Para anggota Night Watcher berjalan menyusuri pinggiran kota Lunaria yang sangat sepi. “Jarak dari markas ke perbatasan kota seberapa jauh sih?” tanya Reina. Ia merasa sudah lama berjalan tidak kunjung sampai ke lokasi misi. “Dua kilometer,” balas pria berambut hitam kebiruan yang berada di depannya. “Jauhnya .... Kakiku rasanya mau pegal-pegal.” “Jangan manja. Ini juga melatih stamina.” Wanita berambut panjang dikuncir itu memasang wajah cemberut mendengar balasan dari pria yang berada di barisan paling depan, si muka datar. Begitulah julukan Reina kepada Rangga. “Sebentar lagi kita sampai kok, tenang saja,” sahut Kael yang berada di belakang Reina. Tidak ada percakapan diantara keempat orang itu sampai mereka tiba di perbatasan kota pukul 22.30. Kael mengeluarkan alat pelacak dari saku celananya dan mengamati pergerakan para vampir yang akan memasuki kota. “Bersiaplah. Kesepuluh vampir ini saling berpasangan dan menyebar ke berbagai titik di daerah perbatasan.” “Di mana saja mereka?” tanya Daniel. “Di sisi barat dan timur, ada juga yang akan mendekat ke tempat kita berpijak. Ada dua vampir yang akan ke sini.” “Aku akan ke sisi timur. Daniel, kau ikut aku. Kael, pergilah ke sisi barat. Lalu Reina tetaplah di sini melawan kedua vampir yang sebentar lagi akan kemari.” Rangga memerintahkan ketiga anggota Night Watcher lainnya seraya memandangi mereka satu per satu. “Baik,” ucap Daniel, Kael, dan Reina bersamaan. Sesudah itu, Rangga dan Daniel pergi menuju sisi timur perbatasan. “Semoga berhasil, Reina.” Kael menyemangati wanita muda di sampingnya sebelum ia berlari ke arah barat. Kini tinggal Reina yang berada di tempat itu. Ia mengaktifkan senjata axe miliknya dan menunggu kedatangan dua vampir. Tenangkan dirimu, Rei. Demi menyelamatkan umat manusia, ujarnya dalam hati. Meski sudah latihan intensif, tetap saja Reina merasa gugup karena baru kali ini akan menghadapi vampir sungguhan. Tak lama setelah itu, muncul dua sosok seperti manusia, namun berkulit pucat, yang akan mendekat ke arahnya. Satu laki-laki dan satu perempuan. Saat melihat Reina, vampir berjenis kelamin perempuan itu berlari secepat kilat menuju Reina. Disusul oleh pasangannya. Sontak Reina mengganti senjatanya menjadi handgun dan menembakkan peluru ke arah dua vampir yang akan menyerangnya. ”AARRGGHH!!!” Vampir perempuan berteriak saat kedua peluru dari pistol Reina menembus dada bagian kanan dan perutnya. Langkah kakinya terhenti karena kesakitan merasakan peluru itu. Melihat musuhnya lengah, Reina mengganti senjatanya kembali ke axe dan berlari ke vampir itu. Namun, sebelum ia berhasil melukainya, seorang vampir laki-laki menghadangnya dari atas dan mengayunkan tangan kirinya yang berkuku panjang itu untuk melukai Reina. Refleks Reina mengarahkan axe miliknya dan menebas lengan vampir itu. Kemudian ia dengan cepat berlari membelakangi mereka. Hampir saja, batin Reina. Kedua vampir berlainan jenis itu menurutnya sangat ganas. Ia harus menghabisi salah satu dari mereka supaya mengurangi resiko dilukai oleh makhluk pemangsa darah manusia itu. Vampir laki-laki itu melesat ke arahnya lagi dengan cepat. Kali ini ia mengayunkan tangan kanannya. Dengan cekatan, Reina menghindar dari serangan itu. Tangan vampir itu berusaha meraih kulit Reina namun selalu terhadang oleh axe yang dipengang Reina. Reina melompat ke belakang untuk mengambil jarak. Lalu ia berlari ke arah vampir yang mengejarnya. “Hyah!” Reina melayangkan senjatanya dari bawah menuju ke atas. JRASH! Senjata axe di genggamannya berhasil melukai tubuh vampir itu hingga darahnya mengucur keluar membasahi pakaian yang dikenakan Reina. Ia mengayunkan senjatanya kembali lebih kuat dari atas ke bawah. Serangannya membuat vampir laki-laki itu tumbang dengan kondisi tubuhnya terbelah menjadi dua. “AAAAAAA!!!” Vampir berjenis kelamin perempuan berteriak melihat pasangannya dikalahkan oleh Reina. Perlahan-lahan ia bangkit berdiri dan menatap Reina dengan penuh amarah. Reina memposisikan dirinya siap siaga melihat vampir itu. Terluka tapi masih sanggup berdiri? Batinnya heran. Ia tersentak begitu melihat vampir perempuan itu melesat bagaikan kilat. Kedua mata Reina melihat sekelilingnya, berusaha menangkap pergerakan vampir itu. “GRAAAAWWWRRRR!!!” Reina mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat vampir itu membuka mulutnya lebar-lebar. Gigi taring panjangnya siap mengoyak leher Reina untuk menghisap darah. Segera Reina menghindar dari vampir itu dan mengganti senjatanya ke handgun lalu ia menembak vampir itu berkali-kali hingga akhirnya ia jatuh ke permukaan tanah. Tidak lagi bergerak. “Hah ... hah ... hah ....” Nafas Reina terengah-engah setelah melakukan aksinya. “Akhirnya ... berhasil ...,” ujarnya dengan perasaan lega bercampur senang. Ia menonaktifkan senjatanya lalu memasukkannya ke saku bajunya. Sembari menstabilkan nafasnya, Reina melirik jam tangan yang terpasang di lengan kiri. Jarum jam menunjukkan tepat di angka 12, membuat Reina kaget setengah mati. Rasanya aku baru sebentar melawan mereka. Ternyata sampai satu jam ya. Pandangannya beralih ke dua mayat vampir yang bersimbah darah itu. Reina lalu memutar tubuhnya, melihat ke sekeliling. Ia tidak menemukan satupun anggota Night Watcher lain di sekeliling tempat ia berdiri. Reina mengingat-ingat jika Rangga dan Daniel bertarung bersama di daerah timur. Itu artinya lebih baik ia ke arah barat, menyusul Kael yang melawan empat vampir sendirian. Reina melangkahkan kakinya menuju ke daerah barat perbatasan kota lalu setelah itu berlari untuk mempersingkat waktu. *** Di sisi Kael .... “Ugh!” Pria berkulit eksotis itu meringis kesakitan sembari memegangi lengan kirinya yang tergores cakaran salah satu vampir yang dilawannya. Ia merutuki dirinya sendiri karena lalai mempertahankan diri dari serangan para vampir itu. Meskipun vampir itu kini telah tewas. Saat ini, ia bersembunyi di salah satu bangunan yang ada di daerah perbatasan. Di luar sana, masih ada satu vampir lagi yang belum dapat Kael kalahkan. Vampir itu sudah berkali-kali ia serang dengan pisau ataupun panah, akan tetapi belum tumbang juga. Musuhnya yang satu ini sangat lihai dalam menghindar. Serangan Kael hanya dapat dihitung jari yang mengenainya. Sial ... sekuat apa dia? Padahal senjataku sudah diupgrade tapi belum cukup untuk menumpasnya. Kael merobek kain bajunya sedikit lalu dengan cekatan ia melilitkan kain itu di lengannya yang terluka. “Kael!” Suara wanita terdengar dari lorong bangunan itu. Sontak Kael menoleh dan mendapati Reina tengah berlari ke arahnya. “Kael, kamu tidak apa-apa?” Raut wajah wanita itu tampak khawatir. Ia melihat ke lengan kiri Kael yang terbalut kain dan kedua matanya melebar. “Kamu terluka,” ucap Reina lirih. “Tidak apa-apa. Aku masih bisa bertarung.” Kael bangkit berdiri lalu mengaktifkan senjatanya kembali. “Jangan memaksakan dirimu. Tetaplah disini, aku akan menggantikanmu melawan vampir itu.” “Apa kamu sudah gila?! Aku yang sedari tadi melawannya saja masih kewalahan. Padahal senjataku semuanya jarak jauh,” ujar Kael dengan nada meninggi, membuat Reina terkejut. Seketika Kael sadar akan perbuatannya. “Ah ... maaf. Aku tidak bermaksud memarahimu, Reina.” Rasa bersalah menyelimuti diri Kael. Ia merasa kesal sebab para vampir itu berhasil melukai dirinya. Tapi secara tidak sengaja ia menumpahkan rasa jengkelnya ke Reina. “Gak apa-apa. Kalau kamu bersikeras ingin melawan vampir itu, ayo kita lakukan bersama-sama. Senjata yang kita miliki saling melengkapi,” tutur Reina sembari menyunggingkan senyuman. Benar juga ... kenapa aku tidak terpikirkan tadi? Lagi-lagi Kael merutuki dirinya. Ia kemudian mengikuti saran Reina dan berjalan keluar dari tempat persembunyiannya bersama dengan wanita berkulit kuning langsat itu. “Hati-hati. Vampir satu ini licin sekali. Sebisa mungkin kita mengunci pergerakannya agar dia tidak bisa menghindar.” Reina menganggukkan kepala. Ia mengamati vampir yang dimaksud Kael. Vampir itu sedang mondar-mandir mencari mangsanya. “Aku akan berlari ke pohon itu,” ujarnya sembari menunjuk pohon besar di seberang vampir itu. “Begitu aku sampai di sana, serang dia dengan pisaumu saat perhatiannya teralihkan. Di saat itulah aku bisa menyerangnya dari belakang.” “Kamu cerdik juga,” puji Kael. Lalu setelah itu Reina berlari meninggalkannya. Begitu Reina sampai di belakang pohon besar, Kael segera mengganti senjatanya ke pisau dan menekan tombol di senjatanya sebanyak lima kali untuk menggandakan pisaunya. Ia mulai melempar benda kecil itu saat vampir yang tengah berjalan membelakangi tempat Kael berdiri. JLEB! “AAARRRGGGHHH!” Pisau Kael menancap di punggung vampir itu. Sontak si vampir membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah laki-laki bertubuh tinggi itu. Pisau-pisau yang dilempar Kael berhasil dihalaunya. Saat vampir itu fokus menyerang Kael, Reina keluar dari persembunyiannya dengan pistol di genggaman tangannya. Ia menembakakan peluru ke arah vampir yang tengah berusaha untuk melukai Kael. “GRAAAHH!!” Peluru handgun Reina menembus lengan kanan vampir itu dan mengalihkan perhatiannya ke Reina. Ia berlari secepat kilat tetapi gerakannya mudah dibaca oleh Reina. Wanita itu secara berulang menembak buruannya. Gila! Dia masih bisa bergerak kesana kemari meski peluruku berkali-kali menembus tubuhnya. Pantas saja Kael kewalahan. Di saat bersamaan Reina melihat Kael mengarahkan busurnya dengan tiga anak panah ke vampir itu. Reina menembakkan pelurunya lagi. Vampir itu berteriak kencang saat peluru Reina dan semua anak panah senjata Kael mengenai tubuhnya. Ia tersungkur di atas permukaan aspal dan menghembuskan nafas terakhir saat satu pisau menancap punggungnya kembali. “Akhirnya tumbang juga,” komentar Kael seraya berjalan mendekat mayat vampir. “Disini rupaya kalian. Baru selesai melawan?” Dua orang yang berbeda jenis kelamin itu menoleh ke sumber suara. “Yeah ... vampir ini punya pertahanan dan fleksibilitas tinggi.” Kael menimpali ucapan Rangga. “Dibantu Reina? Dan....” Laki-laki berambut hitam kebiruan memandangi perban kain di lengan kiri Kael. “Ini tidak jadi masalah. Aku masih mampu bertarung,” ujar pria berambut pendek sembari memegangi kain itu. “Apa saking ganasnya mereka sampai kau terluka begitu?” celetuk Rangga. Orang yang bersangkutan tidak menimpali. Ia sibuk memegang gadget untuk menghubungi kepolisisan kota. “Kael, luka ini harus segera diobati. Nanti jadi infeksi loh.” Reina mengingatkan setelah Kael selesai melakukan kewajibannya. “Aku tahu kok. Kan ada Pak Dokter disini,” balasnya sembari melirik pria yang selalu berekspresi datar di samping Daniel. Semua kecuali Rangga saling tertawa. Mereka kemudian meninggalkan lokasi medan pertempuran dan melangkahkan kaki kembali ke markas.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (20)
erna
Novel fiksi yang bagus...walau awalnya kurang begitu tertarik,tetapi karena penasaran lanjutannya,q baca,dan makin kesini makin seru,sampai akhirnya gak berasa baca sampai tamat...Klo ada ses 2 pasti q baca lagi,tapi sayangnya aplikasinya tidak mendukung untuk reader's baca novel karya author yg di sukai reader'snya...
Novel fiksi yang bagus...walau awalnya kurang begitu tertarik,tetapi karena penasaran lanjutannya,q baca,dan makin kesini makin seru,sampai akhirnya gak berasa baca sampai tamat...Klo ada ses 2 pasti q baca lagi,tapi sayangnya aplikasinya tidak mendukung untuk reader's baca novel karya author yg di sukai reader'snya...
18/05/2025
1👍👍
04/03/2023
0seru kayaknyaa
04/12/2022
0Lihat Semua