logo text

Bab 26 Kesombongan Nuri

“Zaki, jam berapa pertemuanku dengan Jaya Group?” tanyaku pada Zaki. Dia langsung memeriksa buku agenda yang terletak di atas meja kerja.
“Jam dua siang, Non,” jawabnya singkat.
Sekarang masih jam dua belas masih ada waktu untuk sampai di perusahaan itu.
Aku langsung melangkah keluar ruangan dengan diikuti Zaki. Sambil menunggu makan siang, mengisi perut yang keroncongan.
“Sebelum pertemuan ayo kita makan dulu di luar!”
“Siap, Non.”
“Zaki, berhenti memanggilku nona muda! Panggil saja namaku!” kataku tanpa menoleh pada Zaki.
“Nona adalah atasanku. Mana mungkin ku panggil dengan nama saja. Gak sopan kesannya,” sahutnya cepat.
Aku menghela napas dan menghentikan langkah.
“Anggap saja kita teman.”
“Tapi, Non.”
“Tidak ada tapi-tapi,” potongku cepat. Zaki terdiam. “Kamu, adalah pasangan kerja bukan majikan dan bawahan.”
“Tapi aku hanyalah seorang kalangan dari bawah, Non.”
“Zaki, aku risih setiap kali kamu panggil Non, Nona muda. Bisa gak sih jangan memanggilku tanpa dikasih embel-embel!” hardikku.
“Bi … bisa, Non. Eh, Nada,” jawabnya gugup.
Aku tersenyum. “Gitu dong.”
Zaki akhirnya mengikuti saranku agar tidak memanggilnya dengan sebutan nona muda. Berjalan sembari mengobrol membuat kami sudah sampai di tempat parkir. Langsung saja Zaki mengemudikan mobil untuk menuju ke restoran. Aku akan makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pertemuannya dengan Jaya Group.
***
“Kita sudah sampai, turunlah!” ucap Zaki.
Aku melihat ke sekeliling, ternyata sudah berada di restoran kecil. Restoran ini bernama Keraton dengan bangunan ala zaman kerajaan. Klasik tapi tidak membosankan.
Banyak pengunjung yang datang hanya sekedar makan ataupun istirahat. Fasilitasnya dilengkapi dengan ruang ibadah, dan tempat istirahat bagi pengendara yang ingin sekedar istirahat.
Dengan rasa malas aku turun dari mobil menuju ke restoran. Perut sudah meronta ingin minta diisi.
“Zaki, kamu mau pesan apa?” tanyaku kemudian.
“Ayam bakar saja, Nada,” jawabnya santai.
Aku pun memanggil pelayan agar mencatat makanan yang dia pesan.
“Mau pesan apa, Bu?” tanya sang pelayan ramah.
“Ayam bakar dua porsi dan minumannya jus jeruk,” jawabku singkat.
Pelayan pun mencatat makanan yang dipesan. Satu menit kemudian, pelayan itu kembali ke dapur untuk memberikan catatan pesananku.
Sepuluh menit kemudian, pesanan pun
Datang. Aroma khas ayam bakar memenuhi rongga hidung.
“Silahkan, Bu,” ucap pelayan wanita bertubuh ramping kepadaku. Gadis manis itu tersenyum ramah.
“Terima kasih,” sahutku mengulas senyum.
Zaki dan aku menghabiskan makanan dengan lahap. Setelah selesai makan aku membayar tagihan di kasir. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke perusahaan Jaya Group yang memproduksi pakaian wanita, dan pria. Dengan kualitas terbaik dan merek terkenal.
Lalu lintas kendaraan yang padat mengakibatkan kemacetan panjang. Maklum, pada jam makan siang banyak dari para karyawan keluar untuk makan siang. Dan kembali pada jam masuk kantor. Berkali-kali suara klakson mobil saling bersahutan satu sama lain. Tidak ada yang mengalah, semua ingin saling mendahului agar segera sampai ke tujuan.
Melewati proses kemacetan panjang akhirnya mobil yang dikemudikan Zaki tiba di perusahaan Jaya Group. Gedungnya terlihat besar dan tinggi. Ini adalah salah perusahaan termewah yang aku kenal.
Aku langsung turun dari mobil, dan segera masuk untuk menjumpai direktur perusahaan.
Namun, saat masuk pada ruang lobby aku berpapasan dengan Nuri. Dia juga baru selesai menemui direktur perusahaan tersebut.
“Wah, Nada. Tidak disangka kita bertemu di sini,” ucapnya. Nuri tersenyum tipis kepadaku.
“Pertemuan secara kebetulan, Nuri Mauriya,” sahutku cepat. Seraya menatap tajam ke arahku.
“Mungkin ucapanmu benar, kita bertemu tidak ada unsur kesengajaan tetapi secara kebetulan. Oh, ya ngomong-ngomong ada perlu apa kamu datang ke perusahaan Jaya Group, Nada?” tanya Nuri sembari melipat kedua tangannya di atas dada.
“Bukan urusanmu, Nuri,” cetusku.
“Jangan bilang kalau kamu akan mengajukan kontrak kerjasama dengan Jaya Group.”
“Kalau pun iya, itu juga bukan urusanmu,” jawabku singkat.
“Coba saja kalau kamu bisa, Nada. Kamu tidak akan mungkin bisa mengalahkanku dalam bisnis impor,” celetuknya.
“Kesombongan akan mengalahkan usaha yang akan aku lakukan, Nuri,” tukasku.
“Oh, ya? Coba saja kalau kamu bisa. Seorang Nuri tidak akan bisa dengan mudah dikalahkan oleh perusahaan kecil seperti milikmu.”
“Kita lihat saja nanti, Nuri! Siapa yang akan menang bersaing dalam memberi bahan baku pada Jaya Group. Aku ingin melihat apakah kesombongan itu masih bisa bertahan atau tidak setelah aku memenangkan kontrak pada Jaya Group,” ucapku santai.
Raut wajah Nuri mendadak menjadi merah. Giginya terdengar gemeretak. Napasnya memburu cepat. Ucapanku mampu membuat kupingnya panas.
“Cih, dasar wanita liar,” celetuk Nuri. “Baru anak kemarin sore megang perusahaan sudah sombong.”
Aku mengerutkan dahi.
“Bersiap-siaplah untuk jatuh miskin, Nuri!”
“Apa pun yang kamu katakan aku tidak terpengaruh, Nada,” ketusnya.
Nuri meninggalkanku dengan kesal. Dia keluar dari perusahaan tersebut dengan langkah terburu-buru.
Aku tersenyum tipis melihat Nuri yang mulai terbakar emosi. Setelah ini, aku melanjutkan langkahnya menemui direktur perusahaan Jaya Group.
“Permisi. Apa direktur ada di dalam?” tanyaku pada sekretaris direktur.
“Ada, Bu. Apa Anda sudah membuat janji?” tanya sekretaris.
“Sudah. Katakan pada direktur, Nada ingin bertemu,” jawabku.
“Kalau begitu tunggu sebentar saya akan menghubungi direktur.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Satu menit kemudian sekretaris menghubungi direktur bahwa aku ingin bertemu dengannya.
“Maaf Pak! Bu Nada ingin bertemu dengan Anda,” ucapnya saat menelepon.
“Suruh saja masuk!” jawab sang direktur di telepon.
Sekretaris itu pun langsung memutuskan sambungan telepon, dan memintaku untuk masuk setelah mengantar sampai di depan pintu sang direktur.
“Masuk!”
Aku langsung menarik handle pintu pelan, dan masuk ke dalam ruangan sang direktur.
“Duduklah!” ucap sang direktur membalikkan badannya dengan kursi yang ia putar.
Belum selesai aku berucap terima kasih aku dikejutkan dengan direktur yang kutemui. Setelah melihat wajahnya yang tidak asing lagi adalah teman waktu masa sekolah SMA dulu. Lebih tepatnya mantan pacar.
“Berlin!” seruku terperangah.
“Nada, apa kabar?” tanyanya mengulas senyum.
“Baik, aku sungguh tidak menyangka kalau direktur Jaya Group adalah dirimu,” jawabku mengulas senyum. Mataku berbinar ketika bertemu dengannya.
Berlin adalah mantan pacar sewaktu duduk di bangku SMA. Hubungan kami terputus, dan hilang kontak saat Berlin pindah ke kota Surabaya.
Pada masa itu Berlin berjanji akan menghubungiku setelah tiba di Surabaya. Nyatanya Berlin tidak pernah menelepon sama sekali setelah perpisahan itu. Selama hampir tiga tahun kami menjalankan kebersamaan. Sampai pada masa semester akhir, Berlin harus pindah ke kota Surabaya karena papahnya di pindah tugaskan ke daerah sana. Sejak saat itu aku kehilangan kontak dengan Berlin sampai sekarang.
“Maafkan aku, Nada! Jika aku mengingkari janjiku untuk menghubungimu setelah tiba di Surabaya,” ucapnya kemudian.
Aku terlihat sedih, seketika wajah ini berubah murung.
“Aku menunggumu setiap hari, Berlin di kota ini, berharap dirimu akan kembali menepati janji. Nyatanya kamu tidak pernah kembali menemuiku ataupun hanya sekedar memberi kabar,” lirihku.
Berlin menghela napas panjang.
“Sesampai di Surabaya aku di jambret, Nada. Ponselku juga hilang. Sementara aku tidak ingat nomor ponselmu. Bagaimana aku bisa menghubungimu,” lanjut Berlin.
“Kenapa kamu tidak mengirim surat agar aku bisa membalas.”
“Aku lupa alamat rumahmu, Nada,” balasnya.
“Ya, sudahlah itu hanya masa lalu tak perlu kita bahas lagi.”
“Iya, semua sudah berlalu. Kamu benar,” ucap Berlin.
“Berapa anakmu sekarang Berlin?” tanyaku kemudian.
“Aku belum menikah sampai sekarang Nada,” jawabnya datar.
“Benarkah?”
Berlin mengangguk pelan. “Iya.”
“Aku tidak percaya. Pria tampan sepertimu belum menikah sampai sekarang. Itu mustahil,” cibirku.
Kening Berlin berkerut.
“Kenapa mustahil?”
“Kamu mapan, tajir, tampan dan juga pintar. Gadis mana yang akan menolak dirimu Berlin?”
“Ada satu gadis yang hingga kini sangat aku cintai dan sudah menolakku,” sahut Berlin tersenyum kecut.
“Sungguh gadis itu sangat sombong bila menolak dirimu. Kamu pria yang mapan dan juga kaya. Gadis yang menolakmu sungguh bodoh,” celetukku.
“Mungkin,” sahut Berlin santai.
“Kenapa kamu tidak coba mengatakan cinta lagi padanya, Berlin? Siapa tahu jawabannya kini berubah,” usulku.
“Entahlah, aku juga tidak tahu kalau dia akan menerima cintaku sekarang atau tidak,” Berlin berkata dengan menggidikkan bahu.
“Sepertinya kamu butuh cara khusus untuk menaklukkan hati gadis itu.”
Berlin hanya tersenyum mendengarku berkat panjang lebar. Hal inilah yang membuatnya amat rindu terhadap sikap periangku yang selalu bersemangat. Bila sudah bertemu dengan lawan bicaranya.
“Kamu bisa mengajariku nanti bagaimana cara menarik perhatian gadis pujaanku,” tukas Berlin.
“Gampang, asal kamu juga bersedia membantuku,” sahutku antusias.
“Hem, kamu masih saja Nada yang ku kenal dahulu. Selalu bersemangat bila menginginkan sesuatu.”
“Kedatanganku ke perusahaan untuk bekerja sama. Aku ingin memasukkan bahan baku kualitas impor dengan harga rendah tapi berkualitas tinggi,” ucapku menjelaskan kemudian.
Aku mengeluarkan beberapa contoh bahan yang sering dipakai perusahaan Berlin untuk membuat pakaian.
Berlin melihat dengan serius contoh-contoh bahan yang ku tunjukan padanya. Satu-persatu kain itu diteliti dan di raba, bahannya memang berkualitas tinggi. Tidak kalah dengan bahan yang dimasukkan Nuri selama ini.
“Bahannya lembut. Dan kualitasnya juga bagus. Ini, cocok untuk dijahit menjadi pakaian wanita dan anak-anak,” tutur Berlin.
“Kamu pasti tidak akan kecewa dengan bahan yang aku berikan. Karena ini kualitas dalam negeri tapi berkualitas tinggi,” lanjutku.
“Ok, kamu boleh datang lusa untuk menandatangani kontrak kerja sama,” ucap Berlin.
Aku tersenyum puas mendengar jawaban Berlin. Dia bersedia bekerja sama dengan perusahaan kecil milikku. Ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan.
***
Bersambung.

Komentar Buku (85)

  • avatar
    hanifahmila

    bagusssssssssss

    27d

      0
  • avatar
    yyzagy

    wahh bagus sekali

    10/02

      0
  • avatar
    Yana

    sangat indah

    12/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru