudah kamu tidur di sofa aja, sana,” ucapku. Aku mengambil posisi bersemberangan dengannya. Suasana ini tidak ingin aku cepat berakhir, aku ingin terus memutar kebersamaan kami saat terindah ini. Mungkinkah? Entahlah, hidup hanya bisa kita jalanin, kita berjalan di rotasi kehidupan takdir-Nya. Dia tertidur pulas di sofa sebelah kanan, begitu damai dan tenang. Tangan ini ingin menyentuh pipinya, kukubur rasa ini. Jangan sampai aku tidak bisa mengendalikan diri saat bersamanya, aku dan dia tidak punya hubungan apapun! Aku pun mencoba beristirahat, berbaring di sofa sebelah kiri. Aku bisa apa dengan takdir dibuat Sang Pencipta, hanya bisa berharap dia bahagia nantinya dengan Tante Citra. Aku tidak sadar sudah lama terlelap, saat kulihat dia tidak ada lagi di posisi sofa sebelah kanan. Ke mana, dia? Apa sudah pulang ke rumahnya? Entahlah, aku melihat jam dinding di ruang keluarga sudah lewat salat ashar, mungkin dia ke masjid buat salat jamaah. Aku perlahan-lahan masuk ke kamar mandi, kuraih handle pintu, lalu mengambil wudu di kerang. Begitu damai air wudu menyapu wajahku, sedamai hatiku saat bersama dirinya. Melaksanakan kewajiban sebagai muslimku selesai, aku duduk di sofa membuka laptop. “Sudah, kerja aja kamu, Ra.” Jonathan baru tiba mengambil duduk di depanku. “Iya, takut nanti tidak keburu, namanya usia manusia kadang kita tidak pernah tahu. Aku hanya ingin selesaikan tanggung jawab dengan pekerjaan ini.” Aku mengetik di laptop. “Aku suka semangatmu, Ra. Semoga nanti aku mendapatkan istri yang banyak bermanfaat buat orang banyak, baik ilmunya, tenaga, materi yang dia punya.” Jonathan tersenyum padaku. “Aamiin .... “ Lisanku cepat berdoa, seakan hati ini berkata ingin ikut di baris terdepan wanita yang ingin jadi calon istrinya. “Sudahlah, Ra! Jangan berharap,” ucapku lirih. “Ra, aku pergi dulu, ya! Mau bersiap dinas malam, kamu kalau butuh sesuatu, jangan ragu hubungin, ya.” Jonathan merapikan pakaiannya. Aroma minyak kasturi dia gunakan memenuhi rongga hidungku, untung aku masih bisa bernapas, kalau kagak mengap-mengap kayak ikan louhan kekurangan oksigen. “Kamu, jangan khawatir keadaanku sudah membaik, insyaallah.” Kulempar dia dengan senyuman. Jonathan pun langsung keluar dari rumahku. Aku masih menatap pungung tubuh lelaki yang sangat baik itu, dia tidak hanya suka menolong, banyak pelajaran yang kudapat dari mengenal dirinya. Senyumnya yang khas dengan lesung pipi kiri dan kanan dalam sedalam sumur sebuah rasa, aku tenggelam di sana. Jika boleh meminta aku ingin dia jadi imamku. Kenyataan berbalik arah, aku bukan siapa-siapa di kehidupannya. Aku melanjutkan pekerjaan, membosankan jika di rumah sendirian. Untung, besok Mama sudah pulang dari luar kota. Aku terbangun ketika suara azan berkumandang, saat berusaha mengembalikan tenagaku untuk bangkit dari tempat tidur. Ada suara dering telepon melalui video call aku lihat di layar itu nomor Jonathan. Untung, aku sudah bangun tidur. Segera aku berkaca di cermin, agar tidak kena jahil Jonathan lagi. Ketika sudah oke penampilan ku, bersiap mengangkat telepon.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
18/03/2025
0sangat menarik
20/10/2024
0seru
24/09/2024
0Lihat Semua