Bab 20 UJIAN AKHIR

Hari itu juga Yu Ping menerima seragam baru sebagai murid perguruan Hoa San, rasa bangga menyelimuti hatinya.
Ia bertanya-tanya dalam hati mengapa Guru melakukan itu semua kepadanya.
“Sebentar lagi akan ada pertandingan mencari ketua dunia persilatan dan pendekar nomor satu,” kata Wu Xian setelah acara pengangkatan Yu Ping sebagai murid Hoa San selesai.
Para tetua dan murid mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Aku akan bertapa untuk menyempurnakan ilmuku sampai hari pertandingan tiba. Selama aku tidak berada di sini, jaga persaudaraan di antara kalian, dan saling melindungi!”
“Baik, Guru!” para murid membungkuk hormat.
Wu Xian menghela napas panjang, ia tahu mereka tak sepenuh hati mendengarkan nasihatnya.
“Yu Ping, antarkan aku ke tempat pertapaan!” Wu Xian menoleh pada murid yang paling dikasihinya.
Yu Ping mengangguk cepat, segera mengikuti gurunya meninggalkan aula menuju pertapaan yang letaknya berada di bagian belakang gedung.
“Guru,” Yu Ping memberanikan diri bertanya. “Mengapa tiba-tiba Guru ingin aku menjadi murid Hoa San dan tinggal di sini?”
Wu Xian tersenyum, “Sebenarnya hampir semua ilmuku sudah kuturunkan padamu, menjadi murid Hoa San dan tinggal di perguruan ini adalah sebuah ujian akhir untukmu!”
“Ujian?” Yu Ping memandang Wu Xian penuh tanda tanya.
“Di tempat ini kau akan menghadapi cobaan, aku ingin melihat seberapa besar kau mampu menghadapinya!” Wu Xian memberitahukan ujian yang harus dihadapi.
“Baik, Guru!” Yu Ping mengangguk. “Aku mengerti, akan kuhadapi ujian ini dengan sebaik-baiknya. Aku tak akan mengecewakan Guru.”
“Apabila kau merasa tidak mampu bertahan maka kesulitan juga semakin tak tertahankan. Jadi tetaplah kuat. Jangan putus asa, karena akan ada sinar terang di tengah kesulitan! Setelah itu kau akan menjadi orang yang makin bijaksana.”
Nasihat Wu Xian selalu disimpan dalam hati Yu Ping, tak seperti murid-murid lain yang kerap kali mengabaikannya.
Ketika sudah tiba di depan pintu gerbang pertapaan, Wu Xian menyuruhnya kembali.
Dengan berat hati, Yu Ping meninggalkan sang Guru.
“Heh, Anak Baru!” terdengar bentakan nyaring begitu Yu Ping menginjakkan kaki di halaman. Ia memutar kepala dan melihat murid Pertama dan murid Keempat menghampiri dengan wajah galak.
“Kakak Pertama, Kakak Keempat!” Yu Ping memberi salam dengan sedikit membungkuk. Sikap itu diinterpretasikan sebagai sikap seorang penjilat oleh kedua murid Hoa San itu.
“Jangan kau kira ada Guru Besar yang melindungimu, kami tak berani menghajarmu ya!” desis murid Pertama sambil mendorong bahu Yu Ping. Di luar dugaan tubuh itu terlalu kokoh untuk digerakkan, membuat wajah murid Pertama memerah karena kehilangan muka di depan saudara seperguruan yang lain.
“Maafkan kelancanganku, Kakak Pertama!” sahut Yu Ping dengan sopan. “Sebagai murid baru, aku butuh banyak belajar darimu!”
Ia berusaha memberi muka pada murid Pertama, hal ini tak luput dari tangkapan mata murid Keempat.
Pemuda ini memiliki kerendahan hati, begitu pikirnya. Pantas Guru Besar sangat menyayanginya.
“Sudahlah, Kakak Pertama!” lerai murid Keempat. “Biarkan saja anak itu!”
Tetapi murid Pertama tak peduli, ia tetap mendesak Yu Ping. Pemuda itu memilih mundur beberapa langkah untuk menghindari konflik.
“Kau tahu, tugas-tugasmu sebagai murid baru adalah mengambil air, memasak, dan bersih-bersih!” perintah murid Pertama.
‘Akan aku kerjakan!” jawab Yu Ping sambil tersenyum tulus.
“Bagus, mulai besok pagi-pagi kau sudah harus laksanakan tugasmu. Sekarang pergilah ke kamarmu yang ada di bagian paling belakang!”
Yu Ping mengangguk, ia lega murid Pertama tak berniat adu fisik dengannya. Ia tak ingin mempermalukan murid pertama Hoa San itu.
Setelah kedua kakak tertua itu pergi, barulah Yu Ping menuju kamar yang dimaksud.
Ia cukup terkejut menyadari kamar untuknya bukanlah kamar tidur melainkan gudang tak terpakai yang sangat kotor, berdebu dan banyak sarang laba-laba di setiap sudut langit-langit.
Ada sepasang baju seragam Hoa San di atas meja yang menarik perhatiannya, saat ia bentangkan ternyata robek di sana sini.
Kakak-kakak itu pasti telah dengan sengaja merobek kain seragam itu untuk mempermalukannya.
“Guru mengatakan untuk tetap kuat dan tidak putus asa, apapun yang terjadi!” Yu Ping tersenyum. “Semangat, Yu Ping!”
Pemuda itu mulai bekerja membersihkan gudang hingga menjadi sebuah kamar yang bersih meski sangat sederhana.
Sebuah bangku panjang dari bambu yang masih kokoh ia jadikan alas tempat tidur. Setelah selesai, ia menjahit bajunya yang robek.
Semua dilakukan tanpa mengeluh, karena dianggap sebagai ujian yang harus dilewati dan ia harus lulus.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar ia masih terlelap di atas bangku bambu karena kelelahan ketika tiba-tiba saja seember air disiramkan ke wajahnya.
Yu Ping gelagapan bangun dengan kaget.
“Kakak Pertama?”
“Dasar Pemalas, jam segini masih tidur!” bentak murid Pertama sambil berkacak pinggang. Jelaslah murid Pertama hanya ingin menyiksa Yu Ping agar ia sengsara.
Melihat gudang kotor berubah menjadi kamar yang bersih dalam waktu semalam membuatnya jengkel bukan main.
Apalagi melihat wajah Yu Ping yang tetap teduh dan damai, makin menyulut emosinya.
“Cepat kerjakan semua tugas-tugas yang sudah aku beritahukan kemarin!” murid Pertama melemparkan embernya ke arah Yu Ping yang langsung menangkapnya.
“Jam delapan pagi kami semua sudah harus sarapan!”
“Baik, Kakak Pertama!” Yu Ping mengangguk. Ia menggigil kedinginan karena guyuran air itu mengenai bagian dada ke atas. Puas mengintimidasi Yu Ping, murid Pertama meninggalkan pemuda itu sendirian.
Setelah memastikan kakak seperguruannya telah pergi, Yu Ping menggunakan ilmu sinkangnya melesat menuju sungai untuk menimba air dan kembali dengan cepat pula tanpa menumpahkan air dalam ember ke halaman belakang gedung, mengisi sebuah gentong besar di sana.
Ia bisa melakukannya karena mengerahkan tenaga dalam untuk membuat air di dalam ember tertahan tak bergerak meski ia menentengnya sambil berlari menaiki gunung.
Ia melakukannya bolak-balik dengan cepat hingga gentong terisi penuh.
Setelah itu ia menyapu halaman tanpa menyentuhkan sapunya ke tanah, cukup mengerahkan tenaga dalam dan debu-debu mengikuti aliran angin yang dibawa sapu menuju ke tepi.
Yu Ping melihat ke arah matahari yang mulai bersinar lebih terang, pertanda ia hanya memiliki waktu 30 menit untuk menyiapkan sarapan.
Pemuda itu melesat ke dapur dan mulai bekerja. Memotong sayuran dengan gerakan cepat, menyalakan api tungku. Mencuci beras lalu menanak nasi, kemudian menuangkan minyak dalam kuali besar, memasukkan sayuran ke dalamnya dan mulai menumis.
Gerakannya sangat cepat karena berlatih setiap hari selama tiga tahun, sesuai kitab yang diberikan gurunya.
Setelah siap, ia membawanya ke ruang makan.
Di saat yang tepat, murid Pertama dan yang lain muncul di ruang makan dan terkejut melihat menu sarapan sudah siap.
Murid Pertama melongo, tadi ia sudah memeriksa gentong air yang terisi penuh, halaman yang tersapu bersih, kini masakan yang sudah tersedia. Sungguh aneh, pikirnya.
Benar-benar murid Guru Besar bukan orang sembarangan.
Tiba-tiba seorang murid memasuki ruang makan dengan wajah pucat, “Gawat, ada orang gila di luar!”
Mereka-pun berhamburan keluar menuju halaman depan gedung, diam-diam Yu Ping mengikuti dari belakang.
Sejak kapan di Hoa San ada orang gila berkeliaran? Bukankah gunung ini terisolir? Kecuali … wajah Yu Ping mendadak pucat.
“Bocah Nakal, dimana kau bersembunyi? Guru datang mencarimu … hahaha!”

Komentar Buku (205)

  • avatar
    AkbarAbji

    keren

    28d

      0
  • avatar
    Khairurrizani

    bagus

    11/08

      0
  • avatar
    SILALAHIDESI

    novel yang sgt menarik

    06/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru