Bab 22 Salah Sangka

Part 22
Pov mama Celline
Aku benar benar tak habis fikir..ternyata dalang di balik pembulian anakku adalah Siti keponakanku sendiri!
Benar benar Siti tumbuh mirip seperti ibunya Sarti, aku harus pastikan ia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah ini.
Ku berjalan menuju kamar yang di tempati Siti, ku telisik di kamar ini sudah tidak ada barang barangnya, hanya tinggal tas warna pink itu saja.
Ku ambil tas milik Siti lalu berjalan cepat menuju depan. Sesampainya di depan aku masih melihat Siti berada di dekapan adik iparku yaitu Papanya Siti, ternyata dia sudah datang.
"Bram! Nih tas milik anakmu ketinggalan! Aku tegaskan sekali lagi. Mulai detik ini aku melarang anakmu Siti untuk menginjakkan kakinya di rumah ini lagi sampai kapanpun! Tidak ada negosiasi! Keputusanku sudah bulat! Bagi yang tidak menyetujui keputusanku silahkan untuk pergi juga dan jangan pernah kembali lagi kesini!" ucapku tegas
Hening..tidak ada yang berani berucap sedikitpun hanya terdengar suara isak tangis Siti.
"Baik dengan bungkamnya kalian itu bearti semuanya sudah setuju dengan keputusanku, Bram silahkan bawa anakmu pulang sekarang."
Terlihat Bram adik iparku ikut menangis sembari memeluk anaknya, seketika rasa  iba menjalar di hati, kemana kemarahan yang meluap luap tadi? Setelah melihat adik iparku menangis hati ini juga ikut perih. Tapi aku harus tetap memberi pelajaran Siti walau bagaimanapun kesalahannya sangat fatal.
"Bram ayok mas antar." ucap suamiku.
Adik iparku menuntun anaknya memasuki mobil suamiku, ku biarkan suamiku mengantarnya.
"Cell apa benar dengan ucapanmu, Siti keponakanmu benar benar tidak boleh menginjakkan kaki di rumah ini lagi?" tanya mami mertua.
"Iya ma." jawabku tegas. Ku lihat mami menangis pelan, papi mertua mendekat dan menaruh kepala mami di dada bidangnya, ck benar benar pasangan serasi.
"Mam..Pi..Cell masuk dulu ya..badan Cell capek banget gara gara teriak teriak tadi." ucapku berpamitan.
"Suruh siapa teriak teriak Cell? Badan capek di buat sendiri kan. Kenapa tadi gak pake toa sekalian?" ucap mami ketus. Hadewh kumat lagi nih kebiasaan mami kalau lagi badmood, pasti langsung ketus.
"Iya mamiiii..ya udah Cell masuk duluan mam..pi.."
Mereka mengangguk berbarengan..Akupun gegas berlalu menuju kamar utama tempatku memadu kasih bersama suamiku.
Ku lempar tubuhku di atas springbed king size milikku. Gara gara bau bantal mataku langsung berat dan aku langsung menuju ke alam mimpi.
Ciip ciip ciip ciip
Alarmku berbunyi nyaring..mataku terbuka pelan karena masih sangat mengantuk. Ku lirik jam menunjukkan 04.30 pagi astaga kok udah pagi aja ya?
"Lho kok mas Ammar gak ada? Dia dimana?" gumamku.
Kucari ia di kamar mandi gak ada, di balkon gak ada, coba ku cari di ruang tv gak ada.
Coba ke dapur lah..kok gak ada? Ku ambil dulu air putih segelas dan meneguknya hingga tandas.
"Loh nyonya kok tumben pagi pagi buta sudah di dapur aja?" tanya bibik.
"Iya bik..oh ya bik semalem bibik ada lihat pak Ammar pulang gak?"
"Gak lihat nyah..kayaknya semalam bapak gak pulang nyah, security di depan yang bilang, tapi yang datang semalam cuma istrinya pak Yahya dan keponakannya nyah."
Aku mengernyit heran ngapain istrinya Yahya kesini apalagi bawa ponakan? Tumben banget, trus gak biasanya mas Ammar gak pulang. Duh perasaan was was menyelimuti hati.
Bruuukkk
"Aduh!"
"Duh!"
Kami mengaduh berbarengan untung gak sampai jatuh.
"Aduh siapa sih yang nubruk? Jalan hati hati dong.." ucapku.
"Loh kamu siapa?" tanyaku.
Kok ada cewek cantik, muda dan sexy banget pakai baju tidur transparan keliaran di rumahku?apa urat malunya sudah hilang?
"Ehem kenalin tante saya Jessica keponakan om Yahya dan tante Marry." ucapnya memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Ku sambut saja ajakan salamannya.
"Oh iya kalau menginap di rumah orang tolong pakai baju yang sopan, gak kek gini dalemannya kelihatan semua, di sini penghuni kaum adamnya banyak, sekarang ganti dulu sana bajunya yang menutupi baru boleh keliaran di rumahku." ucapku tegas tanpa babibu lagi.
Dia terlihat kikuk dan gak nyaman setelah mendengar ucapanku.
"Ba..baik tante." ucapnya tergagap.
Ku lihat punggungnya yang berjalan menuju kemana? Coba ku buntuti ia sebenarnya tidur di kamar mana?
Oh dia menuju kamar ruang tamu yang kosong di lantai bawah.
Ceklek
Dia membuka pintu kamar, sekelebat ku lihat ada seorang laki laki berbaring di ranjangnya.
"Loh bukannya dia ke sini hanya dengan tante Merry kan? Kenapa ada laki laki di dalam kamarnya? Aku gak mau rumahku di buat macem macem." gumamku.
Tok..tok..tok
Ku ketuk saja pintu kamar itu untuk memastikan apa yang tengah terjadi.
Cklek
"Eh tan..te ada apa?" tanya tergagap lagi.
"Kamu semalam datang hanya dengan Merry kan?" tanyaku menyelidik.
"Eh i.iya tantee."
"Lalu siapa pria yang ada di dalam?"
"Eh...bu..kan..gak ada si.apa siapa kok tan." ucapnya tergagap terus.
Spontan ku dorong saja pintunya agar lebih lebar.
Mataku membelalak jantungku seakan mau copot tungkaiku lemas. Aku berteriak sekencang kencangnya.
"Papaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Air mataku luruh seketika, kaki sudah lemas tak kuat menahan bobot badan tubuh ini. Badanku terduduk di lantai, ku dengar derap langkah beberapa penghuni  rumah.
"Ada apa ini? Siapa yang teriak tadi?" tanya papi.
"Cell kamu kenapa duduk di depan pintu begini? Kamu siapa kok ada disini? Kamu apakan menantu saya????" tanya mami.
"Sa..saya.."
"Hei kamu siapa kok ada di rumah ini? Dan kenapa kak Celline nangis?di tanya kok malah gak jawab!" tanya Ririn ketus.
"Loh siapa itu yang tidur di kasur? Keknya kok gak asing?" tanya Hendra.
"Loh itu Ammar????? Kenapa Ammar ada di kamar ini? Kenapa tidak tidur di kamar utama?"
Ternyata penglihatanku tidak salah, aku masih tidak percaya kalau orang yang tidur di kasur itu adalah suamiku, apakah dia tidur dengan perempuan sexy ini?
"Cell kamu ayo bangun nak jangan duduk di lantai." ajak mami.
"Mam..mas Ammar mam .." ucapku lirih.
"Iya iya mami tahu, tapi sebelumnya ayo berdiri dan duduk di kursi ya."
Aku pun berdiri perlahan di bantu mami dan Ririn, namun tiba tiba mataku buram langit langit terlihat berputar dan semuanya mulai terlihat gelap.

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru