Wita bergegas ke depan. Diikuti Bagas yang juga penasaran. "Assalamu'alaikum," terdengar kembali suara salam dari depan. "Wa'alaikummussalam," jawab Wita dan Bagas berbarengan. Wita kemudian membuka pintu. Dan terlihat di hadapannya seorang wanita dan membawa seorang anak perempuan yang berumur sekitar lima tahunan. "Maaf, Mbak ini siapa, ya?" tanya Wita kebingungan. Karena dia sama sekali tidak mengenal wanita yang sekarang berdiri di hadapannya. Kemudian Wita melirik Bagas yang berada di samping Bagas. Namun, Bagas hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda dia pun tak mengetahui siapa wanita ini. "Maaf, Mbak mengganggu pagi-pagi! Saya lagi cari rumah kontrakan. Apa, Mbak bisa bantu saya?" tanya wanita itu. Wita memperhatikan wanita ini. Sepertinya dia termasuk orang yang berada. Dilihat dari cara berpakaian dan barang-barang yang dibawanya. "Oh, rumah kontrakan! Kalau di sini gak ada, Mbak! Coba Mbak keluar dari gang ini masuk gang sebelah. Kalau gak salah minggu lalu, setau saya ada yang mau ngontrakin rumah, coba deh Mbak liat disitu. Gak jauh kok, cuma beda gang aja," terang Wita. "Oh gang yang satu lagi ya, Mbak?" tanya wanita itu memastikan. "Iya, Mbak!" jawab Wita sambil tersenyum. "Oke deh kalau gitu saya langsung ke sana aja, makasih banyak ya, Mbak," ucap wanita itu sambil tersenyum. Kemudian dia berlalu sambil melirik Bagas. "Iya, sama-sama," jawab Wita. Wita dan Bagas memandang kepergian wanita itu sampai di ujung gang dan tak terlihat lagi. Kemudian Wita menutup pintu. Lalu mereka kembali melangkah beriringan ke ruang makan dan duduk. "Mas, kok aku jadi curiga ya sama wanita tadi." "Curiga? Maksudnya?" tanya Bagas sambil menyeruput teh buatan Wita. "Ya …curiga aja, kok pagi-pagi mengetuk pintu rumah orang hanya nanyain rumah kontrakan. Ini baru jam tujuh lho. Lah, dia dari jam berapa keluar nyari kontrakan?" Wita bertanya dengan nada menyelidik. "Iya juga, ya. Tapi sudah lah, Dek! Jangan suudzon dulu. Kan dia cuma nyari kontrakan. Mungkin udah kepepet kali." "Mungkinlah," jawab Wita ragu. 'Ya sudah gak usah dipikirkan! Mas berangkat ngajar dulu, ya!" pamit Bagas sambil berdiri dan menyodorkan tangannya. Wita meraih dan menciumnya dengan takzim. Bagas melangkah ke arah kamar menemui buah hati mereka. Mencium satu persatu dan mengusap kepala Zidan dan Zakia yang masih terlelap. Kemudian keluar menuju depan. Wita menunggu di kursi teras sambil memegang tas Bagas. Bagas keluar sambil tersenyum, kemudian duduk di samping bersebelahan dengan Wita. Memasang kaos kaki dan sepatu lalu kembali berdiri. "Mas pergi dulu, ya assalamu'alaikum," pamit Bagas. Kemudian melangkah menuju motor yang telah terparkir di halaman. "Wa'alaikummussalam, hati-hati ya, Mas!" Wita mengingatkan. Bagas mengangguk kemudian menghidupkan mesin motor. Tak lama Bagas berlalu diiringi lambaian tangan Wita. Wita kembali ke dalam rumah, melanjutkan sarapan yang sempat terhenti tadi. ***idm Pagi ini Nabila berencana pergi ke butik. Ical, sepupunya yang juga teman main Imron dulu, sudah menyetujui akan menjadi sopir pribadi Nabila. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Nabila sedang bersiap-siap pergi ke butik. Ical datang dengan menggunakan sepeda motornya. "Assalamu'alaikum," Ical mengucapkan salam. "Wa'alaikummussalam," jawab Nabila dari dalam. Nabila bergegas menuju pintu depan dan membukanya. "Sopir sudah datang Bu bos," goda Ical. "Kamu tuh, ya!" Nabila pura-pura merajuk. Ical malah tertawa melihat ekspresi sepupunya itu. "Eh, kamu dah sarapan belum?" tanya Nabila. "Udah, Bil, tadi Ibu buatin nasi goreng," jawab Ical. "Oh gitu, ya udah motor kamu masukin ke garasi aja, Cal sekalian keluarin mobil ya, plis!" pinta Nabila dengan tatapan memelas. Kemudian menyodorkan kunci mobilnya. "Dasar, azas memanfaatkan!" gerutu Ical. Dia mengambil kunci mobil di tangan Nabila dan menuju garasi yang berada di samping rumah. Ical menyingkirkan motornya terlebih dahulu, kemudian mengeluarkan mobil Nabila. Setelahnya, baru dia memasukkan motor ke dalam garasi dan menutup kembali pintu garasi. Nabila sudah siap di teras menunggu Ical memanaskan mesin mobil. Ical membunyikan klakson pertanda telah siap. Nabila pun menuju ke mobil dan masuk ke dalam. Dia memilih duduk di sebelah Ical. Ical kemudian melajukan mobil Nabila. "Oh ya, Bil kamu belum cerita sama aku kok sampe kamu pake sopir segala padahal kamu kan pinter nyetir?" tanya Ical menyelidik. Nabila menarik napas dan menghembuskannya. Sebenarnya dia enggan bercerita, namun setelah dipikir Ical harus tau. "Gini, Cal! Kamu tau gak yang kejadian aku di Semarang? Yang aku hampir dilecehkan itu?" "Sebentar …sebentar yang kamu didalam mobil itu ya?" tanya Ical memastikan. "Iya, bener! Nah, aku gak tau gimana ceritanya tuh cowok ada di sini." "Dia …di sini?! Wah perlu dihajar tuh! Biar berkurang buaya buntung dari muka bumi ini!" ujar Ical berapi-api. Dia memang membenci cowok yang suka melecehkan wanita. Karena Ical pernah punya pengalaman sahabatnya sendiri yang diperko*a hingga bunuh diri. "Iya, kemarin aku ketemu sama dia. Dan dia ngancem-ngancem aku, akan membalas perbuatan aku ke dia." "Kamu waktu itu ngapain dia?" tanya Ical penasaran. Karena dia tau, Nabila sedari dulu tomboi dan memiliki bela diri sama seperti dirinya. "Mmm …anu aku tendang itunya," jawab Nabila ragu-ragu. "Hahaha …mantap, Bil mantap!" timpal Ical. "Jadi, Imron kuatir sama aku. Walaupun aku katanya bisa bela diri, tapi tetap aku perempuan, jadi dia nyaranin agar aku jangan pergi sendiri harus ada yang nemenin, gitu!" "Imron …anak Mak Esah. Imron cupu, kan?" tanya Ical memastikan kembali. "Iya, Imron Mak Esah. Kamu jangan bilang dia cupu dong, cakep dia sekarang," bela Nabila. "Iya tau, duh segitunya. Tapi, Bil dia udah punya istri, lho! Tapi istrinya bukan orang sini." jelas Ical. "Aku tau, tapi mereka lagi proses cerai, tapi bukan karena aku, kok!? Ada masalah internal yang sulit dijelaskan." "Ya Allah, mau cerai Imron! Gak nyangka juga, ya!" "Iya, udah gak jodoh lagi, intinya gitu lah," timpal Nabila. "Yah, berdoa yang terbaik buat teman kita. Yang penting sekarang bisa selesai masalahnya." Nabila mengangguk membenarkan ucapan Ical. Tak terasa mengobrol ngalor ngidul, akhirnya sampai mereka di butik NF. "Cal, aku nanti ada meeting sama klien di luar, sekitar jam sepuluh gitu. Kamu boleh nunggu di lobi atau mau duduk santai di kafe sebelah juga boleh!" "Oh oke, gampang itu!" jawab Ical. Nabila turun dari mobil setelah sebelumnya berpamitan dengan Ical. Sedangkan Ical memilih menunggu di kafe sebelah butik NF sambil menikmati kopi hitam kesukaannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh. Ical menghabiskan kopinya kemudian keluar dari kafe setelah membayar pesanannya. Seiring Ical keluar dari kafe, seorang pria masuk ke dalam kafe. Ical mengernyitkan dahi sembari mengingat wajah pria tersebut. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi lupa di mana batin Ical. Setelahnya Ical menuju ke butik dan masuk ke dalam. Ical menunggu Nabila di lobi butik
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil
29/05/2022
0good
13/12/2024
0mantap.seru..
08/12/2024
0Lihat Semua