logo text

Bab 48 MUNCULNYA SANG KAKAK

"Aku ingin mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu, maukah kau menjadi kekasihku?" bisik pemuda tampan itu lembut.
Semburat merah menghiasi wajah Qing Ning, perasaan campur aduk menjadi satu. Terharu, bahagia, sedih, bingung, dan malu menjadi satu.
Gadis cantik itu bahagia tentu saja karena harus ia akui juga telah memiliki rasa yang sama pada pendekar muda di hadapannya. Tetapi ia juga sedih dan bingung karena belum bisa melupakan Yu Ping sepenuhnya.
“Mengapa kau terdiam?” Qi Yun menatapnya mesra, “Tidakkah kau memiliki rasa yang sama denganku?”
“Kakak Qi, aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya,” Qing Ning menjawab dengan suara gemetar.
Untuk pertama kali merasa dicintai membuatnya ingin menangis terharu. Seandainya saja pria yang mengungkapkan cinta adalah Yu Ping, tentu kebahagiaan-nya menjadi sempurna.
“Maaf, aku tidak layak menerima cintamu. Carilah pria yang bisa mencintaimu dengan tulus, karena bukan aku orangnya!” masih terngiang kata-kata terakhir Yu Ping di telinga.
Setiap mengingatnya selalu menyakitkan, kenangan pahit ini harus diakhiri dengan cara melupakan dan memulai kehidupan baru.
"Nona Qing, jangan menangis!" ucapan Qi Yun membuyarkan lamunan Qing Ning. Ia baru menyadari buliran kristal bening berjatuhan dari pelupuk matanya yang basah.
Qi Yun mengusap air mata gadis yang sangat ia cintai dengan ujung jarinya, "Maafkan bila aku menyakiti hatimu, aku tahu cinta tak dapat dipaksakan. Mari kita lupakan masalah ini, aku berjanji tak akan mengungkitnya kembali!"
Qi Yun menangkap keraguan dalam tatapan mata Qing Ning, ia tahu bahwa sedikit usaha lagi gadis itu akan jatuh dalam pelukannya.
Keesokan pagi yang cerah, Qing Ning keluar dari kamar penginapan dengan perasaan segar. Semalam entah bermimpi apa, hanya saja hatinya merasa sangat tenang dan gembira.
Dengan langkah ringan ia menuju kamar Qi Yun yang berada di sebelah kamarnya, jantung tiba-tiba saja berdegup kencang ketika ingin mengetuk.
"Kakak Qi, apakah kau di dalam?" Qing Ning mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan. Akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam, ternyata kamar didapati kosong dan tempat tidurnya-pun tertata rapi.
Qing Ning keluar kamar, kecemasan mulai melanda. Ia menarik seorang lengan pelayan yang kebetulan melewati kamar itu.
"Maaf Pak, apakah Bapak tahu kemana pria yang ada di kamar ini pergi?"
"Oh, Tuan muda berbaju putih? Dia sudah meninggalkan penginapan pagi-pagi sekali." Penjelasan si pelayan penginapan mengguncang batin Qing Ning.
Setelah Yu Ping, kini-pun Qi Yun meninggalkan dirinya. Dengan langkah lesu gadis cantik cucu mantan Ketua Hoa San itu meninggalkan penginapan, ia sangat sedih dan terpukul.
"Mungkin aku memang tak layak dicintai," gumam Qing Ning getir seraya mengusap pipi yang basah oleh air mata.
Mendadak seseorang menyorongkan satu tusuk manisan cherry kepadanya. Gadis itu menoleh dan melihat Qi Yun sedang tersenyum tampan ke arahnya.
"Nona Qing, aku tadi berkeliling mencari manisan untuk ... ouw!" Qi Yun tak menyangka Qing Ning menghambur memeluk tubuhnya.
"Nona Qing, kau tak apa-apa?"
Seketika gadis itu tersadar, ia baru saja melakukan hal yang memalukan, memeluk laki-laki yang bukanlah kekasih maupun saudaranya.
Qing Ning segera menjauhkan diri, wajahnya merah padam. Qi Yun makin terpesona memandang kecantikan gadis yang mampu membuatnya tergila-gila sejak pertama bertemu.
"Kau ... kau jahat!" Qing Ning meremas tangannya sendiri, kesal karena merasa dipermainkan. Ia tak berani menatap mata Qi Yun, khawatir akan mempercepat detak irama jantungnya yang tak beraturan.
"Nona Qing, katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan melakukannya!" bisikan Qi Yun di telinga Qing Ning bagaikan arak yang memabukkan.
Qing Ning tersipu malu, balas berbisik, "Jangan pernah tinggalkan aku lagi!"
Qi Yun meraih dan menggenggam tangan gadis pujannya sambil tersenyum, "Aku berjanji selamanya tak akan meninggalkanmu!"
Mereka berdua saling memandang, berikutnya hanya sorot mata yang berbicara mengungkapkan isi hati.
***
Sesosok bayangan hitam dengan wajah tertutup cadar topi caping yang dikenakannya berlari menaiki gunung Kunlun. Begitu cepat ia berlari, gerakannya seperti terbang melesat di atas rerumputan hijau.
Sosok itu memperlambat larinya ketika mencapai puncak bukit, lalu berhenti di depan sebuah jembatan batu.
Tubuhnya mulai bergetar, perlahan tangan kanannya bergerak ke atas, meraih pinggiran topi caping dan melepasnya dari kepala.
Tampak wajah jelita seorang pendekar wanita muda, berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Pipinya basah oleh air mata melihat ke bawah jurang.
"Yu Ping, maaf Kakak terlambat menolongmu!" ujar gadis yang tak lain adalah Xin Ru, kakak angkat Yu Ping yang terpisah delapan tahun lamanya karena mengikuti Tujuh Malaikat Pencabut Nyawa.
Selama tiga tahun terakhir ia diam-diam berusaha mencari tahu keberadaan adik angkatnya. Setelah mengetahui adiknya berada di Hoa San, ia segera menyusul.
Namun terlambat karena sudah dibawa oleh keempat pendekar ternama menuju Gunung Kunlun. Lalu ia menyewa kelompok Iblis Bayangan untuk menculik Yu Ping.
Tetapi kemarin ia mendapat kabar bahwa misi penculikan adiknya itu gagal karena Yu Ping terjatuh ke dasar jurang dan tewas.
"Selamat tinggal, Adikku!" Xin Ru mengusap pipinya yang basah. Ditebarkannya beberapa kuntum bunga ke jurang sebagai tanda perpisahan.
Sesaat kemudian, gadis itu membalikkan tubuh ramping yang berbalut baju pendekar serba hitam. Ia mengenakan kembali topi capingnya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Kuntum-kuntum bunga yang ditebarkan jatuh ke dalam jurang dengan gerakan zig zag terkena tiupan angin. Sebagian menempel di dahan pohon, dan sebagian lagi melayang semakin jauh ke dasar jurang itu.
Satu kuntum bunga mendarat tepat di antara kedua mata Yu Ping yang terpejam. Perlahan bibirnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.
"Kakak Xin!" gumamnya tak jelas. Antara sadar dan tidak Yu Ping melihat bayangan kakak perempuan yang selalu ia rindukan muncul di depan mata.
Ia tak dapat melihat jelas wajah sang kakak angkat, dan mereka dipisahkan di antara jurang yang lebar.
"Yu Ping, Kakak merindukanmu!" suara kakaknya terdengar lembut dan manis.
" Kakak, aku juga merindukan Kakak! Tunggulah, aku akan mencarimu!" janji Yu Ping. Ia berusaha melompat
melampaui jurang menemui sang kakak.
Xin Ru mengulurkan tangan bersiap menyambutnya. Jari-jari mereka nyaris bersentuhan, ketika tiba-tiba saja seuntai sulur tanaman bergerak naik dari dasar jurang membelit kaki Yu Ping dan menariknya ke bawah.
AARGH!
Yu Ping tersentak bangun dari mimpi buruk, duduk di atas tanah gembur seraya memandang sekeliling. Ia dikelilingi pohon-pohon besar dan dinding batu yang menjulang sampai ke puncak.
Ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya hingga berada di sebuah tempat yang sama sekali asing.
Melihat ke atas, matanya samar-samar menangkap jembatan batu melintang. Ingatan bagaimana Tetua Wang mendorongnya dari atas sana mulai terangkai kembali dalam memori.
Perlahan Yu Ping bangkit berdiri, ia merasa beruntung tak ada tulangnya yang patah. Kini langkah yang harus ia lakukan adalah keluar dari jurang yang sangat dalam dan gelap ini hidup-hidup.

Komentar Buku (205)

  • avatar
    AkbarAbji

    keren

    28d

      0
  • avatar
    Khairurrizani

    bagus

    11/08

      0
  • avatar
    SILALAHIDESI

    novel yang sgt menarik

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru