Beranda/Pelakor Itu Anakku/
Bab 29 Pernikahan
Janur kuning melambai di pintu masuk sebuah gedung. Pesta pernikahan di gelar sangat mewah dan meriah. Para tamu undangan hadir dengan berpasang-pasangan.
Nuansa putih yang didominasi memenuhi acara tema pesta. Terkesan indah dan mewah. Mempelai wanita terlihat sangat cantik, dengan gaun putih berenda yang menjuntai ke bawah. Sang pria memakai jas berwarna putih yang senada dengan pengantin wanita.
Pengantin wanitanya elegan dan mempelai pria juga sangat tampan. Orang tidak akan menyangka jika mempelai pria yang menjadi suami Oliv adalah pemuda biasa dari kalangan bawah. Senyum terpaksa terhias dari bibir Oliv yang mungil berlipstik merah muda. Dia tidak terlihat bahagia meskipun hari ini adalah pernikahannya.
“Selamat atas pernikahanmu, Oliv,” ucapku sembari memeluk tubuh mungilnya.
Oliv membalas pelukanku.
“Terima kasih Ma.”
Selanjutnya giliran Afwan memberi selamat kepada kakaknya.
“Selamat untukmu, Kak.”
Oliv mengangguk pelan.
“Iya. Makasih, Afwan.”
Aku dan Afwan, kemudian memilih tempat duduk di pojokan. Menikmati makanan kecil yang tersedia di meja tamu. Nuansa putih yang mendominan pesta mencerminkan jiwa yang bersih tapi tidak dengan yang mempunyai hajatan. Sekilas aku melihat Mas Rafi murung walaupun berpakaian jas rapi, dan terlihat mewah.
Sementara Nuri terlihat semingrah menyambut kehadiran para tamu. Suasana begitu riuh sana-sini bercampur dengan lantunan musik gambus, yang mengalun syahdu. Aku masih menikmati suasana pesta romantis sembari menikmati kue sus yang disajikan di atas meja. Mendadak dikejutkan suara yang tidak asing lagi kudengar menyapaku dengan lembut.
“Boleh aku gabung di sini bersama kalian?” tanyanya dengan bahasa ramah.
Aku menoleh ke arahnya sembari tersenyum.
“Boleh.”
“Terima kasih,” sahutnya sembari menarik kursi.
Yah, pria yang tidak asing lagi kukenal ikut bergabung dalam satu meja denganku. Dia adalah Berlin yang juga datang diundang oleh Nuri ke pesta pernikahan Oliv.
“Sendiri?” tanya membuka percakapan
“Bertiga,” jawabnya datar.
Aku menoleh ke sana-ke sini mencari pasangan Berlin dengan siapa dia datang. Dia mengatakan datang bertiga tapi aku tidak melihat siapa pun bersamanya. Rasa penasaran membuat otakku berpikir, dan menanyakan padanya dengan siapa dia datang ke pesta.
“Dimana orang yang datang bersamamu tadi? Bukannya kamu bilang tadi datang bertiga?” tanyaku penasaran.
“Siapa yang bilang aku datang bertiga,” jawab Berlin polos.
“Kan kamu tadi yang bilang bertiga.”
“Kayaknya kamu yang salah dengar, Nad,” sahutnya santai.
“Salah gimana? Sudah jelas-jelas tadi kamu bilang bertiga kok aku yang salah sih,” dengkusku.
“Iya, aku masih ingat kok kamu tadi nanya apa.”
“Apa coba?” tanyaku kesal. Sementara Berlin hanya menanggapi santai sembari menikmati hidangan kecil.
“Kamu tadi tanya sendirian? Terus aku jawab bertiga.”
“Bertiga mana? Dari tadi aku gak lihat kamu sama siapa pun juga,” sahutku.
“Lah, ini kan kita bertiga,” jawabnya asal.
Aku menepuk jidatku sendiri.
“Astaga!”
Berlin tersenyum geli, karena melihat ekspresiku yang lugu habis di kerjain dia.
“Maaf, aku hanya bercanda, Nad!” ucapnya kemudian.
Aku hanya mendengus kesal melihat ulahnya yang jahil.
Pada acara puncak berlangsung, terlihat keributan di atas pelaminan kedua mempelai. Seorang pemuda memakai kemeja abu-abu, dan bercelana keper hitam sedang memukul mempelai pria.
Bugh.
Teriakkan Oliv terdengar menjerit. Andre sudah jatuh tersungkur di atas karpet merah. Dia dihajar pria yang baru saja masuk ke acara pesta berlangsung.
“Berani sekali kau menikahi ibu dari calon anakku hah?” ucapnya sembari melayangkan tinju ke wajah Andre.
Andre saat itu jatuh terhuyung-huyung, menabrak pot bunga yang ada di sebelahnya. Oliv yang melihat kejadian itu segera menolong suaminya, yang baru beberapa jam lalu resmi menikahinya.
“Stop hentikan Heru! Apa yang sudah kamu lakukan pada suamiku ha?”
Para tamu undangan yang melihat insiden tersebut berlari, mencoba melerai perkelahian. Aku pun segera mendekat ke arah Oliv yang menangis terisak sembari memeluk Nuri.
“Siapa awak berani mengacaukan pesta pernikahan Oliv---putriku?” tanya Nuri geram.
Pemuda yang disebut Oliv bernama Heru pun menjawab dengan lantang.
“Aku adalah ayah dari anak yang dikandung, Oliv. Berani sekali dia menikahi Oliv yang sudah mengandung benihku,” sahutnya.
“Apa?” sontak Nuri terkejut dan lemas jatuh ke lantai.
Para tamu yang datang menghadiri pesta tersebut sama terkejutnya. Mereka saling bergunjing membicarakan noda dalam pernikahan. Aib yang selama ini mereka sembunyikan kini terbongkar dengan sendirinya.
“Kalau kamu benar Ayah dari bayi---Oliv lalu kenapa tidak datang saat tahu Oliv hamil,” sela Rafi kemudian.
Suasana kembali ricuh. Aku kembali menyaksikan drama gratis sembari melipat tangan ke dada.
“Tanya saja pada Oliv, Om,” tunjuk Heru ke arah Oliv
Mas Rafi menoleh ke arah Oliv.
“Apa ini Oliv? Tolong jelaskan pada Papa!”
Oliv hanya menunduk malu. Dia kemudian berlari menuju kamar atas tanpa menjawab pertanyaan Rafi.
“Oliv!” seru Rafi.
Rafi berusaha ingin mengejar Oliv ke atas, namun Nuri berusaha mencegahnya.
“Jangan kejar Oliv! Biarkan saja dia menyendiri di atas. Sekarang kita bawa pemuda ini yang sudah mengacaukan acara pesta ini,” potong Nuri kemudian.
Rafi berpikir sejenak dengan apa yang barusan Nuri katakan. Dia langsung berkata pada para tamu undangan. Meminta maaf atas insiden yang tidak menyenangkan, terjadi di tengah pesta.
“Maaf, atas insiden yang terjadi barusan! Kami keluarga besar dari kedua belah pihak mempelai memohon maaf atas ketidaknyamanannya,” ucap Rafi menangkupkan tangan di dadanya sembari menunduk malu. “Mohon pada hadirin agar meninggalkan acara pesta karena akan ada sidang tertutup keluarga yang akan kami lanjutkan di sini.”
Rafi membubarkan pesta dengan wajah malu dan menunduk. Aib yang mencoreng wajahnya membuat dia tidak mampu menoleh, ataupun menatap wajah para tamu undangan satu persatu.
Pertunjukkan musik pun ikut berhenti. Suasana pernikahan yang kacau balau menjadi ajang gosip di kalangan para tamu. Bisik-bisik miring memenuhi ruangan pesta. Mereka terdengar menggosip di sana-sini dengan para sesama teman.
“Dasar anak pelakor, anaknya juga rusak sama seperti ibunya pelakor,” ucap wanita berlipstik merah menyala.
Bibirnya yang tebal terlihat nyinyir di depan temannya, yang tadi juga ikut bersama datang ke acara pesta berlangsung.
“Ih, amit-amit deh. Kalau aku punya anak masih umur segitu sudah centil sama laki-laki langsung aku hajar,” ucap temannya yang bergaya elit menimpali. Pakaian sexy dengan belahan dada sedikit terbuka.
“Mending sekarang kita balik aja yuk, dan makan di restoran lebih enak! Di sini sudah bayar mahal tapi Cuma di suruh pulang,” gerutu ibu yang berbibir tebal dengan lipstik merah menyela.
“Ayo lah kita pergi saja! Percuma berlama-lama di sini juga. Mendingan kita pulang saja,” celetuk wanita bergaya elit tadi.
Aku hanya menarik napas sembari mengelus dada. Mendengar gosip dari para wanita yang mencela Oliv dan ibunya pelakor.
“Ma, ayo kita pulang!”
Afwan membuyarkan lamunanku. Pandanganku mengarah kepada Afwan yang sudah berdiri di samping.
“Eh, iya Nak. Ayo kita pulang sekarang,” jawabku gagap.
“Kalian naik apa?” tanya Berlin menimpali.
“Kami bawa mobil sendiri, Om,” sahut Afwan mengulas senyum.
Berlin mengangguk mendengar jawaban Afwan.
“Ya sudah kalau gitu hati-hati, ya di jalan!”
“Ok, Om,” sahut Afwan kemudian.
Kami pun berpisah sesampainya parkiran. Menuju pulang ke rumah masing-masing. Acara pesta hari sangat kacau karena kedatangan mantan pacar Olive.
Di dalam gedung lantai atas Rafi dan Nuri sedang menyidang sang pemuda tadi, yang telah mengacaukan pesta berlangsung. Rafi berkacak pinggang sembari bertanya pada sang pemuda bertubuh tinggi sekitar 180 cm. Hidungnya mancung berkulit sawo matang.
“Katakan siapa namamu!” Titah Rafi.
“Heru, Om,” sahutnya.
“Apa alasanmu datang ke pesta ini dengan mengacaukan pernikahan Oliv hah? Kemarin saat Oliv membutuhkanmu kamu menghilang begitu saja,” cecar Rafi.
Pemuda itu hanya terdiam. Selanjutnya ia menghela napas berat.
“Aku belum siap menikahi Oliv karena masih pengangguran, Om.”
“Lalu, sekarang kamu datang dengan seenak hatimu mengacaukan pesta pernikahan Oliv begitu hah? Dimana kamu saat kami mencarimu untuk bertanggung jawab atas bayi yang Oliv kandung!” hardik Rafi.
“Sekarang aku bersedia menikahinya, Om,” sahutnya santai.
“Apa katamu? Bersedia? Apa otakmu itu masih waras. Sekarang Oliv sudah menikah tapi kamu ingin menikahinya kembali.”
“Pa, aku mencintai Heru. Aku ingin menikah dengannya,” sela Oliv
“Oliv!” seru Rafi geram. “Apa otakmu itu sudah dibutakan cinta hah? Suamimu sekarang adalah Andre bukan dia.” Rafi menunjuk ke arah Andre.
“Tapi, aku tidak mencintai Andre, Pa,” sahut Oliv.
Plak.
Rafi menampar Oliv dengan keras. Bercak merah langsung membekas di sana.
“Apa yang kamu lakukan sama Oliv, Rafi? Kenapa kamu menamparnya?” tanya Nuri gusar.
Rafi mengacak rambutnya frustasi.
“Argh, kalian semua membuatku gila.”
“Pa, batalkan pernikahan ini! Oliv tidak mau menikah dengan Andre,” Oliv berkata dengan memelas.
“Apa kamu kira pernikahan itu hanya main-main ha?” bentak Rafi.
“Rafi, sudahlah! Kenapa semua harus dipermasalahkan. Kalau Oliv ingin menikah dengan pilihannya tinggal restui saja,” celetuk Nuri.
Rafi mendengus kesal. Di usap wajahnya kembali dengan kasar. Berkali-kali Rafi mengelus dada menahan kesabaran.
“Nuri, status Oliv sekarang adalah sah istri Andre. Mana mungkin kita menikahkan Oliv dengan Pemuda ini sebelum dia bercerai,” lanjut Rafi.
“Setelah Oliv melahirkan dia akan berpisah dengan Andre lalu bisa menikah dengan Heru,” jelas Nuri.
“Ah, terserah kalian sajalah yang atur. Aku pusing dengan masalah ini,” dengkus Rafi kesal. Dia kemudian pergi meninggalkan kamar pengantin menuju keluar.
Oliv masih menangis terisak memeluk Nuri.
“Ma, pokoknya aku gak mau menikah dengan Andre. Aku tidak mencintainya Ma,” sela Oliv dalam isak tangis.
“Sabar, Nak! Setelah kamu melahirkan akan segera Mama urus perceraian,” ucap Nuri.
“Tante, aku bersedia mengundurkan diri jika memang Oliv akan menikah dengan Ayah—bayi yang dikandungnya,” potong Andre.
“Seharusnya kamu memang harus tahu diri,” ucap Heru menimpali.
Andre hanya menunduk sedih dengan hinaan yang dilontarkan Heru. Dia sadar kalau posisinya hanya suami bayaran, dan pengganti ayah dari bayi yang dikandung Oliv.
*
Bersambung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (85)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagusssssssssss
26d
0wahh bagus sekali
10/02
0sangat indah
12/07/2025
0Lihat Semua