Bab 3.2

"Mmm …tapi, Mak, Imron ada permintaan.
"Apa, Le?" tanyaku penasaran. Bagas dan Wita pun memandang ke arah Imron.
"Mmm …itu …"
Kenapa Imron jadi gugup gitu ya. Aku kok jadi curiga. Sebenarnya apa permintaan Imron.
"Apaan, Mas? tanya Wita dengan nada tak sabar.
"Mas mau …mau ngajak Abil juga, gimana? Boleh, kan?" tanya Imron malu-malu.
"Oalah, Mas …Mas, kirain apa! Ya, jelas bolehlah, Mas. Malah Wita senang kalau Kak Abil bisa ikutan!" jawab Wita bersemangat.
"Iyo, Le. Mak juga senang kok, jika Abil mau ngikut," timpalku.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Nanti Imron kasih tau Abil secepatnya," jawab Imron.
Wita dan Bagas pulang sebelum magrib. Mereka ternyata membawa lauk untukku dan Imron. Sekalian memberitahukan tentang rencana ingin mengunjungi Bu Erna, Ibunya Bagas. Alhamdulillah, jadi aku tidak perlu memasak.
Setelah solat isya dan mengaji, aku merebahkan diri di ranjang. Sambil memegang tasbih kulantunkan bacaan zikir dalam hati.
Tok! Tok! Tok!
"Mak, udah tidur ya?"
Terdengar Imron memanggil dari luar.
"Belum, Le!" jawabku. Aku beranjak dari pembaringan dan menyenderkan badan ke ranjang. Imron membuka pintu kamar dan melangkah mendekatiku. Kemudian duduk di sisi ranjang.
"Mak, tadi Imron dah telepon Abil."
"Sudah, ya? Terus gimana, Abil mau kan ikut kita?"
"Abil sih mau, Mak. Tapi …Abil kuatir, Mak!"
Aku mengernyitkan dahi. Bingung jadinya.
"Kuatir …kuatir kenapa, Le?"
"Abil mengkhawatirkan reaksi Dini bila bertemu Abil. Terakhir bertemu di rumah sakit dulu, kan Dini sempat-sempatnya memfitnah Abil," jelas Imron.
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti.Benar juga ya. Pasti Dini akan bereaksi berlebihan karena dia memang tidak menyukai Abil.
"Tapi tadi Imron sudah bilang sama Abil, jika dia merasa ragu mau turun,nanti tunggu di mobil saja sama Wita. Kita gak lama kan, Mak di rumah Dini?"
"Gak, kita gak usah lama-lama disana, yang penting kita udah jenguk Dini," tukasku.
"Syukurlah kalau gitu. Ya udah, Mak, lanjut lagi deh istirahatnya!" Imron berdiri kemudian menuju ke pintu kamar.
Sebelum dia keluar, Imron membalikkan badannya kembali lalu menatapku. Aku membalasnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Mak, makasih ya, sudah selalu mendukung Imron selama ini!"
Aku tersenyum, memandang anak sulungku yang padanya aku belajar menjadi seorang ibu.
"Mak akan selalu mendukungmu, Le selagi itu di jalan yang benar," balasku.
Imron mengangguk sambil tersenyum. Kemudian keluar kamar dan menutup pintu. Jujur, sebenarnya aku pun tak ingin kembali berjumpa dengan Dini. Hanya atas dasar kemanusiaan, seperti yang Bagas bilang anggap saja silahturahmi maka aku menyetujuinya. Dan aku yakin Imron pun sebenarnya berpikiran sama denganku. Terlalu banyak kebohongan dan luka yang sudah Dini torehkan untuk keluarga kami. Semoga berjalannya waktu, rasa sakit ini segera berganti dengan keikhlasan. Bukankah semua telah diatur oleh Allah. Setiap kejadian pasti ada campur tangan-Nya. Bersyukur, sampai hari ini, kami bisa melewatinya dengan baik.
***idm
Hari ini, hari yang telah kamis sepakati untuk pergi ke rumah Ibunya Bagas, sekaligus menjenguk Dini. Rencananya, kami sampe sore di sana, sedangkan Wita dan Bagas beserta anak-anak akan menginap di rumah Bu Erna. Mumpung hari libur dan kebetulan mereka sudah lama juga tidak berkunjung. Hanya bertukar kabar melalui telepon.
Imron mengemudi mobil, dengan kecepatan sedang. Aku duduk di tengah bersama Wita dan si bungsu Zakia. Sedangkan Bagas memilih duduk di belakang bersama sang jagoan, Zidan. Sengaja kursi di samping Imron dikosongkan, untuk Abil duduk nanti. Karena sebelum menuju ke rumah Ibunya Bagas, kami mampir menjemput Nabila dulu yang kebetulan rumahnya searah.
Tak sampai dua puluh menit, kami sampai di gerbang komplek perumahan Nabila. Rumah di sini bentuknya minimalis namun terkesan mewah. Imron menuju salah satu rumah yang tak begitu jauh dari gerbang. Terlihat Nabila yang sudah duduk di teras menunggu kedatangan kami. Dia bergegas mendekati mobil kami.
"Im, Mak dan Wita gak mau mampir dulu ke rumah?" ajak Abil.
"Dak usah, Nduk! Lain kali saja, nanti kita kesorean. Kita mau mampir ke rumah Bagas dulu," jawabku.
"Oke, Mak! Bentar ya mau ambil tas dulu!" ucap Nabila. Nabila kemudian kembali ke teras dan mengambil tas beserta paper bag dan parcel. Kemudian masuk ke mobil dan duduk di samping Imron.
"Dek, ini untuk Ibunya Bagas," ujar Nabila menyodorkan sebuah paper bag kepada Wita.
"Walah, Kak kok jadi repot-repot. Wita tadi ada bawaan juga untuk Ibu," jawab Wita.
"Gak papa gak repot kok!" tukas Nabila.
"Makasih ya Kak!" ucap Wita. Nabila pun mengangguk sambil tersenyum.
"Terus itu untuk apa?" tanya Imron menunjuk parcel buah di pangkuan Nabila.
"Eh, iya ini untuk Mbak Dini," jelas Nabila.
"Oalah Nduk. Mak sama Imron gak ada kepikiran mau bawak apa gitu. Rencananya cuma mau jenguk sebentar saja. Malah kamu yang ingat bawak buah untuk Dini," ujarku.
"Gak apalah, Mak! Cuma buah saja," jawab Abil sambil tersenyum.
"Makasih ya, Bil," Imron memandang Abil sambil tersenyum.
"Iya sama-sama," jawab Abil.
Mobil kembali melaju keluar gerbang. Sebelum ke rumah Dini, kami mampir ke rumah Ibu Erna, karena memang rutenya rumah Ibu Erna dulu. Naruh barang-barang Wita dan Bagas, baru nanti ke rumah Dini.
Sekitar empat puluh lima menit, kami sampai di rumah Bagas. Bu Erna, ibunya Bagas menyambut kami. Rupanya dia sudah mengetahui kalau keluarga kami akan berkunjung.
Semuanya telah dipersiapkan. Kami duduk di saung yang memang berada tak jauh dari teras. Kue-kue dan cemilan sudah tersedia. Seteko air teh dan beberapa gelas sudah disiapkan juga. Setelah berpelukan dan bertanya kabar, kami duduk-duduk di saung. Zidan dan Zakia langsung menuju kolam ikan di belakang rumah bersama Bagas.
"Eh, saya lupa nanya tadi Mbak, yang ini istrinya Imron, ya?" tanya Ibunya Bagas kepadaku sambil menunjuk Nabila.
"Oh …ini calon kakak ipar Wita yang baru, Bu," timpal Wita.
"Calon kakak ipar yang baru?" Ibunya Bagas mengernyitkan dahi.
"Iya, Bu! Mas Imron lagi proses cerai sama istri pertamanya, tapi bukan karena Kak Abil cerainya. Ini murni karena kebohongan istri pertamanya. Nanti, Bu biar Wita jelaskan. Panjang kali lebar kisahnya, Bu," jawab Wita.
"Oh ya sudahlah. Apapun itu yang penting anak-anak bahagia ya Mbak!" ujar Ibunya Bagas.
"Iya, Dek. Mbak berharap setelah ini semoga rumah tangga anak-anak selalu dalam lindungan Allah. Dan dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat." jawabku.
"Aamiin." Serentak semua yang duduk di sini mengaminkan doaku.
"Bu, Wita nanti mau ke rumah calon mantan kakak ipar. Ibu mau sekalian ikut gak?" ajak Wita.
"Iya, Dek Er. Daripada di rumah sendirian," timpalku.
"Ke sana ngapain, Mbak?" tanya Ibunya Bagas.
"Dia lagi sakit, depresi tapi sekali lagi, Dek Er bukan karena perceraian tapi karena sesuatu hal. Bapak mertua Imron yang meminta agar Imron menjenguk anaknya.
Ibunya Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin dia pusing sendiri, kenapa rumit sekali rumah tangga Imron. Belum tau saja dia, bahwa Dini pun berniat menghancurkan rumah tangga anaknya.
"Boleh deh, Mbak! Saya mau ketemu juga sama siapa tadi kata Wita, calon mantan kakak iparnya," ucap ibunya Bagas sambil tersenyum memandang Wita.
Tak terasa kami ngobrol hampir satu jam. Tepat jam setengah sepuluh, kami berangkat menuju ke rumah Dini. Ibunya Bagas, ikut bersama kami dan duduk di sebelahku. Perjalanan santai dan cuaca mendukung. Tidak hujan tidak panas. Adem.
Kami sampai di rumah Dini sekitar pukul setengah sebelas. Kami turun dari mobil. Abil akhirnya ikut turun karena dipaksa Wita. Wita bilang kalau Dini macam-macam, biar Wita yang hadapin. Putriku itu semenjak bermasalah dengan Dini, apapun yang berkaitan dengan Dini sepertinya bawaannya emosi.
Imron mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Terdengar jawaban dari dalam. Sepertinya suara Bu Ratna.
Ceklek. Pintu terbuka. Terlihat sosok Bu Ratna. Beliau seperti terkejut melihat rombongan kami datang.
"Mau apa kamu, Im?! Mau nyukurin Dini?!" tanya Bu Ratna sinis.
"Astaghfirullah, Bu kami dak ada niat seperti itu. Justru kami semua ke sini ingin melihat kondisi Dini. Karena kami dengar kabar dari Bapak, Dini tidak mau keluar kamar," jelas Imron.
Ibunya Bagas menatap tajam pada Bu Ratna. Sepertinya dia tidak menyukai sikap Bu Ratna.
"Siapa, Bu?" Ternyata Pak Bimo yang datang.
"Nih, Imron dan keluarganya! Paling mau nyukurin Dini!" jawab Bu Ratna ketus
"Sudah, Bu! Mari masuk Im," ajak Pak Bimo. Kami mengikuti ajakan Pak Bimo.
"Oh ya, Pak kenalkan ini besan saya, mertua Wita," ucapku sambil menunjuk Ibunya Bagas yang berdiri di belakangku. Ketika Ibunya Bagas mendekati Pak Bimo mereke berdua saling terkejut dan bertatapan lama.
"Mbak Erna?" ucap Pak Bimo tersentak.
Begitu juga dengan Ibunya Bagas.
"Kamu?"

Komentar Buku (63)

  • avatar
    Diyanatum Mufidah

    ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil

    29/05/2022

      0
  • avatar
    LiaYul

    good

    13/12/2024

      0
  • avatar
    MarlinaErlin

    mantap.seru..

    08/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru