"Sebenarnya Ibu hanya mencoba menggertak Paklekmu itu. Ternyata nyalinya masih seperti dulu. Dasar pengecut! Nyali seujung kuku sok mau maling!" ujar Ibunya Bagas dengan nada sedikit emosi. "Bu, ini …maksudnya apa? Kenapa Ibu menyebut Pak Bimo, Bapaknya Dini dengan sebutan Paklek? Wita bingung nih, Bu?!" tanya Wita penasaran. "Eh iya, Ibu lupa jelasin sama kamu, Nduk! Jadi, ternyata Bapaknya Dini itu adalah adik tiri ayahnya Bagas. Dia itu dulunya sudah mengambil tanpa izin seluruh warisan untuk ayahnya Bagas. Ibu pernah cerita, kan sama kamu Nduk, yang Ibu harus bersusah-payah mencari uang untuk Bagas sampe menahan lapar. Itu semua karena dia. Tapi, Alhamdulillah, Ibu berhasil mengambil sebagian warisan yang nantinya menjadi milik Bagas, kamu dan anak-anak!" pungkasnya. Aku beralih memandang ke belakang, ke arah Wita. Sepertinya anak itu tidak percaya. Begitu sempit dunia, ternyata Bapaknya Dini, mertua Imron adalah pakleknya Bagas. "Jadi Bu, Dini itu sepupunya Mas Bagas?!" tanya Wita. "Iya, tapi sepupu tiri gitu. Pak Bimo itu anak bawaan dari Mbah Utinya Bagas. Menikah dengan Mbah lanang yang juga mempunyai anak yaitu ayahnya Bagas," jelas Ibunya Bagas. "Rumit ya, Bu? Jadi Pak Bimo gak ada hubungan darah sama almarhum Ayah?" tanya Wita lagi. "Gak ada sama sekali! Makanya sewaktu Pak Bimo merampas semua warisan yang seharusnya milik ayahnya Bagas, Ibu sangat geram! Padahal, dia pun sudah diberi bagian untuknya kontrakan lima pintu. Juga tanah dan kebun. Tapi merasa iri, karena ayah Bagas lebih banyak warisannya. Gak terima, sehingga merampas dengan cara yang licik!" jelas Ibunya Bagas dengan nada geram. Wita menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih terlihat ketidakpercayaan di raut wajahnya. Dia sama sekali gak menyangka dengan semua kejadian ini. "Jadi gak heran kenapa Dini sifatnya seperti itu! Lah orang tuanya aja kayak gitu!" ujar Wita. "Bener tuh, Nduk! Ibu gak nyangka juga Bagas bisa-bisanya pernah berhubungan dengan Dini! Gak akan Ibu restui dunia akhirat kalau tau Dini itu anaknya Bimo!" Aku hanya tersenyum memandang Ibunya Bagas. Aku alihkan pandangan ke samping, ke arah Imron. Kulihat Imron masih fokus mengemudi. Tapi terlihat dahinya sesekali berkerut. Seperti memikirkan sesuatu. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Sepertinya kami harus berpikir seribu kali jika harus berhubungan dengan keluarga Dini lagi. Kalau bisa, anggap saja kami tidak pernah kenal dengan mereka. Kami sampai di rumah Bagas sekitar pukul satu. Tadi kami sempat mampir dulu melaksanakan solat zuhur di mesjid. Ibunya Bagas mengajak kami makan di warung lesehan miliknya yang kebetulan letaknya tak jauh dari rumahnya. Ibunya Bagas memang mempunyai warung makan lesehan yang cukup besar dan terkenal. Selain rasanya yang enak, harganya juga tidak begitu mahal. Makanya warung ini tidak pernah sepi pelanggan. Ibunya Bagas mengelola warung ini bersama dengan kedua adiknya. Kami menyantap hidangan yang sudah disajikan. Benar-benar nikmat. Ayam goreng kampung menjadi menu andalan. Tulangnya sampe krispi gitu. Bumbunya sangat meresap, benar-benar menggugah selera. Pantas saja warung ini selalu rame. Nabila saja gak malu-malu. Sampe nambah dua kali, ketagihan katanya. Setelah makan, kami kembali ke rumah Ibunya Bagas dan beristirahat di sana. Ngobrol-ngobrol santai sambil ditemani teh hangat. "Gas, kamu bisa gak hubungi teman kamu si Made yang notaris itu?" tanya Ibunya Bagas. "Made? Bisa, Bu! Untuk apa, Bu?" tanya Bagas. "Lah, gimana toh kamu?! Ya buat balik nama sertifikat tanah dan kebun yang dikasih sama Pak Bimo tadi!" "Eh, iya Bu," jawab Bagas cengengesan. "Secepatnya ya Gas, Ibu gak mau nunda waktu lagi. Kalau sudah selesai tenang pikiran Ibu!" Aku mengangguk membenarkan perkataan ibunya Bagas. Tentu dia akan merasa tidak tenang kalau belum balik nama semua sertifikat itu. "Bu, apa kita gak terlalu kejam sama Paklek? Tanah, kebun, minimarket terus belum lagi hutang-hutang, apa dia sanggup membayar semuanya?!" tanya Bagas. "Kejam! Dia yang kejam, Gas! Kita hanya mengambil apa yang jadi hakim kita! Kamu ini, masih saja memikirkan orang lain." "Bener, Mas apa yang Ibu bilang. Kenapa Mas berpikiran kita kejam?! Justru dia yang seharusnya mikir sebelum melakukan kejahatan itu," timpal Wita mendukung ucapan Ibu mertuanya. Setelah berucap demikian Wita pamit mau ke arah belakang. "Eh, Mbak ngomong-ngomong kapan nih rencana Imron sama Nabila?" tanya Ibunya Bagas. "Im, ditanya sama Ibunya Bagas kapan ngelamar Nabila?" Aku balik bertanya pada Imron. "Hehehe …Insya Allah secepatnya Bu, setelah surat cerai keluar, langsung ngelamar," jawab Imron sambil senyum-senyum melirik Nabila. Yang dilirik balas tersenyum juga sambil menundukkan kepala. Mungkin malu dianya. "Bagus itu, jangan ditunda lagi. Ibu juga setuju kamu sama Nabila ini. Sekilas saja Ibu udah yakin Nabila ini bakal bisa jadi istri yang baik buat kamu! Sama waktu Ibu pertama kali diperkenalkan dengan Wita. Ibu langsung suka sama sifatnya yang gak pura-pura dan apa adanya," ujar Ibunya Bagas. Wita kebetulan dari tadi belum kembali dari belakang. Kalau dia dengar, bisa-bisa besar kepala dianya mendengar pujian ibu mertuanya. "Untung Im, kamu dah bebas dari keluarga itu. Allah masih melindungi kamu!" Kembali Ibunya Bagas berucap. "Iya, Bu Alhamdulillah!" timpal Imron. Tak terasa kami mengobrol sampai tiba waktu asar. Imron dan Bagas pergi ke mesjid yang tak jauh dari rumah Bagas, sedangkan kami para wanita solat bergantian. Setelah Imron pulang dari mesjid, aku, Imron dan Nabila berencana pamit pulang sedangkan Bagas dan Wita seperti rencana semula mereka akan pulang di hari minggu. "Dek Er, kami pamit pulang ya! Terima kasih banyak atas jamuannya!" ucapku sambil bersalaman dan saling berpelukan. "Sama-sama Mbak. Kita kan saudara jangan merasa sungkan," jawab Ibunya Bagas sembari menyodorkan bungkusan. "Apa ini, Dek?" tanyaku keheranan. "Itu Mbak, ada sedikit untuk makan malam nanti di rumah!" jawab Ibunya Bagas. "Walah, kok ngerepotin jadinya!" "Gaklah, Mbak gak ngerepotin kok. Dah dibawa aja," ucap Ibunya Bagas. "Sekali lagi makasih ya Dek Er!" Ibunya Bagas menganggukkan kepala. Setelah aku berpamitan, bergantian Nabila dan Imron berpamitan pada ibunya Bagas. Kami lalu masuk ke mobil dan segera meluncur diiringi lambaian tangan dari Wita, Bagas dan ibunya. Selama perjalanan pulang, kami masih membahas mengenai kejadian hari ini. Tidak menyangka kepergian kami ini malah membawa keberuntungan buat keluarga Bagas. Alhamdulillah, setidaknya hak Bagas dan Ibunya akan kembali. Kami sangat bersyukur semua dipermudahkan jalannya oleh Allah. Aku dan Imron sampai di rumah pas adzan magrib berkumandang, karena tadi kami mampir dulu untuk mengantar Nabila. Imron bergegas ke mesjid. Setelah solat magrib, aku siapkan makanan yang dibekali oleh Ibunya Bagas tadi. Sambil membuat teh hangat untukku dan Imron. Tak lama, Imron pulang. Kuajak Imron untuk makan malam bersama. Baru saja kami akan duduk untuk menyantap makanan, terdengar suara gedoran pintu. Siapa yang datang ya malam begini. Dengan rasa penasaran, aku menuju ke depan. Bergegas aku ke depan dan membuka pintu. Ternyata …
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil
29/05/2022
0good
13/12/2024
0mantap.seru..
08/12/2024
0Lihat Semua