22

Wika sudah menjadikan pulang malam sebagai kebiasaannya. Ia selalu membawa kunci cadangan, ia sudah menguasai ilmu meringankan diri. Sehingga ketika ia berjingkat di lantai rumahnya, tak akan ada yang bisa mendengarnya. Tak akan ada yang menduga kehadirannya. Dan kalau belajar melayang adalah logis, ia yakin akan langsung mengambil kursus kilat dan menguasainya. Semuanya demi hobi barunya. Semua demi lelaki itu. Rattan. Wika juga jadi terbiasa melihat dalam gelap. Ia bisa mengitari seluruh ruang tamu, dapur serta seluruh wilayah rumah tanpa menabrak apa pun. Bahkan, kucing peliharaannya tak akan mengeong jika ia lewat. Tubuhnya yang mungil sangat menolong.
Malam itu, ketika Wika pulang ia langsung menuju kamarnya. Ia lelah, ia ingin berganti baju lalu tidur. Tentu ia berharap suaminya, Aidan sudah tidur pulas. Lelaki itu tidur seperti kerbau. Pendaratan UFO pun tak akan bisa membangunkannya. Pelan-pelan Wika membuka pintu kamar. Ia tahan nafasnya. Seperti biasa, begitu sama sampai-sampai ia tak perlu lagi mengeluarkan banyak usaha.
“Baru pulang?” tanya Aidan ketika Wika menutup pintu. Aidan tahu kalau tidurnya seperti kerbau, malam ini ia sengaja ‘melek’ agar bisa memergoki istrinya.
Wika yang tidak siap disapa tak sengaja menjatuhkan ponsel dan tasnya ke lantai kamar mereka. “Uhm… Ia…” Wika menghela nafas lalu mulai bersikap biasa saja.
Suaminya kemudian menggeser tubuh ke tepi tempat tidur. Ia menyalakan lampu sambil menguap. “Sudah beberapa minggu kamu pulang larut. Kamu mengendap-endap seperti maling di rumah sendiri.”
“Iya. Aku tak mau membangunkan kamu. Aku tidak mau membangunkan anak-anak.” Wika menjelaskan sambil mengganti bajunya. Ia hirup aroma Rattan yang tertinggal di bajunya itu sebelum berganti dengan daster tidurnya. Semua Wika lakukan pelan-pelan, barangkali itu bisa membuat Aidan menjadi bosan dan segera tidur lagi.
“Lain kali bersikaplah biasa. Kalau kamu mengendap-endap begitu, kamu malah terlihat mencurigakan. Apa kamu sudah makan?” Mata Aidan yang sayu mengikuti gerak-gerik Wika yang semakin lama semakin kikuk. Namun, lelaki seperti Aidan tidak begitu melihat perbedaan dari sikap istrinya.
“Sudah, aku sudah makan tadi,” jawab Wika cepat. “Aku makan di dekat kampus.”
“Apa kamu sedang ada masalah di kampus sehingga harus pulang larut?”
“Tidak. Aku hanya sedang rajin mengerjakan tugas. Jadi, aku mengerjakan tugas sampai selarut ini.” Wika memberi alasan sambil mengingat satu persatu kebohongannya.
Aidan mengangguk mengerti. “Mbak bilang anak-anak menanyakanmu. Apa tak bisa mengerjakan tugas di rumah saja? Sambil memperhatikan anak-anak begitu?” Aidan bukannya bermaksud menggurui. Ia benar-benar ingin tahu.
Sambil membersihkan wajah Wika menjawab, “Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau ada anak-anak. Mereka berisik,” jawab Wika dengan rasa bersalah. Kini ia menjadi anak-anaknya sebagai alasan. Ia tak seharusnya begitu.
“Baiklah. Kamu harus semangat kalau begitu. Setelah pendidikanmu tuntas, kamu akan lebih sering di rumah kan?”
Wika duduk di pinggir kasur. Ia naikkan kakinya kemudian rebahan. Tapi, tak ia jawab perkataan Aidan. Wika mulai berpikir untuk meng-upgrade¬ jawabannya ketika ia lulus kuliah nanti. Ia belum punya rencana untuk berhenti menemui Rattan.
“Wika, kamu dengar kata-kataku?” Aidan ikut rebahan.
“Dengar…”
“Kenapa tidak dijawab?”
“Oh, itu pertanyaan?” Wika pura-pura bodoh. Tentu itu pertanyaan. Aidan butuh mendengar janji Wika. Ia seorang ibu. Menikah dan punya anak adalah pilihannya. Dan Wika tak mungkin tiba-tiba merubah cita-cita dan keputusannya sekarang.
“Wika…” Kini Aidan nampak mulai kesal. Ngantuk membuatnya jadi pemurung.
“Iya, Aidan. Aku hanya bercanda,” jawab Wika hambar. Kini ia jadi pusing memikirkan kemungkinan baru itu.
Dan begitu saja, kesal Aidan jadi hilang. Ia mematikan lampu, lalu menggeser tubuhnya ke dekat Wika. “Kamu tidak kangen pada anak-anak?”
“Tentu aku kangen.”
“Padaku?” tanya Aidan lagi. Penuh harap.
“Tidak sama sekali,” jawab Wika sambil menjentikkan alisnya. Ia lelah, dan Aidan sepertinya tidak akan
membiarkannya tidur dalam waktu dekat.
“Sedikit pun?” Aidan menawar. Ia peluk istrinya dari belakang.
Wika memejamkan matanya. “Kalau mau tawar menawar, pergilah ke pasar,” jawab perempuan itu judes. Aidan malah tertawa. Ia gosokkan wajahnya ke tengkuk istrinya.
“Tidak sekarang, Aidan. Aku lelah.”
“Kamu diam saja. Tak usah melakukan apa-apa. Biar aku yang bekerja.” Aidan jadi pemaksa. Dan Wika dengan cepat merasa jengkel. Ia memilih tidak bicara lagi. Ia biarkan Aidan melakukan maunya. Ia biarkan suaminya mendapatkan haknya. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah berpura-pura. Berkhayal seolah Rattan yang ada di sana. Di tempat tidur suaminya.
“Wika?”
“Ya?”
“Apa kamu masih mencintaiku?”
“Tentu saja.”
Lelaki itu diam lagi. Nafasnya terengah, tangannya melingkar di pinggang Wika. Sementara Wika sendiri sudah hanyut dalam imajenasinya. Bagaimana Rattan memeluknya, bagaimana Rattan menggendongnya ke atas meja. Lalu menyeretnya ke ruang tamu. Bagaimana Rattan memojokkannya di bingkai jendela. Bagaimana suara meja berderit. Bagaimana lantai menjadi licin karena uap keringat mereka.
“Wika…”
“Ya…” Wika mendesau.
“Apa aku hebat?”
“Ya kamu hebat. Sangat hebat. Kamu hebat, Rattan.”
“Rattan?” Aidan mengangkat wajahnya. Ia memandang Wika.
“Apa?” tanya Wika pura-pura.
“Siapa Rattan?” Aidan mengulang.
“Rattan? Siapa Rattan,” ulang Wika.
“Tadi kamu bilang Rattan.”
“Aku bilang Aidan. Siapa Rattan?” Wika memainkan intonasinya. Ia balas menuduh.
Aidan diam. “Baiklah. Kita lanjutkan?”
“Ya. Tentu saja.” Wika memeluk Aidan. Tugasnya melanjutkan apa yang tertunda. Ia sudah keburu membayangkan
Rattan. Ia tidak boleh berhenti sekarang. Wika naik ke atas tubuh suaminya, kemudian ia yang berusaha.
Malam itu semuanya bisa diselamatkan. Namun Aidan bukanlah lelaki yang bodoh. Ia juga bukan seorang pelupa. Besoknya, lelaki itu minta cuti tiga hari dari kantornya. Ia ingin tahu kegiatan istrinya. Ia ingin tahu ke mana Wika seharian, bagaimana dua puluh empat jam tak cukup buatnya.
Di hari pertama dan kedua Aidan menahan diri, ia termenung di depan rumah kontrakan itu. Ia menyalahkan diri karena tidak jadi suami yang baik. Mungkin Wika tidak puas dengannya. Mungkin Aidan terlalu sibuk. Mungkin Aidan sudah terlalu tua. Mungkin, mungkin dan banyak kemungkinan yang membuat Wika lari darinya.
Namun di hari ketiga, Aidan sadar kalau ini bukan melulu salahnya. Ini adalah diri Wika yang sebenarnya. Wika perempuan liar. Wika sudah pernah gagal dalam rumah tangga dan bukan berita baru kalau mungkin Wika menganggap bahwa pernikahan bukan hal yang besar. Yang sakral. Wika bukan perempuan yang Aidan kira. Wika bukan impian Aidan. Wika berubah menjadi orang lain. Wika mempermainkan ketulusan Aidan. Dan ini sudah cukup. Aidan haruslah berbuat sesuatu. Aidan harus berkonfrontasi. Wika harus tahu kalau Aidan bukan lelaki yang bisa dengan mudah ia bodohi dan bohongi.
Aidan menunggu di luar rumah kontrakan itu. Ia makan dan minum dalam mobilnya sambil mengawasi. Ia mirip polisi-polisi dalam film. Ia memergoki istrinya. Ia akan menangkap basah Wika. Dan ini bukan hanya kesalahan lelaki dalam rumah itu. Wika punya tanggung jawab yang besar. Ia punya dua anak. Ia seharusnya tahu diri. Dan Lelaki bernama Rattan itu terlihat masih sangat mudah. Aidan tak akan menghancurkan wajahnya, apalagi masa depannya. Aidan ingin Rattan belajar bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Aidan ingin tahu apa yang akan Rattan lakukan jika Aidan menceraikan istrinya.
Sampai tepat jam sepuluh malam Wika keluar dari gerbang rumah itu. Aidan menghampirinya. Wika kaget luar biasa, matanya melotot, mulutnya komat-kamit. Tapi Aidan tak butuh drama.
“Pulang. Kita bicara di rumah. Kamu jangan bebohong lagi. Kamu sudah tertangkap basah.”

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Makrifatul Khoir

    mantul

    02/12

      0
  • avatar
    Berto

    bagus

    18/08/2025

      0
  • avatar
    PalestineFree

    cerita nya bagus banget

    18/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru