Bab 75 Meninggal Sekeluarga

Malam ini, aku ingin istirahat lebih cepat, setelah melewati hari yang sangat melelahkan ini. Bismillah semoga saja ke deepannya tak ada lagi permasalah besar yang berarti.
**************************
Hari ini genap tujuh hari setelah penangkapan keluarga Mas Chandra itu. Hari ini jadwalnya adalah sidang kedua untuk para tersangka itu, menurut pengacaraku bisa saja hari ini hakim memberikan putusan langsung, karena sungguh banyak barang bukti yang memberatkan mereka. Semoga mereka mendapatkan balasan yang setimpal dengan semua perbuatannya.
Sebuah panggilan masuk dari kantor polisi setelah waktu subuh itu, langsung saja kuangkat.
"Selamat pagi dengan saudara Dita?"  kata suara berat di seberang sana.
"Selamat pagi juga. Iya itu saya sendiri Pak, ada apa ya?" tanyaku.
"Kami ingin memberitahukan bahwa tersangka penculikan Anda, Wisnu Chandra, baru saja meninggal dunia di ruang perawatan Bu."
"Innalillahi, apakah ini benar Pak?" ucapku masih tak percaya.
"Kami tidak pernah memberikan berita bohong, Bu. Tersangka Chandra meninggal karena sakit yang di deritanya. Kebetulan baru saja kami menelpon keluarganya, dan nanti jenazahnya akan segera di antar ke rumah duka."
"Astaghfirullahaladzim, terima kasih infonya Pak."
"Sama-sama. Selamat Pagi."
"Selamat pagi juga Pak."
Seluruh badanku terasa lemas karena mendengar berita ini, tak kusangka secepat ini Mas Chandra akan pergi. Semoga saja saat meningga tadii dia dalam keadaan mengingat dan menyebut nama Allah. Ampuni segala dosanya ya Allah.
Kemudian aku menghubungi Linda, mengabarkan tentang hal ini, karena dia sekarang ada di panti asuhan. Rencananya nanti aku akan mengajak dia ke kantor polisi, kebetulan hari ini adalah hari selasa, hari berkunjung untuk para napi.
"Jangan sampai kesiangan loh Lin, kamu jam tujuh sudah harus sampai di sini," ucapku pada Linda di telepon tadi.
Jujur hati ini terasa amat sedih dengan meninggalnya Mas Chandra. Meski kami bukan lagi suami istri saat ini, namun kami pernah berumah tangga selama tiga tahun, berbagi tawa dan tangis bersama. Kemudian akhir-akhir ini kami  berubah menjadi musuh. Sungguh aku masih tidak bisa mempercaya ini semua.
Aku akan segera keluar kamar, untuk memberitahukan hal ini pada Bik Sanah. Namun sebuah panggilan masuk lagi ke handphoneku. Kali ini dari Bu Sari, orang tua Mas Chandra, mungkin saja beliau mau mengabrkan meninggalnya Mas Chandra ini, langsung saja ku terima panggilan itu.
"Assalamualaikum, selamat pagi Bu, ada apa?" kataku membuka percakapan lewat sambungan telepon.
Bukannya jawaban suara uang kuterima, namun sehuah tangisan dari seorang laki-laki, dan sepertinya itu adalah suara Pak Widodo.
"Ada apa Pak? Kenapa Bapak menangis? Apa karena berita kematian Mas Chandra?" tanyaku.
"Waalaikumsalam, maaf bapak tadi terbawa suasana. Bapak menangis bukan karena kematian Chandra, karena menurutku mungkin dengan mati saja, Chandra bisa berhenti melakukan kejahatan. Tapi karena baru saja, Sari, juga menghembuskan nafas terakhirnya, dia kaget dengan berita yang baru saja di terimanya dari kantor polisi."
"Astaghfirullahaladzim. Innalillahiwainalilahirojiun. Ya Allah mengapa bisa jadi seperti ini?" 
Tak terasa aku juga kini iilkut menangis, kedua orang yang ku kenal itu, kini telah meninggal dengan.waktu  yang hampir bersamaan. Tak bisa kubayagkan betapa  terpukulnya hati Pak Widodo, karena kehilangan dua orang tercintanya.
"Tolong maafkan semua kesalahan Sari dan juga Chandra ya, Nduk..agar nanti jalan mereka berdua terang di sana."
Suara Pak Widodo kini terdengar lebih tenang.
"Insyaallah, saya sudah memaafkan kok Pak. Semoga husnul khotimah. Bapak yang sabar ya."
"Terima kasih doanya ya, Nduk. Kehilangan Chandra, mungkin bisa kuterima. Namun jujur kepergian Sari  belum bisa kuterima hingga saat ini. Aku sepertinya tak bisa hidup tanpa dia, lebih baik aku juga mati bersamanya."
 
"Astaghfirullahaladzim, jangan bilang seperti itu Pak. Bukankah Allah tidak memyukai orang yang putus asa? Bapak harus tetap hidup dan berumur panjang, untuk mendoakan anak dan istri Bapak."
"Semoga saja aku bisa seperti itu. Nanti kamu ke sini kan?"
"Insyaallah saya akan ke sana Pak,.ada yang mau saya.selesaikan dulu di kantor polisi. Setelah itu saya akan ke rumah Bapak. Pokonya bapak harus kuat dan sabar selalu."
"Terima kasih dukungannya ya Nduk. Semoga aku bisa seperti itu. Kutunggu kedatanganmu ya. Maafkan juga kesalahan Bapak yang pasti punya banyak kesalahan terhadapmu. Wassalamualaiakum."
"Sama-sama Pak. Dita juga pasti punya banyak salah pada Bapak. Waalaikumsalam."
Setelah selesai dengan panggilan itu, aku langsung menuju ke dapur. Aku akan meminta pada Bik Sanah, untuk membuat acara doa bersama mulai malam nanti hingga tujuh hari ke depan. Untuk mendoakan almarhum Mas Chandra dan juga Bu Sari. 
"Innalillahi, apa benar Pak Chandra yang jahat itu sudah meninggal, Non?" ucap Bik  Sanah.
"Iya Bik, tadi aku bariu dapat info dan itu sangat bisa di percaya, kemudian kini Ibunya juga meninggal, karena kaget mendengar berita kematian anaknya," jawabku.
"Kalau beneran sih malah bagus banget Non, nggak ada yang akan ganggu kehidupan Non Dita lagi."
"Ih kok Bik Sanah ngomong gitu sih? Nggak bagus ih!"
"Habisnya dia kan jahat banget sama Non Dita, sebel jadinya. Tau nggak sih Non, bibil ini sering banget doain agar Pak Chandra yang jahat itu cepat-cepat mati. Dan kini berarti Allah mendengarkan semua itu. Sekarang Non Dita aman kan, hehehhe."
"Hemm aneh-aneh saja sih Bik doanya. Ya sudah jangan lupa buat yang banyak ya. Aku mau siap-siap ke Jombang dulu."
Kutinggalkan Bik Sanah yang terlihat riang sekali, untuk siap-siap menjemput Linda. Mungkin benar jika orang yang jahat itu, akan membuat banyak orang memdoakan yang buruk baginya. Wallahuaklam.
**************** ****************
Aku sampai di panti asuhan tepat pukul sembilan pagi. Di sana Linda sedang asyik menenagkan seorang bayi laki- laki yang tengah menangis.
"Lin, kenapa bayinya nangis terus?" tanyaku sambil mengelus pipi putih bayi itu.
"Nggak tahu, Bu. Dari tadi dia nggak mau diam Bu. Dikasih susus juga nggak mau."
"Apa sudah coba di tenangin oleh pengasuh liannya?"
"Sudah Bu, tetap saja begini. Saya sampai kasihan loh. Munkin dia sedang beradapatasi, karena memang baru tadi pagi di temukan di teras panti ini."
"Astaghfirullahaladzim. Kok tega banget sih yang buang. Sini coba ku gendong, siapa tahu dia mau diam."
Linda pun kemudian mengangsurkan bayi mungil itu padaku. Bayi yang sangat tampan, dan sepertinya wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dekat sepertinya, tapi bukan Mas Chandra. Saat ada di gendonganku, sontak tangisnya pun langsung berhenti dan malah saat ku timang, dia tersenyum ganteng sambil menampakkan deretan gusinya.
"Kok dia langsung diam ya Lin?"
"Wah mungkin dia suka sama Bu Dita."
"Berarti dia senang dan cocok dengan Bu Dita, bagaimana kalau bayi ini diadopsi saja Bu? Nanti bisa jadi teman juga loh untuk Bu Dita."
"Hemmm sebuah ide yang bagus. Nanti aku akan bilang dengan Bu Sum deh, kayaknya kok aku juga cocok dengan bayi ganteng ini. Ya sudah sekarang kamu siap-siap biar dia ku tidurkan."
Linda pun kemudian masuk ke dalam, meninggalkan aku dan bayi ini di ruangan tamu panti.  Saat melihat mata bayi ini, aku seperti melihat mata papa, ya benar mata mereka sama. Dan sepertinya ada pertautan batin antara kami, atau ini hanya perasaanku saja.
Bu Sum masuk  dan duduk ditempatku.
"Eh Bu Dita, kok saya nggak tahu kalau ada njenengan, maaf tadi lagi bersih kamar Bu," ucapnya.
"Ah tak apa kok, ini cuma mau jemput Linda."
"Oh iya Bu, kebetulan Bu Dita sedang menggendok bayi ini. Tadi pagi bayi ini kami temukan di teras, dan di letakkan di dalam ember. Ada sebuah surat yang membersamainya, dan di sini ditiskan bahwa surat ini ditujukan untuk Bu Dita."
Sebuah surat untukku? Hadeh apa lagi ini. Ketika kulihat amplop berisi surat itu, ada sebuah panggilan masuk. Segera kumasukkan surat itu kedalam tas, dan menjawab panggilan. Ternyata ini panggilan dari Pak.Widodo lagi.
"Assalamualaikum, ada apa Pak?" kataku membuka percakapan.
"Waalaikumsalam. Ini Mbak Dita mantan menantunya Pak.Widodo?" jelas suara laki-laki di sana.
"Iya benar sekali Pak. Anda siapa?"
"Saya Pak Kades, saya cuma mau memberitahukan, jika baru saja Pak Widodo menyusul  istrinya dengan cara minum racun serangga."
Innalillahi kabar baru lagi, satu keluarga meninggal dalam sehari.
**kira-kira siapa ya bayi mungil itu?
Dan bagaimana kondisi Raisa pasca di tinggal Chandra?
*************** ***************

Komentar Buku (110)

  • avatar
    DillahUbai

    bagus

    27d

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget....otw baca semua karya kakak

    10/08

      0
  • avatar
    Faozan 1412

    bgus ba nget

    18/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru