Pagi ini, langit di atas sana cukup cerah. Angin pun bertiup terasa kencang dedaunan jatuh berserakan dii depan halaman rumah sakit. Aku dan Zaki tengah berjalan menyusuri koridor dengan tergesa-gesa. Ketika aku sampai di kamar Afwan, ternyata dokter sedang memeriksa kondisi luka tikam yang dideritanya. “Bagaimana kondisi anak---saya, dokter?” tanyaku antusias. Dokter tersenyum samar. Kemudian melepas alat stetoskop yang dipakainya yang dipakai untuk memeriksa kondisi Afwan. Dokter memeriksa mulai dari tekanan darah sampai detak jantung Afwan, semua berjalan normal. “Baik, semakin ada kemajuan,” balasnya ramah. “Kapan diperbolehkan pulang, dok?” Tanyaku lagi. “Lusa sudah boleh pulang.” Aku tersenyum. Bahagia mendengar berita kesembuhan Afwan yang sudah bisa pulang lusa. Tidak sabar ingin merawat putra tercinta. Selama tujuh belas tahun aku tidak pernah mengasuh dari bayi. “Terima kasih, Dok. Karena dokter sudah menyelamatkan anak---saya,” ucapku mengulas senyum. Tentu saja disertai kebahagiaan. “Sama-sama, Bu. Sudah kewajibanku untuk menolong pasien,” kata dokter mengulas senyum. “Kalau gitu saya permisi, Bu. Mau melihat pasien yang lain.” “Iya, silahkan, dokter!” balasku tanpa mengurangi senyum. Dokter tersenyum tipis. Lalu, segera berlalu meninggalkan ruang inap Afwan. Di atas pembaringannya Afwan masih terlihat lemah. Aku mendekati Afwan pelan-pelan. Takut membuatnya tersinggung. Harus pelan-pelan menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan apa hubungannya denganku. “Jangan banyak bergerak, Nak! Lukamu masih belum sembuh betul,” ucapku. Seraya menoleh, ingin mengambil air minum, yang terletak di atas nakas. “Aku haus, Cuma ingin minum saja,” kata Afwan. “Biar, Mama bantu, ya?” “Makasih, Tante,” balasnya lembut. “Mulai sekarang panggil Mama, Nak! Karena aku adalah Mama---kandungmu,” jelasku. Kening Afwan berkerut. “Mama?” Afwan terkejut mendengar penjelasanku. “Iya, Mama. Akulah Mama---kandungmu yang sebenarnya,” balasku. Aku tersenyum menatap lembut kepala putraku dengan kasih sayang. “Tidak, tidak mungkin.” “Afwan, ada rahasia besar yang tidak kamu ketahui, Nak. Selama ini papamu Rafi sudah menukarmu dengan kakakmu---Oliv,” lanjutku masih dengan sabar menjelaskan. “Maksudnya?” Afwan menatapku lekat dengan pandangan tak mengerti. Bagaimana bisa saat dia sadar, setelah beberapa jam dari pingsannya kini kehidupan mendadak berubah. Nasib sudah mempermainkan aku dan Afwan. Kejadian yang dialami semalam telah mengungkap tabir rahasia, yang selama bertahun-tahun telah disembunyikan Rafi. “Nanti saja Mama jelaskan kalau kamu sudah sembuh dan pulang dari sini,” ujarku. “Bagaimana aku bisa memanggilmu Mama secara tiba-tiba. Sementara aku tidak tahu apa dan bagaimana kejadiannya,” kata Afwan. “Papamu yang akan menjelaskannya padamu, Nak,” suara Rafi memotong obrolan. Suara itu menggema dalam ruangan, membuat kami langsung menoleh padanya. “Papa!” seru Afwan. Rafi datang sembari membawa amplop coklat di tangannya. “Maaf kan Papa, Nak! Selama ini Papa yang bersalah,” ucapnya sendu. Afwan membalas sorotan mata papahnya tak mengerti. Meskipun begitu Rafi berusaha tenang agar tidak terlihat rapuh di depan Afwan. “Papa, pasti bohong kan?” tuding Afwan. Rafi mendesah resah, lalu menggelengkan kepala. Ada beban berat di hati enggan untuk diutarakan kepada Afwan. Bertahun-tahun rahasia ini disimpan, kini harus terbongkar di hadapan putra kesayangannya. “Sayang, semua yang kamu dengar dan lihat adalah benar,” lanjutnya. “Ini bukti tes DNA agar kamu yakin bahwa apa yang kau lihat dan kamu dengar semuanya benar.” Rafi menyodorkan amplop coklat yang pegang sedari tadi, lalu memberikan pada Afwan. Afwan membuka amplop coklat yang diberikan Rafi tadi, lalu membukanya secara perlahan. Deg! Hati Afwan tersentak sakit. Melihat kenyataan aku adalah ibu kandungnya. Selama bertahun-tahun tidak diketahui. Dijelaskan dalam tes DNA tersebut memang benar, kalau dirinya adalah anak kandungku dan Rafi. “Ma,” Afwan memanggilku cepat. Aku tersenyum. Kata-kata itu akhirnya bisa kudengar juga dari Afwan. Di hadapan Afwan aju menunjukkan ketabahan, bahwa aku baik-baik saja. Kupeluk erat permata hatiku yang selama ini hilang. Membawanya dalam dekapan. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah memeluknya dan menemani saat dia tumbuh besar. Ku lewatkan momen kebersamaan dengan buah hati saat dia membutuhkan. Kupeluk dan kucium permata hati berkali-kali, seakan aku enggan melepasnya kembali. Rasanya yang aku alami bagaikan mimpi di siang hari. Ketika bangun semua sirna. Aku enggan melepaskan pelukan dari Afwan. Untuk pertama kalinya aku bisa memeluknya. Setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu. “Mama senang akhirnya bisa memelukmu, Nak,” bisikku pelan. “Maafkan Afwan, Ma! Karena tidak bisa mengenali Mama dari awal,” ucapnya lembut. Sudut matanya terlihat berembun dan berkaca-kaca. “Mama juga minta maaf, Nak! Karena tidak bisa merawatmu sejak kecil.” “Bukan salah, Mama. Seharusnya Afwan yang minta maaf karena hampir marah menuduh Mama dengan kejam ingin berusaha merusak kebahagiaan Papa dan Mama Nuri,” ucap Afwan nyaris tak terdengar pada kata terakhir. Aku kembali mendekap permata hatiku yang terisak sambil memeluk. Ada rasa bahagia yang tak bisa dikatakan. Sementara Mas Rafi hanya menunduk tak berani memotong pembicaraan kami berdua. Baru setelah puas kami bertangis-tangisan, dan mulai tersenyum dia menimpali pembicaraan. “Sekarang aku sudah ikhlas jika Afwan akan kembali padamu, Nad,” ucapnya pasrah. Seketika kabut menutupi netraku. Tidak bisa kukatakan, kalau hatiku terharu dengan pertemuan yang dramatis ini. Ku tautkan kedua sisi bibir, menahan sesak di dada yang hendak menyeruak keluar. “Aku memang akan membawa Afwan kembali, Mas. Tidak akan kubiarkan dia diasuh oleh orang yang salah,” sahutku. Mas Rafi mendesah. Seperti kecewa karena responku terpaksa disetujui terpaksa. Aku tidak ingin Afwan jauh dariku lagi setelah sekian lama berpisah. “Baik-baik jaga Afwan!” lanjutnya. Dia melipir begitu saja. Namun, Afwan menahan langkah Mas Rafi. “Tunggu, Pa!” ucap Afwan. Mas Rafi berbalik menoleh ke arah Afwan menghentikan langkahnya. “Ada apa, Nak?” tanyanya. “Papa masih bisa menemuiku dan kita bisa berkumpul kembali seperti biasa. Sekali-kali aku akan datang untuk menginap di rumah Papa,” kata Afwan. Wajah Rafi berubah semingrah. Matanya berbinar ketika Afwan memberi harapan kepada Rafi. “Terima kasih, Nak,” balasnya mengulas senyum. “Papa senang kamu masih menerima Papa dengan berbesar hati.” “Mana mungkin Afwan menjadi anak durhaka dengan menghujat Papa. Meskipun kesalahan Papa sudah terlalu berat untuk dimaafkan, tapi aku tidak ingin menjadi anak durhaka,” ungkapnya jujur. Mas Rafi seketika terharu dan menangis memeluk Afwan. “Sungguh kamu adalah anak baik. Papa malu dengan diri sendiri, Nak,” ucapnya sembari terisak. Baru saja rasa kebahagiaan hadir di tengahku saat itulah Nuri datang dengan wajah cemberut. “Sayang, biar saja Afwan kembali bersama ibunya. Kita tidak perlu lagi menutupi rahasia ini selamanya,” sela Nuri menimpali. “Jadi kamu keberatan selama ini merawat anakku ha?” tanya Mas Rafi. “Kalau bukan karena keinginan kamu untuk memiliki pewaris, sejujurnya aku enggan membesarkan Afwan,” cibirnya. Mas Rafi menatap Nuri kesal. Dia merasa jijik sekarang, pada wanita yang dinikahinya selama belasan tahun. Mudah sekali Nuri mengatakan keberatan merawat Afwan. Penampilannya sungguh berbeda dengan sifat asli. “Sekarang aku menyesal karena sudah menikah denganmu Nuri,” ucap Rafi. “Saya yang seharusnya menyesal karena menikahi pria miskin sepertimu, Mas,” lanjutnya. “Nuri!” seru Rafi. “Jaga mulutmu kalau bicara! Selama ini aku rela meninggalkan keluargaku demi kamu. Bahkan aku rela menukar anakku dengan anakmu dan menceraikan Nada. Tapi sekarang kamu dengan mudah mengatakan menyesal menikah denganku karena aku miskin.” “Jangan membentakku, Mas! Silahkan bercerai jika kamu ingin kembali pada keluargamu. Tapi ingat kamu tidak akan aku beri uang sepeser pun. Semua harta yang kamu nikmati adalah milikku, jadi kamu tidak berhak membawanya dalam bentuk apa pun.” Wajah Rafi terlihat merah padam mendengar ucapan Nuri. Tangannya mengepalkan tinju dengan erat. “Dasar wanita murahan,” desisnya. “Mulai sekarang kamu aku talak.” Aku tertegun dengan apa yang diucapkan Mas Rafi. Dia menalak Nuri di hadapanku dan Afwan. “Hentikan pertengkaran kalian,” potongku. “Ini rumah sakit bukan rumah pribadi yang bisa seenak hati kalian keluar masuk dan berbuat keributan di sini.” “Pa, sebaiknya bicarakan masalah rumah tangga kalian dengan baik-baik. Jangan ada kekerasan, bagaimanapun juga Mama Nuri adalah istri---Papa,” ucap Afwan menimpali. Rafi terlihat frustrasi dan mengacak rambutnya dengan kasar. Kesal dengan sikap Nuri yang membuatnya putus asa. “Arrrggghhh ....” teriaknya kesal. “Ayo kita pulang dan selesaikan dengan kepala dingin, Nuri!” “Tidak perlu, Mas! Mulai detik ini aku tidak mengizinkanmu kembali ke rumah!” sergah Nuri. “Kamu tidak bisa mengusirku seenak hatimu, Nuri. Bagaimanapun juga rumah itu dibangun atas kerja kerasku,” ucap Rafi tak mau kalah. “Sepertinya kamu lupa, Ms. Kalau semua fasilitas yang kamu nikmati adalah pemberianku. Dan sekarang aku ingin kamu kembalikan apa yang sudah kuberikan,” kata Nuri. Tangannya menodongkan ke arah Mas Rafi, untuk meminta apa yang dia berikan selama ini, kunci mobil dan kartu ATM. “Kamu sungguh keterlaluan, Nuri,” dengkus Rafi. Nuri tersenyum miring penuh kemenangan. Usahanya untuk menjatuhkan Rafi kini sudah tercapai. “Lelaki sepertimu hanya sampah. Sekarang aku tidak membutuhkanmu lagi,” ucapnya menyunggingkan senyum. “Kamu benar-benar ular berkepala dua, Nuri. Selama ini aku tertipu dengan kecantikan kamu. Ternyata hatimu sangat berbeda dengan Nada. Kamu wanita busuk,” cibir Rafi. Nuri tersenyum miring. Puas melihat Rafi jatuh miskin. “Gak usah ceramah, Mas!” balasnya kesal. “Menyesal aku sudah memilihmu. Kubung batu permata demi batu kali yang tak berharga sepertimu,” sindir Rafi. “Bukan urusanku, Mas. Kamu mau menyesal atau tidak. Yang terpenting bagiku adalah bisnis dan uang,” sahutnya bangga. Sementara senyum tipisnya masih mengembang menghiasi bibir merahnya. Rafi seketika mengeluarkan dompet dari saku celana, dan mengeluarkan kartu ATM yang diminta oleh Nuri. Sekaligus kunci mobil dan meletakkannya tepat di telapak tangan Nuri. “Ini, ambil milikmu! Aku tidak membutuhkannya,” dengkus Rafi. Nuri tersenyum puas. Merasa menang telah menjatuhkan harga diri Mas Rafi. “Terima kasih, sayang. Sekarang kamu hanyalah gembel yang tak berguna buatku. Pergi jauh-jauh dari kehidupanku dan jangan pernah kembali lagi. Gembel!” hardik Nuri. “Kamu benar-benar wanita berhati iblis, Nuri. Menyesal aku sudah memilihmu dan meninggalkan keluargaku.” Ulang Rafi. Seraya menangkupkan wajahnya. Penyesalannya kini sudah terlambat, sifat asli Nuri sudah diketahui, ternyata hanya memanfaatkan saja. Wajah Rafi menunduk lesu meninggalkan rumah sakit. *** Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusssssssssss
08/09
0wahh bagus sekali
10/02
0sangat indah
12/07/2025
0Lihat Semua