Beranda/Pelakor Itu Anakku/
Bab 13 Benih Siapa Di Rahim Olive
Siang itu matahari tepat pada titik tertinggi.. Panas menyebar ke mana-mana. Saat itu, Rafi sedang berjalan menuju ke tempat Elan nongkrong, di kafe bersama teman-temannya. Beberapa orang sedang nongkrong di kafe bersama pasangannya masing-masing.
Rafi tidak memedulikan beberapa pasang mata, yang terus memperhatikannya. Dengan penampilan acak-acakkan. Dasi sudah tidak beraturan, lengan kemejanya sudah di gulung ke atas. Kancing baju juga sudah terbuka dua di atas.
Sampai di dalam kafe, Rafi berhenti dan mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Dia mencari sosok Elan yang tengah diincarnya. Matanya, lalu tertuju pada sosok yang tengah duduk di pojokkan bersama teman-temannya ngobrol dan dua orang teman wanita.
Dengan rahang yang mengeras, dan mata menyala merah Rafi menarik kerah baju Elan, dan seketika langsung melayangkan tangannya ke arah Elan.
Bugk.
Satu pukulan melayang ke wajah Elan. Seketika mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
“Dasar bajingan, manusia pecundang. Beraninya kau mencabuli anak gadisku.” Rafi meninju wajah Elan yang satu lagi hingga terkena kelopak matanya. Seketika mata menjadi lebam, dan memar kebiruan.
Teman-temannya yang melihat kejadian itu, langsung melerai keduanya.
“Lepas! Aku belum puas menghajar manusia ini.” Tunjuk Rafi pada Elan yang sudah babak belur dipukuli.
Sudah berulang-ulang kali Rafi memukuli Elan. Hingga teman-teman Elan kesulitan untuk memisahkannya. Hingga datanglah satpam yang mendengar keributan tersebut. Langsung menarik dan menjauhkan Rafi dari Elan.
“Di sini bukan tempat adu otot, Pak. Harap bapak bersikap sopan!” tegas satpam. Rafi masih tidak terima Elan dibela temannya.
“Dia pantas mendapatkannya! Hardik Rafi kesal. Seraya melepaskan tangan satpam tersebut, lalu merapikan kemejanya yang berantakkan.
“Tangkap dia, Pak satpam! Pria ini sudah membuat kegaduhan,” ungkap Elan. Bibirnya yang meneteskan darah langsung dilap, dengan menggunakan ibu jarinya.
“Kaulah yang seharusnya ditangkap karena sudah mencabuli anak di bawah umur,” sahut Rafi.
Prit.
Pak satpam langsung meniup peluitnya dengan nyaring. Semua terdiam tidak ada lagi yang berbicara.
“Stop! Jika kalian masih membuat keributan di sini, maka saya tidak segan-segan menyeret bapak-bapak berdua ke kantor polisi,” ancam pak satpam. Berusaha menengahi perkelahian mereka berdua.
Rafi masih dengan rahang mengeras, dan mata yang menyala merah menatap ke arah Elan. Sementara dadanya naik, turun menahan emosi.
“Seharusnya yang bapak tangkap dia bukan aku,” tuding Rafi kepada Elan.
“Aku tidak mengenalmu sama sekali, bagaimana aku bisa melakukan perbuatan mencabuli seperti yang kau tuduhkan,” sahut Elan. Matanya menatap tajam ke arah Rafi.
“Bohong. Dia bohong, Pak,” bantah Rafi.
Prit.
Sekali lagi pak satpam meniup peluitnya dengan nyaring. Kembali suasana menjadi hening. Tidak ada dari Rapi maupun Elan yang angkat bicara.
“Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam. Karena para pelanggan akan terganggu dengan keributan ini. Ayo ikut saya ke dalam! Kita selesaikan masalah kalian baik-baik,” kata pak satpam sembari menunjukkan ruang kantor, yang ada di kafe tersebut.
Rafi dan Elan mengikuti langkah satpam tersebut ke dalam kantor. Di dalam kantor tersebut mereka di sidang, dan di hadapkan berdua. Sementara bos pemilik kafe tersebut menjadi penengah, dan juga saksi adalah pak satpam.
“Ada apa ini? Kenapa Pak Iksan membawa mereka ke sini. Siapa mereka, Pak?” tanya pria separuh baya berwajah karismatik.
Yang tak lain adalah pemilik kafe. Pak satpam yang biasa bertugas di depan pos penjaga, biasa di sebut Pak Iksan.
“Mereka berdua sudah membuat keributan di dalam kafe, Pak. Saya membawa kemari untuk menyelesaikan masalah mereka berdua agar bertanggung jawab terhadap kerugian yang kita alami,” terang Pak Iksan yang berumur empat puluhan itu dengan gamblang.
Kening pemilik kafe berkerut.
“Apa benar yang dikatakan Pak Iksan tersebut?” tanya bos pemilik kafe secara bergantian memandang Rafi dan Elan.
Hening.
“Maaf, Pak Henry, pria inilah yang memulai membuat kerusuhan.” Tunjuk Pak Iksan mengarah pada Rafi.
Rafi mendengkus.
“Dia pantas mendapatkannya,” sahut Rafi.
“Apa katamu?” Elan berdiri dengan mengepalkan tinju.
“Tenang bapak-bapak, tenang! Kita bisa bicarakan masalah ini dengan cara baik-baik tanpa kekerasan!” seru Pak Henry.
Rafi dan Elan kembali duduk di tempatnya masing-masing. Tanpa saling berhadapan.
“Ceritakan apa masalahnya,” ucap Pak Henry mengarah pada Rafi.
Rafi mengalihkan pandangannya kepada Elan sembari mengepalkan tinju. Wajahnya masih terlihat memerah. Ada dendam yang ingin segera dituntaskan.
“Pria ini sudah mencabuli anak di bawah umur, Pak,” tukas Rafi.
“Apa maksudmu mencabuli di bawah umur hh?” tanya Elan bingung.
“Dasar pria mesum. Sudah salah tidak mau mengakui,” tuding Rafi.
“Hei, jaga mulutmu kalau bicara! Aku tidak kenal sama sekali denganmu. Lantas bagaimana kamu bisa menuduhku mencabuli?” tanya Elan. Rahangnya mengeras, dan sorotan matanya berubah tajam ke arah Rafi.
“Kau mungkin tidak mengenalku tapi pasti kau mengenal Oliv bukan?”
“Oliv ?”
“Iya, Olivia Zahra adalah anak kandungku. Dan kau sudah mencabulinya hingga kini Oliv hamil,” jelas Rafi.
Mata Elan membelalak seakan mau keluar dari kelopaknya. Tidak disangka kalau pria yang memukulnya adalah ayah kandung—Oliv.
“Apa hamil?”
“Jangan pura-pura bodoh, Elan. Kaulah yang sudah membuatnya hamil’ kan?” tuding Rafi.
“Hahaha. Kamu salah orang.”
Elan tertawa dengan keras. Seketika mereka yang melihat Elan hanya terbengong bingung. Bagaimana reaksi Elan bisa tertawa, saat mendengar gadis yang sudah digauli selama setahun bisa hamil.
“Itu bukan anakku!” sergahnya.
“Apa?”
“Kenapa? Kaget?” tanya Elan mendengar reaksi Rafi yang tak percaya dengan pengakuan Elan.
“Dasar pecundang.” Rafi melayangkan tinjunya sekali lagi ke arah Elan.
Bughk.
Elan terjerembap jatuh dari tempat duduknya sejauh dua meter. Namun, tidak berusaha untuk membalas.
Melihat kegaduhan itu kembali, Pak Henry dan Pak lksan langsung melerai keduanya.
“Hentikan! Bapak jangan main kasar main pukul seenaknya. Negara kita punya hukum. Atas perbuatan Anda kami bisa melaporkan kekerasan yang Anda lakukan,” ucap Pak Henry menengahi.
“Sebaiknya bapak jangan emosi. Kita dengar dulu penjelasan dari dia,” ujar Pak Iksan menunjuk ke arah Elan.
Elan bangkit, lalu kembali duduk sembari mengusap wajahnya.
“Asal kau tahu saja. Dokter sudah memvonis mandul sejak aku menikah dengan Nada. Jadi mana mungkin anak yang dikandung Oliv adalah anakku,” ungkap Elan.
Mata Rafi seakan mau keluar dari kelopaknya, saat mendengar ucapan Elan yang mengagetkannya. Tidak menyangka, kalau benih yang dikandung Oliv tidak jelas siapa bapaknya.
“Apa? Mandul?” Rafi terduduk lemas mengusap wajahnya.
“Iya, aku mandul. Mana mungkin ayah dari bayi Oliv adalah aku,” tegas Elan.
“Sekarang sudah jelaskan, Pak. Kalau tersangkanya bukan dia,” ucap Pak Henry menunjuk kepada Elan.
Rafi masih tergugu lemas. Dia merasa hancur dan malu, saat orang yang sudah dibuat babak belur ternyata bukan orang, yang sudah menghamili putrinya. Dia, lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan kantor itu. Sebelum beranjak pergi Rafi berujar.
“Masukkan semua tagihan ke kantorku. Aku akan mengganti semua kerugian yang kalian alami,” ucapnya sembari mengeluarkan kartu namanya di atas meja kerja Pak Henry.
Setelah itu, Rafi menuju ke tempat parkir. Meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali pulang.
***
“Aaaaaarrrrggggghh ....”
Teriak Rafi meremas rambutnya sendiri.
Saat ini, mobilnya sudah berhenti di depan rumahnya.
Setelah dari kafe, Rafi memutuskan untuk kembali pulang dan menanyakan kebenaran kepada Oliv. Siapa ayah bayi yang dikandung.
Pikirannya sedang berkecamuk. Memikirkan masalah yang sedang dihadapi. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Olive.
Rafi kemudian duduk di atas sofa dengan menjatuhkan bobot tubuhnya. Seketika dia berteriak memanggil nama Oliv dengan keras.
“Oliv!” serunya.
Nuri yang mendengar teriakkan suaminya, yang begitu keras segera turun dari kamar atas, dan menghampiri Rafi yang duduk di sofa dengan kesal. Dari belakangnya Oliv mengikuti langkahnya dengan rasa ragu.
“Sayang, ada apa kamu teriak-teriak dengan keras. Hingga menimbulkan getaran,” sarkas Nuri.
“Tanya saja pada anakmu itu. Dia sudah mencoreng mukaku. Aibnya membuat aku malu,” tandasnya.
Oliv tertunduk tanpa berani menatap papahnya. Seraya hanya berdiri mematung di pojokkan.
Rafi kemudian menarik tangan Oliv dengan kasar, lalu mendudukkan secara paksa di hadapannya.
“Katakan dengan jujur! Bayi siapa yang ada dalam kandunganmu, Oliv?” tanya Rafi geram. Dia menggebrak meja dengan kuat hingga kacanya hancur, pecah berkeping-keping berserakan ke lantai.
Hening.
Oliv tidak berani menjawab dan masih menundukkan wajahnya.
“Jawab, Oliv! Siapa ayah—bayi yang kamu kandung itu hh?” Rafi bertanya lagi.
“Oliv, ti … tidak tahu, Pa,” jawab Oliv gugup.
Bibirnya ikut gemetar menahan takut. Mata Rafi bagaikan singa yang kelaparan menatap tajam ke arah Oliv. Dia siap memangsanya kapan saja.
“Jangan bohong Oliv! Papa, sudah mengorek keterangan sama Elan, kalau dia sudah divonis dokter mandul sejak menikah dengan Nada. Tidak mungkin Elan yang menghamilimu bukan?” lagi-lagi Rafi bertanya dengan nada yang tinggi.
“Sayang, jangan pakai emosi! Saya, tidak mau kamu darah tinggi dan stroke kalau pakai emosi,” ujar Nuri mengelus bahu suaminya. “Mari kita bicarakan secara baik-baik!”
“Aku tidak bisa tenang sebelum Oliv, mengatakan siapa ayah dari bayi yang dikandung,” tegas Rafi. Wajahnya masih merah padam menahan amarahnya yang memuncak.
“Hiks … hiks.”
Oliv menangis. Sedikit pun dia tidak berani angkat bicara pada kedua orang tuanya. Oliv takut mengatakan hal yang sejujurnya siapa ayah—bayi yang dikandung. Dia sudah merasa bersalah kepada Nada, karena menghancurkan rumah tangga ibu, yang merawat serta membesarkannya dari bayi.
Oliv kemudian, berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, dan menutupnya dengan keras. Tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Rasa bersalah itu sudah membuat Olive rendah di hadapan ibu tirinya.
“Oliv!” panggil Rafi dengan berteriak. “Jangan pergi! Papa belum selesai bicara!” sergah Rafi. Rafi, lalu menarik dasinya dengan kasar dan membuangnya asal.
Nuri hanya mengelus dada melihat masalah, yang menimpa rumah tangganya. Penyesalan kini datang saat dia melihat anaknya hamil di luar nikah. Dalam hatinya dia menyesali, karena sudah menyerahkan hak asuh Oliv kepada Nada sebagai ibu asuhnya.
Saat itu, Nuri merasa tidak sanggup karena harus merawat bayi kembar yang dilahirkan. Bayi kembar itu dua-dua berjenis perempuan yang diberi nama Oliv dan Ovi. Oliv bayi kembar yang dilahirkan pertama. Sementara adiknya yang bernama Ovi lahir, lima menit kemudian menyusul Oliv.
Tapi dokter mengatakan bayi yang dilahirkan kedua ada masalah dengan jantungnya. Jantung Ovi mengalami kelainan, sehingga harus diadakan operasi pembedahan dan perawatan intensif. Pada saat itu, Nuri memutuskan untuk mengasuh Ovi saja.
Sedangkan Oliv dia berikan pada Nada, karena pada saat itu, Nuri mendengar Nada kehilangan bayinya akibat kecelakaan. Memberikan bayinya pada Nada untuk diasuh. Dia putuskan setelah melalui proses pertimbangan, dan disetujui oleh Rafi. Agar hubungannya tidak diketahui oleh Nada.
Saat itu, Nada masih belum sadar akan bayinya yang sudah ditukar oleh Rafi. Bayi yang dilahirkan Nada meninggal dalam kandungan, tetapi dokter yang merawat Nada telah disuap oleh Rafi. Agar tidak membocorkan rahasia itu.
***
Bersambung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (85)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagusssssssssss
08/09
0wahh bagus sekali
10/02
0sangat indah
12/07/2025
0Lihat Semua