Jane keluar dari ruang sidang nyaris tanpa masalah. Terhitung sejak pertama pengajuan proposal skripsinya, dia memerlukan waktu kurang dari tiga bulan sampai selesai sidang yang mengambil jadwal di periode pertama dari tiga periode yang disediakan. Waktu yang sangat cepat, ditambah dia baru masuk pertengahan semester tujuh. Jane melangkah tenang melewati berpasang mata yang menatapnya penuh kagum sekaligus iri. Sebagian besar teman sekelasnya, apalagi satu angkatan masih mengambil mata kuliah. Beberapa sambil mengulang mata kuliah yang belum lulus dan sebagian lain sambil mengajukan proposal skripsi. Namun sebagian mahasiswa yang kurang beruntung atau malas masih berjibaku untuk menyelesaikan deretan mata kuliah wajib. "Selamat sarjana baru kita!" Dina menyambut dengan kedua tangan terentang. "Apaan si," sahut Jane, namun tak urung tangannya terentang jua. "Kamu harus menyusul semester depan." Dina tersenyum sendu. "Aku ingin. Tapi rasanya sulit." "Hei! Ada apa denganmu? Yakinlah! Kamu pasti bisa!" Jane meremas erat bahu Dina yang ada dalam rangkulannya. Dina tersenyum tipis, lantas berkata mengalihkan topik. "Sepertinya ada yang mau menraktirku makan siang." Sambil mengedipkan sebelah matanya, dia mengubah wajahnya menjadi ceria. "Tentu. Silakan, kamu yang pilih tempat," sahut Jane dengan senyum lebar. Senyum lebar dan lepas pertama darinya, dan itu cukup memukau beberapa orang di sekitar mereka terutama pria termasuk Dina sendiri. Banyak pria tak menyadari pesona Jane, meski mengakui dia manis dalam kadar pas dan menyenangkan, namun wajah angkuh dan dingin yang selalu terpasang membuatnya seolah tak terjangkau. Sikap dan pembawaan Jane memang sangat menggambarkan wanita elegan yang berkelas, apalagi ditunjang wajahnya yang begitu mulus. "Jangan sampai kamu menyesal!" Mereka berdua berjalan sambil berangkulan. Sementara itu tak jauh dari mereka, dua orang mengamati interaksi keduanya. Tampak senyum lega tersungging di bibirnya. "Bos yakin tidak akan mengucapkan selamat?" Tiger menatap bos kecilnya di samping dengan wajah prihatin. Luki masih terus menatap Jane dengan senyum lembut. "Dia sudah berhasil. Apa rencananya setelah ini?" "Dia belum mengatakan secara detail. Tapi dia pernah menyebut keinginannya untuk melanjutkan pendidikan," Tiger menjawab ragu. "Kabulkan keiinginannya." Luki mengangguk mantap sebelum berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Tiger yang hanya bisa menggeleng pelan. "Kamu yakin tak apa-apa aku memilih kafe ini. Sebenarnya aku..." "Sudahlah, cepat pesan!" Jane memberi kode dengan dagunya ketika pelayan mengantar menu ke meja mereka. Dina menatap Jane sekali lagi sebelum akhirnya menunduk menekuni daftar menu yang ada di tangannya ketika dilihatnya Jane mengangguk mantap. Dina tampak terbelalak sejenak, lalu beringsut pelan mendekati Jane. "Ini terlalu mahal, sebaiknya kita pindah ke kafe kampus saja ya," bisiknya. Jane menggeleng sambil terkikik. Lalu mengambil alih daftar menu dari tangan Dina. Setelah menekuni sejenak, Jane menaikkan tatapannya pada pelayan di sisi mereka. "Aku pesan capucino, red velvet cake, dan double beef steak." Lantas melirik Dina. "Temanku pesan... -" "Steak sama orange juice aja," jawab Dina sedikit tergagap. Lagi-lagi Jane terkekeh. "Kamu tidak akan kenyang. Pesan satu lagi!" "Eh?" Dina menjadi lebih tergagap lagi. "Biasanya kamu suka sosis bakar atau pisang penyet atau...puding apa itu?" pancing Jane sambil mengernyit. Dia benar-benar lupa nama makanan. "Pesan ketiganya?" "Tidak, tidak...," Dina cepat-cepat menjawab. "Baiklah pisang saja." Akhirnya dia menyerah atas desakan seperti ini. Jane masih mengajak Dina bercanda dengan mengingat beberapa kejadian lucu yang dialami teman-teman mereka ketika ujian skripsi. Dina sendiri sedikit tertegun sambil menatapnya, dia hanya mendengar sambil beberapa kali menimpali. Tidak biasanya Jane banyak bicara seperti sekarang. Mungkin karena sedang dalam suasana hati yang baik. Pasti begitu! Tak lama seorang pelayan membawakan pesanan mereka. "Jane?" "Rama?" "Iya. Aku bekerja di sini untuk sementara waktu," Rama buru-buru menjawab, seperti bisa menduga pertanyaan apa yang ada dalam benak Jane. "Kamu sudah lulus kan?" tanya Jane sambil mengangguk. "Baru saja. Mundur satu tahun." Rama menghela napas seolah ada beban di tiap kata ketika menjawab. "Kamu mestinya tahun depan ya?" "Dia baru selesai sidang. Jadi bisa ikut wisuda bulan depan." Kali ini Dina yang menjawab. "Wow! Berarti kamu lulus semester tujuh. Keren!" puji Rama tulus. "Apa kabar Max?" Tiba-tiba dia mengalihkan topik. "Dia baik, sangat sehat. Kamu sendiri?" Jane tulus bertanya. "Aku baik saja," Rama menjawab singkat. Senyumnya yang dipaksakan membuatnya tampak aneh. Namun demi melihat kerutan di kening Jane, dia menambahkan. "Mungkin hanya sedikit lelah. Yaudah, aku permisi dulu." Rama buru-buru pamit. Sementara Jane dan Dina masih menatap punggung Rama yang berjalan menjauh. "Menurutmu bagaimana?" Dina bertanya seraya melirik Jane sekilas. "Bagaimana apanya?" Jane sedikit tergagap, lantas menoleh. "Jangan pura-pura Jane! Kamu juga pasti heran sepertiku. Kenapa seorang penerima beasiswa sepertinya bisa mundur lulusnya, iya kan? Lagian apa yang dia kerjakan di sini? Meski dia sudah yatim piatu, konon katanya peninggalan orang tuanya masih bisa untuk membiayainya sampai lulus pasca sarjana." "Orang punya masalahnya sendiri Din, kita tidak perlu tau." Dina menaikkan alisnya. "Bohong kalau kamu bilang tidak penasaran," cibirnya. "Ya, oke. Aku memang sempat heran dan penasaran tadi. Tapi kamu lihat sendiri tadi, dia seolah menghindari kita. Jadi, untuk apa memaksa?" Dina mengangguk, mengiyakan jawaban Jane yang dia nilai masuk akal. "Sudah, ayo makan!" ajak Jane menatap makanan yang terhidang di depan mereka dengan mata berbinar. "Keliatannya enak," ucapnya seraya mengampil pisau dan garpu di samping piring. "Tentu saja, makanan mahal," sarkas Dina. "Hei! Kamu merusak selera makanku!" protes Jane. Dina mengangkat tinggi tangannya. "Maaf." Obrolan diantara mereka untuk sementara tertunda. Mereka menikmati makan dalam diam, hanya sesekali terdengar gumaman diantara keduanya. "Tidak buruk," komentar Jane pelan seraya mengelap ujung bibirnya. "Ini enak," tanggap Dina dengan mulut penuh, membuat Jane terkikik. Namun tawanya Jane berganti dengan wajah tegang seketika, membuat bingung Dina yang mengira ada sesuatu yang salah dengan wajahnya. Ketika akan bertanya, baru dia sadari bahwa bukan dia yang membuat wajah Jane berubah. Dina mengikuti arah pandangnya. Matanya menyipit. "I...itu Lila?" ucapnya tak percaya. Tidak ada tanggapan apapun dari Jane. Dia hanya mengamati gerak gerik Lila yang sepertinya tidak menyadari keberadaan mereka. "Rama?" Kali ini Jane yang bergumam heran. Di sudut teras, Rama tampak keluar menemui Lila dengan wajah kikuk. Sesekali dia melirik ke meja mereka. Tanpa komando baik Jane maupun Dina akan pura-pura menekuni makan mereka ketika tak sengaja kepergok memandangi mereka. Tak lama mereka berbincang, dari gerak tubuhnya Rama tampak mengusir Lila. Meski tampak enggan, akhirnya Lila pergi juga. "Kita buntuti dia?" usul Dina. "Hm?" tanggap Jane asal tanpa menoleh. "Heh! Ayo!" desak Dina. "Ayo apa?" tanya Jane, akhirnya menoleh. "Kita buntuti dia!" desis Dina. "Dia siapa?" "Ck siapa lagi? Lila!" "Big no! Tidak!" tegas Jane sambil menyilangkan tangannya. "Kecuali kamu ingin mereka sekap lagi seperti terakhir kali." Wajah Dina pias mengingat saat itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerja bagus
05/03
0bagus
28/02
0ini bagus ceritanya
04/11
0Lihat Semua