Bab 57 Ketahuan2

Pov Boy
"Si*lan Emi anak manja itu selalu saja bikin ulah! Sekarang malah seakan akan menyindirku! Tidak mungkinkan kalau dia tahu hubunganku dan Erlyn?  Tapi kalau tau bisa gawat. Ingat kata kata papa tadi yang mau menghapus nama anak yang sudah mencoreng nama baiknya dari Kartu Keluarga sekaligus ahli waris! Ahhh Damn!!!" gerutuku.
Sejak kecil aku sudah sangat membenci Emi adik kandung satu satunya. Karena dia sudah merebut perhatian dan kasih sayang papa dan bunda dariku.
Aku selalu di nomor dua kan,  apa apa selalu Emi yang di dahulukan. Kalau Emi meminta sesuatu harus segera di turuti dan aku harus mengalah pada Emi. Alasannya Emi lebih kecil dariku. Dasar tidak masuk akal.
Kebencian ku semakin terpupuk dalam berjalannya waktu. Akhirnya aku memutuskan untuk menghasut papa dan mama agar membenci Emi. Apalagi Emi tumbuh menjadi gadis manja sehinhga ia suka sekali melakukan hal hal di luar batas.
Dia suka clubing merokok dan parahnya lagi dia suka membully teman temannya.
Ulahnya itulah yang aku gunakan untuk menindasnya. Ku adukan kejelekan kejelekan Emi pada papa,  papa awalnya tidak percaya namun akhirnya papa murka karena melihat sendiri tingkah si Emi.
Sejak saat itu papa sangat tegas terhadap Emi,  itu sangat membuarku bahagia. Melihat Emi yang begitu tersiksa dengan aturan aturan yang di buat papa.
Aku pun mulai bertindak kasar padanya, tidak jarang pula aku membentaknya hanya karena hal sepele.
Bahkan aku menghasut papa untuk memberi uang saku setengahnya saja dari biasanya karena takutnya uang itu di buat untuk pergi clubing dan mabuk mabukkan. Papa pun percaya dan mulai mengurangi jatah uang saku Emi hahahha.
Emi memberontak dan protes habis habisan saat pertama kali uang sakunya di potong separuh  tapi papa tetep kekek dengan pendiriannya sehingga Emi pun pergi dengan kemarahan dan kekecewaan karena tidak bisa berbuat apa apa.
Sejak saat itu pula Emi berhenti mengikuti rutinitas keluarga contohnya sarapan bersama. Apalagi di tambah bunda pergi meninggalkan kami saat mengetahui perselingkuhan papa,  Emi semakin menjadi jadi. Dia tambah brutal dan sulit di kontrol.
Sebenarnya aku juga merasa terpuruk karena bunda tega pergi meninggalkan kami tapi kegalauan itu sirna saat adik tiriku menawarkan hubungan lebih dan bersedia menjadikan tubuhnya pemuas hasratku.
Sejak saat itulah kami sering melakukan hal hal haram bersama. Yang penting otakku terbebas dari keterpurukan saja pikirku.
****
Setelah sarapan usai dan papa berangkat kerja gegas aku menghampiri Emi di kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamarku.
Ku gedor gedor pintu kamarnya agar dia segera membuka pintu. Benar saja terdengar derit pintu terbuka.
"Ada apa sih kok gedor gedor pintu! Ngetok aja kan cukup!" protesnya.
Rasanya kepalaku semakin mendidih saat mendengar nya berketus ketus ria padaku. Berani sekali!
"Sudah berani kau ya sekarang! Sekarang katakan padaku apa maksut obrolanmu dengan papa tadi!?" bentakku langsung saja.
"Obrolan yang mana ya kak?" ucapnya seolah olah mengejek sikapku.
"Si*lan sudah gak usah pura pura amnesia ya kau!" bentakku lagi.
"Ooohh maksud kakak yang seorang kakak tiri main ehem ehem nganu sama adik tirinya gitu ya?" tanyanya santai.
Melihat sikapnya seperti semakin membuatku bergemuruh hebat.
"Kau!"
"Iya apa kak? Oh iya itu kan cerita nya temen aku lho,  lalu kenapa kakak yang sewot?" tanyanya santai.
Seketika aku terkesiap. Sungguh aku hanya mengedepankan emosi dan lebih dulu mencari pelampiasan tanpa menimbang sebab akibatnya.
Aku terdiam bingung mau mengatakan apa. Yang bisa aku lakukan hanya mengepalkan tangan erat erat berusaha meredam emosi. Jangan sampai tangan ini melayang di pipinya,  walau bagaimanapun dia tetaplah adikku. Tak mungkin aku memukulnya.
"Kok diam kak? Bingung ya? Apa jangan jangan kakak juga seperti itu?" tanyanya dengan mimik yang menyebalkan.
"Seperti itu apa maksutmu?" ketusku.
"Kak Boy!  Aku cari cari ternyata di sini.. Katanya mau berenang bareng."
Tiba tiba Erlyn datang dengan suaranya yang manja namun salah waktu dan tempat. Tak bisakah ia membaca situasi?  Ku lirik Emi yang sedang tersenyum miring seakan kami ini hanyalah manusia hina.
"Wah kebetulan sekali kalian berdua berada di sini,  aku gak mau berpura lura lagi lah."
"Apa maksutmu?" tanyaku heran.
Dia tak menanggapi pertanyaaku malah mengambil gawai di saku celananya.
Drrt drrt tetiba gawaiku bergetar menandakan ada chat masuk. Ah malas sekali membuka gawai di saat aku lagi bad mood gini.
"Kyaaaaaaaaaaa!!!!"
Aku terperanjat kaget di kala mendengar jeritan histeris Erlyn.
Aku menoleh dan melihat ke arah Erlyn.  Di sedang memandangi gawainya sembari menutup mulutnya.
"Ada apa sih Er kok jerit jerit kaya ketahuan nganu aja!" ketusku.
"Hahahahhhhhhahahahahaha!"
Tiba tiba Emi tertawa terpingkal pingkal sembari memegangu perutnya.
"Eh gil* ya tiba tiba ketawa dasar str*s" umpatku.
"Benar!" ujar Emi.
"Apanya!" bentakku heran.
"Benar apa yang kakak katakan tadi!  Coba buka gawai kakak lihat ada chat masuk yang bikin Si Erlyn jerit jerit!" ujarnya.
Aku mengernyit. Namun kulakukan juga apa yang Emi katakan.
Ku buka gawai dan Astaga!!!!!!!!!  Terlihat jelas di video bahwa aku sedang genjot genjotan dengan Erlyn. Video ini sepertinya di ambil dari ventilasi pintu kamarku.
Tak salah lagi,  obrolan Emi dan papa di meja makan tadi memang menyindirku dan Erlyn! Kurang aj*r!
"Kau! Kau kurang aj*r sekali mengambil video orang tanpa seizin orangnya dulu!"
"Kau sudah kelewat batas!" bentakku.
"Mana handphonemu! Hapus video itu sekarang juga!" bentakku lagi.
"Hahahaha percuma kak.. Walaupun kakak sudah menghapus video itu dari gawaiku atau menghancurkan gawaiku! Karena video ini sudah aku kirim di lima akun google ku! Jadi video ini tidak akan pernah hilang sampai kapanpun!" pekiknya.
Aku menggeleng pelan. Bagaimana kalau dia menggunakan video tersebut untuk menguasaiku? Ku tengok Erlyn yang masih tercenung menyimak obrolan kami. Aku yakin dia juga sama ketakutannya denganku.
"Aku tidak akan mengirimkan video ini kepada papa. Dengan syarat kalian harus menuruti apapun yang aku mau dan yang aku katakan!" cetusnya membuatku geram setengah mat*.
"Cukup kau minta uang sebanyak yang kau mau saja sekali kan? Kenapa harus mengabulkan semua perkataanmu!?" ketusku.
"Kalau tidak mau ya sudah video ini akan aku kirim ke papa deh." ucapnya santai sembari mengotak atik gawainya.
"Tunggu!"

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru