Bab 63 Usaha Menjatuhkan Pak Joko

"Apa!?" teriak pak Joko.
"Orang seperti anda ini memang pantas di katain orang tak tahu diri!" desis istriku.
"Bu anda sungguh sudah keterlaluan!" bentak pak Joko.
Aku yang sudah tak bisa menahan kesabaranpun refleks menarik kerah baju pak Joko dan siap memberi bogem mentah di wajahnya yang songong itu.
Namun istriku seketika berteriak menghentikan aksiku.
"STOP!"
Tanganku memaku tepat di depan wajah pak Joko yang memejamkan matanya. Cih baru segitu saja sudah ketakutan. Aku berdecih sinis.
Ku turunkan  tangan kananku yang masih mengepal, ku dorong sedikit tua bangka tak tahu diri itu sehingga terhuyung ke belakang.
"Sudah pak Johan.. Jangan melakukan kekerasan. Saya bisa mengurusnya sendiri." ucap istriku tegas.
"Pak Joko.. Anda tadi bilang tak perlu di usut masalah handphone ini,  lalu sekarang minta di usut kan? Trus sebenarnya mau anda apa?" tanya istriku kalem.
"Saya tetap ingin mengusut tuntas masalah ini!  Nama baik saya terancam karena fitnah keji ini!" desisnya.
"Fitnah? Sudah jelas jelas loh handphonenya ada di tas milik anda. Itu adalah sebuah bukti bahwa handphone itu sudah anda curi."
"Tidak bu ini tidak benar! Pasti ada yang menaruh handphone ini di tas saya!  Saya di fitnah bu! Pokoknya saya ingin masalah ini di usut tuntas!" pekik pak Joko.
"Hmmm baiklah kalau keinginan pak Joko seperti itu,  saya akan menurutinya."
Pak Joko tersenyum sumringah, pastinya dia senang sekali karena nama baiknya tidak jadi jelek untuk sementara.
"Baik bu.. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui siapa yang mencoba menjebak saya?" tanya pak Joko serius.
"Doni! Bawa kemari murid yang kehilangan handphone tersebut." titah istriku.
Doni hanya mengangguk tanpa berucap apapun, ia langsung berjalan dengan cepat keluar dari kantor guru.
Hening
Kami menunggu kedatangan Doni tanpa bersuara. Lima menit kami menunggu akhirnya Doni datang bersama seorang murid perempuan.
"Bu murid ini pemilik handphone tersebut." lapor Doni.
"Namamu siapa?" tanya istriku.
"Saya Sinta bu kepala sekolah."
"Ceritakanlah sejak awal mengapa handphone mu tiba tiba menghilang?"
"Em jam pelajaran terakhir kelas kami sedang kosong, katanya bu Pipit ada keperluan mendadak jadi tidak bisa mengajar."
Mata bu Pipit mendelik,  mulutnya komat kamit tanpa suara. Wkwkwk ketahuan banget bolos ngajar padahal sedang ada di sekolahan. Mamvus kau,  setelah pak Joko pasti bu Pipit berikutnya.
"Lalu bu Pipit memberi tugas agar di selesaikan saat bel pulang, bu Pipit memerintah salah seorang dari kami untuk mengumpulkan tugas dan di taruh ke meja bu Pipit ruang guru.
Saat sedang meletakkan tugas di meja bu Pipit saya merasa ada sesuatu yang jatuh,  namun saya cari cari sampai kolong meja saya tidak menemukan apapun,  jadi saya kira itu halusinasi saja.
Tanpa mengecek apapun lagi,  saya putuskan untuk kembali ke kelas dan pulang. Namun saat saya hendak memesan taxy online saya tidak menemukan gawai saya.
Saya mencari di setiap sudut kelas dan jalanan yang saya lalui tadi tetap saja tidak ketemu. Lalu saya mengingat sesuatu,  saya pernah merasa menjatuhkan benda di ruang guru yang sempat saya cari barang yang terjatuh namun tidak menemukan apapun.
Tanpa berfikir panjang lagi gegas saya berlari menuju ruang guru kembali. Nihil saya tidak menemukan gawai saya. Kesana kemari tetap saj tidak menemukannya.
Dengan putus asa saya menghubungi Doni karena Doni adalah anggota OSIS bagian informasi. Begitulah ceritanya bu kepala sekolah." jelas Sinta panjang lebar.
"Dasar murid tidak tahu di untung! Gara gara keteledoran mu hampir saja nama baik saya jelek gara gara di tuduh mencuri! Murid sia*_"
"STOP!"
Teriakan istriku terdengar melengking,  hampir saja gendang telingaku meledak.
"Jaga ucapanmu pak Joko! Dia adalah seorang murid dan anda adalah seorang guru. Jadi tidak sepantasnya anda menyuarakan kalimat kalimat kasar pada seorang murid!" bentak istriku.
"Maaf bu...saya terbawa emosi, saya khilaf." ucap pak Joko kalem.
Hahahha baru di bentak gitu aja sudah melempem.
"Jadi sekarang sudah jelas kan duduk permasalahannya. Ini semua hanya kesalahfahaman akibat keteledoran pemilik handphone sendiri. Jadi Sinta minta maaflah pada pak Joko." titah istriku.
Sinta mengangguk lalu menatap pak Joko.
"Pak Joko saya minta maaf yang sebesar besarnya, akibat keteledoran saya..hampir saja nama baik bapak jadi jelek."
"Ya..ya.. Ya sudah sana pergi dari hadapan saya,  sebelum saya emosi kembali." usirnya arogan sekali.
Awas saja kau Joko! Setelah ini apa kau masih bisa searogan ini!?
Istriku menggeleng gelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas kasar melihat tingkah pak Joko.
"Nah masalah pak Joko selesai  dengan adil kan karena saya memberinya waktu untuk mengusut tuntas masalah yang menimpanya." ucap istriku.
Kami semua mengangguk.
"Iya bu kepala sekolah,  masalah saya sydah selesai dengan baik jadi sekarang tinggal memberi hukuman untuk pak Johan saja bu." ucapnya sinis sebari melirikku.
Hahahaha puas puas kan lah dulu dirimu bertingkah sebelum menelan pil pahit.
"Hukuman? Hukuman itu bagi orang yang sudah benar benar bersalah setelah di usut tuntas permasalahanya pak Joko.. Seperti tadi saya memberi kesempatan anda untuk mengusut tuntas masalah anda jadi saya juga akan memberi kesempatan pak Johan untuk mengusut tuntas masalah nya dong. Itu baru adil kan?" ujar istriku kalem.
Wajah pak Joko mendadak gusar,  matanya bergerak kesana kemari ciri khasnya kalau sedang gelisah hahahaha.
"Em bu...menurut saya itu tidak perlu lagi di usut tuntas karena sudah jelas pak Johan melakukan pelecehan terhadap murid perempuan ini." elaknya.
"Loh bukannya sama ya? Tadi juga handphone yang hilang jelas jelas ada di tas anda tuh,  nyatanya hanya kesalahfahaman setelah di usut tuntas. Jadi gak ada salahnya saya memberi kesempatan pak Johan untuk mengusut tuntas masalahnya." desis istriku.
"Tap_tapi bu.. "
"Tidak ada tapi tapian! Oh memangnya kenapa sih kok kelihatannya anda ketakutan sekali kalau saya mengusut tuntas masalah pak Johan?" tanya istriku mulai mempermainkan kewarasan mental pak Joko.
Wajah pak Joko memerah,  keringat sebiji jagung mulai menetes membasahi wajahnya yang hitam,  tubuhnya gelisah tak bisa diam.
"Ti_dak bu.. Bu_kan itu maksut sa_ya. Saya tidak mencoba men_jebak pak Johan kok."
Jdeeerr
Hahahhaaha kena kau.
"Lah menjebak???? Saya tidak pernah mengucapkan atau mempertanyakan anda kata menjebak lho! Apa jangan jangan bapak memang benar benar menjebak pak Johan?"
Seketika raut muka pak Joko berubah pucat pasi. Bahasa tubuhnya  terlihat sekali kalau dia sedang ketakutan.
"Ti_dak bu! Ja_ngan sembarangan menuduh tanpa bukti!" pekiknya walau gagap.
"Tanpa bukti?????  Baiklah!  Kalau begitu ayo buktikan kalau anda tidak menjebak pak Johan! Semuanya ayo usut tuntas masalah pak Johan sekarang!" teriak istriku.
Orang orang suruhan istriku yang sama saja orang suruhanku bergerak cepat mencari bukti bukti tersebut.
Murid murid dan para guru yang sedang merasa tegang pun menjadi tambah tegang karena kaget melihat pria pria berjas hitam sudah ada di belakang mereka.
Aku sengaja memanggil mereka untuk memyusut tuntas masalah ini. Karena aku sudah tidak percaya dengan para guru disini.
"B_bu ada apa ini? Siapa mereka?" tanya pak Joko gagap.
"Mereka orang suruhanku..mereka lah yang akan bekerja mencari bukti bukti keterlibatan atau tidaknya anda dalam masalah pak Johan." ucap istriku santai sembari memainkan ujung pulpen kesayangannya.
Hmmm kalian tahu tidak? Kalau istriku sudah mulai memainkan ujung pulpen kesayangannya itu artinya dia sudah mulai serius untuk menginjak mangsanya sampai koit atau mamvus.
Wajah nya yang ayu kalem manis itu akan berubah terlihat menyeramkan saat memainkan ujung pulpen.
Benar saja pak Joko semakin terlihat pias dan terpojok karena daritadi dia memperhatikan istriku dengan serius.
Sekarang kita tunggu saja apa yang di temukan oleh para orang suruhanku.

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru