Selesai bermain piano, Sonya membawa Megan kembali ke ruang kerjanya. "Duduk, Maribelle." Megan membuka topengnya dan menatap wajah Sonya dengan tegang. Ia berharap wanita ini akan menerimanya sebagai pianis setelah semua tepuk tangan meriah yang diterimanya dari para tamu. "Aku akui permainan pianomu sangat hebat. Tinggal dipoles sedikit maka kamu bisa menggantikan Sabrina." "Betul. Dan nama panggung yang kuberikan sangat cocok untukmu. Sekarang semua orang di klub mengenalmu sebagai The Red Goddess. Hanya aku dan Sonya yang akan mengetahui nama aslimu," timpal Oscar menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Tapi tidak semudah itu kita menerimanya, Oscar." Sonya mencodongkan badannya di depan Megan sambil mengetuk meja. "Kamu akan diterima bekerja jika memenuhi semua persyaratan dariku. Pertama kamu harus bekerja tiga kali seminggu sesuai jadwal. Jika ada event khusus yang membutuhkan kehadiranmu, kamu harus datang. Tidak ada alasan untuk menolaknya." "Kedua kamu harus bersikap ramah terhadap semua tamu, terutama penggemarmu. Sebagai bintang klub, kamu akan memiliki penggemar yang rata-rata kaum pria. Kamu tidak boleh mengabaikan mereka." "Tapi saya tidak mau terlalu dekat dengan pria asing. Apalagi jika mereka bersikap tidak sopan," jawab Megan tegas. Ia tidak akan sudi bila harus meladeni kemauan pria hidung belang. "Sudah kukatakan bukan? Kami tidak menyuruhmu menjual diri sebagai wanita penghibur. Tugasmu hanya bersikap ramah, tersenyum dan mengucapkan terima kasih bila ada yang memberikan hadiah. Itu saja. Kami justru akan menyediakan bodyguard yang akan mendampingimu selama berada di klub. Tujuannya supaya tidak ada tamu pria yang berani berbuat kurang ajar." "Terima kasih atas kebaikan Anda, Nona Sonya," jawab Megan lega. "Tidak perlu berterim kasih. Kami melakukan ini murni karena bisnis. Aku dan Oscar selalu menjaga reputasi para bintang kami," tukas Sonya dengan angkuh. "Dan syarat terakhir, sesuai julukan yang diberikan Oscar maka kamu harus memakai gaun, topeng, dan aksesoris serba merah setiap kali tampil. Di event saturday night aku akan menyediakan gaun untukmu. Sedangkan di hari lain kamu bisa menyiapkannya sendiri. Bagaimana?" "Saya setuju, Nona Sonya." "Oscar kemarilah, ini giliranmu," perintah Sonya. "Of course My Lady." Oscar melangkah ke rak dinding dan mengambil mesin ketik. Ia meletakkan mesin tersebut di meja lalu duduk di kursi singgasananya. "Sekarang berikan kartu pengenalmu padaku, Nona. Aku akan membuat surat perjanjian. Kita akan terikat kontrak kerja selama tiga bulan ke depan. Jika kerjamu bagus, aku akan memperpanjang kontrakmu." Megan menyerahkan kartu tanda pengenalnya kepada Oscar. Beruntung saat ini statusnya belum diubah menjadi Nyonya Osborne, sehingga Oscar Hernandez tidak mengetahui bahwa ia sudah menikah. Oscar mengamati kartu itu sebentar lalu mulai menggerakkan jemarinya di atas mesin ketik. Gerakan ujung jarinya yang cepat menunjukkan bahwa ia sangat mahir melakukan tugas itu. "Selesai," ucap Oscar mencabut kertas dari mesin ketik. "Berikan padaku." Sonya membaca surat perjanjian yang diketik adik kembarnya sebelum menyerahkannya kepada Megan. "Baca dan tanda tangani. Disini tertera berapa jumlah gaji yang akan kamu terima sekaligus jadwal pekerjaanmu. Pertunjukan perdanamu adalah besok malam." "Iya, Nona." Megan menelusuri kalimat demi kalimat dalam surat perjanjian kerjanya. Ia tidak mau ada bagian yang terlewatkan hingga berpotensi merugikannya nanti. Sementara soal gaji Megan tidak terlalu mempedulikannya. Toh dia melakukan ini bukan untuk mencari uang. Sonya dan Oscar tersenyum senang ketika Megan telah membubuhkan tanda tangannya. "Mulai malam ini kamu resmi menjadi bagian dari klub The Mistress. Selamat datang Red Goddess," ucap Oscar mengulurkan tangannya. Megan menerima uluran tangan Oscar sebagai tanda kesepakatan kerja di antara mereka. Sonya yang menyaksikan peristiwa itu menaikkan alisnya. Sangat jelas terlihat bahwa adik kembarnya memiliki ketertarikan terhadap wanita bernama Maribelle ini. "Tuan dan Nona Hernandez, bisa saya mohon diri sekarang? Ini sudah malam, saya harus kembali ke rumah," kata Megan meminta izin. Ia memikirkan Leonard yang sudah menunggunya di luar sejak tiga jam yang lalu. "Silakan. Ingat besok sebelum jam tujuh malam kamu harus sudah ada di klub. Di awal penampilan perdanamu, aku akan meminjamkan gaun merah dan aksesoris yang istimewa supaya kamu mendapatkan apresiasi dari para tamu." "Baik, Nona, saya akan datang tepat waktu." Oscar membukakan pintu ruangannya untuk Megan dan membiarkan gadis itu pergi. Sonya terkekeh melihat kelakuan adiknya yang berpura-pura sopan. Padahal siapapun telah mengenal reputasinya sebagai seorang casanova. "Apa dia akan masuk ke deretan wanita yang menjadi penghangat ranjangmu?" tanya Sonya terang-terangan. "Mungkin, jika dia mau. Tapi berdasarkan pengalamanku, Maribelle sepertinya wanita yang berkelas dan terhormat. Dia tidak akan sembarangan menyerahkan diri pada pria, kecuali..." "Kecuali apa?" "Kecuali pria itu mampu menaklukkan hatinya dengan cinta," jawab Oscar tersenyum smirk. *** "Leon, maaf aku membuatmu menunggu lama," kata Megan seraya masuk ke dalam mobil. "Tidak apa-apa, Nyonya. Apa Anda diterima sebagai pianis di klub The Mistress?" "Iya, Leon, aku berhasil. Sonya Hernandez menyuruhku bermain piano di depan para tamu dan mereka menyukainya. Mulai besok jam tujuh malam aku akan melakukan pertunjukan disana. Bisakah kamu mengantarku?" "Tentu, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya. Sekarang mari kita pulang ke mansion." Megan duduk dengan tenang di dalam mobil. Ada perasaan senang sekaligus resah di hatinya. Senang karena ia mendapat sambutan positif di klub The Mistress, namun ia resah karena setelah ini dirinya harus terbelenggu dalam gegap gempita kehidupan malam. "Semoga tidak terjadi hal-hal yang aku cemaskan. Setiap kali selesai melakukan pertunjukan, aku akan langsung meninggalkan klub," pikir Megan mengatur rencananya. Sesudah sampai di mansion Osborne, Megan bergegas masuk ke dalam untuk menghalau udara dingin. Sementara Leonard memarkirkan mobilnya di garasi. Dia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Dengan cepat, Leonard menyelinap ke bangunan paviliun yang terletak di sayap kanan mansion. Mansion Osborne memiliki dua paviliun. Sisi kiri dihuni oleh para pelayan, sedangkan sisi kanan diperuntukkan bagi tamu yang menginap. Karena sudah lama tidak ada tamu yang berani berkunjung, paviliun itu dibiarkan kosong. Leonard melangkah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa memancing perhatian. Ia memutar kunci lalu membuka pintu paviliun yang terbuat dari kayu. Dengan pandangan lurus ke depan, Leonard menaiki tangga ke lantai dua. Ia menuju ke kamar yang paling besar di paviliun itu. "Permisi, Tuan, ini saya Leonard," panggilnya seraya mengetuk pintu. Tak perlu menunggu lama, seorang pria berwajah tampan membukakan pintu untuk Leonard. "Masuk, Leon. Aku lihat dari jendela kamu baru saja pulang bersama Maribelle." "Benar, Tuan." "Kenapa lama sekali, Leon? Apa Maribelle mengalami kesulitan disana?" "Tidak ada, Tuan. Menurut Nyonya, dia lama di klub karena Hernandez bersaudara menyuruhnya bermain piano sebagai tes awal. Dan Nyonya Maribelle berhasil diterima sebagai pianis." Wajah pria yang setampan pangeran itu tersenyum puas. "Lalu kapan dia mulai bekerja?" "Besok malam, Tuan. Tapi saya khawatir jika nanti banyak pria bangsawan yang mengganggu Nyonya. Setelah luka di pipinya hilang, Nyonya terlihat sangat cantik," puji Leonard. "Aku akan mengawasi dan menjaga Maribelle setiap malam di klub. Kupastikan tidak ada pria yang berani melecehkannya." "Apa Anda yakin akan memperlihatkan diri di hadapan orang-orang, Tuan? Menurut saya itu sangat beresiko." "Tenang saja, Leon. Tidak akan ada yang mengenaliku bahkan Maribelle sekalipun. Dia mengira aku masih berada di luar negri. Dan lagi Kendrick Osborne yang sekarang terkenal sebagai pria buruk rupa dengan luka bakar yang mengerikan di wajahnya." "Tapi bagaimana bila Hernandez bersaudara mengenali Anda?" "Tidak mungkin. Aku akan mengenakan penyamaran yang sempurna. Tidak akan ada yang tahu bahwa aku adalah...Kendrick Osborne," jawab pria itu penuh percaya diri.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (70)
m******n@gmail.com
this so amazing
semangat ya buat nulisnya👍👍👍
ditunggu kelanjutannya
this so amazing semangat ya buat nulisnya👍👍👍 ditunggu kelanjutannya
03/05/2022
0mantaappp
22/08
0lanjut baca
26/07/2025
0Lihat Semua