Beranda/Aku, dia, dan Tuhan/
Part 12
''Asalamualaikum," ucap nya sambil membukakan pintu masjid
Pertama kali aku memasuki masjid, aku cukup kagum dengan desain ruangan nya yang tidak terlalu luas namun sangat bersih dan rapih.
Aku menyaksikan beberapa orang umat muslim yang tengah melaksanakan shalat.
Mata ku terus mencari keberadaan Prof. Wang dan Fikri dari beberapa orang diantaranya yang sedang melaksanakan shalat.
'Dimana mereka?' Batinku
"Disini saja nak," ucap ibu itu yang membuyarkan lamunanku.
"Oh baik Bu"
Aku dan Ibu itu segera meletakan beberapa buku di lemari khusus tempat buku-buku di masjid ini.
Namun, aku melihat Ibu itu meletakan buku nya dengan sangat hati-hati.
Aku pun meniru apa yang dilakukan Ibu itu untuk sekedar menghargainya.
"Ya ampun nak, trimakasih yah.. kamu sudah membantu Ibu," ucapnya sambil memegang kedua tanganku.
"Ahh tidak masalah Ibu, saya juga senang bisa membantu Ibu," ucapku yang membalas senyumannya.
"Oh iya, perkenalkan nama Ibu, Siti Nurul Az-Zahra biasa dipanggil Bu Nurul, nama kamu siapa?"
"Nama saya Alina bu," jawabku dengan sesopan mungkin.
Ibu itu hanya mengangguk sambil tak henti-henti nya terus tersenyum ke arahku.
"Maaf bu, buku-buku tadi.. itu buku apa yah?" Tanyaku yang membuka perbincangan dengannya.
Bu Nurul hanya mengernyitkan alis nya sembari menatap bingung ke arahku.
"Itu adalah Al - Qur'an, kitab suci umat islam," ucap nya dengan halus.
Aku hanya mengangguk setelah mendapat jawaban darinya.
"Tapi maaf nak, agama kamu apa?" Tanya nya dengan sangat hati-hati menanyakan pertanyaan itu kepadaku.
Aku tak tahu harus menjawab apa, sedangkan aku tidak mempunyai agama sepertinya.
Aku pun mengatakan yang sebenarnya kepada Bu Nurul bahwa aku seorang 'ATHEIS'.
Awalnya Bu Nurul sedikit terkejut dengan jawabanku, namun ia berusaha untuk lebih memahami dan menghargaiku, sehingga tidak menanyakan hal-hal yang lebih dalam tentangku.
Aku sangat mengagumi kepribadiannya, ia manusia yang sangat menghargai antar manusia lainnya.
Terlebih, dia adalah seorang muslim yang sangat baik kepribadiannya menurutku.
"Asalamualaikum Ustadzah Nurul," tiba-tiba suara seorang laki-laki menghampiri aku dan Bu Nurul yang tengah berada di kursi halaman masjid.
Aku dan Bu Nurul pun segera berdiri untuk melihat siapa orang yang menyapa kami tadi.
Aku melihat Prof. Wang dan Fikri yang telah selesai melaksanakan shalat nya yang kemudian menghampiriku dan Bu Nurul.
"Waalaikumsalam Prof,"
Aku melihat Prof. Wang dan Bu Nurul saling merapatkan kedua telapak tangannya kemudian disimpan di depan dada sembari keduanya sedikit membungkukan badan.
'Apakah memang islam seindah dan sedamai ini?'
"Loh, Alina? kok kamu ada disini?" Tanya Prof. Wang kepadaku.
"Ahh iya Prof," balasku singkat
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu rumahku lantas langsung masuk.
"Loh? Papa?" Tanya ku ketika melihat seorang laki-laki yang sudah berumur tengah terduduk di sebuah sofa depan tivi.
Di adalah ayahku, Irawan Faras Hartawan seorang pengusaha.
Tubuhnya yang tinggi dan terlihat sehat katena ia rutin berolahraga, dan di atas bibir nya terdapat kumis yang tidak terlalu tebal.
Mata yang yang sudah minus, mengharuskan ayahku untuk memakai kacamata setiap hari nya, kecuali bila saat akan tidur.
Ia akan melepasnya terlebih dahulu.
Rambut nya yang masih hitam, dan garis-garis di wajah nya yang mulai terlihat.
Kulit nya yang berwarna putih, sama sepertiku.
Ia hanya mengenakan celana pendek cargo berwarna cream, dan kaos hitam polos.
Di atas meja terdapat secangkir kopi hitam favorite nya, ditemani sepiring keripik singkong yang akan menemani nya saat ini.
"Duduk sini nak!" Titah nya sambil bergeser sedikit ke kiri.
Aku pun duduk di dekatnya dan meletakan ransel ku terlebih dahulu di lantai.
"Papa tadi pulang mungkin.. sekitaran jam 11 siangan lah. Karena meeting Papa di prancis alhamdulilah udah beres," jelasnya.
Aku hanya mengangguk lalu mengambil sebuah kripik singkong yang ada di atas meja.
Lalu melahapkannya ke mulut ku.
"Gimana, betah kuliah disana?"
"Betah dong pah.
Aku gak mau keluar malah," jawab ku sembari terkekeh.
"Eh tapi Pah, aku baru tahu kalo di dekat perusahaan papa ada masjid?"
"Emang dari dulu nya ada itu, mungkin kamu aja yang gak tahu"
"Gini.. udah kuliah nanti, kamu mau nerusin perusahaan Papa sama kakak kamu?"
"Maaf Pah Alina gak berniat, Alina udah punya tujuan tersendiri"
"Manusia berhak memilih jalur hidupnya sendiri, tapi tidak untuk menentukannya.
Papa izinkan kamu mau jadi apapun, Papa mau kamu hidup sesuai pilihan kamu sendiri.
Tapi satu nak, kamu harus tahu tuhan, Allah. Suatu saat.. kamu pasti faham. Allah itu seperti apa dan seperkasa apa menangani setiap permasalahan makhluknya."
"Tapi pah, Alina butuh waktu buat memperjelas itu!"
"Kamu sudah berapa tahun sekarang?
Delapan belas tahun bukan waktu yang sebentar Papa dan mama membiarkan kamu hidup tanpa mengenal Allah.
Memang ini salah Papa, yang tidak bisa memberikan pendidikan agama yang cukup untuk kamu. Papa gagal jadi orang tua nak, papa gagal!.
Papa faham perasaan kamu, papa sudah membiarkan kamu mengenal hidup terlebih dahulu, walaupun tanpa mengenal Allah.
Kamu tidak bisa terus-menerus seperti ini nak, ini jalan yang salah.
Tapi satu sisi papa yakin, kamu bukan orang yang bertabiat buruk.
Kamu pasti mengenal Allah, entah itu cepat atau lambat.
Papa sangat yakin!"
Aku hanya menitikan air mata ku kala mendengar penjelasan yang diberikan Ayahku kepadaku mengenai tentang tuhan.
"Kunci nya satu nak.
Ketika kamu mampu melupakan masa lalu yang pahit, maka kamu akan dengan segera mencari tuhan."
Darah ku berdesir hebat kala mendengar ucapan Ayahku barusan, kata-kata itu memang sangat singkat. Namun bermakna sangat dalam.
"Orang tua sangat berperan penting terhadap pertumbuhan anak-anak nya. Dengan dibekali ilmu yang cukup, maka anak nya akan mudah mencari jati diri nya," sambungnya
Ayahku memutar badannya menjadi menghadap ke arahku, ia memegang kedua pundak ku lalu mengatakan sesuatu.
"Nak, kamu berniat membahagiakan Papa dan mama?"
Aku hanya mengangguk
"Bila begitu, kebahagiaan Papa dan Mama adalah ketika kamu menjadi seorang mualaf suatu saat nanti.
Papa tidak butuh uangmu, hartamu, kekayaan mu nanti. Papa hanya butuh kamu mengenal Allah lebih dalam. Dengan begitu, kamu akan menjadi manusia yang sesungguhnya."
Aku tah tahan membendung air mata ku yang sepertinya akan tumpah dengan deras.
Aku memeluk Ayahku lalu menangis di pelukannya.
Aku bahagia bisa merasakan pelukan seperti ini, terlebih pada orang yang sangat berperan dalam hidupku.
"Maafin Alina Pah, Alina akan berusaha melupakan kejadian itu.
Dan dengan segera akan menemukan tuhan" ucapku yang sedikit susah karena sambil terus mengalirkan air mata ku dengan deras.
"Papa sangat percaya itu nak, Papa percaya.
Dan maafin Papa sama Mama yang telah gagal mendidik kamu, Papa menyesal nak, menyesal!
Rasa sesal ini selalu menghantui Papa, Papa sering men.." belum sempat Ayahku melanjutkan ucapannya, ia langsung menangis begitu saja masih dalam posisi berpelukan.
Ia menaruh kacamata nya di atas meja karena air mata yang menghalangi pandangannya.
Suasana rumah ku menjadi penuh duka dan air mata, aku tak menyangka kedatangan Ayahku kali ini akan membuka satu persatu jalan untuk aku segera menemukan tuhan.
"Sudah nak, kamu cepat istirahat.
Kamu pasti cape" ucap nya sambil melepaskan pelukannya dan sedikit menepuk-nepuk bahu ku.
Peran orang tua sangat penting terhadap pertumbuhan anak-anak nya.
Karena itu akan menentukan bagaimana gambaran masa depannya kelak``).Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (158)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Lucuu dan seruu
20h
0𝖻𝖺𝗀𝗎𝗌 𝖻𝗀𝗍
03/08/2025
0thanks 💙💙💙
21/07/2025
0Lihat Semua