Beranda/Aku Jelek Bukan Seleramu Aku Cantik Seleraku Bukan Kamu Mas/
Bab 65 Kesombongan Pak Joko
Pov guru Joko
Ah panas hati ini melihat pak Johan dan bu Jessica saling lirik melirik. Apakah mereka punya hubungan di luar selain di sekolah sebagai sesama guru? Apa jangan jangan pak Johan ada rasa pada bu Jessica? Atau bu Jessica ada rasa pada pak Johan secara pak Johan memang tampan sih.
Apalagi bu Jessica sangat cantik, di lihat dari sudut manapun mereka sangat cocok, di tambah lagi bu Jessica mengakui kalau mereka berdua memang cocok karena tampan dan cantik. Ah tidak!!!! Aku harus optimis! Aku pasti bisa mendapatkan bu Jessica bagaimanapun caranya!
Walaupun aku tidak setampan pak Johan tapi aku seorang guru PNS yang sudah mapan berpenghasilan. Mau sejelek apapun aku pasti perempuan perempuan cantik seperti contohnya bu Jessica akan tetap memilih yang sudah mapan sepertiku.
Pak Johan hanya menang tampang saja, dia masih guru baru honorer lagi, penghasilannya sangat minim. Pak Johan tidak akan mampu membelikan skincare bu Jessica yang pasti mahal harganya karena terbukti bu Jessica sangat cantik dan mulus dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Kecantikan bu Jessica pasti tidak lepas dari perawatan yang mahal. Jadi hanya aku yang sudah berpenghasilan ini yang bisa memenuhi kebutuhan skincare bu Jessica.
Sudah di pastikan bu Jessica akan memilihku! Apalagi seperti ada cemistry tersendiri saat pertama kali kita bertemu dan bersalaman di hari pertama bu Jessica menjabat kepala sekolah.
Tangan kami bertemu untuk bersalaman, hatiku saat itu benar benar tidak karuan dag dig dug di tambah dia tersenyum manis terhadapku. Aku yakin hati bu Jessica juga terpaut padaku. Nyatanya dia menunjukkan senyum termanisnya padaku.
Jangan terlalu pede ya pak Johan, jangan mentang mentang tampan trus kepedean. Zaman sekarang hanya tampan saja tidak akan bikin perut kenyang. Yang terpenting adalah penghasilan.
Sebenarnya aku sedikit curiga karena nama pak Johan sama dengan nama ketua yayasan Bina Harapan yang baru. Namun itu paling hanya kebetulan saja, tidak mungkin seorang guru honorer menjabat sebagai ketua yayasan bergengsi.
Lagipula menjabat sebagai ketua yayasan umur nya tidak bisa semuda itu. Harus berpengalaman dulu. Pelantikan resmi ketua yayasan juga baru di adakan satu bulan kedepan.
Huh rasanya pengap sekali di sini karena melihat bu Jessica dan pak Johan semakin lirik lirikan padahal sudah aku tegur namun mereka malah semakin menjadi.
Rasanya ingin segera pulang saja tapi uang dua puluh lima juta hasil dari korupsi dana BOS masih di pegang bu Jessica, entah mengapa bu Jessica ngotot menahan uang tersebut. Apa bu Jessica curiga dan menyadari bahwa uang tersebut adalah uang korupsi dari dana beasiswa anak anak kurang mampu?
Ah tidak mungkin..selama ini aku melakukan korupsi dana BOS dengan rapi, tidak ada seorang pun yang menyadarinya kecuali antek antekku termasuk mantan kepala sekolah pak Ibrahim yang di bantu mantan ketua yayasan pak Sutiardji.
Bu Pipit juga ikut andil, namun uang hasil korupsi yang di terima oleh bu Pipit tidak ada seperempatnya dari yang kuterima. Namun bu Pipit tidak mengetahui hal itu. Yang dia tahu hanyalah hasilnya sendiri, begitu saja dia sudah sangat senang kok hahaha peak.
Namun sekarang aku bingung bagaimana caranya agar uangku di tangan bu Jessica bisa berada di tanganku segera? Duuhh .
"Bos saya sudah dapat bukti buktinya."
DEG
Jantungku berdegup kencang, kok cepet amat baru dua puluh menit masak iya udah dapet bukti? semoga saja aku tidak terseret kasus ini karena aku main di belakang layar dan datang hanya waktu penggerebekan saja.
"Gimana? Bukti apa yang kamu dapatkan dan kira kira siapa yang bersalah di sini" berondong bu Jessica.
"Mereka semua yang ada di hadapan anda lah dalangnya, mereka playing victim dan memfitnah pak Johan seolah olah pak Johan sedang melecehkan seorang murid, dan murid perempuan itu pula ikut andil dalam jalannya fitnahan ini atau jebakan untuk pak Johan ini."
Gil* kenapa bisa ketahuan? Apa orang suruhan bu Jessica sepintar itu? Padahal cctv di setiap sudut tempat perkara sempat aku matikan. Lalu kenapa mereka bisa tahu semuanya dengan tepat?
Tidak tidak! Aku harus tenang, belum tentu mereka punya bukti kongkrit atas tuduhannya yang sebenarnya benar.
"Heh kalau ngomong jangan asal ngawur ya! Bisa aku laporkan atas tuduhan pencemaran nama baik kau! Ngomong itu pakai bukti jangan asal ngomong! Lagipula cctv di area perkara kan mati jadi_" desisku tertahan karena tersadar hampir saja membongkar aib sendiri.
"Cctv di area perkara mati ya pak?" tanya bu Jessica santai huh bisa bisanya dia sesantai itu.
"Eh em i_iya bu." jawabku gugup. Semoga tidak ketahuan kalau cctv nya mati karena sengaja aku matiin.
"Sejak kapan bapak tahu tentang mati hidupnya cctv? Cctv kan urusannya security tuh, bukan urusan pak Joko." seru bu Jessica.
Deg
Kali ini aku benar benar buntu..mau jawab apa aku sekarang?
"Em em itu itu sa_ya sempat tanya tanya bu tentang cctv." jawabku asal.
"Tanya tanya cctv untuk apa pak?" tanya bu Jessic lagi.
Sepertinya bu Jessica suka banget mempermainkanku di hadapan orang banyak, padahal aku yakin bu Jessica tahu kalau aku sedang gugup.
"Kok diam saja pak buat apa tanya tanya tentang cctv?jawablah!" desisnya.
Duh buntu buntu di saat seperti ini kenapa otakku gak mau jalan sih.
"Apakah buat ini ya pak?" tanya bu Jessica sembari meletakkan tablet di ujung meja tepat di depanku.
Sebuah video memperlihatkan kerumunan orang termasuk aku berada dalam video tersebut.
Terdengar jelas suaraku yang sengaja merencanakan penjebakan terhadap pak Johan.
Tenggorokanku terasa tercekat, tak mampu lagi mengungkapkan sanggahan apapun karena video tersebut sudah jelas sebagai bukti.
Eh tunggu dulu, video ini bukanlah video cctv tapi seperti video yang sengaja di rekam. Siapa yang sengaja merekam kegiatan kami? Bahkan tidak ada yang terlewat satupun rencana busukku untuk menjebak pak Johan.
"Si_siapa yang se_ngaja merekam ini? Darimana anak buah ibu mendapat rekaman ini?"
Ku beranikan untuk bertanya, rasa penasaranku sangat tinggi akan perekam misterius itu.
"Tidak penting siapa perekam video tersebut, yang paling penting adalah isi dalam video tersebut." seru bu Jessica.
Bagaimana nasib nama baikku? Niatnya ingin menghancurkan nama baik musuh eh malah namaku yang hancur. Sungguh ini namanya senjata makan tuan! Aaarrrgggttt b*ngs**!
"Bu sekali lagi saya tanya! Siapa perekam video ini!?" tanyaku emosi.
Entah keberanian darimana sehingga aku berani berteriak di depan bu Jessica.
Semuanya bergeming bungkam tak ada yang mengeluarkan suara. Kenapa? Kenapa tak ada yang menjawab pertanyaanku? Apa mereka takut akan suaraku yang menggelegar? Hahhaha.
Ku tatap bu Jessica yang juga menatapku tajam. Namun setelah sepersekian detik tiba tiba dia tersenyum sinis.
"Bapak Joko yang terhormat, bapak memilih mengakui kesalahan atau memilih masuk bui?"
DEG
Masuk bui? Bu Jessica akan melaporkan aku ke polisi? Tidak ! Tidak! Nama baikku akan hancur dan tidak ada yang mau menerimaku jadi guru lagi lalu status PNS ku juga akan di cabut. Masa depan suram namanya!
"Mak_sut ibu apa? Anda akan melporkan saya ke polisi?"
Aku masih ingin bertanya untuk memastikan bahwa yang kudengar bukanlah halusinasi, bahkan aku berharap kejadian sekarang adalah hanya halusinasiku saja.
"Ya. Saya akan melaporkan anda atas tuduhan pencemaran nama baik di tambah percobaan pelecehan terhadap anak di bawah umur dengan sengaja." seru bu Jessica lantang.
Tiba tiba dada ini terasa sesak, aku tidak kuat menghadapi ini. Aku tidak mau masuk bui!
"B_bu to_long jangan penjarakan saya. Bagaimana nasi istri dan anak saya kalau saya di penjara bu?" ucapku memelas.
Aku mencoba sememelas mungkin agar dia merasa iba dan tidak jadi melaporkanku.
"Jadi anda mengakui bahwa anda memang sengaja menjebak pak Johan?"
"I_iya bu tap_tapi ini semua ide bu Pipit bu! Saya hanya ikut ikutan saja!"
Aku mencoba mengorbankan bu Pipit saja daripada kesalahan di timpakan ke aku semua.
"Heh enak saja ya bapak malah playing victim! Kan bapak sendiri yang mengajak saya duluan untuk membuat rencana penjebakan terhadap pak Johan agar pak Johan di keluarkan dari sekolah lalu bapak tidak ada saingan merebut hati bu Jessica!"
Si*l kenapa malah bu Pipit membeberkan semuanya sih!! Ugh gemez banget sama mulut lamisnya itu.
"Heh diam kau bu Pipit! Jangan mengada ngada ya! Tidak ada yang seperti itu!" elakku.
"Halah memang itu kenyataanya! Jangan mencoba membebankan kesalahan pada saya ya! Ini semua kan rencana bapak dan saya harus mengikuti apa kata bapak! Kalau tidak bapak mengancam akan memecat saya jadi guru disini! Terpaksa saya ikuti mau bapak"
Ugh geram sekali dasar mulut lamis! Tak tahan akan mulutnya yang terlalu ceplas ceplos tangan kananku pun mengayun ke udara hendak menampar pipinya yang sudah mulai keriput itu.
Namun tanganku di tahan seseorang sehingga tangan ini tak jadi mendarat mulus di pipi peyot bu Pipit.
"Heh jangan coba coba menghalangi saya ya! Atau kau mau menggantikan bu Pipit di gampar pipimu!" ucapku geram.
Ternyata yang menahan tanganku adalah pak Johan.
"Wow wow sabar pak sabaar yaaa..jangan kasar kasar dong sama perempuan, kalau memang apa yang dikatakan bu Pipit benar adanya ya apa salahnya bapak minta maaf baik baik, saya juga bukan tipe pendendam kok."
Ugh ini penghinaan! Aku di suruh minta maaf pada rivalku!? Memalukan sekali! Wibawaku turun di hadapan bu Jessica dong! Tidak! Ini tidak boleh terjadi.
"Tidak sudi saya minta maaf pada orang macam kamu!" seruku.
"Hahhahahha memangnya saya orang macam apa pak? Saya tampan saya punya banyak uang saya juga punya pekerjaan halal tak pernah korupsi tuh."
Si*l terasa tertampar akan ucapan pak Johan. Benar juga dia memang tampan dan punya pekerjaan halal juga tidak pernah korupsi tapi kalau punya banyak uang aku tidak percaya!
"Halau kau ini miskin! Orang miskin dan tidak mapan sepertimu tidak pantas bersanding dengan bu Jessica!" seruku lagi mencoba merendahkannya di depan bu Jessica biar bu Jessica ilfeel hahhha.
"Hahahaha saya miskin? Memangnya ada tidak tahu siapa saya? Dan apa? Saya tidak pantas bersanding dengan bu Jessica? Kalau saya saja yang tampan ini tidak pantas untuk bu Jessica lalu siapa yang pantas?"
"Saya jelas tahu siapa anda! Anda hanyalah guru honorer miskin makanya tidak pantas untuk mendampingi bu Jessica! Yang pantas untuk bu Jessica hanyalah saya seorang PNS yang mapan!" ujarku sesumbar.
Aku yakin setelah ini bu Jessica tertarik padaku yang notabene seorang PNS punya penghasilan mapan. Dia pasti berfikir hanya denganku saja dia akan mendapatkan apapun yang dia mau.
"Hahhahahhahahahahhahahhhhahhhahaha hihihihihihiihi uhuk uhuk ekhem uhuk uhuk hahahhahahhahha!"
Tiba tiba bu Jessica tertawa terpingkal pingkal. Siapa yang dia tertawakan!? Apakah aku? Karena setelah aku sesumbar dia kok langsung tertawa begitu.
"Bu Jessica apa yang anda tertawakan? Siapa yang anda tertawakan?" tanyaku menahan gemas.
"Ya andalah siapa lagi?" jawabnya santai.
Si*l!
"Kenapa ibu menertawakan saya lagi!?"
Aku benar benar sudah tidak bisa menahan amarahku, jangan mentang mentang dia cantik dan orang yang aku sukai bisa seenaknya saja padaku.
"Karena anda ini memang pantas di tertawakan. Anda terlalu percaya diri tapi tidak lihat situasi. Kalau memang anggapan anda pak Johan hanya menang tampang dan miskin tapi kalau boleh milih saya tetap milih pak Johan yang miskin daripada milih anda yang punya harta gak seberapa saja sudah sombong.
Saya cari pendamping bukan dari hartanya karena saya sudah punya segalanya uang saya banyak dari gaji saya sebagai kepala sekolah di tambah uang dan warisan keluarga saya yang tidak habis tujuh turunan!"
Deg
Harga diriku terasa di injak injak. Dengan terang terangan dia lebih memilih pak Johan yang miskin ketimbang aku karena dia sudah kaya dari sananya?
Ugh kalau memang bu Jessica orang kaya raya dari lahir, bearti yang pantas mendampinginya hanyalah aku karena aku adalah seorang istimewa yang selalu di hormati dari kecil sampai sekarang.
Orang terhormat memang pantas nya berdampingan dengan orang kaya raya dari kecil iya kan?
"Kalau memang begitu kenyataanya..ini lebih meyakinkan orang kaya raya dari kecil seperti bu Jessica lebih pantas berdampingan dengan saya yang selalu di hormati dari kecil." ucapku pongah.
"Hahhhhha hahhh"
"Hihihi hihihi"
Tiba tiba semua orang yang berada di sini tertawa bersamaan. Mengapa? Apa ada yang lucu dengan ucpanku!?
"Hey mengapa kalian tertawa!" teriakku.
"Kalau ngehalu jangan ketinggian pak ntar jatuh sakit lhoh."
Ucap salah satu murid. Berani sekali dia.
"Kau berani seka_!"
"Stop! Sudah hentikan kekonyolan ini! Saya sudah lelah! Mari kita akhiri saja!
Pak Joko sekarang bagaimana keputusan anda? Anda mau mengakui kesalahan anda atau saya laporkan ini ke polisi?" seru bu Jessica.
Aku yang masih geram pun tak bisa berfikir jernih.
"Saya tidak sudi minta maaf! Sudah berulang ka_!"
"Oke baiklah kalau itu mau anda berarti anda memilih masuk bui! Sinji bawa mereka semua ke kantor polisi sekarang juga termasuk murid murid yang terlibat dalam masalah ini!" seru bu Jessica lantang.
Apa? Dia benar benar ingin memenjarakanku?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (1020)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Sangat bagus
04/02
0sangat bagus
03/02
0seru
03/01
0Lihat Semua