BAB 36

Hari Rabu, Night Watcher menepati janji mereka untuk menemui Yeraz di kediamannya. Mereka berkumpul di markas pukul 16.00 agar dapat sampai ke apotek Schwartz pukul 17.00, sesuai dengan jam tutup apotek yang sudah ada di Lunaria sejak dulu itu.
Night Watcher pergi ke tempat itu menggunakan mobil. Kael yang mengendarai mobil itu. Di kursi sebelah ia duduk terdapat Rangga. Di belakang kursi ia duduk terdapat Daniel. Reina sendiri duduk di belakang kursi Rangga, bersebelahan dengan Daniel. Selama di perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan sepatah kata.
Mereka sampai pukul 16.50. Begitu tiba di kediaman Yeraz, Kael memarkirkan mobil di halaman tempat itu. Setelah selesai parkir, seluruh anggota Night Watcher keluar dari mobil dan memasuki apotek itu.
KLING! KLING!
Suara bel berbunyi tatkala pintu masuk apotek dibuka oleh Rangga.
“Selamat datang di apotek Schwartz. Mohon maaf kami akan segera tutup. A—“ Ucapan Yeraz terhenti ketika melihat Rangga, Daniel, Kael, dan Reina datang.
“Tumben aku melihat Night Watcher kemari dengan formasi lengkap,” kata Yeraz. “Ada keperluan apa sore-sore kalian ke sini?”
Rangga akan berkata sesuatu, namun sudah didahului oleh Reina yang maju ke depan menuju etalase dan berhadapan langsung dengan Yeraz. “Kami ada perlu denganmu terkait senjata yang kami gunakan. Mohon maaf jika kami ke sini tanpa memberitahu terlebih dahulu.”
“Oh … oke oke. Kita bisa bicarakan itu di dalam rumahku. Sekarang aku akan menutup apotek dulu.”
“Baik.”
Yeraz kemudian melangkah ke depan mengganti tanda di pintu masuk apoteknya dari ‘BUKA’ menjadi ‘TUTUP’. Setelah itu ia menuntun Night Watcher menuju rumahnya.
Memasuki rumah Yeraz melewati tiga lapis ruangan. Pertama masuk melewati lemari-lemari obat dan etalase apoteknya menuju pintu samping. Pintu itu ternyata pintu masuk sebuah gudang yang menyimpan berbagai macam obat untuk dijual. Lalu dari gudang itu terdapat pintu lagi yang menuju sebuah lorong sepanjang 50 meter. Baru setelah itu tampak sebuah pintu yang merupakan tempat ruang tamu rumah Yeraz.
“Silakan duduk.” Yeraz mempersilakan para anggota Night Watcher duduk di sofa ruang tamunya setelah sampai.
“Akhirnyaaa …,” ucap Reina. Ia lelah mengitari tempat tinggal Yeraz ini. Ada ya rumah dan toko dalam satu kompleks aksesnya seribet ini?, batinnya dalam hati.
Yeraz ikut duduk di sofa samping kiri. “Jadi ada masalah apa dengan senjata kalian?” Yeraz memulai percakapan.
“Yeraz, ingat dulu yang aku sampaikan soal Rangga di serang orang asing? Senjata kita tidak mempan digunakan untuk melawan orang itu. Jadi kami ke sini ingin meminta memodifikasi senjata agar mempermudah kami ke depannya,” ujar Reina.
“Mau dimodifikasi bagaimana?”
“Ditambahkan sihir.”
“Maaf?”
“Vampir yang kita lawan tidak lagi sekadar monster penghisap darah yang lemah dengan silver, tapi juga memiliki sihir dengan elemen tertentu.” Kali ini yang mengatakan adalah Kael.
“Begitu …,” gumam Yeraz. “Tunggu! Dari mana kalian tahu kalau senjata kalian mengandung silver?”
“Seseorang memberitahu kami—“
“Bukan. Dua orang.” Rangga mengoreksi ucapan Daniel.
Yeraz yang mendengar itu mengerutkan kening. “Siapa?”
“Vampir yang menyerangku dan Arnan Scarlett,” jawab Rangga.
Yeraz tertegun mendengar itu. Ekspresi wajahnya tertangkap oleh Rangga.
“Sudah kuduga.” Salah satu sudut bibir Rangga terangkat ke atas. ““Kau kenal dengan pangeran vampir itu kan? Gilang Ardiansyah si kepala kepolisian kota juga?”
“Tunggu, tunggu. Bagaimana bisa sampai seperti ini?” Yeraz kebingungan. Pasalnya, hal ini tidak ia duga.
Rangga menghela nafas. Kesabarannya menipis mendengar pria yang berprofesi sebagai apoteker ini selalu berkelit. Apa susahnya langsung menjawab pertanyaan?
Melihat Rangga yang sudah diambang batasnya, Daniel mengambil alih pembicaraan. Daniel kemudian menjelaskan rangkaian kejadian dari Rangga masuk rumah sakit sampai kejadian hari Minggu kemarin. Yeraz termenung mendengar itu semua.
“Sudah paham?” tanya Rangga dengan ekspresi bosan.
Yeraz membalasnya dengan anggukan. “Kalau begitu, aku akan menjawab dimulai dengan menceritakan garis keturunan keluargaku.”
“Kami siap mendengar,” kata Reina.
“Apa yang diucapkan Gilang soal manusia dulunya memiliki sihir itu benar. Kalau Gilang leluhurnya bernama Ranu, maka leluhurku adalah klan bernama Schwartz. Orang-orang dari klan ini berprofesi sebagai tabib dan menguasai sihir penyembuhan. Bedanya dengan Ranu, sihir penyembuhan itu tidak diwariskan, hanya penguasaan tentang obat-obatan. La—“
“Maaf aku menyela, lalu bagaimana kau bisa mengenal Gilang?” tanya Kael.
“Karena leluhur kami.”
“Leluhur kalian saling mengenal juga?”
Yeraz mengangguk. “Sihir air selain berfungsi sebagai bertarung juga dapat digunakan sebagai media penyembuhan, seperti air di dunia nyata juga memiliki fungsi untuk menopang kehidupan manusia. Konon sihir penyembuhan akan lebih cepat berefek jika dicampur dengan air. Berangkat dari itulah akhirnya keturunan Ranu dekat dengan klan Schwartz dan berlanjut ke keturunan-keturunannya. Aku sudah mengenal Gilang semenjak aku kanak-kanak.”
“Begitu .... Aku tak bisa membayangkan. Kau dan Gilang bertolak belakang sifatnya.”
Yeraz merespon dengan tertawaan kecil. Setelah itu ia melanjutkan ceritanya yang sempat terputus. “Lalu peristiwa antara vampir dan manusia terjadi. Banyak korban berjatuhan di kedua pihak. Agar hal ini tidak terus-menerus terjadi, maka dibuatlah sebuah perjanjian yang intinya menyatakan kalau vampir tidak akan lagi memburu manusia untuk diambil darahnya.
Sebagai gantinya, mereka akan mengonsumsi darah hewan dan hanya membutuhkan sedikit darah manusia untuk tambahan asupan. Untuk mendapatkan darah manusia, ditunjuklah klan Schwartz sebagai perantara, karena di masa itu hanya klan ini yang menguasai pengobatan dan penyembuhan. Belum ada rumah sakit seperti jaman sekarang. Vampir yang dibilang oleh Arnan itu, dia adalah salah satu pegawai di Pengelolaan dan Distribusi Darah Vaerith. Waktu itu dia datang ke tempatku untuk meminta pasokan darah manusia.”
"Darah manusia? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Reina.
“Aku mendapatkan darah itu dari lembaga palang merah yang bersedia memberikan seperempat kantung darah milik mereka melalui sebuah kesepakatan. Karena eksistensi apotek Schwartz sudah ada sejak jaman leluhurku, tidak sulit bagiku untuk mendapatkannya.”
“Haah ... benar-benar tidak disangka ....” Daniel berkomentar.

“Berarti ... Arnan mengenalmu karena perjanjian yang dibuat bangsa manusia dengan bangsa vampir?” tanya Reina sekalian mengalihkan pembicaraan.
Pertanyaannya mendapat balasan anggukan dari Yeraz.
“Aku tidak mengerti. Kalau seperti ini ceritanya, seharusnya sejak awal kau membuat senjata untuk kami juga dilengkapi fitur untuk mampu mengalahkan vampir asli. Kenapa kau tak melakukannya?” tanya Daniel.
“Atau jangan-jangan kau hanya khusus membuatkan untuk Gilang?” Rangga berkata.
“Jangan berprasangka buruk dulu,” ujar Yeraz. “Meski mengenal vampir, tapi aku sama sekali tidak tahu tentang seluk-beluk mereka. Senjata milik kalian itu, juga Gilang, yang membuat bukan aku melainkan Arnan Scarlett.”
“Arnan?!” ujar Reina sambil membelalakkan kedua matanya. Tiga anggota Night Watcher lainnya juga sama-sama terkejut.
“Tentu saja bukan Arnan seorang yang membuat, melainkan pandai besi Kerajaan Vaerith.”
Kael tertawa sinis. “Pantas senjata ini terlampau canggih. Sedari awal aku tidak yakin kalau kau benar-benar pembuatnya.”
“Karena itu kalau kalian memintaku untuk menambahkan sihir, aku semakin tidak tahu lagi bagaimana caranya,” timpal Yeraz.
“Ck! Orang itu .... Perilakunya tak bisa ditebak,” ujar Rangga.
“Berarti kita kembali lagi menemui Arnan untuk mengupgrade senjata kita,” kata Reina.
“Sialan! Dia mempermainkan kita.” Kael menggertakkan giginya, amarah bergejolak di dalam dirinya.
“Itu saja yang ingin kami tanyakan kepadamu, Yeraz. Terima kasih sudah menjelaskan semuanya kepada kami,” ucap Daniel.
“Sama-sama. Aku harap permasalahan ini bisa segera terselesaikan. Jika leluhurku masih hidup, tentu ia akan kecewa melihat perjanjian itu dirusak begitu saja. Sesama makhluk hidup tak seharusnya bertikai.”
“Ucapanmu mirip dengan si pangeran vampir.”
“Oh benarkah? Suatu kehormatan bagiku.”
Anggota Night Watcher kemudian pamit pulang dengan Yeraz dan masuk kembali ke mobil untuk menuju ke markas mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 ketika Night Watcher sampai. Di saat mereka akan memasuki markas, tampak seorang pria berdiri di depan pintu masuk. Pria itu mengenakan T-shirt putih dan kemeja merah motif kotak-kotak yang diikat di pinggangnya, juga celana berwarna hitam dan sepasang sepatu kets berwarna hitam dengan tali berwarna putih.
“Sudah lama di sini, Arnan?” tanya Reina menghampiri laki-laki itu.
“Enggak kok. Barusan sampai.”
“Oh. Ya udah yuk, masuk bareng.”
Ajakan Reina dibalas anggukan oleh Arnan. Kemudian mereka berlima masuk ke dalam markas dan menuju ke ruang tengah.
“Bagaimana pertemuannya dengan Yeraz?” tanya Arnan ketika mereka semua telah duduk di sofa.
“Yah ... ti—“
“Kau sengaja kan?” Kael memotong ucapan Reina. Ia menatap Arnan tajam.
“Maksudmu?”
Kael yang duduk di sofa sebelah Arnan dengan cepat bangkit berdiri dan menarik kerah T-shirt Arnan. “Kami sudah capek-capek meluangkan waktu bertemu dengan Yeraz dan ternyata senjata kami semuanya dibuat olehmu.”
“Hahaha ....” Arnan tertawa. “Tapi kalian mendapatkan informasi baru dari dia kan?”
“Apa gunanya kami ke sana kalau dia ternyata tidak tahu-menahu soal senjata?!”
“Bukannya yang mengusulkan menemui Yeraz untuk menanyakan senjata itu kau sendiri?”
Kael melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Arnan. Ia kembali duduk tanpa mengucapkan sepatah kata. Kepalanya tertunduk dan tangannya mengepal erat.
“Yeraz sendiri yang bersedia menjadi perantara. Saat itu hanya dia yang aku kenal di kota ini.”
“Kami paham,” kata Daniel. “Lalu apa kau bersedia untuk memasukkan unsur sihir ke senjata kami?”
“Akan aku sampaikan ke pandai besi nanti. Tapi sebelum itu, aku butuh sihir elemen apa yang kalian inginkan.”
“Memangnya ada berapa elemen?” tanya Reina.
“Api, Air, Tanah, Udara. Keempat itu merupakan dasar elemen sihir. Di luar itu ada banyak lagi, tapi aku tidak yakin bisa diterapkan ke senjata buatan.”
“Apa keempat elemen itu sudah cukup untuk mengalahkan vampir?” kata Daniel.
“Cukup. Hanya perlu ditambahkan teknik-teknik tertentu untuk membuatnya efektif.”
“Kalau begitu, aku memilih elemen api!” seru Reina.
Arnan tersentak mendengar itu, akan tetapi itu tidak diperlihatkannya. Senyuman kecil terulas di wajahnya.
“Aku air,” ujar Daniel.
“Angin.” Kael mengangkat kepalanya menatap Arnan. “Semua senjataku jarak jauh. Angin menambah keefektifan bukan?”
“Benar.”
“Tanah,” kata Rangga.
“Kalian semua memilih pilihan yang menarik,” puji Arnan. “Sekarang boleh aku minta senjata kalian?”
Seluruh anggota Night Watcher menyerahkan USB senjata mereka ke Arnan.
“Aku usahakan bisa jadi kurang dalam satu minggu. Sekarang aku pamit undur diri untuk memantau vampir-vampir yang akan masuk ke perbatasan kota.” Arnan bangkit berdiri dari sofa.
“Sampaikan hasilnya kepadaku lewat pesan,” ujar Kael.
“Oh baik. Berapa nomormu?” Arnan mengeluarkan smartphone miliknya dan menyerahkannya ke Kael.
Kael mengetikkan nomornya di smartphone laki-laki itu.
Arnan menerima kembali smartphone-nya. “Sampai jumpa, Night Watcher,” katanya lalu meninggalkan markas dengan kemampuan api birunya.
Sepeninggal Arnan, tak ada satupun anggota Night Watcher yang mengeluarkan suara. Sampai akhirnya Rangga berbicara,

“Daripada kita menganggur, bagaimana jika kita latihan?”

Komentar Buku (20)

  • avatar
    erna

    Novel fiksi yang bagus...walau awalnya kurang begitu tertarik,tetapi karena penasaran lanjutannya,q baca,dan makin kesini makin seru,sampai akhirnya gak berasa baca sampai tamat...Klo ada ses 2 pasti q baca lagi,tapi sayangnya aplikasinya tidak mendukung untuk reader's baca novel karya author yg di sukai reader'snya...

    18/05/2025

      1
  • avatar
    Ibnu Lutfi

    👍👍

    04/03/2023

      0
  • avatar
    agustinaLia

    seru kayaknyaa

    04/12/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru