"Aku....Iya aku mengajar di sana, sudah hampir setahun ini aku tinggal di sana." "Jadi kamu kenal dengan wanita bernama Dina Wijaya?" Tanya Leo langsung. Ina terdiam dan spontan menatap wajah Leo, namun saat tersadar, Ina langsung menundukkan pandangannya. "Aku kenal hanya sebatas dia istri dari anak pemilik Yayasan kami." "Terus, maksud kedatanganmu ke sini untuk apa?" Tanya Leo. "Aku... ingin tahu kenapa kamu datang ke Yayasan pagi sekali, bahkan kamu datang dengan penampilan yang berbeda." "Berbeda seperti apa katamu?" "Aku tidak melihat Leo yang dulu, bahkan cara bicaramu saat ini seperti Leo yang arogan." "Iya, aku bukan Leo yang dulu. Leo yang dulu sudah terkubur oleh masa lalu yang sudah membuat ia hampir gila." Jawab Leo dengan wajah yang serius tanpa melihat ke arah Ina. "Maafkan aku, Leo. Aku tidak ingin membantah orang tuaku, tapi jujur sampai saat ini aku masih menyimpan namamu di hatiku." Ujar Ina dengan mata berkaca-kaca. Leo menatap Ina dan hendak memegang wajah di balik cadar hitam, namun Ina langsung memalingkan wajahnya dan sedikir bergeser. "Kenapa kamu menghindar? Tapi kamu bilang masih menyimpan perasaan padaku, aku ingin melihat wajahmu." Ujar Leo dengan mata yang memerah. "Aku rindu senyuman manjamu yang selalu menggodaku." Leo mendekati Ina, sehingga posisi Leo tepat di hadapan Ina. Ina yang takut, dan panik langsung menghindar, namun Leo langsung mengunci tubuh Ina dengan kedua tangannya yang ia julurkan ke dinding di belakang tubuh Ina. "Leo, jangan seperti ini!" Ina semakin panik, wajah Leo yang kian mendekat ke arah wajah Ina. "Kalau ada yang melihat gimana?" "Kenapa sayang? Kamu takut?" Leo semakin menantang, ia semakin mendekatkan tubuhnya dan hendak mencium pipi wanita yang ada dihadapannya. Ina memejamkan matanya, matanya mulai menitikkan air mata, ia takut sesuatu hal terjadi pada dirinya. Ina menahan nafasnya. Ia berdoa dalam hatinya agar Leo bisa menjaga dirinya. Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Leo membuang nafas kasar dan mengusap wajahnya lalu menerima telfonnya dengan menjauh dari Ina. Ina merasa lega akhirnya dia bisa selamat dari wajah Leo yang seperti singa yang sedang lapar. **** Azzam tiba di bandara Internasional Kualanamu Medan. Dengan jarak waktu dua jam ia sampai di kota kelahiran sang istri. Azzam memesan taksi online setelah mendapaotkan kopernya dan berjalan ke pintu keluar, menaiki taksi yang sudah ia pesan dan menghantarkannya ke alamat tujuan. Dina yang baru usai sarapan bersiap menghantar sepupunya itu berangkat bekerja. Rara menggunakan motor maticnya menuju kantor milik ia bekerja. "Bun, jangan di manjain istri orang ini." Ujar Rara yang ada di depan Dina dan bundanya. "Awas aja kamu ambil perhatian bundaku, buru-buru balik ke asalmu sana. Udah punya suami juga masih manja sama bunda." Ledek Rara yang sambil menaiki motornya dan memakai helmnya. Wanita tua yang sudah sepuh itu hanya tersenyum melihat dua anak wanitanya yang masih suka cemburu. "Sudah sana pergi, keburu telat kamu!" "Iya-iya, aku pergi. Kamu jangan cuma tiduran aja, beresi tuh rumah. Bantuin bunda." Ujar Rara sambil meninggalkan halaman rumahnya. Dina hanya tersenyum sambil menggandeng tangan adik dari ibunya itu. "Kamu sudah hubungi suamimu?" Tanya bunda sambil mengambil selang air untuk menyirami tanaman bunganya. "Tadi subuh sudah, tapi tidak aktif, bun." Jawab Dina sambil membantu membersihkan taman dengan mengambil daun kering yang berjatuhan. "Apa tidak ada pesan masuk dari Azzam?" "Ada sih, bun. Cuma aku gak buka. Pasti pesannya juga sama kaya Papa, ceramahin aku, omelin aku. Bilangin aku yang salah." "Loh, kan memang kamu salah, ndok." "Iya aku salah, tapi kan gak seutuhnya aku yang salah. Aku gak terima dong, bun." Bunda Indri tertawa mendengar jawaban dari keponakannya itu, lalu mendekat dan mengelus pundak Dina, "kamu memang salah sebagai istri, ndok. Apapun itu alasanmu ka.u tetal salah. Karena pergi tanpa seizin suami.u dan kamu tidak memberi penjelasa. Apapun pada mereka." Dina menunduk, ia tahu ia salah, tapi itulah wanita, apa lagi Dina yang termasuk anak manja sedari kecil, membuat dia selalu berbangga hati, kalau dirinya tidak pernah salah. "Semalamkan sudah bunda jelaskan, dan kamu berjanji harus menjadi istri yang baik. Kita sebagai istri itu tidak boleh egois. Memang sih rasanya sakit kalau hanya kita yang harus mengalah. Tapi kamu ingatlah, pahalanya besar buat istri yang sabar." "Iya bunda." "Kamu sudah ada telfon papamu?" Dina hanya menggelengkan kepalanya. "Telfonlah dan beri kabar. Papamu pasti khawatir dengan keadaanmu, begitu juga suamimu. Sekarang kamu bersih-beraih ya, mandi yang wangi." Dina menatap wanuta yang sudah sepuh itu, bahkan berjalan yang sedikit pincang. Mereka masuk ke dalam rumah. "Kamu di kamar tamu aja. Rara ngomel mulu sama bunda, katanya kamu bikin rusuh." Kekeh bunda dan menghantarkan sang anak ke kamar tamu. Indri sudah menerima kabar dari abang iparnya, kalau pagi ini Azam suami Dina menuju kediamannya. Namun Indri tidak memberi tahu Dina. Saat Dina masuk kekamarnya, bel pintu terdengar dan bersamaan dengan asisten rumah tangganya yang baru saja tiba. Azzam yang berdiri di balik pintu pagar, tidak masuk ke dalam, hanya menekan bel yang terdapat di tiang pagar. Dibelakang tubuhnya datang seorang wanita paruh baya yang menghampirinya. "Maaf, cari siapa ya, pak?" Tanya bik Inem, asisten yang biasa membersihakan rumah cat putih di hadapan Azzam. "Saya Azzam, suami Dina, ponakan ibu Indri yang tinggal di sini, bu." Jawabnya. "Oh, mba Dina ya. Ayok masuk sama saya Pak. Saya yang biasa bekerja di rumah ini." Jawab bik Inem sambil membuka pintu gerbang dan masuk dengan membawa koper milik Azzam. Azzam menolak namjn bik Inem tetap menarik koper Azzam hingga masuk ke rumah dan terlihat Indri yang berjalan pelan menghampiri mereka, "wes teko anak guantengku...." ujar Indri tersenyum bahagia saat Azzam menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya. Indri mengelus pundak Azzam, "kamu pasti capek, pergilah kekamar, temui istrimu." Azzam tersenyum dan matanya masih mencari keberadaan sang istru. "Istrimu di kamar, kamu masuk saja. Tadi mas Dino sudah memberi kabar sama bunda. Jangan sungkan ya, nanti bik Inem akan siapkan sarapan buat kamu dan di antar ke kamar." "Tidak perlu, bunda. Saya bisa makan di ruang makan saja." Jawab Azzam merasa tak enak hati. "Sudahlah, nak. Gak usah sungkan. Dina itu sudah seperti anak bunda. Kamu jangan malu. Sana temui istrimu, dia pasti rindu padamu." Azzam salah tingkah, di menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Ini kamarnya, kamu masuk saja. Bunda tinggal, ya." Indri berjalan kembali kearah dapur. Ada rasa bahagia, karena rumahnya di kunjungi oleh ponakannya. Biasanya ia hanya berdua saja di rumah saat Rara bekerja. Kalau bik Inem siap dengan tugasnya, maka Indri merasa kesepian di rumahnya sediri. Indri mengambil ponselnya dan meberi kabar pada abang iparnya, Dino, kalau Azzam telah sampai di rumahnya. Azzam membuka pintu kamar, setelah diberitahu di mana Dina, istrinya berada. Azzam membawa kopernya masuk dan meletakannya di samping lemari pakaian. Terlihat beberapa perlengkapan sang istri, seperti jam tangan dan ikat rambut yang biasa di pakai istrinya. Dina yang berada di kamar mandi, belum menyadari kedatangan sang suami di kamarnya, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang tergerai basah dan handuk yang menutupi tubunya. Dina masih belum melihat suaminya yang duduk di sisi ranjang dekat meja nakas. Dina berjalan kearah lemari pakaian dan memakai baju milik Rara. Azzam tersenyum dan ada rasa rindu yang mendalam pada istrinya. Azzam berjalan pelan dan menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Rambut basah milik Dina membasahi wajah Azzan. Dina yang tidak menyadarinya refleks menjerit saat tangan kekar seseorang melingkar di pinggangnya yang masih berbalut handuk. "Aaaa.... siapa kamu?" Teriak Dina. Azzam langaung membekap mulut Dina dengan bibirnya membuat Dina melebarkan matanya dan ingin memukul wajah lelaki yang ada di hadapannya, namun ia tersadar kalau lelaki itu adalah Azzam suaminya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (1174)
Ani SuryaniEuis
seru cerita ny bikin penasaran..ada agamany juga jd nambah ilmu ..👍
20/04/2022
13
Shakinah Rothman
just a unique love story and beautiful impact at the end
seru cerita ny bikin penasaran..ada agamany juga jd nambah ilmu ..👍
20/04/2022
13just a unique love story and beautiful impact at the end
19/04/2022
2gaskan bang
1d
0Lihat Semua