Beranda/Aku, dia, dan Tuhan/
Part 9
Alina dan Dela tengah berjalan menuju parkiran kampus untuk menunggu Pak Gusdur datang menjemput Alina.
"Alina?" Suara seorang laki - laki dari arah samping kanan, menghentikan langkah Alina dan Dela.
Mereka segera menoleh ke arah suara itu.
Tio yang tengah berdiri di samping mereka sambil membawa beberapa buku dan berkas di kedua tangannya.
"Ahh..apa ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Alina pada Dosen nya.
"Oh ternyata kalian sudah mau pulang, yasudah," ucap Tio dengan pasrah.
Dela yang tiba - tiba mendapat panggilan telfon dari Mama nya.
"Alina? aku pulang duluan gak papa?
Mama ku udah telfon soalnya," ucap Dela dengan membalikan badan nya menjadi menghadap ke arah Alina setelah ia mendapat panggilan telfon dari Orang Tua nya.
"Oh yaudah duluan aja gak papa"
"Mari Pak," ucap Dela pada Tio.
Tio yang memberi tahukan bahwa ia butuh bantuan Alina untuk bisa menyelesaikan sedikit pekerjaan nya, dikarenakan ada sedikit kendala sehingga ia melibatkan mahasiswi nya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Dosen.
Alina dengan senang hati bisa membantu Dosennya kala tengah memerlukan bantuan.
Alina menelfon Supirnya terlebih dahulu untuk memberitahukan bahwa ia akan pulang terlambat.
Mereka pun berjalan menuju ruangan yang dimana biasa Tio tempati.
(Alina)
Aku sedikit gugup kala bertemu dengan Pak Tio.
Aku meminta izin untuk meletakan ransel ku yang lumayan menurutku cukup berat di atas kursi depan meja kerja Pak Tio.
Pak Tio segera mempersilahkan aku untuk duduk sambil menawarkan minuman kepadaku.
Aku hanya bisa menerimanya, bilamana aku menolak tawarannya, menurutku..itu cukup tak sopan.
Aku merapikan rambut dan baju ku sejenak, lalu pandangan ku melihat sekeliling ruangan kerja Pak Tio yang cukup luas dan bersih.
Selang beberapa menit, datang lah Pak Tio dengan membawa baki yang berisi kopi dan teh.
Ia meletakannya di atas meja sambil memintaku agar segera meminumnya.
Aku segera mendekatkan bibir gelas ke bibirku lantas meneguknya perlahan.
Pak Tio duduk di kursi depan layar komputer nya.
"Ini, kamu bisa mengerjakannya bukan?" Tanya Pak Tio sambil memperlihatkan proposal meeting para Dosen.
"Oh bisa Pak, tapi..kenapa Bapak menyuruh saya untuk mengerjakan ini?"
"saya lupa belum melaksanakan shalat dzuhur, dan ini sudah pukul 01.23. Sedangkan, data itu harus dikumpulkan jam 01.50 pada Prof. Wang untuk nanti diserahkan pada Rektor kampus.
Jadi saya harap, kamu bisa membantu saya."
"Oh iya pak, ini bukan masalah"
"Baiklah, saya mau shalat dzuhur dulu sebentar, tidak akan lama"
Aku hanya mengangguk, dan Pak Tio pun segera berlalu dari hadapanku untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Aku duduk di kursi yang dimana biasa Pak Tio tempati.
Aku menyalin tulisan yang ada di proposal yang tadi Pak Tio tunjukan kepadaku.
Tulisannya masih berupa tulisan yang ditulis dengan tangan. Makadari itu, Pak Tio menyuruhku untuk menuliskan ulang di komputer miliknya.
Kini aku telah selesai menyalin tulisan yang ada di proposal itu pada komputer.
Aku membunyikan jari ku yang terasa pegal, lalu beranjak untuk sekedar melihat suasana kampus dari dalam ruangan Pak Tio.
Aku mendekati jendela ruangan. Tapi sebelum itu, mata ku tertuju pada seseorang yang tengah duduk dengan beralaskan seperti kain di samping kanan ku, hanya terhalang oleh rak buku dan beberapa kertas yang ditempel pada rak buku itu.
Jadi, aku agak bisa melihatnya.
Aku semakin mendekati rak buku itu dengan tujuan, agar aku bisa melihat apa yang Pak Tio lakukan lebih jelas.
Aku pura - pura sedang melilah buku padahal, mata ku sesekali melihat ke arah Pak Tio.
Aku yang melihat Pak Tio dengan posisi duduk dan kaki terlipat sambil menghadap ke arah barat hanya berfikir, bahwa Pak Tio terasa seperti berbeda ketika itu.
Ia tampak begitu fresh dengan air yang masih mengendap di beberapa bagian wajahnya.
Terutama pada bagian dahi.
Wajah nya yang putih mulus tanpa ada bulu - bulu yang tumbuh di sana, seperti putih bercahaya.
Mata ku seperti tersihir untuk terus menatapnya lebih dalam, entah mengapa rasanya tatapanku saat itu sangat susah dialihkan.
Aku melihatnya berbeda kala itu
Aura wajah nya yang cukup memikat
hatiku.
Menetapkan pandanganku padanya
'Ahhh
Kenapa aku seperti ini?'. Batin ku
Aku segera kembali ke kursi tempat duduk Pak Tio.
Mata ku sedikit melirik pada segelas minuman di depanku.
Aku melihat Pak Tio yang telah selesai dengan kegiatannya, ia lantas segera menghampiri mejaku.
Aku segera kembali menempati kursi yang diatas nya masih terdapat ransel ku.
Aku meminta izin untuk minuman itu bisa segera mengalir di tenggorokanku yang sedari tadi sudah sangat kering. Apalagi di ruangan ber AC seperti ini.
Aku fikir itu hanya es teh biasa tapi ternyata?
Minuman yang ku minum adalah es teh lemon kesukaan ku.
Walaupun aku bisa menebaknya ini adalah minuman instan serbuk. Namun aku rasa, cita rasa minuman ini tetap mendominasi teh dan lemon.
"Minuman itu, apa kamu suka?" Tanya Pak Tio sambil berjalan ke arah ku lalu duduk di kursi depan komputer.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum ke aranya.
"Tapi..kenapa bapak menyajikan minuman ini untuk saya?"
"Saya tahu, kamu suka dengan minuman itu.
Minuman favorite mu bukan?" Tanya nya sambil mengangkat sebelah alis nya yang tidak terlalu tebal.
Bagaimana dia bisa tahu itu adalah minuman favorote ku? aku tidak pernah memberitahunya.
"Sudah selesai kah?" Tanya nya sambil mengusap beberapa endapan air di dahi, pelipis dan dagunya.
Lalu mengecek komputer yang ada di depannya.
"Sudah Pak, tapi mohon maaf kalo ada typo.
Tapi, saya sudah memeriksa nya ulang," balasku sambil sedikit agak membungkukan badan agak ke depan.
"Nggak ada, ini udah betul semua.
Sebentar," Pak tio kembali mengotak - atik komputer nya. Entah apa yang ia lakukan, aku hanya menunggui nya sambil jari telunjuk ku sedikit mengetuk - ngetuk meja.
"Alhamdulilah ya allah," Pak Tio menyandarkan punggung nya pada kursi sambil menghela nafas lega.
"Alina..
Trimakasih banyak kamu sudah berkenan membantu saya.
Tadinya saya ingin mengajak kamu dengan Fikri, namun saya sudah tidak melihat Fikri di kampus.
Saya rasa..kamu dan Fikri cukup aktif"
"Oh Fikri tadi sudah pulang pak sebelum saya keluar.
Iya pak sama - sama, saya juga senang bisa membantu Bapak," balasku sambil menyunggingkan senyum pada Pak Tio.
"Masyaallah," lirihnya Pak Tio sambil menatapku kosong.
Pak tio mengusap wajah nya lalu turun mengusap dada nya.
"Astagfirullah"
Aku hanya mengerutkan keningku sambil menatapnya bingung.
"Kenapa Pak?"
"Ahh tidak apa - apa," aku melihat nya sedikit gelagapan ketika aku mempertanyakannya pada Pak Tio.
Aku sangat bahagia hari ini, bisa mempunyai waktu khusus dengan Pak Tio.
Tidak masalah bagiku bila aku selalu pulang terlambat karena ini, setidaknya aku merasa nyaman bila ada di dekat Pak Tio.
'Ahhh kenapa aku?..' Batinku
Aku segera menepiskan fikiranku yang mulai kacau.
(Tio)
Entah mengapa bila aku berada di samping mahasiswi ku ini, hati ku terasa damai.
Padahal, aku tidak begitu mengenali nya.
'Ya allah, apa yang sedang aku fikirkan.
Astagfirullah'
Aku melihat ia tengah sibuk dengan ponsel nya, rambutnya yang tergerai rapih menambah karisma yang terukir di wajah nya.
Aku yang sedang berada di depan komputer, sesekali mencuri pandang kepadanya.
Tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Aku segera mempersilahkannya masuk.
"Maaf Pak, ini tolong diselesaikan sampai jam tiga nanti.
Karena sesudah itu, laporan akan segera di serahkan pada Pak Ferdian.
Saya menyelesaikan beberapa berkas yang masih harus di revisi ulang," ucap Prof. Wang dengan meletakan beberapa berkas ke atas meja ku.
Alina yang tengah sibuk dengan ponsel nya pun, hanya menoleh ke arah prof.wang dan aku yang tengah berbincang.
"Ahh iya.
Baik Prof, trimakasih," balasku
Prof. Wang hanya melihat aku dan Alina secara bergantian.
Lalu meminta izin untuk keluar ruangan ku yang hanya tinggal menyisakan aku dan Alina setelah meletakan beberapa berkas yang harus aku lengkapi hari ini.
"Barangkali ada yang bisa saya bantu Pak". Tanya Alina dengan meletakan ponsel nya sambil menatapku.
"Ahh sudah, saya tidak enak sudah merepotkan kamu. Kamu sudah boleh pu.." belum sempat aku menjawab, namun sudah duluan menyela ucapan ku.
"Tidak Pak, Bapak salah.
Saya sebagai seorang mahasiswi sangat merasa senang bila kinerja saya bisa sedikit membantu Dosennya"
"Ahahaha
Yasudah bila kamu berfikir seperti itu.
Ini saja, kamu tolong salin ulang data Dosen di kampus ini," ucapku sambil menyerahkan satu berkas yang tadi prof. Wang berikan kepadaku.
"Tapi pak..
Saya memakai komputer bapak? atau gimana?"
"Kamu ada bawa laptop gak?
Nanti flashdisk saya sambungin ke laptop kamu"
Alina hanya mengangguk lalu memutarkan badannya untuk mengambil laptop dari dalam tas ransel yang disandarkan pada kursi.
Aku memberikan flashdisk biru ku padanya, lalu ia segera menyambungkan pada laptop miliknya.
"Maaf Pak, ini file nya yang mana yah?" Tanya nya sambil memutar laptop nya menjadi mengarah kepadaku.
"Yang data Dosen," balas ku singkat.
Lalu aku meng klik file tersebut dan kembali menyerahkan laptopnya kembali.
Aku dan mahasiswi ku sudah seperti pekerja kantoran saja, dengan kesibukan kami pada sebuah layar komputer.
Dia terlihat sangat serius dengan laptopnya.
"Apa orang tua kamu nanti tidak marah kamu pulang terlambat?" Tanya ku yang memecahkan keheningan.
"Saya sudah memberitahunya Pak," jawab nya tanpa menatap ku yang terus sibuk dengan laptop nya.
(Alina)
Aku istirahat sebentar dari pekerjaan ku sambil menyeruput minuman lemon tea yang isinya sudah tinggal seperempat.
Aku masih melihat Pak Tio yang sedang sibuk dengan komputer nya.
"Astagfirullah," seru Pak Tio ketika salah satu bolpoin nya terjatuh ke lantai.
Ia segera memungut lantas meletakan nya kembali pada meja kerja nya.
"Ehemmm.
Maaf Pak, kalimat yang bapak ucapkan barusan, itu kalimat apa yah?
Sepertinya..bapak sering mengucapkan itu," tanya ku pada Pak Tio.
Ia menghentikan sejenak pekerjaan nya, lalu menoleh ke arah ku.
"Dalam islam, kalimat itu adalah yang bila mana kita terkejut, dianjurkan untuk mengucapnya"
"Lalu, untuk ibadah dalam agama islam?"
"Seperti yang tadi saya lakukan.
Itu namanya shalat, di lakukan lima kali dalam 24 jam.
Waktu pagi, siang, sore, menjelang malam, dan malam.
Dan sebelum melaksanakan shalat, seorang muslim dan muslimah diwajibkan untuk membersihkan diri dari hadast terlebih dahulu. Atau yang dinamakan dengan 'BERWUDHU"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (157)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
𝖻𝖺𝗀𝗎𝗌 𝖻𝗀𝗍
03/08/2025
0thanks 💙💙💙
21/07/2025
0bagus
09/07/2025
0Lihat Semua