Bab 56 Ketahuan

Pov Emi
Gak mungkin dia masukin ceweknya ke rumah malam malam gini kan bisa di damprat papa.
"Lalu kak Boy lagi nganu sama siapa?" gumamku.
Hmm karena rasa penasaranku terlalu tinggi tetiba sifat isengku kambuh lagi, kebiasaan suka ngebully orang makanya suka sekali iseng sama siapapun hehehe.
(Bangga banget dek jadi tukang bully) otakku meracau kemana mana.. Sebenarnya ada rasa sesal telah ngebully teman teman sekolah,  namun aneh nya setelah melihat wajah mereka yang sedang ketakutan dan menderita aku malah merasa lebih semangat lagi ngebully.
Kenapa begitu ya? Apa mentalku terganggu? Apa aku ini seorang psycopet Eh psycopat?
Ah entahlah.. Ku ambil kursi pelaaannn sekali agar tidak menimbulkan bunyi sedikitpun dan ku letakkan  persis di depan pintu kamar kak boy, kaki ini menaiki kursi niatnya ingin lihat dari celah ventilasi pintu namun  ternyata aku kurang tinggi. Asyem!
Tak kehabisan akal,  ku ambil gawai dan menekan tombol bergambar kamera lalu bersiap merekam kegiatan mereka melalui ventilasi pintu kamar kak boy.
Cukup lama aku merekam kegiatan kak Boy dan pacarnya,  sekitar sepuluh menit aku berdiri agak jinjit sampai kakiku pegal.
Kurasa sudah cukup mendapatkan yang aku mau,  gegas ku kembalikan kursi ke tempat semula. Lalu ku lanjutkan tujuanku yang sempat tertunda yaitu masuk ke dapur ngambil air minum.
Ku bawa satu teko air mineral ke kamar sekaligus beberapa camilan. Kusandarkan punggung di sofa singgle kesayanganku bersiap menonton video hasil rekamanku barusan.
Play
Wow!!!!!  Astaga! Astaga! Astaga!
Buat jus si buah naga
Kasih susu cap bendera di atasnya
Hati hati pria pria yang hobi menggoda
Karena biasanya mereka itu dari spesies buaya
"Pantun itu pantes banget aku lantunkan untuk kak Boy! Dasar buaya! Adik tiri juga di embat lah! Oohhh aku tahu sekarang..ternyata kepeduliannya kak Boy terhadap Erlyn selama ini karena ada hubungan ehem ehem nganu guys! dasar buaya buntung dan si Erlyn juga murahan banget mau maunya di jadiin boneka s*ks sama kakak tiri sendiri! Edan. "gumamku kasar.
Aku mengumpat dalam kesendirian. Gak nyangka kak Boy dan Erlyn bisa sejauh ini, ngnunya di rumah lagi! Apa gak takut ketahuan papa ya?
Seketika aku berfikir sejenak.. Memikirkan ucapanku barusan.  Ketahuan papa?
Hemm papa aja ngelarang kita bawa pacar nginap di rumah ini,  apalagi kalau papa tahu hubungan kak Boy dan Erlyn sudah sampai tahap nganu gimana ya? Apa papa akan marah dan mengusir mereka berdua? Atau malah menikahkan mereka dan menceraikan mama tiri?
Hahahahhha seketika bayangan wajah mama tiri yang ketakutan di cerai gara gara anaknya sendiri hhahhahahha. Seru banget pastinya ya.
Hemmm pertama tama aku harus cari kepastian papa tentang masalah ini. Baru aku akan menggunakan video ini untuk mengancam salah satu dari mereka bertiga atau tiga tiganya sekaligus  dan aku ambil keuntungan dari ketakutan mereka sebanyak banyaknya.
Hemmm brilian sekali sih otakku kalau masalah kek gini,  tapi kalau masalah pelajaran otakku kok zonk gitu ya guys? Apalagi matematika dan bahasa inggris nilaiku pasti selalu di angka 3.
Ah udahlah malah curhat sama diri sendiri sih. Lebih baik sekarang aku tidur dulu dan besok pagi baru tanya tanya ke papa di meja makan saat sarapan sembari melatih jantung kedua sejoli tersebut hahahha.
****
Paginya...
Alarmku berbunyi tepat pukul enam pagi,  mataku terbuka lebar karena teringat akan rencanaku semalam. Gegas aku beranjak dan membasuh muka tak lupa gosok gigi.
Keluargaku biasanya jam setengah tujuh pagi memang rutin sarapan bersama. Dulu saat masih ada bunda rasanya bahagia banget. Tapi sekarang rutinitas itu bagaikan hal yang harus aku hindari semenjak bunda pergi dari rumah ini.
Namun tidak untuk hari ini,  aku harus mengikuti rutinitas sarapan pagi bersama keluarga lucknut tersebut. Dengan satu tujuan untuk melihat wajah kikuk mereka.
Aku berdendang dan bersiul,  hari ini suasana hatiku begitu bagus hahahaha.
"Halo semuanya... " ucapku sumringah saat diri ini sudah berada di dekat meja makan.
Kebetulan sekali mereka sudah duduk cantik di meja makan lengkap tidak ada yang absen.
"Emi.. Kamu mau ikut sarapan?" tanya papa semringah. Hmm senang sekali papa melihatku mau ikut sarapan bareng lagi. Sedangkan mereka keluarga tiri memandangku sinis, dan kak Boy cuek sembari memainkan gawainya seakan tak melihatku.
Cih lihat saja sebentar lagi akan kubuat wajah sinis itu berubah menjadi wajah tegang,  dan wajah cuek kak Boy berubah menjadi wajah merah padam.
"Iya pa.. Kan udah lama banget  nih Emi gak ikut sarapan bareng."
"Iya nak papa senang sekali kamu mau ikut sarapan bareng lagi,  papa jadi tidak sedih lagi." ucap papa sendu.
Kasian sebenarnya papa tapi dia sendiri yang cari masalah,  tiba tiba bawa masuk pelakor dan mendepak bunda. Yah walaupun bunda sendiri yang memilih pergi, tapi kan bunda pergi karena gak tahan sama pengkhianatan papa.
Kami pun sarapan bubur ayam buatan bibik dengan diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok beradu dengan mangkuk.
"Pa..Emi mau minta pendapat papa nih." ucapku memecah keheningan.
"Pendapat apa nak?"
"Ini ceritanya temen aku pa.. Dia curhat ke aku karena dia bingung dengan masalah yang tengah ia hadapi."
Papa manggut manggut tanda menyimak obrolanku.
"Temen aku itu punya ayah yang menikah lagi, dan ibu tirinya itu membawa satu anaknya perempuan ke rumah temen aku setelah ibunya menikah dengan papa temen aku."
"Hmm kok ceritanya kehidupannya mirip dengan kehidupan kita ya nak?" tanya papa.
"Iya pa.. Bahkan mirip pa dengan status ibu tirinya juga seorang pelakor." sindirku mak jleb.
"Ekhem." papa berdehem keras. Sedangkan mama tiri dan Erlyn melotot menatapku.
"Apa kok melototin aku? Pengen di colok matanya pakai garpu ya!" sinisku.
"Apa!" bentak mama tiri.
"Sudah sudah sudaaaaahhh.. Ayo ma habisin sarapannya dulu,  kamu juga Emi jangan buat gaduh lagi lekas habiskan saranpanmu." ucap papa menengahi. Sedangkan kak Boy masih saja cuek padahal ada huru hara tepat di depannya.
Aku mencebik sinis karena mama tiri masih saja melotot ke arahku.
"Aku sudah tidak selera makan!" pekik mama tiri sembari berdiri dan berlalu pergi. Hahahaha.
Papa hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
Suasana kembali hening selepas mama tiri pergi meninggalkan meja makan. Namun aku mulai melancarkan aksiku kembali walau tanpa hadirnya sang mama tiri.
"Pa.. Tahu gak kalau si saudara tiri nya temenku itu ternyata punya hubungan spesial dengan kakak kandung temenku me_"
Ucapanku terhenti karena mendengar suara sendok dan garpu kak Boy juga Erlyn jatuh bersamaan menimbulkan bunyi nyaring.
"Lah kenapa kompak banget sih jatuhnya?" ucapku ngeledek.
Kak Boy menatapku tajam dan aku hanya menggedikkan bahu. Si Erlyn terlihat menundukkan wajahnya. Apa dia sedang Ketakutan? Hahaha puas sekali membuat mereka kelimpungan begitu, padahal kan ini baru awal.
"Menurut pendapat papa gimana nih? Enaknya saudara tiri dan kakak kandungnya enaknya di apain pa? Mereka sudah berzina juga lho pa." ucapku santai.
Ku lirik kedua sejoli itu duduk tak tenang,  yang satu ketakutan dan yang satu sedang menahan geram hahaha. Namun mereka sepertinya tidak berani menyela, mungkin takut dicurigai hahaha.
"Hmm menurut papa sih, mereka sudah mencoreng nama baik keluarga dan bikin malu ya sebaiknya nama mereka di coret dari kartu keluarga dan ahli waris." ucap papa enteng sembari menghabiskan sarapannya yang tinggal sedikit.
Wow amazing jawaban papa melebihi ekspektasiku. Malah lebih kejam dari pengusiran.
Ku tatap kedua sejoli tersebut,  hahaha wajah mereka berubah pucat pasi. Namum sampai detik ini juga mereka tak berani menyela obrolanku dengan papa.
Biasanya kak Boy orang pertama yang berani melakukan apapun,  tapi sekarang lihatlah dia seperti kerupuk di siram air hahaha.
Puas! Itu yang aku rasakan saat melihat wajah pias manusia manuasia lucknut itu.
Tapi tentu saja aku tidak akan berhenti sampai sini. Akan kubuat mereka Menderita!

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru