logo text

Bab 30 Keterpaksaan

Hari demi hari aku rasa begitu cepat ketika aku merasakan hatiku merasa selalu ditemani dengan seorang yang mulai aku cintai. Aku rasa aku telah melewati dengan baik setelah rasa patah yang kudapat dari hubungan jarak jauh dengan Nayla. Dan memang benar ridho allah ridho orang tua.
Sejak percakapan aku dengan orang tua mengenai keseriusan aku dengan Ayu aku rasa itu titik dimana aku harus bersungguh-sungguh dalam menjaga perasaannya. Aku yang baru saja selesai shalat di ujung malam yang seperti biasa di rumah ini sibuk dengan peranya masing-masing.
Cahaya matahari sudah mulai masuk di setiap jendela rumahku dan ibu sudah menyiapkan sarapan untuk ku. Aku yang merasa lapar langsung duduk di depan meja ruang tengah dan menyapa bapak yang sudah ada di sana.
“Assalamualaikum pak.” Sapa ku pada bapak dengan salam.
“Waalaikumsalam Ren.” Jawabnya.
“Alhamdulillah.” Ucapku sambil mendudukan tubuh di kursi.
“Ren sarapan dulu.” Ucap bapak padaku yang sedang menikmati secangkir kopi.
“Iya pak.” Jawabku singkat.
“Ini Ren nasi goreng topping telor ceplok nya.” Ucap ibu sambil tersenyum dan menyuguhkan piring berisi nasi goreng tersebut.
“Wah makasih bu.” Jelasku pada ibu.
“Oh ya sudah bapak tinggal dulu ke sawah ya.” Izin bapak pamit setelah bapak selesai menghabiskan kopinya.
“Eh pak gak sarapan dulu?” Tanya ibu pada bapak yang akan beranjak pergi.
“Nanti anterin saja sama Dewi ke sawah ya.” Jelas bapak pada ibu.
“Oh ya udah atuh pak kalau begitu.” Jawab ibu dan bapak mengambil cangkul yang sudah diletakan di pinggir pintu.
“Assalamualaikum.” Ucap bapak dan menutup pintu.
“Waalaikumsalam.” Jawab ku bersama ibu.
“Bu kok bapak buru-buru?” Tanya ku pada ibu.
“Itu Ren, mau betulin irigasi air di sawah kata bapak mah.” Jawab ibu.
“Oh, pantesan aja buru-buru.” Ucapku.
“Ini Ren.” Ucap ibu memberikan segelas air dan aku menerimanya.
“Alhamdulilah, ya udah bu Rendy berangkat dulu.” Aku yang baru saja selesai sarapan aku pamit untuk bekerja pada ibu.
***
Nayla yang beberapa hari masih terbaring lemah di ranjangnya terusik oleh Kevin yang sudah bangun lebih awal. Dan Kevin yang baru saja terbangun dan hendak membersihkan diri namun terlebih dahulu memastikan kondisi sang istri.
“Sayang .. “ Ucap Kevin dengan nada halus.
Namun Nayla hanya membuka matanya yang begitu sayup dengan senyumnya yang lemah. Kevin yang cemas Kevin menanyakan keadaannya dan menawarkan sarapan untuknya.
“Sayang gimana badan kamu mendingan kan? Kamu mau aku buatkan apa sarapannya, dari kemarin perutku belum diisi ?” Tanya Kevin dengan nada merayu pada Nayla.
“Apakah aku bermimpi? Ah tidak mungkin Kevin perhatian seperti ini padaku ! Pasti ini mimpi.” Kerutuk suara batin Nayla yang tidak percaya apa yang ada di hadapannya.
“Sayang? Kamu gak kenapa-napa kan?” Ucap Kevin yang memastikan Nayla baik-baik saja setelah Nayla tak kunjung menjawab.
“Gak mas, nanti aku saja yang buat sarapan sendiri.” Ucap Nayla dengan nada lemah.
“Sudah kau di diam saja aku juga bisa masak kok.” Ucap Kevin dengan percaya diri.
“Iya kah?” Pancing Nayla agar Kevin semakin menunjukkan pesonanya.
“Tentulah masa kau tidak percaya? Dan kau diam saja di sini.” Ucap Kevin dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.
“Heh ! “ Panggil Kevin yang menoleh ke belakang melihat Nayla yang bangkit dari kasur.
“Apa mas..?” Jawab Nayla dengan suara lemah.
“Aku sudah bilang jangan kemana-mana.” Ucap Kevin yang masih terdiam di daun pintu kamar hendak keluar.
“Aku gak kemana-mana kok masa, aku cuma bersandar saja.” Jawabnya.
“Oh ya sudahlah, sabar akan ku buatkan masakan sarapaannn enak buat mu.” Ucap Kevin semangat dan membuka pintu kamar lalu pergi.
“Mas Kevin ..” Suara hati Nayla yang begitu hangat di pagi ini melihat suaminya berbeda.
Mungkin keterpaksaan dalam pernikahan ini, Nayla berharap Kevin berubah dan menjadi sosok suami yang baik, seperti bagaimana Nayla dambakan Rendy kekasih virtualnya dulu yang begitu lemah lembut mau tutur kata dan tindakan nya dalam memperlakukan Nayla walaupun hanya sekedip mata hubungannya.
***
Aku yang baru saja sampai ke tempat kerja dan hari ini sudah padat di parkiran karena aku sempat terjebak macet tadi. Ketika aku hendak mencari lahan kosong untuk memarkirkan motorku aku mendengar suara perempuan yang memanggil dari kejauhan.
“A Rendy !!!” Teriak seseorang memanggilku dari ujung.
Aku yang langsung menengok ke sumber suara itu dan ternyata itu Ayu yang sudah menunggu di sana, karena aku lihat disana ada parkiran kosong aku memajukan motorku ke sana.
“Ada apa Yu?” Tanya ku dan memarkirkan motorku bersebelahan dengan motornya.
“Enggak a, aku cuma nunggu a Rendy aja pasti kehabisan lahan parkirkan makanya Ayu kasih di sini.” Jelasnya padaku dan aku baru sadar sampai begitu Ayu padaku.
“Ya udah atuh a bareng Yu.” Ucap Ayu yang langsung menggandeng tanganku.
“Iya.” Ucapku dengan nada datar.
***
Sedangkan di tempat lain di pagi hari itu Intan yang sedang menyapu teras rumahnya, di hari itu Intan sangat penasaran akan tentang perjodohan dan ingin bertanya kapan hari mereka akan bersatu secara sah. Intan yang sedari tadi terus mencuri-curi pandangan melihat ayahnya sedang memperbaiki motornya.
Ayahnya yang mengetahui Intan begitu mencuri-curi pandangan kepadanya, menjadi penasaran dan bertanya pada Intan. Dan akhirnya ayahnya menunda dulu pekerjaanya dan duduk di depan teras rumah.
“Neng, tolong buatkan bapak kopi ya.” Perintah ayahnya pada Intan.
“Iya pak, Intan buatin dulu.” Jawab Intan dan meletakkan sapu yang dipegangnya.
Setelah Intan sudah membuat kopi untuk ayahnya di situlah ayah Intan bertanya.
“Hmm .. alhamdulillah.” Ayah intan meneguk sedikit kopi hangat yang baru saja Intan buat.
“Gimana pak gak pahit gak?” Tanya Intan pada ayahnya.
“Enggak kok neng udah pas rasa kopinya, neng dari tadi bapak lihat kamu seperti ada yang mau ditanyakan? Kamu mau bertanya apa neng?” Tanya ayahnya pada Intan.
“Aduh gimana atuh, Intan mau nanya apa ya tadi teh.” Suara batin Intan panik setelah tahu ucapan ayahnya.
“Neng? Bapak bertanya kok malah diam?” Jelas ayahnya yang melihat Intan sedikit terdiam.
“Neng mau nanya gini pak, kalau a Rendy serius kapan atuh hari nikahnya?” Tanya Intan yang penasaran pada ayahnya dan duduk di teras berhadapan dengan ayahnya.
“Oh kamu mau nanya itu neng? Nanti bapak hubungi lagi pak Hadi soal itu. Hmm .. kaya kamu neng gak sabar yah jadi istri anak nya pak Hadi.” Jelas ayahnya yang bercanda dengan putrinya dan memerahkan wajahnya.
“Ihhh, gak gituuu maksudnya bapak, tapi gimana yah .. Yah gitu ahh bapak mah.” Ucap Intan yang salah tingkah dan mulai cemberut.
“Hehehe, iya neng bapak tahu nanti akan bapak segera pernikahan kalian setelah bapak berbicara lagi dengan keluarga pak Hadi.” Jelas ayahnya dan kembali lagi menghampiri motor yang sedang di perbaikinya.
“Ya allah permudahlah niat baik bapak dan pak Hadi dan permudahlah urusan kami untuk mengurus semuanya.” Ucap Intan dalam hatinya yang masih duduk di teras dan melihat ayahnya kembali memperbaiki motornya.
***
Sedangkan Nayla yang masih duduk bersandar di atas ranjangnya yang merasakan pandangannya nanar melihat sekitar kamarnya. Tidak lama kemudian Kevin membawakan sepiring nasi goreng yang tercium aromanya dan segelas jus jeruk Kevin membawanya di atas baki.
“ Sayang udah jadi nih sarapannya.” Ucap Kevin seraya tersenyum hangat pada Nayla.
“Wah, makasih banget sayang.” Jawab Nayla dengan mesra bernada lemah.
“Kamu harus habisin sarapannya, mas mau keluar sebentar.” Ucap Kevin dan meletakkannya di meja sebelah ranjang Nayla.
“Keluar kemana mas?” Tanya lagi Nayla.
“Pokoknya mas ada perlu, mas pulang sarapan nya harus habis , awas kalau tidak.” Ucap Kevin dan langsung meninggalkan Nayla di kamar.
“Mas semoga kau terus seperti ini padaku, agar keterpaksaanku menjadi kebiasaan untuk mencintaimu, aku akan melupakan masa lalu itu.” Ucap Nayla yang melihat Kevin sudah pergi meninggalkan Nayla di kamar dan berharap Kevin berubah.
Kadang cinta tumbuh dengan sendirinya, namun bagaimana dengan cinta yang tumbuh dengan keterpaksaan? Semua jawabannya terletak dimana kita menerima keterpaksaan itu menjadi sebuah keikhlasan dan kesabaran, agar apa yang membuatmu terpaksa membuah menjadi rasa dan cinta. Tidak mudah kan? Tentu tidak, bila hanya digerakkan oleh lisan saja namun tidak disertai doa untuknya sama seperti kau berlayar di perahu yang bocor.
Hanya sebagian kita lebih memilih melepaskan karena semua tahu titik lemah setiap insan demi kebahagiaannya sendiri, karena sebagian insan lemah dalam kesabaran pada hakikatnya dalam hati setiap insan selalu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang hanya saja kita tidak selalu memperlakukannya dengan baik, entahlah itu khilaf ataupun penyesalan yang lampau.
Bersambung…

Komentar Buku (66)

  • avatar
    BaeEvan

    bagus banget

    03/06/2025

      0
  • avatar
    HumairaZalfa

    baguuus, tapi kurang srek sama penempatan tanda koma dan titik

    05/05/2025

      0
  • avatar
    Benetgung

    bagus sekali

    19/02/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru