Bab 43 Kenyataan Siti

Pov Mug
"Siti ...." gumamkuku lirih.
Ternyata Siti lah murid malang itu, aku benar-benar nggak menyangka pembullyan yang dia alami pasca terungkapnya jati diriku sebagai putri orang kaya raya masih berlangsung sampai sekarang.
Apabila Om Bram tahu akan hal ini pasti beliau sangat sedih. Apa yang harus aku lakukan? Aku nggak mau Om Bram sedih lalu jatuh sakit. Cukup hidup Om Bram yang sudah berantakan gara-gara istrinya. Lagian Om Bram sudah bertobat dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik sekarang.
Aku melangkah menedekati Siti. Sungguh penampilannya sangat kacau sekarang, Siti yang biasanya terlihat cantik dan memakai barang-barang branded kini terlihat menyedihkan.
Rambutnya yang hitam lurus lembut sudah tidak ada lagi, kini tergantikan dengan rambut kusut.
"Sit, lu biar di antar Slow pulang aja ya," ucapku lembut.
Namun perhatian kecilku ini malah hanya mendapatkan tatapan nyalang sekaligus bentakan.
"Senang kamu! Bahagia kan kamu melihatku kacau begini!" pekiknya.
Aku menghembuskan nafas kasar, sudah di tolong kenapa malah kek singa gini ckckck sudah di beri cobaan juga nggak mau berubah.
"Heh, omdo! Lu tuh udah di tolongin juga kok malah bentak-bentak!" pekik Merlyn.
"Kok omdo sih, Mer?" tanya Sony dengan gayanya yang bersedekap lalu memiringkan badan serta menautkan alis.
"Ya iyalah omdo! Omong Doang! Katanya anak orang kaya raya lalu ngatain Mughen anak orang miskin sehingga memprovokasi teman-temannya untuk ngebulli Mughen! Eh, ternyata dienya sendiri yang miskin!" jelas Merlyn berapi-api.
Lihat bibir Merlyn ngomong sampai monyong-monyong gitu plus muncrat lagi. Hadeh, aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi anehnya ada kehebohan di depan, masih saja Slow  bergeming. Wajahnya datar tanpa ekspresi wahahahaha malah lucu banget ngeliatnya.
"Heh, diem lu ya! Lu tuh orang miskin! Nggak level sama gue! Jauh-jauh sono!" pekik Siti.
"Hadeh, udah keaadaan lu kayak gini juga masih aja sok lu! Mau lu gua panggilin anak-anak yang ngebully lu tadi hah?! Biar sekalian di guyur air comberan!" murka Merlyn nggak mau kalah.
Mata Siti mendelik, sepertinya sedikit lagi tuh bola mata bisa keluar dari sarangnya hiiii serem.
"Bac*t aja! Heh lu siapa tadi namanya? Slow? Iya Slow, cepet anterin gua pulang! Telingaku lama-lama jadi budeg dengerin suara parasit satu ini!" ucap Siti pada Slow.
Slow  bergeming, dia tak mengindahkan ucapan Siti.
"Heh, lu punya kuping bud*g apa ya! Gua nyuruh lu anterin gua pulang sekarang! Cepetan!" teriak Siti kali ini sungguh sudah kelewatan.
"Cukup!" pekikku.
Mata semua orang sekarang sudah memandangku, terutama Siti matanya memandangku nyalang.
"Lu kalau minta tolong tuh yang sopan ya Sit! Nggak usah pakai bentak-bentak dan ngehina segala!" ucapku ketus.
"Halah, ngapain sopan-sopan segala sama seorang jongos hah! Makanya kalau di suruh tuh cepet nggak lelet! Heh, lu jongos cepetan supirin gua pulang!" bentak Siti ngehina Slow lagi. Ih, gemes banget bener-bener nggak tahu diri.
"Siti! Ini peringatan terakhir ya! Kalau lu mintanya nggak sopan sekali lagi, lu bakal gua seret menjauh dari mobil gua!" ucapku penuh penekanan.
"Heh, Mug gua itu saudara elu! Bearti sama aja gua ini majikan jongos lu ini! Jadi setiap omongan gua ya harus dia turutin!" ucapnya nggak tahu diri.
"Heh, Sit! Emang lu yang bayar bodyguardnya Mug apa? Kok minta di perlakukan kek ratu?" tanya Merlyn mencibir sembari ujung bibirnya di naik naikin. Sedangkan Sony dan Andrea hanya cengengesan nggak jelas.
"Heh, gua dan Mug itu bersaudara! Jadi milik Mug ya milik gua juga!" pongah Siti tak tahu malu.
"Siti, lu dapat aturan kek gitu darimana? Keknya lu sakit deh, butuh ke pskiater lah lu," cibir Merlyn.
"Asolole! Lu ngatain gua gila gitu hah! Dasar brengs*k! Awas ya lu besok gua bakal bikin perhitungan sama elu!  Heh jongos Slow cepetan anterin gua pulang!" teriak Siti sungguh benar-benar membuatku kehabisan stok sabar.
Ku lirik Merlyn, ku angkat dagu ke atas sembari dagu menunjuk ke arah Siti.
Merlyn langsung mengerti maksutku, di tangkapnya tangan Siti lalu di tarik dari mobilku yang sedang Siti duduki.
Seketika Siti terjerembab ke bawah saat tangan Merlyn melepas kasar tangan Siti.
"Aduh! Dasar orang miskin nggak punya adab! Ku balas kau!" teriak Siti sembari mencoba berdiri.
"Makanya jangan belagu!" cibir Merlyn ke Siti.
Siti yang tidak terima di cibir terus, ia nekad bangkit dan mencoba menyerang Merlyn namun si Merlyn gesit juga sehingga pandai menghindari serangan Siti berkali kali.
Aku yang masih geram karena tidak terima Siti menghina-hina Slow refleks kakiku menjegal kaki Siti.
Siti yang sedang kalap tidak siap menerima jegalanku. Untuk yang kedua kalinya Siti terjerembab di aspal keras ini.
"Aaaawwwwwwww!!!!!  Brengs*k kalian semuaaaa!!!!" pekik Siti histeris.
Rasa iba pada Siti yang menyelimuti hatiku sekarang sudah pudar gara-gara melihat tingkah Siti yang menjengkelkan.
Ku suruh Slow mengembalikan mobilku ke parkiran lagi saja, aku tidak jadi mengantar pulang Siti. Salah sendiri di bantu malah tidak tahu diri.
Aku dan teman teman meninggalkan Siti yang masih terduduk di aspal.
"Loh, Mug! Kok mobilnya udah jalan aja? Ini aku masih di sini, Mug! Bodyguardmu harus mengantarkanku pulang dulu, Mug! Jangan pergi dulu!" teriak Siti.
Tak kuhiraukan teriakan orang tak tahu diri itu. Aku sudah sangat geram dengan tingkahnya yang selalu suka menghina. Masih untung jaketku tidak ku ambil paksa darinya.
"Kita berpisah di sini ya guys, masuk ke kelas masing-masing! Jangan lupa pulang sekolah kumpul di taman ya! Bye." ucap Merlyn.
Kami semua pun mengangguk dan mengucapkan kata bye sembari menggerakan tangan ke kanan dan ke kiri.
"Mughen!"
Aku menghentikan langkah karena ada suara yang memanggil namaku.
"Mug ...." ucap Yanto lirih.
Ya tiba-tiba Yanto sudah ada di belakangku saja. Hmm, mau apa sih nih anak?
"Mug, aku mau bicara," ucap Yanto lirih.
'Aku'?? Dia formal banget??
Baiklah, kucoba untuk mendengarkan apa yang ingin dia bicarakan. Lelah juga kalau menghindar terus.
"Hm." Aku hanya ber hm ria hohoho.
"Mug, a-ku ... ekhem, Mughen pertama-tama aku mau minta maaf atas tingkahku dulu. A-ku mohon kamu mau memaafkanku," ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
Aku masih bergeming, sengaja ku biarkan dia bersuara sampai puas dulu. Aku bersedekap dan dengan sabar mendengarkan obrolannya.
"A-ku ingin kita berteman, mau kan Mug? Aku yakin kamu mau berteman sama aku. Oh, iya ... dulu aku sangat menyesal tidak menerima hadiah dari kamu, itu sebenarnya salah faham. Karena aku kira hadiah itu barang murah, kalau aku tahu isinya iphone ya nggak mungkin aku menolaknya kok, Mug."
"Jadi kalau kamu mau kasih hadiah lagi pasti langsung aku terima dengan senang hati kok, Mug."
Dia ngomong panjang lebar tanpa ada rasa malu sedikitpun. Bener-bener deh urat malunya udah putus kali.
Aku belum bersuara, biarlah dia puas puasin ngomong.
"Ekhem! Mug kamu kok diam aja? Eeee ... gimana kamu mau kan maafin aku?" tanyanya penuh harap tapi masih terbesit kesombongan di raut wajahnya. Mungkin dia kira yakin aku akan memaafkannya?
Maafin nggak ya?

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru