Bab 23.2

"Astaghfirullah …spontan Ical mengucap. Bagaimana tidak, dihadapannya sudah ada Anisa yang memandang tepat di depan wajahnya.
"Walah, Mas, kek habis liat setan, sampe ngucap segala!" gerutu Anisa.
"Lah, kaget toh Mbak! Tiba-tiba Mbak udah ada di depan gitu!" balas Ical tak mau kalah.
"Saya tu lucu aja liat ekspresi wajah Mas. Timbang minum kopi sampe merem-merem gitu!" jelas Anisa
"Oh …ini kopinya enak, Mbak. Jadi saya begitu menghayati makanya sampe merem," Ical meletakkan minumannya di atas meja lobi.
"Mas mau nanya? Masnya siapa Mbak Nabila? Pacarnya ya? Kalau suami gak mungkin, karena saya tau Mbak Nabila belum menikah." Anisa kemudian duduk di sebelah Ical.
Ical sedikit menggeser duduknya agar tak terlalu berdekatan dengan Anisa.
"Kok malah menjauh, Mas?" Anisa heran.
"Gak papa, Mbak. Belum halal!" jawab Ical iseng.
"Ya kalau gitu dihalalin aja, Mas!" Anisa menjawab santai.
"Hah …yang bener aja, Mbak main halalin anak gadis orang!" Ical menggeleng-gelengkan kepalanya.
Anisa tersenyum memandang Ical. Dia merasa penasaran dengan laki-laki yang datang bersama Nabila tadi.
"Bercanda, Mas! Oh ya, Mas yang saya tanya tadi, kok belum dijawab! Mas ada hubungan apa sama Mbak Nabila?"
"Mau tau aja apa mau tau banget?" goda Ical.
Anisa bertambah gemas dengan jawaban Ical. Dia sudah tidak sabaran dengan sikap Ical yang terkesan mempermainkan.
"Ish …tinggal jawab aja apa susahnya sih, Mas! Kok saya nanya, situ malah balik nanya lagi!" ujar Anisa ketus.
Ical hanya tersenyum. Dia senang melihat Anisa marah. Dia berpikir, Anisa ini termasuk perempuan yang berani.
"Saya sepupunya Nabila, Mbak, sekaligus merangkap jadi sopirnya," jelas Ical.
"Jadi bener gak ada hubungan pacaran apa gitu?" tanya Anisa memastikan.
Ical menganggukkan kepala. Kemudian meraih kembali minumannya dan menyesapnya perlahan.
"Oh …syukurlah kalau begitu," ujar Anisa tanpa sadar.
"Kenapa emangnya, Mbak? Kok malah bersyukur?"
"Eh …nggak saya gak ada maksud apa-apa kok! Saya kembali ke meja saya dulu ya!" pamit Anisa.
"Monggo, Mbak silahkan. Makasih ya minumannya."
Anisa mengangguk kemudian segera berdiri dan melangkah ke mejanya. Dia menyesali kenapa bisa keceplosan. Entah mengapa melihat Ical dia langsung tertarik. Seperti sudah lama mengenal Ical. Makanya dia memberanikan diri bertanya tentang status Ical. Jangan sampai dia menjadi perusak hubungan orang lain.
Ical memandang kepergian Anisa. Dia merasakan Anisa sepertinya punya ketertarikan padanya. Dan entah mengapa, Ical seperti itu juga. Ical kembali meletakkan minumannya di atas meja. Kemudian dia memainkan ponselnya.
Di dalam ruangan meeting, Nabila begitu lihai menjelaskan rincian designnya. Pun demikian dengan Tuan Darren, terlihat antusias dengan semua design yang diberikan Nabila. Setelah Nabila selesai, dia kembali duduk di sofa berhadapan dengan Tuan Darren dan sekretarisnya Miss Lin.
"Good job, Nona Nabila! Saya yakin design anda ini akan memberikan keuntungan yang menggiurkan karena designnya tidak seperti kebanyakan," puji Tuan Darren.
"Thank you, Tuan atas pujiannya. Semoga semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan."
"Miss Lin, tolong kamu siapkan segala sesuatunya. Nanti kita juga mau ngadain fashion show untuk launching produk terbaru kita. Saya sangat yakin dengan design ini," ucap Tuan Darren mantap.
"Baik, Tuan! Segera saya persiapkan!" jawab Miss Lin yakin.
"Oke kalau gitu, mari Nona kita makan siang dulu," ajak Tuan Darren.
"Oke, Tuan, tapi tadi saya datang bersama sepupu saya, apakah boleh saya mengajaknya sekalian?" tanya Nabila sopan.
"Tentu saja! Ajak sepupu Nona sekalian. Miss Lin, tolong atur ya restoran biasa!" titah Tuan Darren.
"Oke, Tuan!"
"Mari, Nona kita pergi!" Tuan Darren mempersilahkan Nabila untuk keluar terlebih dahulu, setelah pintu dibuka oleh Miss Lin.
Ical yang melihat pintu terbuka spontan berdiri. Nabila keluar diikuti seorang pria tampan. Dan di belakangnya ada seorang wanita berwajah oriental. Nabila menghampiri Ical kemudian mengajak Ical sekalian untuk makan siang.
Mereka berempat menuju lift untuk turun ke parkiran.
Sesampai di parkiran, Nabila dan Ical masuk ke mobil mereka. Kemudian mengikuti mobil Tuan Darren yang terlebih dulu melaju.
"Gimana meetingnya, lancar?" tanya Ical sembari fokus menyetir.
"Alhamdulillah lancar. Tuan Darren puas dengan hasil designnya."
"Alhamdulillah! Masih muda ya? Aku pikir klien meeting kamu sudah tua."
Nabila tersenyum mendengar perkataan Ical.
Ting
Bunyi ponsel Nabila. Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau. Nabila meraih ponsel yang ada di dalam tas. Kemudian membukanya.
[Mbak Nabila, maaf mengganggu. Bisa saya minta nomor Mas Ical?]
Nabila mengernyitkan dahi kemudian memandang Ical.
"Kenapa? Dari siapa, Bil? Kok, heran gitu?" tanya Ical.
"Justru aku mau nanya sama kamu, nih anak orang kamu apain? Kok sampe berani minta nomor kamu ke aku!" ujar Nabila.
"Siapa?!" Ical terkejut mendengar penuturan Nabila.
"Itu, Anisa resepsionis Tuan Darren," jawab Nabila.
"Apa?! Jadi dia minta nomor aku ke kamu?" tanya Ical lagi.
Nabila menganggukkan kepala. Kemudian menatap Ical curiga.
"Kamu pake ajian pelet apa, Cal?
"Kamu apaan, Bil? Aku juga gak ngerti. Tadi malah dia yang negur aku duluan. Malah ngegoda aku biar cepat halalin dia," jawab Ical yang sukses membuat Nabila membelalakkan matanya.
"What?! Pesona seorang Ical memang tidak bisa diragukan ya!" Duda keren!" Nabila menggoda.
"Aish! Apaan sih?! Ya, aku gak tau, dia tiba-tiba nanya aku ada hubungan apa sama kamu! Terus, dia malah bersyukur setelah aku jawab kalau aku sepupu sekaligus sopir kamu."
"Wah, Anisa bener- bener berani. Langsung to the point gak pake basa basi. Ya sudah, aku kasih aja ya nomor kamu?" Nabila meminta persetujuan Ical.
"Iya gak papa, Bil kasih aja!"
Kemudian Nabila membalas pesan Anisa, yang kemudian dibalas oleh Anisa kembali dengan ucapan terima kasih.
"Anisa, setau aku anaknya baik dan sopan. Mungkin ini sudah takdir Allah kamu ketemu dia. Mana tau dia jodoh kamu, Cal," ujar Nabila setelah sebelumnya memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.
"Yah, aku gak tau juga, Bil. Tapi, aku gak mau terlalu berharap. Dua kali kehilangan wanita yang aku sayangi rasanya tu sakit banget, Bil!"
"Iya, aku ngerti! Yang sabar ya, Cal!"
Ical menganggukkan kepalanya. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di restoran yang dimaksud. Ical mengambil tempat parkiran di sebelah mobil Tuan Darren.
Setelah turun dari mobil, mereka masuk ke dalam restoran dan menuju tempat privat yang telah dipesan Miss Lin.
Sembari menunggu hidangan, Tuan Darren malah asyik mengobrol dengan Ical. Pembawaan Ical yang supel dan ramah membuat banyak orang cepat akrab.
"Jadi, Tuan Ical ini, sepupunya Nona Nabila?" tanya Tuan Darren kembali memastikan.
"Iya, Tuan. Benar sekali, tidak diragukan keasliannya!" jawab Ical santai.
Tuan Darren terkekeh mendengar jawaban Ical. Sedangkan Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya. Miss Lin hanya tersenyum tipis.
"Kamu kok ya jadi kek jualan barang gitu, Cal?! ujar Nabila.
"Yah, biar Tuan Darren yakin gitu!" jawab Ical lagi.
"Nona Nabila, sepupu kamu ini orangnya benar-benar asyik. Saya suka orang yang apa adanya dan tidak terkesan jaim!" tukas Tuan Darren.
"Tuh, dengerin!" cibir Ical.
"Halah, kamu jadi besar kepala dipuji sama Tuan Darren!"
Tak lama makanan yang dipesan datang. Tuan Darren mempersilahkan Nabila dan Ical terlebih dahulu untuk mengambil makanan. Baru setelahnya dia dan Miss Lin. Disela mereka menikmati makanan, ponsel Tuan Darren berbunyi. Segera dia mengangkatnya setelah sebelumnya meminta izin pada Nabila dan Ical.
"Halo …!" jawab Tuan Darren.
"Ya, saya di restoran biasa!"
"Kamu langsung aja ke sini!"
"Oke!"
Ponsel dimatikan Tuan Darren. Lalu dia kembali menyantap makanan.
"Teman saya Nona Nabila. Tapi, sebenarnya saya tidak suka dengan sikapnya! Dia mau ajak ketemuan di sini. Tapi, nanti saja setelah kita selesai makan, baru saya menemuinya!" jelas Tuan Darren tanpa diminta.
"Gak papa, Tuan! Silahkan jika ingin menemui teman anda. Kami juga setelah ini kebetulan masih ada keperluan," jawab Nabila.
"Iya nanti saja, sekarang kita nikmati saja dulu makanannya!" timpal Tuan Darren.
"Bener Tuan Darren. Kita nikmati saja dulu makanannya. Mubazirun al minal rugi," sahut Ical iseng.
"Maksudnya?" Tuan Darren kebingungan.
Nabika menyikut lengan Ical supaya dia menjelaskan perkataannya ke Tuan Darren.
"Eh …itu maksudnya makanan ini, kan udah dipesan. Jadi kalau tidak dimakan, kan sayang terbuang sia-sia jadi rugi. Gitu maksudnya, Tuan," jelas Ical lagi.
"Iya benar ucapanmu itu, Tuan Ical saya setuju sekali!"
Ical mengacungkan jempolnya ke arah Tuan Darren. Kemudian mereka kembali menikmati hidangan di atas meja.
Setelah selesai makan dan berbincang sejenak, Nabila dan Ical mohon pamit dan mengucapkan terima kasih pada Tuan Darren atas ajakan makan siangnya. Mereka langsung masuk ke mobil dan menuju rumah Mak Esah. Sementara Tuan Darren bersama Miss Lin masih menunggu temannya datang.
Tak berapa lama, teman Tuan Darren datang. Mereka berbasa basi sejenak lalu Tuan Darren memesan kopi untuk mereka. Sedangkan Miss Lin memilih memesan lemon tea.
"Wuih, Bro. Cakep juga sekretarismu!" ujar teman Tuan Darren.
"Yah, lumayan! Tapi, kamu jangan macam-macam! Kamu langsung berhadapan dengan aku!" ancam Tuan Darren.
Miss Lin memandang heran pada atasannya. Baru sekali ini dia mendengar Tuan Darren berkata kasar dan mengancam. Miss Lin bingung akan perubahan sikap atasannya. Ada apa sebenarnya?

Komentar Buku (63)

  • avatar
    Diyanatum Mufidah

    ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil

    29/05/2022

      0
  • avatar
    LiaYul

    good

    13/12/2024

      0
  • avatar
    MarlinaErlin

    mantap.seru..

    08/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru