Beranda/LET'S HAVING AN AFFAIR/
Bab 16 AKU CEMBURU PADAKU?
Dengan es krim cokelat dan mine didalam cone di satu tangan, Camani mengutak-atik ponselnya di tangan lain. Tidak ada pesan masuk. Dan berkali-kali juga ia bertanya pada dirinya sendiri kenapa pula ia berharap ada pesan yang masuk? Toh, ia dan Pak Dareen memang tidak punya hubungan apa-apa selain bos dengan karyawan. Atau si Usil dan si Korban. Atau si Pematah Hati dan si Pacar Bohong-bohongan.
Camani mengaduh ketika mendadak Pak Dareen berhenti berjalan dan puncak kepalanya terantuk dada Pak Dareen. Camani mendongakkan kepalanya dan mendapati Pak Dareen sedang menyipitkan mata. “Kenapa kamu memandangi ponselmu terus? Apa kamu menunggu pesan dari seseorang?”
Cepat-cepat Camani menggeleng. Menyelipkan ponselnya dikancing terluar tasnya. “Tidak, cuma baru update status, “Sedang jalan-jalan dengan Bos dan ditraktir es krim.
Senangnya...Tidak lupa Camani tersenyum lebar dari telinga-telinga. Senyum sarkartis yang tidak sampai dimatanya.
“Kenapa tidak bilang? Kita bisa selfie dulu tadi.” Pak Dareen mengambil ponselnya sendiri dari sakunya. Menghidupkan kamera depan. Mereka berdiri rapat dengan Camani yang berpose dengan eskrimnya.
Camani heran kenapa Pak Dareen tidak menyadari nada sarkartis dalam suaranya.
Kalaupun ia menyadarinya Pak Dareen tidak menghiraukannya.
Kali ini mereka berjalan berdampingan. Pak Dareen meng-upload foto tadi di Instagram-nya dan keterangan yang diberikan Pak Dareen nyaris membuat Camani tersedak eskrim…
Hangout bersama si Dia…. <3
Camani berteriak protes, tapi Pak Dareen sudah berlari menjauh dengan senyum mengembang yang membuat Camani ingin sekali menendang wajahnya…
Hatala mengacak-acak rambutnya. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Melihat Camani bersama pria itu. Siapa tadi namanya? Dareen Aldaan? Membuat kepala dan hatinya juga mendidih.
Belum lagi kedekatan mereka. Dareen bahkan tidak segan menaruh lengannya dipundak gadis itu. Belum lagi reaksi Camani pada pria itu. Seakan-akan mereka memang sudah biasa seperti itu.
Sudah biasa. Kata-kata itu membuat Hatala menggeram jauh didalam tenggorokannya.
Dareen Aldan tadi bilang kalau ia adalah bos dari Camani. Faktu itu saja sudah membutikan mereka lebih sering bertemu daripada ia dan gadis itu. Dareen Aldan punya kesempatan lebih banyak bercengkrama dengan Camani. Telah mengenal pribadi gadis itu lebih lama dari dirinya….
Sejauh mana hubungan mereka sebenarnya?
Hatala benci uring-uringan seperti ini. Ia juga menyesali kalimat terakhir yang ia ucapkan pada mereka berdua tadi. Selamat bersenang-senang, katanya?
Ah, kalimat itu bagaikan bumerang yang telah balik menyakitinya.
Hatala meraih ponselnya. Memandangi layar hitamnya terlalu lama. Tercabik antara ingin mengubungi gadis itu apa tidak. Lalu kalau gadis itu mengangkat teleponnya sudah pasti ia akan memborbardinya dengan rentetan pertanyaan mengenai Dareen Aldan.
Lalu tiba-tiba kesadaran itu menghantamnya. Ia tidak berhak menuntut gadis itu menjelaskan apapun. Camani tidak mempunyai hubungan apapun dengannya dan gadis itu bebas berkencan dengan siapapun. Dan kesadaran itu menghantam dirinya sedemikian rupa hingga membuat dadanya sesak...
Tidak sengaja pandangan matanya jatuh ke arah cincin kawin yang ada dijari manisnya. Mendadak keinginan membenci diri sendiri menjalar keseluruh pembuluh nadinya hingga membuat Hatala menjedut-jedutkan kepalanya berulang kali di tepi meja kerjanya…
***
Latifha baru saja menjemput Daffa dari sekolahnya. Ia sedang memutar kemudi
ketika Daffa menyeletuk —
“Ini, kan menuju kantor Papa?” Daffa celingukan sebelum menatap mamanya ingin tahu.
“Iya, Mama mau mengantar makan siang untuk Papa.” Lathifa mengusap kepala putranya sekali.
Tadi pagi Hatala berkata ia ada urusan diluar dengan Deputi Rektor sehingga mengharuskannya berangkat buru-buru lalu melupakan bekal yang sudah Lathifa siapkan untuknya.
Suasana kampus Harapan Bangsa selalu ramai. Beberapa mahasiswa menegur Daffa karena bocah itu pernah dibawa Hatala kesini. Dengan tas bekal di tangan, Daffa mendahuluinya menaiki tangga. Didepan pintu mereka bertemu dengan Raguel yang langsung meraup Daffa dalam gendongannya.
“Daffa, kamu makin berat saja!” Lathifa tersenyum ketika melihat Daffa memeluk erat rekan kerja ayahnya itu.
“Om Raguel, makin keriput saja!” Daffa setelah bocah itu diturunkan.
Raguel tertawa renyah. “Wah, sepertinya aku memang harus cepat-cepat menikah.” Raguel mengulum senyum ke arah Lathifa. “Long time no see, Senora Lathifa."
“Long time no see, Senor Raguel.” Lathifa melirik ke arah pintu yang ada dibelakang Raguel. “Apa Hatala ada didalam?”
Raguel nyengir lebar. “Si, dia ada didalam. Sepertinya kamu datang disaat yang tepat. Mungkin Deputi Rektor telah memarahinya atau apa.” Raguel mengacak-acak rambut Daffa sebelum pamit meninggalkan mereka.
Daffa lebih dulu darinya, mengetuk pintu ruangan dengan papan pengenal “Biro
Kemahasiswaan” lalu berhambur masuk. Lathifa mengikuti dibelakang. Begitu melihat Hatala yang berbalik dari layar PC sepertinya apa yang dikatakan Raguel benar. Ekspresi
Hatala tidak begitu baik…
“Papa! Mama dan Daffa bawakan Papa makan siang!”
Hatala melirik tas bekal yang ditaruh Daffa dimejanya lalu Lathifa yang sudah menarik kursi yang ada didepan mejanya. “Astaga, Papa lupa. Terimakasih, ya?” Daffa duduk dipangkuan Hatala lalu sama-sama mereka membongkar tas bekal itu.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa sesuatu terjadi dengan Deputi Rektor?”
Hatala menerima suapan dari Daffa terlebih dahulu sebelum menjawab. “Aku asumsikan kamu bertemu dengan Raguel diluar tadi. Tapi jawabannya, tidak. Aku hanya menemaninya bertemu dengan salah satu alumni sukses untuk pendistribusian para fresh graduate.”
Lathifa mengangguk paham. Lalu membiarkan Daffa terus menyuapi papanya hingga ia kembali berkata,
“Kamu bisa menceritakan apapun padaku. Kamu tahu itu, kan?”
Hatala menyesap air sebelum berkata. “Terimakasih.”
“Kamu ingat apa yang kamu katakan padaku di pantai waktu itu?” Lathifa kecewa mendengar betapa dinginnya reaksi Hatala. Dan benar saja, Hatala mendongak menatapnya dengan mata mengerjap. Dengan berani Lathifa melanjutkan,
“Kita tidak akan maju-maju dari “nol” kalau seperti ini terus.”
“Iya, aku ingat tentang itu.” Hatala menyingkirkan Daffa dari pangkuannya lalu memberi tablet-nya pada bocah itu agar ia tidak mendengar percakapan mereka. “Tapi yang aku katakan itu memang benar. Dan aku juga menghargai kekhawatiranmu. Jadi apa sebenarnya yang kamu tuntut dariku?”
Lathifa menghela napas. Walau sesakit apapun yang ia rasakan saat ini, tapi Hatala juga benar. Suaminya telah menjawab pertanyaannya dan ia hanya terlalu sensitif dengan jawaban singkat yang diberikan Hatala.
Jadi sebenarnya ia ingin menuntut apa?
Lathifa lalu mengajak Daffa pulang. Meninggalkan Hatala yang diam-diam menjedutkan kepalanya di pinggir meja begitu pintu menutup dibelakang mereka…
***
Sesekali Dareen mencuri pandang kea rah Camani yang sedari tadi diam dan hanya memandang melalui kaca pintu mobil. Hujan diluar cukup deras sehingga Dareen harus memperlambat laju mobilnya belum lagi menghindari arus para pengendara lain dijam-jam padat pulang kantor seperti ini…
Sesekali Dareen menghela napas panjang. Ia tidak menyukai suasana canggung seperti ini.
Akhirnya Dareen dan Camani sampai di restoran ketika menjelang petang. Melihat keduanya datang bersama-sama sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi karyawan Set Free Restaurant. Belum sempat mobil terparkir sempurna Camani sudah turun dari mobil, meninggalkan Dareen. Berlari menembus hujan lalu memasuki restoran. Dareen meneriakkan nama Camani tapi gadis itu tetap berlari menuju ruang ganti restoran tapa berbalik ke arahnya.
Di mall tadi mereka tidak sengaja bertemu dengan salah satu mantan Dareen. Dareen kemudian memperkenalkan Camani sebagai calon pacarnya, membuat wanita berparas seksi itu berkomentar,
“Astaga, Dareen. Aku tidak menyangka kamu tergoda dengan gadis tingkat rendah seperti ini. Jangan bohong padaku. Aku pernah melihatnya membersihkan meja bekas makan pengunjung restoranmu.”
Dareen mendadak tidak tahu mau membalas apa sampai Camani-lah yang mengambil-alih dengan nada sedingin kutub utara,
“Jangan salahkan saya. Justru Pak Dareen-lah yang mengejar-ngejar saya. Anda bisa melihat sendiri, kan cengiran khas orang jatuh cinta di wajahnya? Justru seharusnya Anda memberinya selamat karena cukup pandai untuk tidak sampai jatuh pada wanita yang rela dadanya disumpal bahan kimia demi dianggap berada diderajat yang tinggi.” Camani lalu membungkuk lalu pergi begitu saja.
Camani hampir pulang dengan kendaraan umum sebelum Dareen berhasil memujuknya. Diam-diam Dareen juga menyalahkan dirinya sendiri kenapa membiarkan Camani dihina seperti itu…
Sepertinya predikat brengsek masih layak untuk ia sandang.
Ketika ia sampai di ruang ganti karyawan Camani sudah mengganti bajunya. Namun gadis itu bakan tidak melihat ke arahnya, tapi Dareen menutup jalannya hingga membuat Camani mendongak. Kobaran api dimatanya terlihat jelas, membuat Dareen diamdiam menelan ludah.
“Saya rasa saya sudah cukup banyak membantu Bapak selama ini dan saya harap yang tadi siang itu yang terakhir. Jadi tolong jangan halangi jalan saya.”
Camani mencoba mendorongnya kesamping, tapi Dareen sudah menarik pergelangan tangan gadis itu untuk meraupnya dalam dekapannya. Dareen bisa merasakan kekakuan Camani dalam dekapannya, tapi ia tidak peduli. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu lalu berbisik,
“Yeah, aku berjanji itu akan menjadi yang terakhir. Maafkan aku yang tidak bisa membelamu tadi jika itu yang membuatmu marah padaku. Maafkan aku…”
Lalu tiba-tiba bayangan pria yang Camani panggil dengan “Pak Hatala” mendadak muncul diingatannya. Dadanya terasa panas. Apalagi ketika mengingat cara Pak Hatala menatap Camani…
Dareen tidak menyukainya. Dareen tidak menyukai orang lain yang juga menaruh perhatian dengan Camani…
“Apakah Pak Hatala orangnya? Apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai membuatmu tersenyum? Katakan padaku dan aku juga akan melakukannya!”
“Pak Dareen, lepaskan saya!” Camani menggeliat, membuat Dareen makin memeluk gadis itu erat.
“Jawab aku! Apa dia orangnya? Apakah dia yang kamu sukai?”
“Pak Dareen, please. Lepaskan saya!”
“Dia memakai cincin, Camani! Dia sudah menikah, demi Tuhan! Apa kamu tidak menyadarinya?”
Mendadak Camani berhenti meronta. Dareen perlahan melepaskan pelukannya, tapi tidak meninggalkan tangannya yang masih beradai dilengan atas gadis itu. Kepala gadis itu menunduk, tapi perlahan namun pasti tubuh Camani bergetar…
Lama baru Dareen baru menyadai kalau Camani menangis, namun tidak megatakan apapun…
Pengakuan tanpa kata itu memohok Dareen.
Camani benar-benar punya perasaaan dengan Pak Hatala itu…
***Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (8)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
y es
08/03/2023
0semngt
21/04/2022
1🌼🌼🌼🌼🌼
01/04/2022
0Lihat Semua