"Kita juga langsung pulang aja, ya. Kakak antar kamu dulu." Abdu merogoh saku celana, hendak meraih kunci mobilnya. Pria berkulit putih itu melangkah ke arah garasi mobil di mana mobilnya disimpan di sana. Tiba-tiba saja Gauri berlari ke dalam rumah. Freya yang terheran-heran, lalu menyusul, mengejarnya. Ternyata Gauri menghilang di kamar mandi. Terdengar perempuan itu muntah-muntah. "Kamu gak apa-apa, Gauri?" Freya berdiri di depan kamar mandi dengan raut cemas. Tak lama, daun pintunya terbuka. Gauri keluar dengan wajah sepucat kapas. Keringat sebesar-besar biji jagung keluar dari pori-pori wajahnya. "Gak apa-apa, kayaknya aku salah makan. Atau bisa jadi maagku kambuh, deh." Gauri terseok-seok berjalan ke kursi terdekat. "Seriusan gak apa-apa? Mumpung kak Abdu masih ada, kita anterin ke dokter, yuk!" Freya masih berusaha membujuk. Abdu yang baru saja masuk, mengangguk setuju. Tangan Gauri mengibas. "Iya seriusan gak apa-apa. Dibawa tidur aja kayaknya mungkin bakal mendingan." Gauri menyandarkan kepalanya ke pegangan kursi. Kalau dipikir-pikir, tamu bulanannya sudah telat dua minggu. Jangan-jangan? Gauri membuang napas panjang-panjang. Padahal sepanjang malam otaknya berpikir keras untuk mengambil keputusan yang tepat, untuk melepaskan Ali seumpama dia menginginkan Lena. Seperti saat dulu ketika Abdu jujur atas perasaannya. Namun, kenapa kini pikirannya menjadi ragu? Apalagi jika sampai dia mengandung anak Ali? Haruskah dia memilih untuk tetap bertahan saja? *** Ali tidak pulang untuk makan siang. Ucapannya hanya sebatas janji semata. Insting Gauri mengatakan bahwa, Ali pergi ke rumah ibunya karena Lena masih berada di sana. Gauri tidak mau ambil peduli. Dia menikmati saja makan siangnya bersama Taksa. Meski dia sendiri tidak berselera lagi untuk makan, tetapi dia harus bersemangat di depan putranya. Sesekali ekor matanya melirik ke ponsel yang terletak di meja. Dia berharap Ali memberi kabar kenapa dia tidak jadi pulang, tetapi sesuatu yang dia harapkan tidak terjadi. Untuk menghubungi lebih dulu tentu Gauri gengsi. Hingga pukul tujuh malam, Ali pun melewati waktu makan malam. Lagi-lagi Gauri kembali menyimpan piring yang telah dia siapkan untuk suaminya. Akhirnya karena tidak ingin berlama-lama menyimpan perasaan buruk, Gauri ambil juga ponselnya di meja. Dia membuat panggilan ke nomor suaminya. Satu kali panggilan terlewat sebab Ali tidak mengangkatnya. Kemudian panggilan kedua, barulah diangkat, itu pun oleh ibunya Ali. "Ya, hallo?" Gauri menarik napas berat. "Alinya ada, Ma?" "Oh, si Ali tadi mama suruh buat nganterin Lena belanja keperluan. Ali buru-buru, HP-nya ketinggalan di meja ruang tamu." Suara mamanya Ali mendayu-dayu, seperti ingin memanas-manasi. "Mereka pergi sejak siang, gak tau ini kenapa juga belum pulang. Mungkin mereka mampir ke mana gitu, buat makan malam." Gauri tersenyum getir. "Ya udah, gak apa-apa, Ma, kalau begitu. Nanti tolong sampaikan ke Mas Ali kalau aku menghubunginya, ya, Ma." "Ya." Belum sempat Gauri menjawab, panggilan segera diputus dari seberang sana. Mata Gauri memanas. Dadanya sakit sekali. Pantas saja Ali tidak berniat menghubungi, ternyata dia sedang senang-senang bersama gadis itu. Tak ingin menyimpan rasa sakit sendirian, Gauri menelepon Freya. Kebetulan gadis itu sedang punya waktu luang. "Tumben nelepon, baru juga ketemu tadi siang." Freya bermaksud bercanda, tetapi tampaknya Gauri sedang tidak mood untuk itu. "Fre, apa bisa kamu temani aku ke dokter kandungan?" "Ya, bolehlah. Rencananya kapan?" Gauri berpikir sejenak. "Besok pagi gimana? Kamu bisa?" "Tentu bisa lah. Aku kan pengangguran sekarang. Sejak kak Abdu melarangku bekerja, aku cuma di rumah aja seharian. Jujur itu membosankan." Freya mengeluh. Memang benar. Freya sekarang dalam kendali penuh kekasihnya. Oleh sebab Abdu telah bekerja tetap, dia sanggup memenuhi segala kebutuhan Freya sampai mereka menikah nanti. Selain itu, Abdu punya alasan tersendiri, yakni agar Freya tidak didekati lagi oleh pria-pria yang mencoba merayunya di tempat kerja, termasuk bos Freya sendiri. "Tapi, kenapa kamu gak minta anterin kak Ali, Gauri? Kalian masih belum akur?" "Aku memutuskan untuk berpisah, Fre," ucap Gauri pelan sekali. "Hah! Kenapa?" Gauri bisa menebak bagaimana ekspresi Freya saat mendengar penuturannya barusan. "Kamu tau alasan kenapa aku pulang lebih dulu di malam pesta itu? Aku memergoki mas Ali dan Lena sedang berciuman." Gauri mencoba tertawa, miris sekaligus getir. Rasa sakit yang masih bersarang di dadanya, kini menghantam lagi bahkan terasa berkali lipat menusuk-nusuk, luka lama di hatinya, terasa kembali berdarah. Dalam keheningan malam, Freya mendengarkan saja isak tangis Gauri yang terasa menyedihkan baginya. Freya tidak mampu berkata-kata, sebab lidahnya seperti kelu, bibirnya membisu, dan tidak tau harus berbuat apa. *** Ali pulang ke rumah tepat ketika jam dinding menunjuk ke angka tengah malam. Gauri sengaja menunggunya di ruang tengah sembari menonton televisi. "Kamu belum tidur?" Ali hendak melangkah ke kamar, tetapi ucapan Gauri menghentikan langkahnya. "Bisa bicara sebentar, Mas?" Suaranya datar, tetapi senyuman tipis tak lepas dari bibir Gauri. Ali menurut saja tanpa berkomentar apa-apa. Wajahnya kelihatan kusam dan letih, seperti habis bepergian seharian penuh. "Mas seharian bersama Lena, kan?" Gauri tidak ingin basa-basi yang menurutnya sangat membuang-buang waktu dan itu memuakkan jika dilakukan di saat hatinya sedang remuk redam. "Ya, maaf, aku gak kasih tau." Ali menghela napas. "Tadi dia memintaku mengantarkannya membeli sesuatu. Barang yang dia cari, susah ditemui. Itu sebabnya sampai malam aku baru pulang."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik banget...
13/11/2024
0👍👍
13/11/2024
0seru banget
13/11/2024
0Lihat Semua