logo text

Bab 22 Impas

"Aku tadi lewat restoran langganan kita. Aku inget kamu, jadi aku beliin ravioli kesukaan kamu." Ia mengangkat sedikit paper bag di tangannya untuk menunjukkan kalau ia benar-benar membawa sesuatu untuk Gama.
Gama sama sekali tidak berminat, bahkan untuk melirik apa yang ditenteng perempuan di hadapannya itu. "Dari mana kamu tau aku tinggal di sini? Kak Beta?" Harusnya Gama tidak perlu pusing-pusing menebak, karena pasti kakaknya yang memberi tahu perempuan itu.
"Gam. Aku cuma pengen kita tetep jadi temen baik meskipun hubungan kita udah berakhir."
"Buat apa aku nurutin keinginan kamu kalau keinginanku dulu juga nggak pernah kamu turutin."
"Sorry, Gam. I'm really sorry.Can we talk about it? Aku bisa nemenin kamu makan malam sambil--"
"Ada calon istriku di dalam. Dan aku nggak mau dia salah paham." Gama menyentuh kotak sensor di handle pintu, hampir menekan pin sebelum ia berpesan sekali lagi kepada perempuan itu. "Jangan pernah lagi datang ke sini! Cuma calon istriku yang bebas keluar masuk unitku."
Arabella tahu kalau kedatangannya ke unit apartemen Gama adalah sebuah pertaruhan. Bisa jadi Gama menerimanya dengan tangan terbuka, dan bisa jadi pula Gama menolaknya. Seperti sekarang.
"Siapa, Gam?" tanya Aileen yang melihat Gama masuk kembali ke dalam unit apartemen.
"Tetangga depan," dusta Gama.
"Hah? Ngapain malem-malem?"
"Cuma nanya, paketnya kebawa aku nggak. Soalnya dicek di bawah nggak ada. Padahal kan seharian aku nggak di rumah."
"Oooh." Aileen mengangguk saja, membiarkan Gama kembali duduk di sampingnya. Baru saja ia menyalakan televisi karena merasa terlalu hening di dalam unit apartemen Gama sendirian.
"Kamu mau nginep sini nggak, Leen?"
Aileen menoleh dan menatap Gama dengan horor. "Hah? Nginep?"
"Iya." Tiba-tiba saja Gama memeluk Aileen dari samping dan merebahkan kepalanya di pundak Aileen. "Biar kamu nggak pengen balik ke rumah sakit lagi."
Karena kesal, Aileen mengedikkan bahunya agar Gama menjauh, tetapi seperti tidak membuahkan hasil. Gama masih tetap pada posisinya.
"Bisa nggak kalo lagi bareng jangan manja. Harusnya kan aku, sebagai cewek, yang manja ke cowok."
Gama terkekeh geli, seketika ingat kejadian saat mereka SMA. "Kamu memang bisa diandalkan, Leen. Dari dulu. Kamu inget nggak waktu ulangan praktik bahasa Indonesia? Waktu kita ngambil undian, antara disuruh baca puisi, baca berita, atau pura-pura wawancara. Waktu itu kan guru kita bilang, urutan maju diacak biar adil. Tapi yang terjadi--"
Aileen mendengkus kesal, memotong cerita Gama. "Aku yang disuruh maju pertama. Padahal nomer absenku satu. Harusnya kalau diacak, bukan nomerku yang keluar." Aileen masih benar-benar ingat kejadian itu karena ia sampai melemparkan tanya kepada sang guru. "Kok saya, Bu, yang pertama? Kata Ibu diacak."
Dan gurunya dengan santai menjawab, "Kamu di ulangan praktik yang lain maju pertama kan? Ya karena itu Ibu nunjuk kamu, karena kamu pasti udah siap. Temen-temenmu yang lain belum tentu siap."
Gama mengusap pelan lengan Aileen, tahu Aileen sedang kesal mengingat saat itu. "Derita nama pake huruf depan A ya?"
"Hmm. Sejak waktu itu aku janji ke diri sendiri, nggak akan aku ngasih nama anakku dengan awalan huruf A."
Gama tergelak dan terpaksa melepaskan Aileen karena tawanya membuat tubuhnya berguncang. "Jadi mau dikasih nama siapa? Jangan-jangan kamu udah nyiapin nama buat anak kita?"
Aileen memiringkan tubuh dan memukul lengan Gama. Lagi-lagi lupa kalau ia mantan pemain voli. "Nggak gitu ya. Lagian kenapa anak kita? Kubilang anakku kan."
"Ya kan kamu nikahnya sama aku. Berarti anak kita dong nantinya."
Entah sedang ada setan lewat, atau kata-kata Gama itu terlalu cringe untuknya, yang jelas bulu halus di belakang tengkuknya meremang sempurna.
"Leen."
"Hm?"
"Let's make a beautiful married life."
Aileen hanya berharap saat ini wajahnya tidak memerah karena ucapan Gama.
"Dia akan terus memanipulasi kamu selama ada kesempatan, Leen," ucap Gama sambil menunjukkan layar ponselnya.
Aileen yang semula bingung, pada akhirnya mengamati foto di layar ponsel Gama.
"See? Dia nggak sendirian. Ada cewek lain yang nemenin dia."
Foto yang ada di layar ponsel Gama menunjukkan sebuah kamar rawat--dan Aileen ingat bahwa itu adalah kamar rawat Bara--yang di dalamnya terlihat Bara dan seorang perempuan tengah tidur berpelukan di atas kasur. Aileen jelas mengenali rambut pirang berombak milik Erika, meskipun wajahnya tertutup badan Bara.
"Kamu—" Puluhan pertanyaan menjejali benak Aileen. Bagaimana cara Gama mendapatkan foto itu? Kenapa Gama mau repot-repot? Sampai keaslian foto itu pun ia pertanyakan dalam otaknya.
"Aku cuma mau kamu kembali ke jalan yang benar sebelum oleng lagi. Aku takut kamu kepikiran untuk ngasih kesempatan kedua buat dia." Gama sadar, ia juga melakukan kesalahan malam ini yaitu dengan berbohong pada Aileen tentang kedatangan Arabella yang ia akui sebagai tetangga depan. Tapi setidaknya, ia langsung mengusir Arabella dan kembali pada Aileen. Jadi, harusnya upayanya untuk mencari bukti tentang kebusukan Bara bisa dianggap sebagai pengganti kesalahannya karena berbohong kan?
Impas. Harusnya.
“Gimana caranya kamu dapet foto ini?”
“Mau tau?”
Aileen mendengkus kesal. Kalau ia tidak ingin tahu, untuk apa ia bertanya.
“Tapi aku nggak mau ngasih tau. Itu rahasia perusahaan,” pamer Gama.
“Gama!” bentak Aileen.
“Coba jangan bentak, Leen. ‘Gaaam,’ panggil yang manja gitu. Katanya mau manja-manjaan sebagai cewek,’ ledek Gama sambil menirukan suara manja.
Sebuah geraman kesal keluar dari mulut Aileen. “Gam!” Sekali lagi Aileen menaikkan nada suaranya untuk menekan Gama.
Dan hanya butuh satu gerakan dari Gama untuk membungkam Aileen yang baru meninggikan suaranya.
Tangannya bergerak lembut, mengusap tengkuk Aileen sambil berusaha menahan gerakan Aileen yang seperti ingin menjauhkan diri. Bibirnya yang semula hanya menyapu permukaan bibir Aileen kini mulai melumat, memaksa Aileen untuk menyerah.
Dan sialnya, Aileen yang malam itu berada dalam kondisi rapuh karena perubahan perasaannya yang semula berempati dengan kondisi Bara kemudian berubah kesal ketika tahu kalau ia (lagi-lagi) ditipu, dengan cepatnya menyerah oleh ciuman Gama yang memang sejak awal sulit ditolaknya.
“Lama-lama candu deh.” Gama mengulum senyum sambil merapikan anak rambut Aileen yang baru saja ia buat berantakan. “Udah dibilang jangan bentak-bentak. Aku bukan Ervin atau Yara yang takut sama kamu begitu kamu bentak.”
"Udah kubilang jangan cium orang sembarangan!"
"Aku nggak nyium orang sembarangan. Aku nyium calon istriku."
"Ck!"
"Tapi kamu bales juga kan."
Sadar kalau kali ini ia tidak akan menang dari Gama, Aileen memilih beranjak. Ia memang membalas ciuman Gama sebanyak yang laki-laki itu berikan. Mau bagaimana lagi, perasaannya sedang kacau dan Gama menawarkan sesuatu yang bisa mendistraksinya. Bagus sekarang pikirannya kembali normal dan sadar kalau sudah terlalu lama ia berada di unit apartemen Gama. "Aku mau balik."
"Kenapa cepet-cepet sih, Leen?"
"Kayak lagi di sarang buaya."
Gama tergelak tetapi tangannya masih sempat menarik tangan Aileen agar Aileen kembali duduk di sampingnya. "Beneran nggak mau nginep sini?"
"Kalau kamu berani bilang jujur ke papa mamaku, nggak masalah, aku mau aja nginep sini," tantang Aileen.
Menelan salivanya dengan susah payah, Gama sadar ia kalah. Ia tidak akan berani meminta izin kepada kedua orang tua Aileen. Berbohong mungkin saja bisa, misalnya meminta tolong kepada Kemala untuk mengatakan kalau Aileen menginap di tempat Kemala, tapi kan Aileen menantangnya untuk bicara jujur. “Ya udah, ya udah, ayo pulang.”
“Kamu mau nganter lagi?”
“Ya kan aku nggak mungkin biarin calon istriku pulang sendiri malam-malam gini.”
“Gama, please! Aku sampe bingung ini, merinding gara-gara unitmu serem atau gara-gara gombalanmu dari tadi.”
Tanpa banyak kata, Gama melingkarkan tangannya ke pinggang Aileen. “Besok sore kita fitting baju kan? Aku jemput aja daripada kamu nyari-nyari tempatnya.”
“Ok.
Keduanya melangkah keluar dari unit Gama. Gama yang pertama kali membuka pintu sambil melirik ke beberapa sudut, benar-benar berharap Arabella tidak melakukan tindakan gila seperti menunggunya keluar. Dan untungnya sosok Arabella memang sudah menghilang dari sana.
“Kamu nginep di tempat Ibu kan, Gam? Nggak balik lagi ke apartemen kan?” tanya Aileen begitu Gama mulai melajukan mobil.
“Iya. Apa kata kamu aja.”
“Aku serius nanya.”
“Iya, aku juga beneran jawab. Kalau kamu nyuruh aku nginep di rumah ya aku nginep di rumah. Lagian kan mobilku di kantor.”
“Oh iya, besok ke kantor kamu pake apa?”
“Kamulah tanggung jawab. Ganti nganterin aku.”
“Hah?”
“Nggak mau gantian liat kantorku?”
“Hmm … boleh deh. Pagian kalo gitu ya. Jangan sampe aku telat ngantor.”
“Kamu anak yang punya kantor, Leen. Masa takut telat.”
“Aku ngikut aturan, aku mulai karirku dari staf aja, masih dipandang sebelah mata sama beberapa orang, apalagi bersikap sesukaku.”
“Kadang pembuktian butuh waktu. Tenang aja, nanti ada saatnya orang-orang percaya kalau kamu mampu kok.”
Aileen menunduk. Iya, pasti, setelah ia menyingkirkan Bara dari perusahaan.
“Malem, Pa, Ma. Maaf nganterin Aileen kemaleman, ada yang mesti diurus tadi,” ucap Gama kepada kedua orang tua Aileen yang masih menonton TV di ruang tengah.
“Ibu kamu belum lama pulang, Gam.”
“Eh? Ngapain Ibu ke sini, Ma?”
“Ngomongin masalah undangan kalian.”
Gama mengangguk-angguk mengerti. “Dari Papa Mama udah ada datanya? Nanti biar aku setor ke WO.”
“Iya, Ibu kamu tadi memang ngingetin itu. Biar cepetan didata. Tunggu beberapa hari ya, nanti kalo udah Papa kasih ke kamu. Kamu gimana, Kak? Udah didata semua yang mau kamu undang?”
“Belum.”
“Gimana sih, Kak? Udah tinggal bentar lagi. H-2 minggu itu harus udah disebar semua undangan.” Rhea mengingatkan anaknya untuk lebih aktif lagi mengurus pernikahannya.
“Iya, Ma. Besok aku data.”
“Nggak apa-apa kok, Ma. Masih ditunggu sampe minggu ini untuk daftar tamu undangannya. Pa, Ma, aku pulang dulu ya.”
“Aku nganter Gama ke depan dulu, Pa, Ma.”
Gama membiarkan Aileen mengekorinya sampai ke pintu utama. “Udah, masuk gih, Istirahat. Rumahku cuma di sebelah, Leen. Lagian tadi diajak nginep nggak mau.”
“Ya nanti aku diomelin lagi kalo keliatan cuek sama kamu.”
“Just being yourself. Tapi jangan galak-galak ke aku.”
Usai berpamitan dengan Aileen, Gama pulang berjalan kaki. Ibunya masih terjaga saat ia masuk ke dalam rumah.
“Gam, nginep di sini?”
“Iya, Bu. Ibu baru balik dari rumah Aileen?”
“Iya, tadi ngobrol ngomongin pernikahan kalian. Sini, Gam. Ibu mau ngomong bentar.”
“Kenapa, Bu?”
“Kamu harus ngenalin Aileen ke Ara. Jangan sampe Aileen salah paham sama Ara.”
Gama terkejut mendengar ibunya menyebut nama Ara. Pasalnya, baru sekali ia membawa Arabella bertemu dengan ibunya. Ia belum pernah memperkenalkan Arabella ke keluarganya yang lain. Ayahnya pun tahu tentang Arabella karena berinisiatif mencari tahu, bukan karena ia yang memperkenalkan Arabella kepada ayahnya.
“Memangnya kenapa, Bu?”
“Karena Ara ini Ibu lihat tipe yang berani, nekat, terang-terangan. Tadi dia dateng ke sini. Untung siang. Kalau Aileen atau keluarganya ngelihat kan nggak enak.”
“Ara ke sini, Bu?” Gama menghela napas dalam-dalam. “Nanti aku beresin masalah Ara.”

Komentar Buku (531)

  • avatar
    Desepta

    bagus banget kak, gak sabar nunggu part selanjutnya

    24/06/2022

      1
  • avatar
    Siti Fadhlina

    Sangat menarik

    23/06/2022

      0
  • avatar
    Yeni Yuliana

    bagus

    22d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru