logo text

Bab 68 MELAWAN SILUMAN RUBAH

"Berlindung di belakangku!" perintah Yu Ping tanpa ekspresi seraya memindahkan tubuh ramping Qi Yue ke belakang punggungnya. Gadis itu tak habis pikir mengapa hembusan angin begitu kuat sama sekali tak menggoyahkan Yu Ping.
Dari arah berlawanan angin berhembus, berkelebat tiga sosok bayangan terbang ke arah Yu Ping. Setelah semakin dekat, terlihat bahwa ketiga sosok tersebut adalah wanita-wanita berparas cantik mengenakan gaun sutera halus dan selendang senada menjuntai di kedua lengan.
Wanita di sebelah kiri bergaun biru, di tengah bergaun putih, dan di sebelah kanan bergaun merah. Lekuk tubuh mereka sangat indah dan gerakannya pun menggoda.
Mereka mendarat anggun di depan Yu Ping, si pemuda dapat merasakan hawa siluman memancar dari ketiga wanita itu.
“Hati-hati, mereka siluman rubah!” Dilong memperingatkan, “Kau butuh bantuanku?”
Yu Ping menggeleng, “Akan kuhadapi mereka sendiri.”
Wanita berparas paling cantik yang berada di tengah, merupakan kakak tertua sekaligus pemimpin dari dua siluman rubah lainnya. Rambut panjangnya digelung sebagian ke atas berhiaskan tusuk konde giok, wajahnya simetris dengan dagu lancip dan kulit putih. Bahkan terlalu putih untuk manusia normal.
Siluman Rubah Putih atau dipanggil Huli Bai tersenyum mengancam seraya melirik pada kedua adiknya, “Adik Lan, Adik Hong … coba lihat apa yang kita temukan di sini? Sekelompok pelancong bodoh berani berkeliaran di wilayah kita.”
Kedua adiknya Huli Lan dan Huli Hong menyeringai, mata mereka nyalang memindai para pria yang mengelilingi kereta seperti harimau kelaparan.
“Daging mereka pasti empuk karena kelihatan masih muda dan gagah,” imbuh Huli Lan, “Tidak seperti mangsa kita kemarin, dagingnya sudah alot.”
Mendengar percakapan mengerikan ketiga wanita jadi-jadian itu, para tukang angkut menciut ketakutan.
“Jangan lari, kita saling melindungi!” kata Xue Yi menenangkan mereka meski sebenarnya ia juga ngeri berhadapan dengan siluman pemakan manusia.
Yu Ping maju dengan berani, suaranya tenang tak tergoyahkan oleh ancaman ketiga siluman rubah. “Kami tidak ingin mencari konflik, izinkan kami lewat dengan damai dan kalian tidak akan dirugikan!”
Huli Bai tertawa kejam, tawanya menggema menambah kengerian para pendengarnya. “Kami tidak pernah melakukan negosiasi. Kalian telah masuk wilayah kami tanpa izin, maka kini bersiaplah menerima konsekuensinya!”
Dengan gerakan menyeramkan, Huli Bai merapalkan mantra Pengikat Sukma. Tiba-tiba tubuh rombongan ekspedisi termasuk Putri Qi Yue tak dapat digerakkan, seperti diikat oleh tali tak kasat mata.
Huli Bai menyeringai puas menyaksikan kepanikan seluruh mangsanya, namun ujung-ujung bibir wanita siluman itu mendadak turun ketika menyadari Yu Ping tak terpengaruh dengan mantra sihir Pengikat Sukma.
Sebuah benda misterius berwarna keemasan keluar dari lengan baju si pemuda pemberani, bergerak turun ke genggaman. Apakah itu seruling? Ketiga siluman rubah memandang Yu Ping dengan waspada.
“Baiklah, bila pertarungan yang kalian inginkan … dengan senang hati aku layani!” mata Yu Ping menyipit. “Genderang perang telah dipukul, tak ada jalan untuk mundur!”
Huli Bai takjub melihat betapa percaya diri pemuda yang berani menantangnya bertarung ini. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa yakin dapat mengalahkan tiga siluman rubah berusia seratus tahun?
“Besar sekali nyalimu, Bocah!” bentak Huli Hong sambil menuding Yu Ping.
Pemuda itu dengan tenang mengangkat serulingnya dan mendekatkan lubang di bawah bibir.
Huli Bai dan dua saudarinya baru hidup seratus tahun sebagai rubah dan baru saja bisa berubah wujud menjadi wanita cantik. Mereka tidak tahu seruling apa yang sedang dipegang manusia gagah berani di depan mata. Tetapi naluri siluman mereka mencium bahaya.
“Aku merasa kita salah memilih mangsa, Kakak Bai!” bisik Huli Lan gentar, “Ada aura dari langit yang terpancar dari seruling itu, pemuda ini pasti bukan lawan yang mudah.”
Yu Ping dengan tenang meniup serulingnya, terdengar alunan musik lembut nan indah. Huli Bai memperhatikan lebih seksama seruling emas yang dimainkan Yu Ping, ia terkejut melihat hiasan naga di atasnya. Meski tak pernah melihat langsung, namun sebagai siluman ia sudah pernah mendengar kisah tentang kesaktian Seruling Sakti Sang Naga.
Seketika ciut nyali rubah berusia seratus tahun itu, tetapi bila kabur dari manusia sungguh memalukan bagi dunia siluman.
Irama mengandung tenaga chi mengirimkan gelombang suara ke telinga ketiga rubah siluman. Perlahan wajah ketiganya berubah, menjadi wujud asli rubah. Dua telinga berbentuk segitiga mencuat ke atas, bibir bergerak maju ke depan membentuk moncong, dan wajah mulai ditumbuhi bulu-bulu.
“Bunuh Dia!” teriak Huli Bai marah, taring-taringnya menonjol dari mulutnya yang melebar ke belakang.
Secepat kilat, ketiga bersaudara menyerang Yu Ping bersamaan. Cakar-cakar mereka menebas udara dengan kecepatan mematikan.
Yu Ping bergerak menyerupai bayangan, sulit untuk ditangkap. Tubuhnya menghindar dengan lincah kesana kemari, hingga tak ada satupun cakar siluman rubah yang sanggup mengenainya.
Bahkan ketiga siluman itu dibuat bingung berputar-putar hingga kelelahan sendiri. Huli Bai kembali merapal mantra ilusi kematian, pemandangan hutan berubah menjadi alam lain yang gelap dan suram.
Tanah yang dipijak Yu Ping tiba-tiba berubah menjadi lubang vortex, menarik sang murid dewa naga Fucanglong meluncur ke bawah, ke dalam kegelapan tak berujung.
Terdengar tawa kemenangan Huli Bai dan dua saudarinya, sama-sama mengira telah menghabisi nyawa pemilik seruling dewa itu.
Huli Lan mendekati Qi Yue, mengangkat lengan sang putri dan meraba kulitnya yang mulus.
“Aduh, mulus dan harum sekali … rasanya pasti sangat lezat!” Huli Lan menjilati taring-taringnya, Qi Yue ketakutan setengah mati hingga menangis tanpa suara.
“Jangan bunuh dia, kalian makan aku saja!” teriak Xue Yi pasang badan. Qi Yue terkejut dan terharu mendengar kata-kata patriot Xue Yi. Selama dibesarkan di lingkungan istana, ia tidak pernah menemukan seseorang yang rela mengorbankan diri demi orang lain seperti kepala Ekspedisi Naga Merah ini.
Huli Hong melompat dan berdiri di depan Xue YI, menyeringai buas, “Tidak perlu, kau bagianku!”
Di saat kritis, terdengar bunyi seruling yang makin lama makin kencang. Bunyi seruling tersebut hanya bisa didengar oleh para siluman, sedangkan telinga Xue Yi dan Qi Yue tak menangkap apa-apa.
“Aarghh … telingaku sakit!” pekik Huli Lan kesakitan. Siluman yang merupakan adik bungsu Huli Bai berguling-guling di tanah kesakitan seraya memegangi sisi kepalanya.
Huli Bai dan Huli Hong tak berdaya menolong, karena mereka sendiri tengah menghimpun tenaga dalam untuk menghalau serangan gelombang suara yang dikirim dari bawah lubang vortex.
Mantra ilusi memudar, kini mereka berada lagi di hutan. Huli Bai dan Huli Hong muntah darah karena luka dalam, mereka berusaha bangkit ketika Xue Yi dan dua rekannya yang telah terbebas dari mantra Pengikat Sukma merangsek maju.
Xue Yi mengayunkan kedua golok di tangan, menyerang Huli Hong dari dua arah. Goloknya menyambar-nyambar seperti kilatan cahaya berusaha menebas kepala Huli Hong dengan sangat marah.
Huli Hong yang mengalami luka dalam berat mulai kewalahan, beberapa kali berhasil menghindar namun berikutnya lengan dan bahu tergores golok.
"Adik Hong, lari!" teriak Huli Bai seraya merapal mantra kabut asap. Begitu pandangan lawan terganggu, Huli Bai melompat terbang melarikan diri.
Huli Hong melompat berniat menyusul sang kakak tetapi tebasan golok Xue Yi tepat mengenai punggungnya.
Huli Hong jatuh ke tanah dan tewas, wujudnya berubah kembali menjadi seekor rubah.

Komentar Buku (205)

  • avatar
    AkbarAbji

    keren

    28d

      0
  • avatar
    Khairurrizani

    bagus

    11/08

      0
  • avatar
    SILALAHIDESI

    novel yang sgt menarik

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru