Beranda/Aku Jelek Bukan Seleramu Aku Cantik Seleraku Bukan Kamu Mas/
Bab 16 Melabrak
Segera kumasuk ke mobil setelah mengantar istriku istirahat di kamar, aku takut istriku sedih karena terlalu berlebihan memikirkan postingan Sarti di media sosial. Ku bawa 5 bodyguard kepercayaanku ke kontrakan Bram. Aku benar benar sudah habis stok kesabaran untuk istri Bram yang absurd itu. Braaakkk Ku buka pintu kontrakan Bram dengan kasar, lebih tepatnya salah satu bodyguardkulah yang membukanya kasar. Sebenarnya aku tidak menyuruhnya membuka pintu seperti itu hanya saja mungkin dia terlalu terbawa suasana. "Mas Ammar! Mas datang datang kok pake banting pintu sih! Biasa aja dong!" protes adikku. Ah tapi aku malas bertele tele. "Dimana istrimu?" tanyaku to the point. "Hah? Kenapa mas cari istriku? Ada apa sebenarnya?" tanyanya heran. "Sudah bawa istrimu ke hadapanku sekarang! Nanti juga kamu tau sendiri."ucapku tegas. Si Bram malah terduduk lesu di atas kursi plastik. Apa yang terjadi dengan adikku? "Bram kamu kenapa? Begini saja, mas sedang tergesa gesa ini, mas harus tau dimana istrimu dulu, setelah itu mas akan mendengarkan keluh kesahmu." ucapku lembut. Ia mendongakkan wajahnya menatapku, terlihat manik matanya berkaca kaca, aduh adikku kenapa kau cengeng begini? "Sarti sekarang sedang ada di hotel mawar bersama selingkuhannya mas." jawabnya lesu. Aku hanya menggelengkan kepala tapi tidak terkejut sama sekali. "Ya sudah ayok ikut mas menemui istrimu, ayok berdiri sekarang." ku tarik paksa tangan Bram, ia hanya pasrah saat ku tarik masuk ke mobil. Di jalan pun ia hanya diam menatap lurus kedepan. Aku baru menyadari kalau penampilannya sekarang sungguh buruk, adikku ini tidak setampan dan segagah dulu lagi. Dia terlihat seperti tidak pernah di urus atau mengurus diri sendiri. "Dek kita sudah sampai di hotel mawar, ayok turun." entah mengapa lisan ini ingin memanggil adikku dengan sebutan dek, sebutan itu dulu sering aku gunakan saat kami masih kecil. Namun saat ia melawan orang tua kami karena ingin menikah dengan Sarti, perlahan sebutan itu menghilang sehingga aku hanya memanggil namanya saja. Sebenarnya aku sangat menyayangi adikku satu ini. Bahkan rasa sayangku ke adik adikku yang lainnya sedikit tergeser oleh rasa sayangku ke Bram, dalam kata lain Bram lah adik kesayanganku, makanya dari kecil ia selalu ku manja sampai ia dewasa ini. Tapi gara gara aku terlalu memanjakannya, adikku Bram menjadi pribadi yang egois, ia selalu berfikir bahwa apa yang dia mau harus ia dapatkan. Hah ini benar benar kesalahanku. Aku kakak yang tidak berguna! "Mas..kenapa mas malah mematung di situ? Katanya terburu buru?" tanya adikku. Aku terhenyak dari lamunan, kenapa di situasi yang serius ini bisa bisanya malah ngalamun sih? Aku pun bergegas memasuki hotel tempat istri Bram berada, sengaja aku memanggilnya istri Bram bukan namanya langsung, karena rasanya jijik banget bila menyebutkan namanya. "Bram langsung menuntunku ke kamar hotel tempat istrinya sedang jual diri itu." "Ini mas, dia ada di dalam kamar ini." ucap adikku lesu. Tanpa ba bi bu langsung ku ketok pintu kamar itu. Tok..tok..tok.. Tok..tok..tok.. Hening.. Tok..tok..tok.. "Iya sebentar!" terdengar suara seorang laki laki dari dalam kamar. Cklek Pintu terbuka, tanpa menunggu sang penghuni kamar mengizinkan , aku lngsung menerobos masuk. Ku kode salah satu bodyguardku untuk membungkam mulut pria selingkuhan istri Bram. Ku lihat istri Bram sedang tengkurap di ranjang bertelanjang punggung, reflek ku palingkan mataku dari pemandangan menjijikan ini. Dan ku kode bodyguardku untuk membungkus tubuhnya dengan selimut. Grep srek srek "Hei hei ada apa ini!?" teriaknya kaget. Seketika matanya melotot saat melihatku sudah berada di depannya. Ku perintahkan agar ia di cekal jangan sampai kabur, dan kucari gawai istri Bram. Ku temukan gawainya dengan mudah karena walpapernya adalah pemiliknya yang menjijikan itu sedang menjulurkan lidah.hiiiiii Ku usap tanda kunci, oh gawainya tidak pakai password. Mudah sekali. "Mas..mas Ammar apa yang akan kau lakukan dengan gawaiku? Cepat kembalikan gawaiku mas!" ucapnya dengan suara bergetar. Aku tetap bergeming tak menghiraukan rengekkannya. "Mas Ammar..kau kesini mau menjemputku ya? Apa mas Ammar sudah sadar bahwa aku ini cantik dan lebih pantas bersanding denganmu kan? Di bandingkan mbak Celline aku ini lebih pantas untukmu kan mas?!" ucapnya sembari menyeringai. Seketika bulu kudukku berdiri dan rasanya ingin muntah. Ya akhirnya aku muntah juga. Huek hueekkk huek ohok ohok "Bos!" bodyguardku serempak berteriak memanggilku, spontan ku lambaikan tangan ke udara menandakan aku tidak apa apa. "Mas! Mas kenapa muntah? Kamu masuk angin?" tanya adikku sambil menepuk nepuk punggungku, dari raut wajahnya ia terlihat sangat khawatir. Oh dek.. kakak sangat menyayangimu, semoga kau bisa lekas lepas dari jerat wanita menjijikan itu. "Sudah ..mas tidak apa apa, mas muntah karena jijik denger suara istrimu itu." ucapku, seketika raut wajah Bram tambah lesu. "Maafkan aku mas." ucapnya dengan bibir bergetar. "Sudah sekarang ikut mas keluar dari ruangan ini dulu, mas tidak mau seruangan dengan wanita itu." aku menarik tangan adikku ke luar kamar penuh hal menjijikan. "Mas! Mas Ammar mau kemana! Jangan tinggalkan aku mas! Mas aku siap memberikan tubuhku untukmu! Mas boleh jamah setiapi inci tubuhku mas! Jadi jangan tinggalkan aku mas!" teriak wanita itu lagi sebelum aku berhasil melewati pintu. Hueek hueek hueeekkkkkkk Seketika aku muntah lagi setelah mendengar ucapan wanitu itu. Sungguh si*l kenapa harus berurusan dengan orgil itu sih. Dengan tangan gemetar di luar kamar aku segera membuka gawai wanita itu, ku buka media sosial yang dia punya dan menghapus postingan yang dia buat untuk menjatuhkan nama istriku. Wanita itu memposting wajah istriku dan di beri tulisan "PELAKOR" Haeh ada ada aja nih orgil, segitunya kalau udah benci trus menghalalkan segala cara untuk menuntaskan keinginannya. Setelah ku hapus postingan itu, lalu ku buat postingan baru di akun medsos orgil ini. Isinya tentang peemintaan maaf karena membuat postingan bohong dan pembodohan publik. Rencananya gawai orgil ini tidak akan ku kembalikan pada nya , karena menurutku isi dari gawai ini mungkin akan berguna ke depannya. Selesai tugasku dan segera mencuci otak adikku untuk mentalak istrinya sekarang juga. Tanpa di sangka adikku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Tanpa babibu dengan lantangnya ia mengucap talak. "Sri Sartiwati ! Kau ku talak talak talak! Mulai detik ini kau bukan lagi istriku!" Ada rasa lega di hatiku karena akhirnya adikku terlepas dari orgil ini. Kulihat orgil itu malah nenyunggingkan senyum sinis. "Kenapa dia?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Sangat bagus
04/02
0sangat bagus
03/02
0seru
03/01
0Lihat Semua