logo text

Sakitnya tuh di sini

Satu hari sebelum acara hari wisuda Dina, ia kembali sakit. Tubuhnya kembali merasa lemas dan setiap kali ingin memakan sesuatu selalu terasa mual. Pagi hari ini ia merasa dirinya betul-betul tidak bertenaga. Padahal beberapa hari ini ia selalu menjaga dirinya untuk tetap makan tepat waktu. Azzam, suaminya pun selalu mengingatkannya untuk makan tepat waktu.
"Kalau masih lemes, jangan di paksa ya. Atau kalau mau kita ke rumah sakit?" Tanya Azzam saat melihat tubuh pucat sang istri.
"Gak, mas. Aku istirahat saja. Semoga aja, siang nanti baikan." Ujar Dina setelah meminum segelas teh hangat. Subuh sehabis mereka sholat, Dina memuntahkan isi perutnya yang ia makan semalam. Membuat tubuhnya menjadi lemas.
"Mas jadi gak tenang kalau ninggali kamu lagi sakit gini. Tapi hari ini jadwal ujian anak-anak."
"Udah, aku gak papa, mas. Mas kerja aja ya, kasian anak-anak juga. Lagian mas juga kerjanya dekat kok."
"Tapi janji, kalau ada apa-apa kabari, mas ya. Biar mas bisa langsung pulang."
"Siap bos!" Ujar Dina sambil memberi hormat pada Azzam.
Azzam pun tersenyum saat melihat wajah ceria sang istri. Ia merasa lega karena Dina sudah terlihat lebih cerah di banding pagi tadi. 
Akhir-akhir ini. Setiap pagi Dina sering mengalami mual muntah dan nafsu makan yang berkurang. Dina menganggap itu hanya penyakit asam lambungnya yang kambih. Azzampun sama, mengira Dina hanya butuh istirahat dan menjaga pola makan saja.
Namun Dina sendiri tidak pernah cerita pada suaminya, Azzam. Bahwa seminggu ini juga dia mengalami tekanan dari omongan seseorang yang membuat pikirannya terganggu. Tapi dia tidak ingin memberi tahu suaminya. Dimana beberapa hari yang lalu terjadi percakapan antara Dina dan Hasna yang tanpa di sengaja ssat Dina hendak berkunjung ke toko Hana.
"Dina tunggu..!" Dina yang ingin menyebrang jalan untuk menuju ke toko Hana di cegah oleh Hasna.
"Iya, ada apa?" Jawab Dina memberhentikan langkahnya dan melihat wajah wanita yang memanggilnya itu.
"Kamu mau kemana? Kenapa pagi-pagi begini keluyuran?"
"Bukan urusanmu, aku mau kemana ya itu terserah aku." Jawab Dina santai dan ingin melangkah pergi.
"Hei tunggu... kenapa buru-buru banget sih. Kamu itu udah jadi istrinya Azzam loh, tapi kenapa kelakuan masih seperti anak Abege sih. Sadar diri dong!" Ujar Hasna yang langsung to the poin pada Dina.
"Maksud kamu apa bilang seperti itu?" Dina melangkah mendekat, jiwa bar-barnya meronta-ronta ingin sekali melawan mulut wanita yang ada dihadapannya.
"Oh... jadi kamu tidak paham?" Hasna tersenyum dan melipat tangannya kedadanya, dengan gaya angkuhnya. "Umi Azzam itu tidak pernah suka dengan kamu, dari awal pernikahan kalian itukan hanya di jodohkan. Dan perjodohan itu atas perjanjian papamu dan abah Azzam. Aku sih tahu banget wanita seperti apa yang diinginkan umi. Yang jelas tidak seperti mu!" Tegas Hasna sambil menunjuk kearah muka Dina.
"Kamu itu, hanya anak kemarin sore, anak manja, cara pakaian kamu saja masih suka buka aurat di sosmed. Sejujurnya umi malu punya menantu yang sepertimu. Apa lagi coba yang bisa dibanggakan dari seorang menantu seorang pemilik Yayasan Islami Terpadu ini." Hasna terus saja merendahkan harga diri Dina. Ia ingin sekali melawan, tapi entah kenapa perutnya terasa keram dan rasa pusing yang tiba-tiba saja ia rasakan. Dan satu lagi, umi dan Abah itu menginginkan cucu dari anakny. Sedangkan kamu masih berjiwa anak abege yang ingin bebas. Pantas saja umi selalu bilang ingin mencarikan Azzam istri kedua agar bisa memberi cucu secepatnya."
"Jaga mulutmu, aku tahu umi tidak seperti itu!" Dengan sisa kekuatan Dina, ia mencoba melawan Hasna. Namun dirinya semakin lemah.
"Dasar tidak peka. Ini aja kamu lebih memilih ke tempat lain, di banding ke tempat mertuamu. Apa lagi itu namanya kalau bukan mau bebas." 
Dina mulai tidak merespon ucapan Hasna. Ia kembali ke rumahnya. Ia berpikir todak ada gunanya untuk melawan wanita ular yang ada didepannya.
Sebab ucapan Hasna beberapa hari yang lalu, membuat Dina kembali terbaring lemah. Tapi ia tidak pernah mengatakan itu pada Azzam, suaminya.
Hari ini, dia berniat memasak soto medan untuk menu makan siang  mereka dan berniat untuk memberikan sebagian pada mertuanya. Walau Dina termasuk anak yang manja tapi dia tetap pintar dalam hal memasak. Hanya saja ia jarang melakukannya karena selama ini ada pembantu yang mengerjakan semuanya.
Saat semua menu makan siang telah usai ia masak. Dina memasukkan sebagian menu makan siang itu kedalam rantang bertingkatnya. Ia memasukan kuah soto medan,mi hun dan suwiran ayam gorengnya. Dan tidak lupa dengan perkedel goreng.
Setelah semua tertata rapu, ia bersiap diri untuk menghantar kerumah abah dan umi.
"Semoga Abah dan Umi suka dengan masakan ku." Ucap Dina dengan penuh semangat. Dina memakai baju gamisnya dan jilbab syar'i panjangnya. Perlahan ia mulai menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
"Assalammualaikum!" Ucap Dina saat sampai di depan pintu rumah mertuanya yang terbuka. Terlihat Abah dan tamunya berada di ruang tamu.
"Waalaikumsalam, nak. Sini masuk nak." Ucap abah dan menyambut kedatangan menantunya itu. "Kamu bawa apa itu?" Tanya abah saat melihat tangan Dina memegang sebuat tas berisi rantang makanan.
"Ini, bah, tadi Dina masak Soto Medan. Niat buat Umi dan abah untuk makan siang ini hari."
"Wah... kebetulan banget kamu bawa ini nak, itu umi mu lagi di dapur juga. Temui umi ya! Oh iya, ini paman Zian, beliau masih ada hubungan kekeluargaan juga dengan kita."
Peria paruh baya itu tersenyum dan mengangguk sopan pada Dina. Begitu juga sebaliknya Dina juga tersenyum dan menggangguk lalu permisi meninggalkan kedua orang tua itu.
"Umi..." sapa Dina saat masuk ke ruangan dapur yang terdapat meja makan. "Umi, tadi Dina masak soto, ini Dina bawain buat umi dan abah." Dina meletakkan bawaannya di atas meja dan membukanya satu-persatu.
"Wah... wanginya... pasti enak ini. Umi, belum pernah nih makan soto seperti ini, ada perkedelnya juga." Ucap Umi antusias. "Ini umi juga lagi masak, tapi cuma buat orek tempe sama tumis kangkung. Kebetulan banget kamu datang, nak. Itu ada paman Zian yang sedang berkunjung."
"Iya umi,kebetulan Dina buat yang banyak juga."
Note:::: maaf lama update🙏
Izin promo ceriTa baru aku ya, silahkan mampir, semoga suka dengan cerita-ceritaku.
"Gadis Yang Ternoda" silahkan di baca teman-teman.🥰

Komentar Buku (1173)

  • avatar
    Ani SuryaniEuis

    seru cerita ny bikin penasaran..ada agamany juga jd nambah ilmu ..👍

    20/04/2022

      13
  • avatar
    Shakinah Rothman

    just a unique love story and beautiful impact at the end

    19/04/2022

      2
  • avatar
    kurniawanari

    siap

    10/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru