Namun sayang......, kegembiraan hanya sesaat singgah dalam benak masing-masing orang, petaka kembali menghadang. Masalah serius kini muncul lagi, sisa bahan bakar 30 persen dalam tangki pesawat ternyata tersedot habis beberapa saat sebelum pesawat itu menembus pusaran badai. Yang tertinggal kini hanya ampasnya saja, mendekati kritis. Sesuatu yang krusial terpantau dalam ruangan kokpit kemudi pesawat. Lampu indikator bahan bakar pesawat ‘fuel level indicator’ yang tadi berwarna kuning kini mendadak berubah merah. Lampu itu kemudian berkedip-kedip. Lalu diikuti alarm suara peringatan tanda bahaya ‘...biiib .. biiib ... biiiib ... biiib ... biiiib....’ Kaget mendengar alarm, sorotan mata Adam langsung mengarah pada level indikator bahan bakar pesawat. “Ya Allah..., kurang lima persen...!” Adam hanya bisa berucap. ***** Warna ungu kekuning-kuningan di belahan timur perlahan terlihat muncul di balik langit. Paduan warna yang sangat fantastik tampak menghiasi angkasa di ujung samudra, menandakan sang penerang jagat raya sebentar lagi akan terbangun dari peraduannya. Namun sayang....., keindahan di pagi itu tak seindah dengan apa yang diharapkan oleh para penumpang. Pesawat Airbus A320 dengan nomor penerbangan XZ 1949 itu kini kembali dalam keadaan sekarat. Perjalanan pulang ternyata masih jauh membentang. Adam menyadari hal itu, dalam waktu paling lama dua atau tiga menit lagi, kedua mesin pesawat pendorong akan mogok tak berdaya. Pesawat itu dipastikan akan melayang bebas kehabisan bahan bakar. Bunyi alarm ‘....bib.. bib.. bib.. bib....’ yang terdengar dalam ruangan kokpit kemudi pesawat mengusik pendengaran Ingrid seketika dia baru saja terjaga dari alam bawah sadarnya. Kedua bola mata gadis itu kemudian berputar-putar sayu mencari-cari dari mana arah datangnya suara....., lalu tertumbuk pada lampu berwarna merah yang berkedip-kedip yang terpancar di salah satu sisi panel instrumen pesawat. Adam melirik ke arah gadis itu, wajahnya begitu lusuh terlihat. Namun kecantikan asli wajahnya tetap saja mengemuka. Berat sebenarnya bagi Adam untuk mengatakan apa yang sedang terjadi dengan pesawat itu. Namun Adam merasa dirinya lebih baik berterus terang saja sebelum Ingrid bertanya kepadanya. Tanpa memperlihatkan kecemasannya, Adam menatap mata gadis itu dengan sikap tenang. “Hey Ingrid..., are okay now....?” ........bagaimana Ingrid, apakah kamu sudah baikan sekarang.....? Adam membuka kalimatnya, dicobanya menenangkan perasaan gadis itu untuk menghilangkan kecemasannya. “It is better now..., but...” ......sekarang aku lebih baik...., tetapi..... “Ingrid, you know the fuel is running out.” ..........Ingrid...., kamu tahukan bahwa bahan bakar pesawat sudah habis sekarang......... Adam langsung memotong kalimat gadis itu, suaranya dia pelankan. “Yes Adam....., I know that.” .........ya Adam, saya sudah tahu itu........ Ingrid yang masih melihat pada lampu ‘fuel level indicator’ itu menganggukkan kepala, suaranya begitu pelan hampir tak terdengar. Cukup lama penglihatannya tertancap pada lampu ‘yang masih berkedip-kedip itu. ***** Adam kemudian mengalihkan pandangannya ke luar pesawat. Beberapa saat dia harus menenangkan diri sebelum bertindak. Berkali-kali juga dia harus menarik napas, menahannya untuk beberapa saat, lalu menghembuskannya secara perlahan. Keputusan harus dia buat dengan cepat. Lampu tanda sabuk pengaman dalam ruang penumpang dia nyalakan. Adam kini harus menurunkan level pesawat serendah mungkin sebelum pesawat itu terjun bebas. Dan setelah itu, tak ada pilihan lain baginya, selain harus mendaratkan pesawat di atas perairan secara darurat. Detik-detik menjelang pesawat Airbus A320 itu menuju terjun bebas terjerembab, kedua lampu pendaratan dinyalakan. Sistem hidrolik pesawat bekerja untuk mengurangi pesawat agar jangan jatuh terlalu cepat. Sedikit demi sedikit dua pasang plat elevator di bagian belakan pesawat bergerak ke bawah. Pesawat itu pun mulai menurun secara perlahan meninggalkan ketinggian. Satu menit Adam menurunkan ketinggian, sang penerang jagat raya terbangun dari peraduannya yang panjang. Matahari pagi mulai mengintip bumi. Warna ungu kekuning-kuningan di belahan timur muncul di balik langit. Permukaan air laut terlihat berkilauan terkena pantulan cahaya. Adam masih mengurangi ketinggian pesawat. Sepasang matanya masih terus mengamati, dia mencoba mencari-cari permukaan air laut yang begitu tenang, dan sebisa mungkin mendaratkan pesawat tak jauh dari daratan untuk lebih memudahkan proses evakuasi. Waktu semakin tak bersisa, detik-detik menuju pendaratan darurat di atas air semakin cepat terasa. Sesaat Adam mencoba menenangkan dirinya, lalu dia melirikkan wajahnya ke arah Ingrid. “Ingrid...., prepare for emergency landing now, please..” ..........Ingrid, sekarang bersiap-siaplah untuk pendaratan darurat........ Pinta Adam singkat, agar Ingrid bersiap-siap untuk pendaratan darurat. Kedua bola mata Adam menatap tajam-tajam wajah gadis itu. Ingrid terdiam menundukkan kepala. Bibirnya terkatup setelah mendengar apa yang dikatakan Adam. Kekhawatiran tersamar di balik kecantikan wajahnya. Adam menangkap adanya kekhawatiran itu. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Ingrid. “Hi..., Ingrid..., you no need to worry..... I will save you what ever happened, and I’ll keep my promised.” ..........hei Ingrid, kamu tak perlu khawatir, apapun yang akan terjadi aku akan tetap menyelamatkanmu, aku berjanji.......... Untuk yang ke sekian kalinya Adam mengikrarkan janjinya pada gadis itu. Apapun yang terjadi, dia bertekad akan menyelamatkan nyawa Ingrid, seperti apa yang pernah dia katakan sebelumnya. Walaupun ngeri yang dia rasakan, namun Ingrid mencoba untuk tetap tegar menghadapi. Gadis itu kemudian menengadahkan kepala, lalu dia menatap mata Adam dalam-dalam. Adam juga menatap mata gadis itu, seorang wanita muda sarjana astrofisika, begitu cantik sempurna. Sesaat, mereka berdua saling berpandangan. “Hei Ingrid..., I’ll keep my promised, believe me.” .........Ingrid, aku akan menepati janjiku, percayalah kepadaku....... Adam kembali mengulangi kalimat itu. Dia akan menepati janjinya pada Ingrid untuk menyelamatkannya. Bibir bergetar, mata yang biru keabu-abuan mulai berkaca-kaca. Ingrid kemudian bertanya dalam ketidakberdayaannya. “Are you really going to save me....?” ........sungguhkah kamu akan menyelamatkan hidupku........? Suara Ingrid begitu lemah hampir tak terdengar ketika dia mengucapkan kalimat “....apakah Adam benar-benar akan menyelamatkan dirinya....” Perasaan Adam luluh lantah mendengar apa yang ditanyakan Ingrid. Tak sanggup lagi dia menatap mata Ingrid yang berkaca-kaca itu. Dan untuk yang sekian kalinya, Adam kembali meyakinkan Ingrid bahwa dia bersungguh-sungguh. “From the bottom of my heart, no reason for me to let a beautiful lady like you die for nothing.” ..........dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tak akan rela membiarkan gadis secantik kamu mati dalam keadaan seperti ini....... Ucap Adam juga dengan suara pelan. Tak akan mungkin baginya membiarkan seorang wanita cantik seperti Ingrid mati sia-sia, Perasaan Ingrid seakan-akan terbang melayang, tinggi sekali ke awang-awang, bahkan mengalahkan kemampuan tertinggi pesawat Airbus A320 itu untuk terbang. Kata-kata yang keluar dari mulut Adam begitu menyentuh lubuk hatinya. Jantung berdetak kencang, menembus ambang batas atas detak jantung normal orang dewasa. “I don’t know how to say.” ..........aku tak tahu harus berkata apa lagi...... Ingrid membalas ucapan Adam. Dada terasa sesak. Ingrid tenggelam antara harapan dan nestapa. Bibir bergetar menahan air mata. Butiran-butiran bening yang tertahan di kedua sudut bola matanya akhirnya pecah juga. Menggenangi kedua bola mata birunya yang indah. Lalu mengalir perlahan membasahi pipi dan bibirnya. *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus
19/04
0bagus
23/03/2025
0"keren cerita nya, good"
08/01/2025
0Lihat Semua