33. Goodnight

Sejak mereka memutuskan untuk pulang, sampai pada akhirnya mereka berpisah untuk masuk ke kamar masing-masing, tidak ada satu kata yang terucap dari kedua belah pihak.
Keduanya seolah terlalu tercengang dan masih tidak percaya dengan rentetan kejadian seharian ini, seolah tadi mereka melompati dimensi multiverse, menjalani simulasi di kehidupan lain di mana Dani dan Theo hidup berbahagia sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai, yang menghabiskan waktu luang di hari Natal dengan melakukan kegiatan yang berkualitas untuk menjaga hubungan rumah tangga seperti berbelanja kado natal dan bermain skating, yang bisa mengutarakan isi pikiran masing-masing dan bercanda gurau sepuasnya tanpa terhambat ego atau kekeras kepalaan. (yang dalam hal ini murni datang dari Dani)
Dani terus memikirkan tentang hal tersebut ketika dia berbaring sendirian di atas kasur raksasanya.
Dani bukannya tidak bahagia menghabiskan waktu bersama Theo seharian ini, namun itu lah masalahnya. Dani merasa terlalu bahagia bersama orang yang telah didoktrin oleh otaknya sebagai makhluk yang tidak akan Dani segani. Tapi bisakah orang yang tidak kita segani membuat kita bahagia?
Apakah ini karma? Karma yang harus Dani terima setelah dia menempa begitu banyak kebencian pada Theo? Setelah Dani menempatkan semua orang yang peduli dan menyanyanginya pada situasi sulit dan memalukan?
Karma kah yang membuat Dani tidak bisa berhenti memikirkan Theo? Betapa birunya mata pria itu jika diamati dari dekat, betapa bidang dadanya, betapa hangat dekapannya, dan betapa kokoh lengannya yang melingkar di pinggang Dani.
Pemikiran itu membuat Dani gila lebih dari yang sudah-sudah.
Tanpa sadar selama benaknya asik memikirkan tentang perkara per-Theo-an, kedua tangan Dani mencengkram selimut yang dia tarik hingga bawah leher dengan terlalu kencang. Perutnya serasa tegang. Lagi-lagi perasaan yang tidak dapat dia identifikasi apa.
Dani cukup yakin itu bukan sembelit.
Ini membuat Dani gusar.
Haruskah dia mencium kedua kaki kedua orangtuanya beserta orangtua Theo, dan meminta ampunan Gia agar dia dihentikan dari merasakan siksaan ini? Haruskah dia mentraktir Emma dan Shane makan siang selama sebulan penuh? Haruskah Dani membayar uang kuliah Taylor selama satu semester? Atau, haruskah Dani meminta maaf secara langsung pada Theo?
Bagaimana kiranya Dani melakukan itu?
Dani semakin merasa buruk karena dia bungkam seribu bahasa pada Theo selepas pulang berbelanja, bahkan menolak berbagabung makan malam bersama pria itu.
Bukan Dani bermaksud tidak sopan, dia hanya memerlukan lebih banyak waktu untuk merenungi perasaannya, dan hal semacam itu tidak bisa Dani lakukan jika berada di dekat Theo.
Tapi Dani merasa setidaknya perlu berterimakasih pada Theo untuk apa yang pria itu lakukan saat mereka bermain skating.
Mengingat kejadian ketika mereka skating membuat jantung Dani kembali berdegup gila-gilaan.
Dani mengusap-usap kedua pipinya yang memerah dengan sengit.
Cepat-cepat Dani turun dari kasur dan berderab ke luar. Sudah Dani putuskan, dia harus segera meminta maaf sekaligus berterimakasih pada Theo jika mau tidur dengan tenang malam ini.
Dengan sedikit brutal Dani meraih gagang pintu dan membukanya. Namun, langkah Dani sontak terhenti ketika dia temukan Theo sudah berdiri di depan kamarnya dengan tangan yang terangkat seakan pria itu hendak mengetuk.
"Oh." Theo terperanjat. "Maaf," katanya.
Dani hanya mampu mengerjab. Dia sama kagetnya seperti Theo. Semua skenario yang telah dia susun selama dia merenung di atas kasur tadi terbuyarkan. Dani tahu dia seharusnya mengatakan sesuatu pada Theo, dimulai dari permintaan maaf, namun bukan adegan ini yang Dani bayangkan.
Dani seharusnya menemui Theo dan Theo tidak semestinya sudah berada di depan pintu kamar Dani. Dani seharusnya memiliki waktu untuk memikirkan kata-kata yang ingin dia ucapkan dengan lebih baik sebelum dia berdiri di hadapan Theo.
Kalau begini jadinya, pupus lah cita-cita Dani untuk meminta maaf pada Theo.
Lama terbengang-bengong, lamunan Dani akhirnya berhenti ketika Theo membuka suara.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
Pertanyaan itu mengaggetkan untuk Dani.
Bagaimana mungkin Theo tahu bahwa Dani ingin mengatakan sesuatu?
"Aku?" Dani menggeleng kencang hingga rasanya kepalanya mau copot. "Tidak. Aku ingin ke kamar mandi."
Tidak mungkin Dani berkata jujur bahwa dia ingin meminta maaf pada Theo.
"Tapi kamar mandi mu ada di dalam kamar, Lu."
Menyadari bahwa percakapan ini akan berubah dari bodoh menjadi pembodohan, Dani mengajukan pertanyaan lain dan buru-buru merubah topik.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Kenapa kau di sini?"
Theo menatap Dani. Setelah hidup di satu atap yang sama bersama pria itu, Dani sedikit mulai memahami berbagai arti dari tatapan yang Theo berikan. Tatapan yang Theo berikan sekarang ini kurang lebih berarti, "Aku sangat ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku tidak yakin apakah kau mau mendengarkannya."
Itu adalah jenis tatapan nomor satu jika diirutkan dari intensitas penggunaannya. Theo acap kali memberikan tatapan itu pada Dani setiap kali pria itu hendak membuka percakapan di antara mereka.
"Sebenarnya ada," ucap Theo, "terima kasih sudah mau menemani hari ini. Tadi sungguh sangat menyenangkan."
Dani tidak mengerti mengapa Theo merasakan keharusan berterimakasih pada Dani untuk hal-hal sepele, sama halnya seperti Dani yang tidak mengerti bahwa berada di dekatnya sudah mampu membuat Theo terpikat padanya dan membuat Theo merasakan dorongan yang amat sangat untuk membuat Dani senang.
"Mungkin kita bisa melakukan hal semacam itu lagi lain kali, bagaimana menurutmu?" tanya Theo.
Dan membiarkanmu melihatku mempermalukan diriku sendiri? pikir Dani.
Yang tidak Dani sadari, ternyata itu tidak hanya berada di dalam pikirannya seperti yang Dani duga.
Theo dapat mendengar dengan jelas apa yang Dani katakan dan itu membuatnya tersenyum geli. "Mungkin kau bisa mengajariku karate kapan-kapan, dan melihatku mempermalukan diriku sendiri. Bagaimana? Adil?"
Bagaimana sih caranya membuat diri kita menjadi tak kasat mata? Dani membutuhkan trik itu dengan segera. Dia sudah tidak tahan lagi melihat Theo tersenyum lama-lama.
"Aku harus ke kamar mandi," sahut Dani.
"Tentu." Theo mengangguk. "Selamat malam, Lu," katanya sambil tersenyum.
"Malam, Theo."
***

Komentar Buku (17)

  • avatar
    Erni Kurniati Sila

    ceritanya menarik👍

    09/07/2025

      0
  • avatar
    Nur Eni Ikawati

    Rekomendeddddd

    05/05/2025

      0
  • avatar
    lookNayla

    keren

    21/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru