Dini keluar dengan hanya menggunakan daster tanpa lengan. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat dan terlihat lebih tirus. Dia memandang kami semua yang ada di ruang tamu. Tatapannya berhenti ke arah Bagas. "Gas, kamu datang?" tanya Dini seraya melangkah dan ingin langsung menghambur ke arah Bagas. Spontan ibunya Bagas langsung menghadang Dini dengan berdiri di depan Bagas. "Apaan kamu? Kok malah dekati Bagas?!" tanya Ibunya Bagas dengan nada ketus. "Ibu siapa? Saya gak ada urusan sama Ibu! Minggir! jawab Dini tak kalah ketus. Astaghfirullah, anak itu. Sudah diberi cobaan bukannya sadar malah semakin menjadi-jadi. Sikapnya tidak sopan sama sekali kepada orang yang lebih tua. "Din, ini Ibunya Bagas!" jelasku. Dini menatapku dengan raut wajah tak suka. Dia melengos tak mengindahkan ucapanku. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati. "Saya gak percaya! Gas, tolong usir Ibu ini! Kenapa dia malah menghalangi kita, Gas?" tanya Dini dengan nada memelas. Bagas membuang muka. Sepertinya dia menyesal harus bertemu Dini. "Kamu ini ya memang gak ada sopan-sopannnya sama orang tua! Persis seperti orang tua kamu! Ini akibatnya ngasih makan anak dengan harta yang gak bener!" Kembali Ibunya Bagas berucap dengan nada emosi. "Mbak! Jaga ucapan Mbak!" timpal Pak Bimo. "Apa yang harus saya jaga? Memang kenyataannya seperti itu! Urus anak kamu ini! Main sosor sana-sini, risih liatnya tau gak?!!" "Din, masuk kamar!" perintah Pak Bimo. "Tapi Pak, Bagas di sini. Dia mau nemuin Dini, Pak!" jawab Dini. "Sudah, cepat masuk kamar! Bu, bawa Dini ke dalam!" "Gak, Dini gak mau! Bagas, bawa aku bersama kamu! Kita mulai dari awal lagi ya, Gas. Aku tau kamu masih sayang, masih cinta aku kan, Gas?!" Kembali Dini ingin menghambur ke arah Bagas. Namun, spontan juga Ibunya Bagas menghadang dan mendorong badan Dini sehingga dia terhuyung ke belakang. Bu Ratna sigap menahan Dini dari belakang. "Mbak apa-apaan?! Kenapa kasar sama anak saya?!" bentak Bu Ratna sembari merangkul Dini. "Kamu omongin sama anak kamu yang ngeyel itu! Ngapain dari tadi dekatin Bagas! Lah wong dia sudah nikah dan punya anak, hidupnya udah bahagia! Jangan jadi perempuan mu**h banget. Main sosor laki orang! Wajar saja Imron nyerein model istri kayak dia! Gak bisa jaga harga dirinya!" balas Ibunya Bagas. "Cukup, Mbak! Cukup! Mending Mbak dan semuanya pergi dari sini! Jangan bikin kekacauan lagi di rumah saya!" usir Pak Bimo. "Baik! Kami akan pergi! Tapi kamu ingat apa yang saya bilang tadi! Segera lunasi hutang-hutangmu dan kembalikan apa yang sudah menjadi hak kami!" cecar Ibunya Bagas. "Iya saya ingat! Sekarang mending Mbak dan semuanya pergi dari sini!" Kembali Pak Bimo mengusir kami seraya menunjuk ke arah pintu. Aku, Imron, Bagas dan Ibunya segera berdiri dan melangkah keluar. Ketika kami sudah di luar, dan akan melangkah menuju mobil, tiba-tiba Dini langsung berlari memeluk Bagas. Kami semua terkejut. "Din, lepas! Jangan sampe aku berbuat kasar sama kamu!" ucap Bagas berusaha melepaskan diri dari Dini. Ibunya Bagas pun berusaha menarik Dini yang memeluk Bagas dengan kencang. Aku dan Imron terdiam tak tau mau berbuat apa. "Mas, bantuin, Mas!" pinta Bagas. "Eh, i …iya!" jawab Imron seraya mendekat kemudian memegang lengan Dini. Seperti orang yang hilang akal, Dini tidak peduli. Dini malah semakin memeluk erat Bagas. Bu Ratna dan Pak Bimo pun seperti orang linglung melihat kelakuan anaknya. Mereka malah diam terpaku menyaksikan anak mereka yang memeluk Bagas. Entah kapan dan bagaimana Wita tiba-tiba saja sudah berada di samping Bagas. Dia membantu Imron melepaskan Bagas dari Dini. Akhirnya dengan hentakan kasar dari Wita dibantu Imron dan Ibunya Bagas, mereka berhasil melepaskan Dini. Plak! Wita langsung menampar wajah Dini. Terlihat wajah Wita memerah menahan marah. "Kamu memang wanita gak tau malu, ya! Gak punya harga diri!" cecar Wita. Ibunya Bagas langsung berdiri di samping Wita dan merangkulnya. Imron dan Bagas berdiri di belakang Wita dan Bagas. Aku pun melangkah mendekati Wita. "Kamu!" ucap Dini sambil membelalakkan mata. Dia terlihat mengusap pipinya yang merah akibat tamparan Wita. "Ya, aku! Kenapa? Kamu itu emang gak ada ot*knya!" "Kamu, jangan kasar sama anak saya!" timpal Bu Ratna yang berjalan mendekati Dini disusul Pak Bimo di belakangnya. "Ibu kalau gak mau saya kasar, tolong ajari anaknya sopan santun! Terus itu ot*knya dipake biar bisa berpikir, jangan jadi wanita mu**h! Ini suami orang lho! Dan Ibu sama Bapak kok malah diam saja!" Kembali Wita berbicara dengan nada ketus. "Seharusnya kamu maklum dengan keadaan anak saya! Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan dalam masa pemulihan, kamu seenaknya nampar dia! Lagipula wajar saja Dini memeluk Bagas, mereka, kan pernah bersama! Jadi kamu jangan sok gitu!" jawab Bu Ratna. Hah, apa aku gak salah dengar. Bu Ratna malah meminta kami untuk maklum dan pengertian dengan perilaku Dini tadi. Apa gak salah? Benar-benar Bu Ratna ini. Pemikirannya jadi ikutan gak waras. Anaknya sudah seperti itu masih dibela juga bukannya dinasehati. "Ck ck ck!" Wita berdecak. "Pantas saja anaknya seperti ini, lah Ibunya juga kek gitu!" ujar Wita. "Benar, Nduk! Nasib baik, Masmu sudah lepas dari istri dan mertua model gini! Ibu gak bisa bayangin jika Masmu masih berhubungan dengan keluarga mereka!" timpal Ibunya Bagas. "Sudah, Nduk! Lebih baik kita pergi saja! Daripada nanti dia berbuat nekad lagi!" ajakku. "Tuh dijagain anaknya, Pak jangan sampe nyosor lagi ke laki orang!" cibir Wita. Kami semua menuju ke mobil diiringi tatapan penuh kebencian Dini dan keluarganya. Kami masuk ke mobil dan menempati duduk seperti semula. Hanya saja sekarang aku yang duduk dia sebelah Imron karena Zakia tertidur di pangkuan Nabila. Zidan pun tertidur di bangku belakang ditemani Bagas. Imron segera menghidupkan mesin dan melajukan mobil. "Dasar gak tau malu!" umpat Wita. "Emang tuh gak nyangka Ibu! Gas, kok ya bisa kamu berhubungan dengan wanita itu! Ibu kok gak pernah tau!" "Sebenarnya Bagas juga kepaksa, Bu! Dia itu selalu memaksakan kehendak dan melakukan segala cara yang terkadang membuat malu Bagas. Karena itu, Bagas iya-iyain saja! Untung waktu itu Bapaknya gak setuju karena Bagas belum PNS, jadi dia berhenti ngejar Bagas. Namun karena sudah terpesona kegantengan putra Ibu ini jadi dia masih juga berusaha ngejar Bagas dan itu juga yang jadi alasannya mendekati Mas Imron dan berpura-pura kehilangan rahim akibat kecelakaan mobil yang waktu itu Mas Imron pengemudinya," jelas Bagas panjang lebar. "Senekad itu Dini sampe rela melakukan apa saja? Benar-benar ya tuh anak!" timpal Ibunya Bagas. "Iya Bu! Nekad dan gak tau malu! Tapi Mas Bagas, kayaknya senang dipeluk mantan pacar!" sungut Wita. "Tenang, Nduk! Kalau Bagas macam-macam biar Ibu yang hajar, kamu tinggal bilang sama Ibu saja! "Tuh dengerin, Mas! Kamu berhadapan langsung dengan Ibu Erna sang jagoan!" ujar Wita yang kemudian meringis karena dicubit sama Ibunya Bagas. Kami yang ada di sana tertawa mendengar perkataan Wita. "Bu, Bagas masih penasaran dari tadi. Apa bener Ibu punya bukti dan saksi atas kejahatan Paklek Bimo? Seingat Bagas Ibu pernah bilang, kan kalau susah mau menuntutnya. Wita memandang dengan tatapan heran. Bingung karena Bagas memanggil Pak Bimo dengan sebutan Paklek. Sebenarnya Ibu …
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil
29/05/2022
0good
13/12/2024
0mantap.seru..
08/12/2024
0Lihat Semua