Bab 23

"Lupa apa, Dek?" tanya Imron keheranan.
"Iya, lupa apa toh, Nduk? Aku ikut bertanya.
"Itu lho Mas, kita tadi gak ada nanya kak Abil tinggal di mana terus gak juga nanya nomor hape kak Abil, gimana mau menghubungi kak Abil?" tanya Wita kebingungan.
Iya juga ya. Kenapa aku gak berpikir sampe ke situ. Gara-gara berdebat dengan Dini malah hal penting terlupakan.
"Iya, Mas kok gak kepikiran tadi," sahut Imron.
"Lah jadi piye iki?" tanya Wita lagi.
"Mmm … Mak, bukannya pak Yudha, pak Rt kita itu pamannya Abil kan, Mak?" tanya Imron memastikan.
"Eh iya, bener! Pak Yudha pamannya Abil, adik ayahnya itu," jawabku sumringah. Aku baru teringat ada keluarga Abil yang masih tinggal di sini. Ah, kenapa aku jadi sering lupa begini ya.
"Mak semangat dan ceria sekali. Sudah lama gak liat Mak seperti ini!" goda Wita.
"Kamu ini, Nduk! godai mak terus dari tadi."
Kami bertiga tertawa. Sudah lama rasanya kami tidak berkumpul dan tertawa seperti ini. Tepatnya ya semenjak Dini tinggal di sini. Jarang sekali kami bisa berkumpul dan mengobrol.
"Mak, nanti habis jum'atan temani Imron ke rumah Pak Yudha ya, Mak!"
"Iyo, Le. Mak juga baru mau ngomong habis jum'atan saja biar tidak terburu-buru."
Imron menganggukkan kepalanya.
"Mak, Mas, Wita pamit dulu ya! Kasihan mas Bagas ditinggal terlalu lama."
"Lho, emang Bagas gak ngajar, Dek? tanya Imron heran
"Gak, Mas. Disuruh istirahat. Kemarin baru dapat musibah. Motornya keserempet taksi," jawab Wita.
"Ya Allah, tapi Bagas gak papa kan, Dek?" tanya Imron dengan nada kuatir.
"Alhamdulillah, Mas Bagas gak papa. Cuma memang belum bisa ngajar, karena kakinya ada yang terluka cukup dalam."
"Ya sudah cepat balik gih! Kasihan Bagas. Titip salam sama Bagas ya! Insya Allah sebelum berangkat mas mampir liat Bagas."
"Siap Bosku!" jawab Wita sambil mengangkat tangannya dan memberi hormat pada Imron.
"Kamu ini ada-ada aja, Dek!" ujar Imron sambi tertawa kecil.
Wita, wita. Anak itu kelakuannya terkadang masih seperti anak kecil. Padahal udah punya anak dua.

Wita mendekat dan mencium tanganku kemudian mencium tangan Imron.
"Hati-hati ya, Dek! Jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" Imron mengingatkan.
Wita mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia menuju pintu, membuka dan menutup pintu kembali.
Belum lama pintu tertutup, terdengar suara ribut dari arah luar. Aku dan Imron berpandangan dan gegas berdiri keluar dari kamar.
Ketika kami keluar, kami segera menuju ke sumber suara. Terlihat Wita dan Dini sedang berdebat di dapur. Ada apa lagi ini.
"Ngaku, gak kamu!" ujar Wita dengan wajah emosi.
Aku dan Imron mendekat ke arah Wita.
"Ada apa ini, Dek?" tanya Imron.
"Iya, Nduk ada apalagi ini? Tadi bukannya kamu pamit mau pulang?" timpalku.
"Iya, Mak. Tadi juga Wita sudah mau pulang. Pas keluar dari kamar, Wita melihat Dini di dapur. Kalau ngeliat Dini, bawaan curiga aja Mak. Jadi tadi Wita diam-diam mendekati Dini. Ternyata Dini minum obat tapi Wita gak tau obat apa," jelas Wita.
Obat apa yang sebenarnya diminum Dini. Memangnya dia lagi sakit apa. Anak itu selalu penuh misteri. Entah apa lagi yang sedang disembunyikannya.
"Bener, itu Din? Mana, mas mau lihat obatnya! Imron berjalan mendekati Dini.
Dini diam saja. Justru dia malah menyembunyikan obat itu dibalik badannya. Tentu saja sikapnya itu membuat kami bertambah curiga.
"Mana, Din?! Imron bertanya lagi.

Dini semakin menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Cepat rebut obat itu, Mas! Wita yakin ada hal penting yang disembunyikan Dini!" ujar Wita.
"Gak, Mas! Itu … anu … mmm" Dini menjawab terbata-bata.
"Iya, kemarikan obatnya!" Imron mengulurkan tangan meminta obat yang sedari tadi dipegangnya.
"Itu hanya obat … obat sakit kepala, iya obat sakit kepala! Dini tadi pusing, terlalu banyak masalah makanya minum obat," jawab Dini dengan gugup. Terlihat dia begitu cemas.
"Iya, mana obatnya sini?! Mas mau liat!" Imron berusaha merebut obat itu namun Dini mengelak. Tiba-tiba Dini mendorong Imron dengan keras. Imron yang tidak siap akhirnya jatuh terjerembab.
"Keterlaluan kamu, Din!" bentakku. Aku mendekati Imron untuk membantunya berdiri. Wita pun ikut mendekat ke arah Imron. Kelihatan Imron meringis menahan sakit. Mungkin area bo**ngnya terasa sakit karena tadi jatuh terduduk.
"Ya jangan salahkan Dini! Mas Imron tuh dibilang obat sakit kepala juga masih ngeyel! Gak percayaan banget sama istri!" sahut Dini.
Ya Allah, kemana pikiran anak ini. Bukannya dia merasa bersalah, malah dia yang menyalahkan suaminya. Gak mengerti aku dengan jalan pikirannya.
"Cepat, kemarikan obat itu, Din! Jangan sampe Mas berbuat kasar sama kamu! Cepat!!!" bentak Imron. Kuelus punggung anak sulungku itu, berusaha meredam emosinya.
"Gak, Dini gak mau!" sahutnya. Dini malah berlari ke arah depan dan menyenggol bahuku. Untung saja Imron menahan sehingga aku tidak terjatuh. Imron menyusul Dini ke depan. Ternyata Dini menuju kamarnya. Aku dan Wita mengekor di belakang.
"Din, buka pintunya! Cepat!" teriak Imron. Pintu kamar dikunci Dini.
"Sebenarnya obat apa itu?! Kamu jangan mengelak lagi, Din! teriak Imron lagi.
Berulang kali Imron memanggil-manggil dan menggedor pintu. Namun Dini tidak menggubrisnya.
"Le, sudah! Untuk sementara biarkan saja dulu!" Nanti kalau ada kesempatan kita cari tau!" ucapku sambil memegang lengan Imron.
Imron akhirnya berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya. Aku ikut duduk disebelah Imron dan Wita berdiri di sebelahku.
"Mas, Wita yakin obat itu bukan obat sakit kepala. Gak mungkin kalau cuma obat sakit kepala, Dini ngotot tidak mau memberikannya pada Mas," ucap Wita.
"Iya, Dek. Mas juga sepemikiran dengan kamu. Makanya mas tadi berusaha merebut obat itu."
"Ya sudah, nanti kita tanya lagi Dini baik-baik, sebenarnya itu obat apa. Sekarang jangan dipikirkan lagi," ucapku.

Wita dan Imron mengangguk bersamaan.
"Yo wes kalau gitu! Wita balik ya! Udah dua kali ini pamitan gak pulang-pulang juga! Yang ketiga kali dapat hadiah pulak nanti!" pamit Wita sambil manyun.
Aku dan Imron spontan tertawa mendengar perkataan Wita. Kemudian kami berdua mengantar Wita hingga ke depan teras. Wita menaiki motor dan berlalu dari hadapan kami.
Sepeninggal Wita, Imron berniat ingin mandi. Dini masih tetap mengunci diri di dalam kamar. Untung saja di tas ransel Imron, masih ada stok baju dan pakaian dalam yang bersih. Setelah Imron masuk ke kamar mandi, aku pun berencana akan memasak untuk anak sulungku itu.
Kukeluarkan ayam yang sudah kuungkep dengan bumbu dari kulkas. Aku sudah terbiasa menyetok ayam ungkep jadi ketika akan memasak tinggal digoreng saja. Beras kucuci dan kumasukkan ke penanak nasi. Lalu kutekan tombol cook.. Sembari menunggu ayam jangan terlalu dingin saat digoreng, aku berencana membuat sambal dan sayur bening. Kuambil dari kulkas cabe, bawang serta tomat.
Sedang asyik aku mempersiapkan bahan sambal, bahuku terasa dicolek orang. Spontan aku berbalik ke belakang dan aku kaget ternyata Dini sudah berada tepat dihadapanku. Jadi dia yang menyolek bahuku tadi.
"Mau apalagi kamu!" tanyaku dengan nada ketus.
"Mmm … Mak Dini mau …

Komentar Buku (63)

  • avatar
    Diyanatum Mufidah

    ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil

    29/05/2022

      0
  • avatar
    LiaYul

    good

    13/12/2024

      0
  • avatar
    MarlinaErlin

    mantap.seru..

    08/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru