LUNARITH

LUNARITH

Allysia Avriel


BAB 1

“Sang Putri hidup bahagia bersama suaminya meskipun mereka berasal dari dua ras berbeda, vampir dan werewolf.”
Reina menutup dan menaruh buku novelnya di atas meja depan sofa ketika selesai membaca kalimat terakhir novel itu. Ia memijit-mijit tengkuknya dan memutar kepalanya untuk melemaskan otot yang kencang. Sedari tadi ia membaca, kepalanya hanya terfokus pada buku bacaannya. Reina kemudian melirik kearah jam dinding yang berada di atas TV ruang tengah rumahnya. Kedua mata Reina terbelalak ketika melihat jam itu.
"Hah?! Sudah jam setengah 10 malam?!" serunya. Reina segera bangkit dari sofa dan bergegas menuju kamarnya yang berjarak sepuluh langkah dari ruang tengah. Ia membuka laptopnya yang tergeletak di atas meja lalu menyalakan laptop itu. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja, tanda tidak sabar menunggu loading laptopnya yang menurut Reina sangat lama. Begitu muncul layar desktop di laptopnya, Reina segera membuka file yang akan ia kerjakan.
Beruntung ia hanya tinggal mengetik artikel sehingga tidak perlu mengerjakannya semalaman. Menentukan garis besar dan mencari referensinya sudah dilakukannya tadi siang. Jari-jemari Reina mulai bekerja mengetik kata demi kata. Baru dua paragraf Reina mengetik, perutnya berbunyi. Reina mengambil snack keripik kentang yang berada di meja, membukanya, lalu memakan snack itu sambil terus mengetik artikel. Sayang sekali, keripik itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar Reina. Akhirnya, ia memutuskan untuk mematikan laptop dan bersiap-siap untuk mencari makan malam di luar.
Suasana di luar rumahnya benar-benar sepi. Langkah demi langkah Reina lalui demi mencari sesuap nasi untuk mengisi kekosongan perutnya. Ia terus berkeliling di jalan-jalan dekat dengan rumahnya untuk menemukan warung ataupun toko yang masih buka. Namun, dewi fortuna sedang tidak berpihak kepada Reina. Tidak ada satupun ia menemukan warung atau toko yang masih buka di permukiman tempat ia tinggal.
Huft ... kalau kaya gini terpaksa aku harus jalan lebih jauh lagi buat nemuin minimarket yang jual makanan, gerutunya.
Reina akhirnya menemukan minimarket yang buka 24 jam setelah berjalan sejauh 1,5 kilometer dari gang yang menghubungkan permukiman dengan jalan besar. Ia masuk dan memilih chicken katsu siap saji sebagai menu makan malamnya. Reina dengan cepat menghabiskan makanannya dan pergi meninggalkan minimarket begitu selesai membayar.
Reina berjalan cepat supaya ia segera sampai ke rumah. Ia harus segera menyelesaikan artikel buatannya agar dapat segera mengistirahatkan tubuhnya. Jarak antara jalan besar dengan rumahnya masih 1,2 kilometer lagi.
"Grrr ...."
Langkah kaki Reina melambat ketika mendengar suara geraman. Hanya tinggal 200 meter lagi ia akan meninggalkan jalan besar.
Suara apa itu? batinnya dalam hati sambil tetap melangkahkan kaki.
"Hissss ... darah ...."
Kali ini langkah kaki Reina terhenti. Ia mencari sumber suara itu.
"Grrr ...." Reina menoleh dan melihat seseorang berada di seberang jalan. Namun orang itu terlihat aneh menurutnya. Ia memiliki iris mata berwarna merah, gigi taring panjang, kulit sangat pucat, dan kuku di kesepuluh jarinya juga sangat panjang.
Itu ... orang? Reina mengernyitkan dahi. Bulu kuduk Reina berdiri melihat makhluk yang sangat menyeramkan di seberang tempat ia berpijak sekarang.
"Aku ... ingin ... darah ... grrr ...."
Reina melangkahkan kakinya mundur secara perlahan-lahan. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya.
"GRAWR!" Tiba-tiba makhluk itu melesat ke arah Reina. Sontak Reina berlari sebelum makhluk itu berhasil mendekatinya.
"TOLONG!" teriak Reina. Ia berlari sekuat tenaga.
Setelah dirasa agak jauh, Reina menoleh ke belakang. Kedua mata Reina terbelalak melihat apa yang ada di baliknya. Rupanya, mahluk itu juga mengejar Reina. Ia melesat kesana kemari bagaikan sekelebat bayangan. Ketakutan dalam dirinya semakin bertambah.
"Tolong! Tolong! Siapapun tolonglah aku!!!" seru Reina dengan lantang. Ia tidak tahu sampai sejauh mana ia berlari sekarang. Apa yang ia pikirkan hanya satu, keselamatan dirinya.
Nafas Reina tersengal-sengal. Ia tidak mampu berlari lebih jauh lagi. Lambat laun langkah kaki Reina melambat. Makhluk aneh di belakangnya semakin lama semakin mendekat.
Reina berhenti berlari. Ia memegangi kedua lututnya sambil terengah-engah. Reina hanya bisa pasrah melihat makhluk itu melompat dan mengayunkan tangan ke arahnya.
Apakah ini akhir dari hidupku?
Belum sampai makhluk itu menyerang Reina, seseorang datang dan menghalangi makhluk yang akan memangsa Reina.
JRASH!
Orang itu melukai makhluk di depannya dengan sebilah pedang. Darah menyembur keluar dari tubuh makhluk itu dan terdengar suara teriakan yang memekakkan telinga sebelum makhluk itu tumbang ke permukaan beton trotoar jalan.
"Cih ... ternyata ada yang berani kabur sampai sejauh ini," ucap si penyelamat Reina.
"Terima ... kasihhh ...." Reina berkata di sela-sela ia masih tersengal-sengal.
Orang itu berbalik menghadap Reina dengan tatapan dingin. "Kenapa kau berada di luar saat tengah malam? Apa kau tidak tahu aturan?"
Reina memperhatikan penyelamatnya. Orang di depannya memiliki postur tubuh tinggi tegap. Ia memiliki rambut pendek dengan model choppy. Sorot matanya tajam dan ekspresi wajahnya dingin. Di bajunya, terdapat bercak-bercak darah dari makhluk tadi.
"Aku tahu," kata Reina setelah nafasnya kembali stabil.
"Kenapa melanggar peraturan kalau tahu?"
"Aku mencari makan malam. Semua warung dekat rumahku tutup."
"Ck ...." Pedang yang dipegang oleh orang itu menghilang. "Jam segini bukan saatnya makan malam." Orang itu memasukkan sesuatu ke saku bajunya.
"Eh? Kemana menghilangnya senjatamu tadi?"
"Bukan urusanmu," jawab orang itu ketus.
Reina tersentak mendengar jawaban laki-laki di depannya. Ia tidak menimpali ucapan orang itu, hanya diam memandanginya.
"Rangga!" seru seseorang. Orang di depan Reina menoleh ke belakang.
"Di sini kau rupanya." Orang yang memanggil Rangga berjalan mendekati mereka berdua. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena orang itu mengenakan hoodie sehingga hanya hidung dan mulut saja yang terlihat. Orang itu memiliki kulit sawo matang.
"Kenapa kau sam—eh? Ada vampir di sini?" ujarnya ketika melihat mayat makhluk yang dibunuh Rangga tadi.
Vampir? batin Reina sambil mengernyitkan dahi.
"Monster ini berhasil kabur saat kita sibuk menyerang monster-monster lainnya. Perempuan ini hampir jadi korban," sahut Rangga sembari melirik Reina.
"Dia?" Orang misterius yang kini berada di sebelah Rangga menunjuk Reina. "Bagaimana bisa?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis makan malam dan tiba-tiba ada makhluk aneh menyerangku." Reina buru-buru menyela sebelum Rangga menjawab.
"Kamu berani juga cari makan jam segini." Orang itu malah memuji Reina.
"Hanya orang bodoh yang melanggar peraturan demi mencari makan malam," ujar Rangga.
"Mana aku tahu kalau nantinya aku bertemu dengan monster yang mau memangsaku," timpal Reina. Ia tidak terima jika disalahkan.
"Sudah ... sudah ... daripada kamu dan Rangga bertengkar, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tanya orang itu kepada Reina.
"Ehm, terima kasih atas tawarannya. Aku bisa pulang sendiri kok." Reina menolak tawaran laki-laki di sebelah Rangga.
"Terima kasih sudah menolongku, Rangga." Setelah mengatakan itu, Reina berlari meninggalkan mereka berdua.
***
Begitu sampai ke rumah, Reina segera menuju ke kamar.
BLAM!
Pintu tertutup dengan keras. Reina berjalan menuju kursi kamarnya dan duduk di sana. Ia menyalakan laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sembari ia mengetik, pikirannya kembali memikirkan kejadian yang barusan ia alami. Terlintas di benak Reina tentang kalimat terakhir dari novel romantis yang ia baca, dan setelah itu beralih ke makhluk menyeramkan yang hampir mengambil nyawanya. Reina menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghilangkan gambaran makhluk mengerikan itu dari pikirannya.
"Benar-benar tidak masuk akal," gumam Reina.

Komentar Buku (20)

  • avatar
    erna

    Novel fiksi yang bagus...walau awalnya kurang begitu tertarik,tetapi karena penasaran lanjutannya,q baca,dan makin kesini makin seru,sampai akhirnya gak berasa baca sampai tamat...Klo ada ses 2 pasti q baca lagi,tapi sayangnya aplikasinya tidak mendukung untuk reader's baca novel karya author yg di sukai reader'snya...

    18/05/2025

      1
  • avatar
    Ibnu Lutfi

    👍👍

    04/03/2023

      0
  • avatar
    agustinaLia

    seru kayaknyaa

    04/12/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru