Bab 36

"Sebenarnya … Bagas itu adalah anak dari saudara tiri Bapak, Mas Teja namanya."
"Apa, Pak?! Jadi Dini sama Bagas sepupuan gitu?" tanyaku kaget.
"Ya, jatuhnya sepupu tiri, bisa dikatakan seperti itu. . Dulu, sewaktu Mbah lanang dan Mbah Uti menikah masing-masing dari mereka membawa anak hasil pernikahan terdahulu. Mbah lanang membawa Mas Teja sedangkan Mbah Uti membawa Bapak," jelas Bapak.
"Terus hubungannya dengan kita apa, Pak? Kalau sepupu, kan apalagi sepupu tiri, Dini dan Bagas kan tetap bisa menikah. Tetapi, kenapa Bapak menghalanginya?" tanya Ibu kebingungan.
"Bapak tidak menyetujuinya karena harta yang kita miliki ini awalnya milik Mas Teja yang otomatis jadi milik Bagas," terang Bapak lagi.
Aku dan Ibu saling berpandangan, tak mengerti apa maksud ucapan Bapak.
Bapak menghela napas dan membuangnya kasar.
"Bapak sudah merampas semua harta bagian Mas Teja. Bapak alihkan atas nama Bapak semua. Yang tersisa hanya rumah peninggalan Mbah lanang yang ditempati Bagas sedari kecil bersama Ibunya, Mbak Erna."
Aku terkejut mendengar penjelasan Bapak. Begitu juga dengan Ibu. Aku tak percaya bahwa Bapak menyimpan rahasia ini begitu rapi dan rapat.
"Bapak iri melihat Mas Teja diberikan lebih banyak harta warisan dibandingkan Bapak. Bapak tidak terima! Walaupun Bapak tau sebenarnya memang bukan hak Bapak, tapi Bapak tetap tidak terima!" tukas Bapak.
Aku membelalakkan mata mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Bapak. Jadi, harta yang kami nikmati selama ini, sebenarnya adalah hak Bagas. Pantesan, mati-matian Bapak menghalangi hubunganku dengan Bagas, mungkin Bapak kuatir Bagas akan menuntut Bapak.
"Jadi, makanya Bapak gak mau Dini menikah dengan Bagas karena Bapak kuatir kita akan kehilangan harta kita?! tanya Ibu seperti bisa membaca pikiranku.
Bapak mengangguk lemah.
"Bapak sangat kuatir, nanti bila bertemu dengan Mbak Erna, ibunya Bagas, dia akan menuntut Bapak dan Bapak berakhir di penjara. Bapak gak mau!" ucap Bapak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kenyataan yang begitu pahit. Bagaimana bisa ini semua terjadi. Jika aku tetap menjalankan niatku merebut Bagas, otomatis kami bisa jadi kehilangan harta karena lambat laun akan terbuka semua kejahatan Bapak. Aku gak akan tega melihat Bapak menghabiskan masa tuanya di dalam penjara.
"Jadi, Din, kamu masih nekad juga, Nak?" tanya Bapak pelan.
"Entahlah, Pak! Dini bingung," jawabku sambil mengedikkan bahu.
"Bagaimana Bapak bisa merampas semuanya tanpa ketahuan?" tanya Ibu penasaran.
"Dulu waktu Bapak mengalihkan semuanya, Bapak ada minta tolong sama kepala desa. Waktu itu kebetulan, Mas Teja lagi dirawat di rumah sakit. Dan Bapak yang menggantikan mengelola toko dan cabangnya."
"Pada saat itulah Bapak pikir kesempatan yang sangat baik untuk merebut semuanya. Bapak berbohong, meminta tanda tangan Mas Teja untuk urusan toko. Padahal tanda tangan itu Bapak gunakan untuk pengalihan semua harta. Waktu itu kan gak terlalu susah urusan begituan, Bu. Ada tanda tangan, saksi, persetujuan Kades, kasih duit, selesai. Setelah itu, baru Bapak buat sertifikat hak milik atas nama Bapak di notaris. Karena Bapak ingat, Mbah lanang banyak kebun namun belum di urus sertifikatnya. Jadi ini suatu keberuntungan buat Bapak."
"Gak lama setelah itu, Mas Teja meninggal. Untungnya semua urusan Bapak sudah selesai. Mbak Erna sempat mau menuntut Bapak, setelah dia tahu, Bapak sudah merampas semuanya.
Tapi, dia tidak punya bukti. Untuk menghindari Mbak Erna, akhirnya, toko dan cabang di kampung Sejahtera, Bapak jual sama Koh Ayong orang terkaya di kampung itu dulu. Dan Bapak pindah ke sini dan membuka minimarket dari modal penjualan toko."
Wah, Bapak hebat sekali. Rencananya berjalan rapi sekali. Salut juga aku sama Bapak. Tapi, karena ini semua, niatku bersama Bagas bisa tertunda.
"Pak, Bagas gak tau tentang ini, kan, Pak?" Aku bertanya pada Bapak.
Bapak hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Bapak, gak tau, Din! Bisa jadi, sekarang Bagas sudah tau. Kalau dulu, belumlah karena waktu kejadian itu, Bagas masih berumur dua tahunan. Malahan gak ingat juga dia waktu kamu mengenalkannya sama Bapak."
"Ya sudah! Untuk sementara, kita tunda dulu, Din masalah Bagas. Jangan sampe kita berhubungan dulu dengan Bagas apalagi Ibunya. Ini semua demi kebaikan kita! Kamu fokus pada kehamilanmu saja! Setelah anak itu lahir, kamu berikan saja pada Imron! Biar dia yang merawat anak itu! Atau … kamu bisa menggugurkannya, baru dua minggu, kan?" tanya Ibu.
"Ibu, kok malah disuruh gugurin sih?! Bagaimanapun anak itu cucu kita, Bu! Darah daging kita juga!" Bapak berucap dengan sedikit emosi.
"Pak, kalau hanya akan menyusahkan, lebih baik anak ini gak usah ada! Gara-gara dia kan semuanya berantakan! Lagipula dari awal Ibu gak setuju sama Imron. Tapi demi melancarkan rencana Dini, mau gak mau Ibu mengikuti semuanya. Makanya, Ibu usulkan Dini minum pil KB itu. Selain menutupi kebohongannya tentang rahim, juga mencegah jangan sampe dia hamil anak Imron!"
"Bu, biarlah anak itu lahir. Nanti setelah lahir, kita berikan saja pada Imron daripada digugurkan!" ucap Bapak.
"Terserah! Ibu gak mau repot urus anak itu! Sudah, Pak, udah sorean juga ini. Ibu mau mandi dulu. Kamu, Din kalau mau istirahat, ya istirahat dulu!" titah Ibu.
Aku mengangguk pelan. Kemudian berdiri dan menuju ke kamarku. Kubuka pintu kamar. Melihat ke sekeliling, kamar ini masih tetap saja sama walau sudah ditiinggal lama. Kurebahkan tubuh ini, di ranjang. Terasa capek. Ya capek pikiran, capek badan. Kejutan demi kejutan kudapati hari ini. Dari mulai ditalak suami, rahasia Bapak dan Ibu yang ingin aku mengggugurkan kandungan ini. Lebih baik aku istirahat sebentar. Biar pikiranku lebih fresh.
***idm
Esok harinya, aku berencana ingin mampir ke butik NF. Sengaja aku pilih butik itu, aku ingin mempermalukan perempuan itu. Aku mematut diri di depan kaca. Sempurna, gamis tosca yang baru kubeli minggu yang lalu dengan hijab senada. Kuambil tas dan memakai sepatu flat. Kubuka pintu kamar, dan mendapati Bapak dan Ibu sedang mengobrol di ruang tengah.
"Mau kemana, kamu, Din?" tanya Ibu seraya menelisik penampilanku.
"Ada perlu bentar! Gak lama, kok Bu! Sebelum zuhur, Dini pulang," jawabku.
"Bapak antar ya, kamu kan lagi hamil," tawar Bapak.
"Gak usah, Pak! Dini pake taksi online saja. Sudah pesan," tolakku.
"Hati-hati ya, Din!"
"Iya, Bu," sahutku.
Aku langsung berlalu dari hadapan Bapak dan Ibu. Menunggu taksi online yang katanya tidak jauh lagi. Tak lama menunggu, taksi online sudah datang. Aku masuk ke dalam taksi.
"Sesuai aplikasi ya, Bu?" tanya sopir itu, ketika aku sudah duduk di dalam.
"Iya," jawabku singkat.
Taksi melaju membelah jalanan. Kunikmati perjalananku kali ini dengan tersenyum bahagia. Aku sudah tidak sabar ingin mengerjai Nabila. Sekitar empat puluh lima menit, aku sampai di depan butik NF. Setelah membayar ongkos taksi, aku keluar.

Ku dorong pintu kaca butik NF tersebut. Kuedari pandangan mencari sosok wanita kampungan itu.
"Met pagi, Mbak Dini. Wah, tumben jam segini udah maen ke butik?" tanya salah satu karyawan di butik NF yang mengenalku.
"Iya, mbak aku ada perlu soalnya," jawabku.
"Oh begitu, kebetulan ada barang baru Mbak, sebelah sana belum sempat di pajang, baru datang kemarin, masih fresh from the oven," ucap karyawan tersebut sambil mempersilahkanku berjalan terlebih dahulu
"Oh, oke," jawabku sambil melangkah menuju tempat yang ditunjuk karyawan itu. Kemudian dia menunjukkanku barang baru yang dimaksud. Ini memang keluaran terbaru. Aku sudah mengincarnya dari sebelum launching.
"Mmm … Mbak mau nanya dong, karyawan yang bernama Nabila, mana? Aku mau dilayani sama dia dong," pintaku.
Terlihat, mbak tersebut mengernyitkan dahi.
"Nabila … Nabila ya," gumamnya.
Aku mengangguk, di sini gak ada yang karyawan yang namanya Nabila, Mbak. Kalau, pemi—"
"Nah itu dia," tunjukku. Sesaat kulihat Nabila baru saja masuk kedalam butik.
"Ya itu, Mbak Dini, maksud saya Nabila itu—"
Tak kupedulikan ucapan karyawan tersebut. Kudapati Nabila yang sedang berjalan.
"Hai ketemu lagi," sapaku seraya menghalangi jalan Nabila.
Dia tampak terkejut, kemudian tersenyum.
"Eh, Mbak Dini mau beli gamis ya?" tanya Nabila.
"Ya iyalah, masak ke butik mau beli cabe!" jawabku sinis.
"Silahkan dilihat-lihat dulu, Mbak. Ada barang baru itu. Mira, tolong kamu layani Mbak Dini dengan baik ya!" ucap Nabila.
"Ckckck, lagakmu udah kayak owner saja! Aku mau kamu yang layani aku! Pelayan aja belagu!" ucapku dengan nada sedikit tinggi. Terlihat orang-orang yang ada di dalam butik memperhatikan kami.
"Atau kamu mau, aku suruh ownernya mecat kamu karena tidak sopan sama pelanggan!" ancamku.
Karyawan yang dipanggil Mira tadi mendekatiku.
"Mbak Dini, sama saya saja ya! Kan biasanya juga gitu!"
"Gak, aku gak mau! Aku mau dia yang melayani! Sombong sekali, kamu!" sungutku.
"Maaf, Mbak Dini, saya hari ini belum bisa melayani Mbak Dini karena saya ada pertemuan penting. Jadi, Mbak Dini sama Mira saja ya," tolak Nabila.
"Sudah kubilang aku gak mau! Kamu itu cuma pelayan jadi jangan sok ngeboss! Panggil ownernya kemari! Aku gak suka ada pelayan yang gak sopan!" bentakku.
Nabila hanya tersenyum dan itu semakin membuatku kesal. Mira mendekatiku. Kemudian berbisik ke telingaku. Seketika aku membelalakkan mataku.

Komentar Buku (63)

  • avatar
    Diyanatum Mufidah

    ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil

    29/05/2022

      0
  • avatar
    LiaYul

    good

    13/12/2024

      0
  • avatar
    MarlinaErlin

    mantap.seru..

    08/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru