Beranda/Orderan Kue Untuk Hari Pertunangan Suamiku/
Bab 47 Pov Pak Widodo
Pov Pak Widodo(Bapaknya Chandra)
"Pak, pokoknya aku mau kita bebaskan Chandra secepatnya! Nggak tega aku melihat dia di penjara, apalagi dia kan sedang sakit!"
Ketika kami baru sampai di rumah-setelah dari rumah Dita, istriku langsung berkata seperti itu, sambil emosi.
"Istighfar to Buk, biarkan anakmu itu di penjara dulu, biar dia bisa sedikit mengambil pelajaran dari semua kejadian ini. Kalau kamu membebaskannya, ya rasanya percuma juga tadi Dita memberikan pelajaran seperti itu pada Chandra," ucapku.
"Dita itu sudah keterlaluan sekali Pak, aku nggak tega sama Chandra. Meskipun dia salah tapi tetap dia anak kita, dan pokoknya kita harus tetap berjuang menyelamatkan hidupnya. Jual segerra sawah itu, dan bila perlu rumah ini juga di jual asal bisa membebaskan Chandra!"
Dari dulu istriku ini memang sangat memanjakan Chandra, apapun yang di minta selalu di kabulkannya. Begitupun ketika anaknya itu salah, dia tetap saja membelanya.
Contohnya ketika Chandra mencuri burung milik Pak Atmaja, saat dia masih kelas dua SMP. Padahal bukti nyata menunjukkan kalau dia itu bersalah, namun istriku masih membelanya.
"Kamu jangan main tuduh anakku ya Pak, nggak ada bukti kok! Enak saja main tuduh sembarangan!" ucap istriku kala Pak Atmaja ke rumah meminta burungnya di kembalikan.
"Tapi aku itu melihat sendiri, Chandra mengambil langsung dari sangkar di belakang rumahku. Saat kupergoki, dia malah langsung membanting sangkar itu, namun burungnya berhasil di bawa kabur," ucap Pak Atmaja.
"Halah itu hanya akal-akalanmu saja! Paling juga burungmu itu lepas sendiri, tapi kamu malah menuduh Chandra yang melakukannya, licik sekali kamu. Gini saja deh Pak, kamu bilang mau minta uang berapa agar tak terus menuduh anakku? Aku tau kok pasti kamu kesini 'kan mau minta uang untuk beli burung lagi 'kan?!" ucap istriku lagi.
Jujur saat itu aku lebih percaya dengan Pak Atmaja dari pada dengan Chandra. Karena di lingkunganku, dia adalah orang yang terkenal baik, kaya dan juga seorang guru SD, jadi menurutku tak mungkin dia berbohong hanya untuk mendapatkan uang.
"Bukan begitu, Bu. Saya ke sini bukan untuk minta uang. Tapi hanya ingin memminta kembali burung tersebut, karena saya yakin tadi melihat Chandra membawa pulang burung saya itu."
"Sudah di bilangin Chandra itu nggak mencuri burungmu kok nggak percaya sih Pak? Toh hanya burung murahan saja kok sampai menuduh tetangganya pencuri sih. Nih Pak, ku kasih uang seratus ribu buat beli burung kayak gitu lagi, kembaliannya buat beli bensin. Orang kaya kok kayak gitu sih!"
Padahal sebenarnya, Sari tahu bahwa Chandra memang mencuri burung itu, dan burung tersebut telah di jual di pasar. Namun tetap saja dia membela Chandra habis-habisan.
"Maaf Bu, saya tidak butuh uang Ibu. Baiklah kalau menurut Bu Sari, Chandra nggak bersalah, ya saya pamit pulang saja. Satu pesan saya ya Bu, jangan terlalu memanjakan anak, karena itu bisa mengakibatkan dia memilik pribadi yang buruk saat dewasa, apalagi selalu melindunginya meski dia salah. Anak itu seperti kertas Bu, tergantung bagaimana kita yang menulis atau memperlakukannya."
Benar memang apa yang di katakan Pak Atmaja, namun sepertinya istriku tak pernah menghiraukannya. Hingga Chandra tumbuh menjadi pemuda yang sangat nakal saat itu, karena sesalah apapun dia, ibunya tetap selalu membelanya.
Hingga Chandra kecil kami lulus kuliah, ku lihat ada sedikit perubahab sikap darinya. Tentu hal tersebut membuatku sangat bahagia. Apalagi di saat dia di jodohkan dengan Dita, anak bosnya di kantor, sifat buruk Chandra sepertinya sudah hilang. Karena mungkin dia waktu itu telah di limpahi berbagai materi, hingga dia bisa berubah menjadi orang baik.
Hingga suatu hari, saat tiga bulan setelah meninggalnya papa-nya Dita, Chandra datang ke rumah malam-malam. Saat itu dia masuk ke rumah seorang diri, sepertinya dia agak mabuk.
"Pak, bagi uang dong! Habis panen 'kan?!" katanya malam itu.
"Kamu ini dari mana to, Le? Kok kayaknya kamu habis minum-minuman keras. Ayo duduk dulu, itu di dalam mobil siapa kok nggak diajak turun? Dita bukan?" tanyaku.
"Ah Bapak ini kepo banget sih! Pokoknya aku malam ini butuh uang dua puluh juta Pak. Dan aku tahu pasti Bapak punya uang itu!"
"Istighfar Le, buat apa uang sebanyak itu? Pasti ada yang tidak beres ini. Aku telepon Dita dulu ya!" ucapku sambil mengeluarkan ponsel dari saku.
Namun tak ku sangka, ponselku itu malah direbut dan dibanting oleh Chandra.
"Bapak jangan macam-macam ya, dan ingat jangan pernah bilang ke Dita, kalau aku malam ini kesini! Awas saja kalau sampai dia tahu!" Ancamnya padaku sambil menunjuk-nunjukku.
Aku hanya bisa beristighfar dalam hati. Apa sebabnya Chandra berubah lagi seperti ini? Tak ku pungkiri, ini lah hasil didikan Sari yang selalu memanjakannya.
"Bu, Ibu!! Cepetan dong sini!"
Sari pun langsung berlari ke depan, menghampiri putra kesayanganya itu.
"Loh kenapa kok ponselnya Bapakmu pecah?"
"Ya ku pecahin lah, karena Bapak nggak mau memberiku uang," jawab Chandra enteng.
"Oalah Mas kamu itu kok ya pelit sekali, anak juga cuma satu saja kok! Kalau nggak diberikan pada Chandra lalu di berikan kepada siapa lagi sih?" omel Sari padaku.
Memang dulu dan sekarang pun aku adalah seorang bapak dan suami yang terlalu lemah, jadi tak bisa menolak keinginan Sari.
"Lha kok malah bengong, sana cepat ambilkan uang yang Chandra minta! Kebetulan sekali tadi hasil panen baru saja di jual," pungkas Sari dan akupun langsung mengambil uang itu dan menyerahkanya pada Chandra.
Semenjak malam itu, Chandra sering datang meminta uang ke rumah, bahkan dia sering membawa wanita yang berbeda saat ke rumah. Dia menghabislan banyak uang kami, ketika kami tak punya uang, maka dia akan membawa apapun yang bisa di jual lagi, termasuk dua ekor sapi pemberian dari menantuku, Dita.
"Bu, apa kita lebih baik menanyakan tentang Chandra pada Dita ya? Kira-kira dia tau nggak apa yang dilakukan Chandra di luaran, termasuk kedatanganya kesini untuk meminta uang dengan wanita berbeda-beda."
Suatu sore saat aku membicarakan hal itu bersama Sari.
"Ngapain sih Mas, pakai mau beritahu Dita segala?! Kamu mau mereka bercerai? Lalu Chandra kembali miskin dan kehilangan jabatannya gitu?!" ucap Sari penuh emosi.
"Yo bukane begitu Bu, tapi kan kasihan Dita jika terus di permainkan Chandra seperti ini. Dita itu baik sekali lho sama kita, sudah sepatutnya dia tahu kelakuan suaminya," kataku.
"Oalah Pak...pak, sebaik apapun dia tetaplah menantu bukan anak kandung kita. Yang wajib kita jaga ya tetap Chandra. Justru kita harus menutupi semua itu, agar Dita tak sampai tahu apa yang dilakukan Chandra," jawab Istriku.
Dita sepertinya memang tak tahu apa yang dilakukan Chandra di belakangnya.
Dita adalah seorang menantu yang baik, setelah pernikahan dia membelikan kami sepetak sawah selebar setengah hektare , juga dua ekor sapi. Dia juga selalu sopan santun kepada kami, dan menganggap kami orang tua kandungnya sendiri.
Hingga akhirnya Chandra beberapa minggu yang lalu datang ke rumah dan meminta sertifikat tanah, seperti biasa Sari pun langsung menuruti keinginan anaknya itu, tanpa bertanya untuk apa uang hasil penjualan sawah itu nantinya.
Chandra datang mengambil sertifikat itu di pagi hari, sedangkan Dita datang mengembalikannya siang itu juga. Dan saat itu Dita bercerita tentang semua yang di lakukan Chandra dan juga tentang niatnya memberikan pembalasan itu.
Setelah kepulangan Dita, aku dan Sari pun hanya diam sepaneng beberapa saat, berpacu dengan pikiran masing-masing. Saat itu jujur aku malah senang dengan terbongkarnya kedok si Chandra, dan aku sangat setuju dengan rencana Dita yang akan memberi pembalasan pada Chandra. Menurutku dengan pembalasan itu semoga saja bisa merubah sedikit kelakuan jahat putraku itu.
Namun jalan pikiranku itu, tentu sangat berbeda dengan Sari, dia malah sangaat marah pada Dita dan ingin menggagalkan rencana itu. Sebelum Sari memberitahukan hal itu pada Chandra, diam-diam langsung ku blokir nomer Chandra dari ponsel, kebetulan istriku itu sedikit kolot, tentu dia tak akan mengerti tentang hal ini.
"Pak pokoknya kita harus secepatnya memberitahukan pada Chandra tentang rencana Dita itu. Aku nggak ingin Chandra di permalukan di depan umum. Sudah sana cepat kamu telepon anakmu itu!" titahnya.
"Nomor Chandra tak bisa di hubungi Bu, ini loh sudah ku coba berkali-kali tapi tetap tak bisa, mungkin dia ganti nomor," ucapku.
Dan alhamdulillah Sari percaya dengan semua kebohonganku itu. Harapanku saat itu hanyalah agar Chandra tak datang ke rumah hingga waktu eksekusi tiba.
"Begini saja deh, Pak. Nanti kita telepon Dita, bilang bahwa kita mau tinggal dengannya, agar kita bisa sedikit mengawasi Chandra dari sana!"
Ide dari Sari itu pun akhirnya kami laksanaakan, dan untungnya juga kami tak pernah bertemu Chandra hingga saat eksekusi itu tiba. Meskipun telah melihat banyak sekali kejahatan yang dilakukan Chandra namun dia tetap ingin menyelamatkan anaknya itu.
Malah kini dia mengancam akan bunuh diri jika aku tak mau mengeluarkan Chandra dari sana. Dan satu lagi, dia sepertinya merencanakab sesuatu yang jahat untuk Dita bersama menantu barunya itu.
******** *******
Terima kasih sudah membaca, semoga sehat selalu.
****** ******Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (110)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
27d
0bagus banget....otw baca semua karya kakak
10/08
0bgus ba nget
18/10
0Lihat Semua