Beranda/Pelakor Itu Anakku/
Bab 17 Korupsi
“Nona, ini arsip yang Anda minta,” ucap Zaki. Sebuah map yang sudah usang dan berdebu diletakkan Zaki di atas meja kerjaku.
Aku membersihkan map yang sudah usang, dan berdebu itu dengan lap serbet. Mata meneliti keuangan keluar dan masuk secara jeli. Ada yang tidak beres dengan pengeluaran, dari catatan bendahara keuangan. Ada hal yang telah dimanipulasi dari pembukuan.
Pengeluaran uang tidak sesuai dengan pemasukan perusahaan. Ada transferan gelap dari nomor rekening tak dikenal, dan tak bertuan. Dana yang sudah digelapkan mencapai sepuluh triliun.
Aku mengerutkan dahi melihat penggelapan dana yang tidak sesuai prosedur. Uang sebesar itu pantas membuat perusahaan papah bangkrut, dan terlilit hutang-piutang.
“Ada penggelapan dana yang tak wajar atas rekening tak bertuan di sebuah Bank swasta terkenal. Tolong kamu cari siapa pemilik nomor rekening ini Zaki!” ucapku memberikan nomor rekening pada Zaki.
Zaki mengangguk, lalu menghubungi mata-mata untuk mencari tahu. Siapa pemilik nomor rekening tersebut.
“Halo, tolong temui aku di kafe tempat biasa kita bertemu. Ada pekerjaan penting yang harus dilakukan,” ucap Zaki mengakhiri sambungan telepon.
Zaki menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Dia meneliti kembali uang masuk. Semua yang ditulis oleh bendahara. Aku masih terus menyusuri misteri penggelapan dana yang dilakukan oleh orang dalam.
“Cari tahu siapa bendahara yang menjabat pada masa ini. Dan segera laporkan padaku siapa yang bertanggung jawab atas keluar masuknya uang perusahaan,” lanjutku kemudian.
Aku memijat pelipis yang terasa sakit. Baru tiga hari pemakaman papah dilaksanakan masalah sudah kembali muncul. Bahkan makam papah masih basah, dan bunga yang ditaburkan di atas pusaranya belum lagi kering.
“Nona muda bukanlah ahli di bidang akuntansi. Bagaimana nona muda bisa tahu kalau perusahaan ini mengalami kecurangan?” tanya Zaki ragu-ragu. Dia berhati-hati dalam berbicara. Takut aku tersinggung.
“Selama bekerja di perusahaan Lee, dia mengajarkanku tentang mengaudit keuangan. Meskipun bagianku merancang busana tapi Lee mengajarkanku tentang banyak hal termasuk mengelola perusahaan. Dalam soal menjalankan perusahaan Lee bisa diacungi jempol. Apabila ada kecurangan yang tak seimbang Lee tahu,” jelasku panjang lebar tanpa ekspresi.
Zaki terdiam mendengar penjelasanku. Dalam hati dia mungkin dia merasa beruntung karena sudah mengenal papah. Tidak membedakan kasta. Begitu juga denganku tidak pernah membedakan miskin dan kaya.
“Aku salut dengan pemikiran Tuan Lee. Di usia yang masih muda, dia mampu menjadi seorang pengusaha yang sukses,” kata Zaki. Tangannya mempermainkan bolpoin yang ada di atas meja. Memutar ke kiri dan ke kanan seperti baling-baling.
Aku dan Zaki larut dalam obrolan ringan. Pintu diketuk dari luar. Sekretaris memberikan jadwal meeting, yang harus dilaksanakan dengan kolega siang ini juga.
“Permisi, Bu,” ucap Lala “Ada meeting siang ini dengan kolega.”
“Jam berapa meeting dilaksanakan?” tanyaku kemudian.
“Jam tiga siang,” jawab Lala singkat.
“Di mana meeting dilaksanakan?”
“Di hotel batik, Bu.”
“Siapkan jadwalku! Akan aku hadiri pertemuan dengan kolega,” sahutku cepat.
“Ok.”
Sekretaris Kala kembali ke meja kerjanya. Setelah berpamitan dengan sopan.
***
“Ada kabar terbaru tentang siapa pemilik rekening tersebut, Zaki?” tanyaku pada Zaki tanpa menoleh. Pandangan masih fokus pada layar laptop.
“Belum, Non. Siang ini mata-mata akan memberi kabar dan langsung menyampaikan informasi yang akurat,” jawab Zaki. Kemudian Zaki kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugas.
“Tunggu, Zaki!” sergahku. “Bagaimana dengan bendahara itu. Apa sudah kamu ketahui siapa orangnya?” tanyaku lagi.
Zaki menepuk jidatnya spontan. Dia lupa bahwa informan yang ditugaskan sudah mendapatkan alamat, dan orang yang kuminta kemarin.
“Bendahara itu bernama Pak Edy Baskoro. Dia yang menjabat sebagai bendahara pada masa dinas Pak Brahma, Non,” jelas Zaki.
“Berikan alamat itu padaku sekarang! Aku akan menemuinya sekarang.”
“Tapi, Nona ….” Zaki menjeda ucapannya.
Aku menghela napas panjang, dan membuangnya dengan kasar.
“Tapi … kenapa, Zaki?”
“Pak Edi sudah tidak tinggal di kota ini lagi. Sudah dua tahun yang lalu beliau pindah ke kampung halamannya. Semenjak pensiun beliau tidak pernah terlihat aktif,” jawab Zaki.
Kalimat Zaki membuatku harus menarik napas berat.
“Katakan dimana dia harus kutemui.”
“Pak Edi, tinggal di tanah Rantau, Non,” sahut Zaki.
“Besok kamu antarkan aku ke sana untuk menemuinya.”
“Kalau mau ke daerahnya kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Tempat tinggalnya memakai waktu 5-6 jam perjalanan dari arah sini.”
“Oke, besok kita akan berangkat ke sana.”
***
Minggu pagi aku dan Zaki berangkat menemui Edi Baskoro mantan bendahara kantor yang bekerja di perusahaan papah. Perjalanan menuju rumahnya cukup memeras waktu 5-6 jam. Waktu lewat setengah hari Zaki dan aku baru tiba di kediaman Edi Baskoro. Setelah melewati proses rangkaian panjang, dan bertanya pada penduduk sekitar. Tempat tinggal Pak Edi akhirnya kami pun tiba.
Siang itu, matahari begitu terik membakar lapisan bumi hingga tampak gersang. Debu-debu jalanan beterbangan tertiup angin. Terlihat pria separuh baya berumur lima puluhan sedang duduk di bawah pohon mangga yang rindang. Mobil yang dikemudikan Zaki tepat berhenti di halaman yang luas. Halaman itu dihiasi aneka tanaman hias seperti bunga bonsai, dan bunga mawar.
“Selamat siang, Pak Edi,” sapaku kepada pria paruh baya itu memberi salam.
Pak Edi tercekat ketika melihatku berdiri tepat di hadapannya. Setelah melepas kacamata hitam aku menjabat tangan beliau.
Pak Edi terkejut melihat kedatanganku. Tidak menyangka kalau aku akan datang jauh-jauh ke rumahnya. Dari Medan ke kota Rantau Prapat.
“Nak Nada!” serunya.
“Apa kabar, Pak?” tanyaku mengulas senyum.
“Baik. Ada perlu apa hingga membuatmu jauh-jauh datang ke sini?”
“Tutup poin aja, Pak. Aku tidak akan basa-basi dengan berlama-lama di sini. Karena memang tujuanku sangat penting untuk menuntaskan masalah korupsi,” ungkapku.
Kening Pak Edi berkerut mendengar ucapanku. Raut wajahnya berubah menjadi pias. Ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Korupsi apa yang kamu maksud? Sudah lama saya mengundurkan diri dari perusahaan papamu. Saya tidak ada urusan apalagi masalah korupsi.”
Aku menunjukkan pembukuan kepada Pak Edi, yang sudah terlihat usang.
“Di dalam pembukuan ini jelas ada kecurangan. Penyelewengan dana perusahaan sebesar sepuluh triliun. Dana tersebut ditransfer atas rekening bodong. Bapak pasti tahu siapa yang sudah menggelapkan dana tersebut. Pada masa itu bapaklah yang menjabat sebagai bendahara perusahaan yang dipercaya Papa.”
Pak Edi terdiam sesaat. Netranya menatap sekeliling. Hembusan angin menyapu rambutnya yang sudah ditumbuhi uban. Hingga beberapa menit dia terdiam tanpa sepatah kata pun.
Di menit berikutnya, Pak Edi membuka suara.
“Maafkan Bapak, Nak! Bapak harus mengatakan dengan berat hati kalau yang mencuri uang perusahaan itu adalah suamimu sendiri Rafi.”
“Apa? Rafi?”
Pak Edi mengangguk pelan. “Iya.”
Seraya menyesap rokok kretek, lalu menghembuskannya perlahan. Bau asap nikotin menyebar ke udara membentuk gulungan putih, dan kemudian menghilang dihembus angin sepoi-sepoi
“Jadi pemilik rekening bodong itu adalah Mas Rafi?” tanyaku tak percaya. Hampir saja biji mata ini keluar dari kelopaknya.
Pak Edi kembali mengangguk pelan. “Iya.
“Kenapa Bapak diam saja sewaktu Mas Rafi korupsi dan tidak melaporkan pada Papa.”
Sekali lagi Pak Edi terdiam. Dia menghela napas berat. “Jika Bapak bocorkan rahasia ini, maka nyawa keluarga Bapak taruhannya.”
“Maksudnya?”
“Anak dan istriku ditahan oleh Rafi dan disembunyikan entah dimana. Bapak sudah berusaha mencarinya tapi tidak ketemu. Rafi mengancam jika sampai melapor ke polisi maka dia akan menghabisi keluarga Bapak,” terang Pak Edi dengan gamblang.
“Tidak mungkin,” lirihku.
Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar kalimat Pak Edi yang baru saja diucapkan. Ada apa dengan Mas Rafi? Kenapa dia bisa menjadi pria yang kejam. Bukankah istrinya pengusaha kaya?”
Rasa penyesalan terlihat di wajahnya. Aku tercekat tak mampu mengurai dengan kata-kata. Dugaanku ternyata salah pada Pak Edi. Aku mencurigai Pak Edi tapi nyatanya Rafi adalah dalang dari kebangkrutan perusahaan papah. Aku menikah dengan lelaki musang berbulu domba. Di depanku dia baik hati tapi di belakang menikam.
“Jadi, Mas Rafi yang sudah mencuri uang Papa. Lalu, dia menawarkan hutang pada Papa agar kedoknya tidak terbongkar,” tanyaku tak percaya Tubuh ini ambruk seketika ke tanah.
Napas begitu sesak, satu persatu kebohongan Rafi terungkap. Kejahatan yang dilakukan untuk menjatuhkan perusahaan papah sanggatlah rapi. Tega Mas Rafi mengkhianati.
Musuh dalam selimut, itulah yang pantas dijuluki untuk Rafi. Pak Edi meminta maaf atas ketidak berdayaan dalam menjaga amanah dari papah.
“Nak, sekali lagi Bapak minta maaf karena tidak bisa menjaga amanah papamu,” lirihnya.
“Apa tujuan Mas Rafi melakukan ini, Pak? Sementara dia tahu kalau Papa sudah memberikan kepercayaan padanya mengelola perusahaan.”
Bibirku bergetar menahan tangis. Dada terasa sesak. Tidak menyangka Mas Rafi setega itu menikam papah.
“Rafi, ingin mengambil alih perusahaan papamu.”
“Apa?!
Kembali aku dibuat terkejut. Harta dan kekuasaan sudah menjadikan Rafi seorang mafia.
“Jadi karena itu Mas Rafi kabur ke Singapura dan menikah dengan wanita itu?”
Pak Edi menangguk. “Iya, Nak.”
“Penipu, kamu benar-benar curang, Mas. Kamu membohongiku dan menikamku dari belakang. Menghancurkan perusahaan Papa lalu memberiku anak hasil hubungan gelap,” makiku.
Aku terduduk lesu. Air mata yang sedari tadi mencoba ditahan, akhirnya luluh juga.
Pak Edi iba melihatku yang habis-habisan ditipu oleh Rafi. Kelihaian Rafi dalam bersandiwara sudah sukses. Membuat kehidupanku porak-poranda.
“Nak, Bapak tidak bisa membantumu. Maafkan Bapak karena tidak bisa mengatakan dari awal,” ucap Pak Edi menyesal. Seraya hanya tertunduk tanpa berani menatap mataku.
“Tidak apa, Pak. Setidaknya aku tahu sekarang. Kenapa Mas Rafi melakukan itu. Kolaborasinya bersama Nuri sukses membuatku jatuh dalam kubangan nista,” tuturku.
“Masih ada cara untuk mengembalikan uang yang sudah dicuri,” ujar Pak Edi.
“Caranya?”
“Tim audit keuangan bisa melakukan semua itu.”
Keningku berkerut.
“Apa Bapak masih ingat dimana Bapak menyimpan bukti transferannya?”
“Iya, kamu bisa mencarinya di arsip bekas ruangan Bapak. Di sana ada buku agenda. Bapak menyelipkannya di sana dan tidak seorang pun tahu termasuk Rafi. Walaupun Rafi sudah menyuruhku untuk membakarnya tapi bukti itu masih aman tersimpan,” jelas Pak Edi.
Aku tersenyum semingrah saat mengetahui ada cara untuk membuktikan kejahatan Rafi. Setiap kejahatan pasti selalu meninggalkan jejak sang pelaku. Kejahatan akan mendapat hukuman cepat atau lambat.
***
Bersambung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (85)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagusssssssssss
08/09
0wahh bagus sekali
10/02
0sangat indah
12/07/2025
0Lihat Semua