Anella keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah sedikit ditekuk. Mulutnya menggerutu tidak jelas. Ketiga sahabatnya menyambutnya dengan wajah penuh tanya. "Ada apa?" tanya ketiga sahabatnya serentak. Anella mengangkat tangan dan berjalan melewati ketiga sahabatnya itu. Tentu saja dengan tergesa, ketiga sahabatnya itu mengekorinya. "Hei, Nel. What's wrong, Nel?" tanya Rajulia sambil menjajari langkah Anella yang tergesa. "Nel, ada apa? Jangan bikin takut," ujar Evi sambil menatap Anella yang diam tanpa jawaban. "Kita bicara di kantin saja. Aku sudah meminta ijin untuk membahas ini," jawabnya dengan nada cepat. Anella berucap sambil berbalik menatap ketiga sahabatnya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat ketiganya kaget dan Evi malah sampai menubruk Rajulia. "Aduh, Nel. Bikin kaget saja!" jerit Evi dengan muka kaget. "Ya, ampun. Jangan suka bikin kaget, Nel!" teriak Rajulia. Fanya dan Anella menatap mereka dengan tawa ditahan, lalu Anella mengangkat dua jarinya yang membentuk hurup V. "Jadi, kita ke kantin?" tanya Fanya kemudian. "Ya, kita bahas di sana saja," ujar Anella dengan senyum. Mereka beriringan menuju kantin, setelah mereka mengangguki jawaban Anella. Mereka berjalan dalam diam, seolah-olah ingin cepat sampai. Mata gadis itu mendelik kesal, begitu memasuki kantin. Wajahnya terlihat menegang, ada debaran yang menyelusup ke dalam dadanya. "Kalian tunggu. Maksudku, duduk saja di sini. Aku harus bicara dulu dengan dia," ucap Anella sambil menunjuk sosok berambut ikal gondrong yang sedang asik menghisap rokoknya. "Nel, kau yakin?" tanya Rajulia sambil menatap khawatir Anella. "Apa tidak jadi masalah, Nel?" tanya Fanya sambil matanya beralih ke lelaki gondrong yang terlihat santai itu. "It's okay. Kalian tunggu saja, aku hanya sebentar," ujar Anella dengan nada tenang. Ketiga sahabatnya menuruti keinginan Anella dan mereka hanya memandang cemas Anella yang dengan langkah ringan menuju ke arah lelaki itu. "Seharusnya kau tidak merokok di kantin," ucap Anella ketus begitu dia berhadapan dengan wajah tampan pemilik mata biru gelap itu. Lelaki itu hanya tertawa pelan seolah mengejeknya. Tatapan tajam matanya membuat jantung Anella berdegup lebih keras. Gadis itu sampai meringis karenanya. "Gua tadi udah dikasih tau," ucap lelaki itu santai. Ada smirk terpampang di bibirnya yang asyik mengepulkan asap rokok. "Kalau sudah tahu kenapa masih juga merokok?" tanya Anella sambil duduk di depannya. Lelaki itu tertawa pelan, matanya menatap tepat ke manik mata hijau terang Anella. Gadis itu menjadi sedikit gelagapan. "Suka-suka gua." Jawaban lelaki itu membuat Anella mendengus kesal. Lelaki itu terkekeh, lalu dia dengan tenang bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. "Axel, tunggu. Axel, minggu depan ada jambore bakti sosial. Kau harus ikut karena nantinya harus ada laporan setelah acara itu sebagai salah satu syarat kelulusan," ujar Anella dengan nada tinggi yang menghentikan langkah lelaki itu. "Kau harus ikut, Axel!" ulang Anella tegas setengah berteriak. Lelaki itu menatap Anella. Kepalanya menggeleng tegas dengan tatapan mata dingin dan wajah yang datar tanpa ekspresi. "Tapi, Axel. Kau sekelompok denganku. Aku ketua kelompoknya dan bertanggung jawab atas semua anggotanya," tutur Anella dengan nada kesal. Lelaki itu hanya menatap Anella dengan riak mata yang sulit untuk Anella artikan, lalu dengan wajah datarnya melanjutkan langkahnya. "Oh my gosh, Axel!" Teriakan Anella tidak membuat lelaki itu menoleh, apalagi menghentikan langkahnya. Dengan kesal Anella pun menghampiri ketiga sahabatnya yang menatapnya penasaran. "Good news and bad news," ucap Anella bernada kesal, gadis itu berdecak. "Maksudmu?" tanya Rajulia tidak mengerti dengan maksud ucapan Anella, begitu pun Fanya dan Evi. "Lelaki itu, Axel. Dia sekelompok dengan kita dalam acara jambore bakti sosial," ucapnya pelan, suara gadis bernada frustasi. "Ehm, bad news," celetuk Fanya yang diangguki Anella, Rajulia dan Evi. "Kita jadi jambore bakti sosial di kampung nelayan," ujar Anella dengan senyum, matanya terlihat begitu berbinar "Yes, pantai. Good news!" teriak ketiga sahabatnya senang. Kehebohan mereka pun menarik Arumi, si penjaga kantin untuk mendekat. "Kalian jadi ke kampung nelayan itu?" tanyanya ramah sambil memandang satu persatu wajah ceria mereka. Serentak gadis-gadis itu pun mengangguk cepat dengan senyum masih menghias bibir mereka. Keceriaan begitu kentara di wajah mereka. "Axel ikut juga?" tanya Arumi kemudian. Dengan senyum memudar mereka mengangguk. Arumi tersenyum mengerti, wanita itu menatap gadis-gadis itu. "Sebenarnya dia anak baik. Aku sering membantu ibuku yang bekerja di rumahnya tapi dia berubah seperti itu sejak..." "Arumi, tolong segera pergi ke pasar. Sebentar lagi makan siang dan tissue kita habis." Pak Donny, ayah Arumi memotong ucapan wanita itu. Entahlah itu sengaja atau tidak yang pasti dia sudah menghentikan cerita yang sedang Arumi sampaikan. "Okay, Pap. Aku harus ke pasar dulu, nanti kita bicara lagi." Arumi berlalu meninggalkan rasa penasaran di benak keempat gadis itu. Mereka saling menatap sepeninggal Arumi tapi tidak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Sampai Jorgie hadir diantara mereka dan memecah diamnya mereka. "Bagaimana hasilnya dengan kepala sekolah?" tanya Jorgie sambil mengambil tempat disebelah Anella. Tangannya dengan ringan merangkul bahu Anella yang segera saja ditepis gadis itu. Jorgie terlihat tertawa tanpa merasa bersalah. "Kita jadi pergi ke kampung nelayan," ucap Anella yang disambut pekikan 'yes' oleh Jorgie. "That's a good news and the bad news is...." "Kita sekelompok dengan bocah baru yang nakal, sombong dan menyebalkan itu." Rajulia memotong ucapan Evi yang ditanggapi anggukan oleh Fanya dan Anella. Jorgie terdiam. Wajahnya berubah lesu. Anella terkekeh menatap wajah ganteng seorang Jorgie yang jadi tidak bersemangat, Fanya dan Evi juga ikut tertawa. "Kau lucu dengan wajah seperti itu," ucap Anella di sela-sela kekehannya. "Eehh, kau ini. Memangnya aku badut," ketus Jorgie sambil berlalu. Anella dan ketiga sahabatnya tertawa geli melihat Jorgie pergi dengan muka kesalnya, mereka tidak sadar bahwa kelakuan mereka ditatapi mata tajam lelaki berambut gondrong dari kejauhan. "Crystal," desis lelaki itu sambil menarik ujung bibirnya sebelah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (101)
GibPratama
seseorang laki laki yang sangat keras kepala sekali ia sudah dibilangin jangan merokok sama cewek nya tapi masih Aja merokok, cewek bilangin gitu karena cewek nya khawatir kalau kejadian aneh aneh yang menimpa cowok nya, cowok nya sangat beruntung mempunyai cewek yang sangat peduli atas kesehatan dan keselamatan cowok nya,andai aku punya cewek seperti itu aku pasti akan mendatangi kedua orang tua nya dan akan melamar nya menjadi istri ,tapi alur cerita ini sama seperti kehidupan manusia tiap har
seseorang laki laki yang sangat keras kepala sekali ia sudah dibilangin jangan merokok sama cewek nya tapi masih Aja merokok, cewek bilangin gitu karena cewek nya khawatir kalau kejadian aneh aneh yang menimpa cowok nya, cowok nya sangat beruntung mempunyai cewek yang sangat peduli atas kesehatan dan keselamatan cowok nya,andai aku punya cewek seperti itu aku pasti akan mendatangi kedua orang tua nya dan akan melamar nya menjadi istri ,tapi alur cerita ini sama seperti kehidupan manusia tiap har
17/08/2025
0Baguss
09/06/2025
0sangat mantul
12/03/2025
0Lihat Semua