"Talak? tidak akan, Haya! Cukup sudah saya berurusan dengan perceraian. Kamu akan tetap menjadi istri saya sampai maut memisahkan kita. Tolong bersabar sedikit lagi, saya sudah berobat dan saya yakin akan sembuh. Kamu jangan mempercayai ucapan Mak Piah. Wanita tua itu bisa-bisanya menyebarkan berita bohong tentang hidupku, padahal dia sendiri tidak bisa mengurus hidupnya. Tolong Haya, percaya saya. Jangan tinggalkan saya." Satria memeluk istrinya dengan begitu erat. Keduanya menangis tersedu untuk beberapa saat. Takdir kembali mempermainkan hatinya. Ya, Haya dan Satria merasa Tuhan tengah mempermainkan perasaan mereka. Saat keduanya sudah dekat dan saling cinta, ujian terus saja datang bertubi-tubi. Entah harus percaya ucapan Mak Piah atau tidak, tetapi pesan Mak Piah cukup mempengaruhi Haya. Wanita itu merasa memang hanya berpisah adalah jalan satu-satunya. "Bang," panggil Haya sambil mengurai pelukan. "Ada apa?" tanya Satria sambil memegang dagu istrinya. "Badan saya rasanya tidak bertenaga sekali. Ini hanya usul, bagaimana kalau kita coba berpisah un ...." "Tidak, Abang sudah bilang, tidak ada perpisahan!" suara Satria meninggi dengan wajah menegang. "Bukan, Bang, saya hanya ingin tahu, jika saya berjauhan dengan Bang Satria, apakah saya baik-baik saja? Apakah penyakit saya sembuh? Saya pergi juga tidak jauh, mungkin di sekitar sini ada kontrakan yang bisa saya tempati sementara. Kita hanya berpisah sejenak, Bang. Saya lelah sakit seperti ini terus-terusan. Abang juga harus kasihan dengan saya dan Samudra." Satria terdiam menanggapi permintaan konyol Haya. Suara isakan istrinya sama sekali tidak membuatnya gentar dan prinsipnya bergeser. Ia ingin Haya tetap menjadi istrinya dan tidak ada perpisahan atau pisah sementara. "Maaf, Haya, Abang tidak setuju! Sudah, kamu jangan terlalu berpikiran yang macam-macam, istirahat saja dan minum obatnya. InsyaAllah besok sembuh dan Samudra bisa kembali kamu urus dengan baik. Abang janji akan menahan diri. Bantu Abang ya," ujar Satria tetap teguh pada pendiriannya. Haya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak bisa memaksakan keinginannya pada Satria, padahal ia sangat ingin melakukannya. Apakah jika dengan berpisah sejenak dengan suaminya, badannya bisa lebih sehat dan segar? Ia rindu bisa menyapu, mengepel, menjaga, dan mengurus Samudra dengan baik, layaknya seorang ibu yang sehat. Namun suaminya tidak memberi ijin dan ia pun tidak bisa untuk tidak menurut. Satria bercerita pada ibunya tentang keinginan Haya tinggal berjauhan dengannya sementara. Siang hari, saat Bu Mae selesai salat Zuhur, Satria menghampiri ibunya di kamar dan menceritakan semuanya. Bu Mae mendengarkan seksama keluhan putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia pun sebenarnya tidak ingin pernikahan kali ini gagal, tetapi apa mau dikata, jika ucapan Mak Piah itu benar. "Kenapa tidak dicoba saja? Kan hanya percobaan, Sat, bukan Haya mau ninggalin lu benar-benar. Gini deh, gimana kalau kita titipin Haya di Bu Fitri dua malam. Dia'kan suaminya jarang pulang, biar Haya di sana dengan Samudra. Biar Ibu yang telepon Bu Fitri. Kita tinggal kasih uang untuk makan Haya dan Samudra. Lu harus tahan diri untuk tidak menemui istri lu. Gimana?" "Ayolah, Nak, ini demi kebaikan istri lu dan Samudra! Paling tidak, sampai Haya benar-benar sehat, nanti baru balik lagi ke sini." Satria tidak punya pilihan jika ibunya sudah memutuskan. Ia mengangguk pelan walau hatinya masih enggan untuk berpisah dari istrinya. Bu Mae pun langsung menghubungi Bu Fitri. Wanita yang lima tahun lebih muda dari ibunya Satria itu tentu dengan senang hati menerima Haya menginap di rumahnya untuk dua malam. Apalagi Bu Mae berjanji memberikan lima ratus ribu untuk Bu Fitri sebagai uang makan menantu dan cucunya untuk dua hari. Malam ini juga, Bu Mae membantu Haya memasukkan pakaiannya ke dalam tas, begitu juga dengan pakaian Samudra. Satria berwajah murung karena mulai malam ini dan dua malam berikutnya ia berpisah dari Haya. "Abang jangan ngambek gitu, saya hanya dua hari tiga malam saja di Bu Fitri. Lagian jarak dari sini ke Bu Fitri hanya lima ratus meter. Jalan kaki juga sampai. Sampai saya sehat, Bang. Abang harus ikhlas dan Rido ya, biar saya juga lekas sembuh," ujar Haya pada suaminya. Satria pun akhirnya mengangguk pasrah. "Abang antar ya?" kata Satria. Haya mengangguk. Lalu dibantu oleh suaminya, Haya berjalan keluar rumah. Satria sudah menggendong Samudra dengan gendongan model di dada. Bayi itu dipakaikan jaket yang menutupi kepalanya. Tak lupa celana panjang dan kaus kaki agar tubuh kecilnya tidak kedinginan. "Bu, Haya pamit ya." Haya mencium punggung tangan Bu Mae, lalu naik ke atas motor suaminya. Tak perlu waktu lama, kurang dari satu menit, Satria sudah sampai di rumah Bu Fitri. Wanita itu sudah menunggu di depan rumahnya ditemani anak lelakinya yang berusia delapan tahun. "Assalamualaikum," sapa Satria ramah. "Wa'alaykumussalam, mari masuk!" Bu Fitri membuka pagar sederhana rumahnya, lalu mempersilakan Satria memarkirkan motornya di pekarangan rumah. Haya turun dari motor dibantu oleh Satria, kemudian dituntun untuk masuk ke dalam rumah. "Aduh, si ganteng Bude, mau nginep ya. Sini, biar sama Bude." Bu Fitri mengambil Samudra dari gendongan Satria. Membawanya masuk ke dalam, lalu diletakkannya di atas kasur kecil yang memang sudah ia sediakan. "Maafin saya jadi merepotkan Bu Fitri," kata Satria dengan perasaan sungkan. "Gak papa, Bang Satria. Saya cuma bisa tolong begini doang. Yah, rumah saya juga gak besar kayak rumah Bang Satria, semoga Mbak Haya dan Samudra betah. Eh, kalau Samudra udah pasti betah karena memang sering sama saya," ujar Bu Fitri dengan senyuman lebar. Satria pun ikut tersenyum. Ia merasa tenang menitipkan Haya di rumah Bu Fitri karena beliau cukup dekat dengan Samudra, selain itu suami Bu Fitri juga tidak ada di rumah, sehingga ia setuju. "Mbak Haya langsung istirahat saja. Kamarnya ada di sebelah sana, tapi gak ada pintunya, hanya pakai gorden pembatas," kata Bu Fitri sambil menunjukkan sebuah ruangan tepat di depan mereka duduk saat ini. "Terima kasih, Bu, mohon maaf saya ngerepotin." Sekali lagi Haya tidak enak hati, tetapi ia tidak punya pilihan selain mencoba yang sejak kemarin terlintas di pikirannya. "Abang pamit ya. Kamu baik-baik di sini." Satria mengecup pipi Haya, lalu berpamitan pada Bu Fitri sambil memberikan lima lembar uang seratus ribuan. Satria pun meninggalkan rumah Bu Fitri dengan penuh pengharapan; agar istrinya bisa sehat kembali saat berjauhan dengannya. Namun jika kembali sakit lagi setelah tinggal bersama dirinya lagi, itu bagaimana nanti saja. Kata Satria dalam hati. Haya sudah berbaring di tempat tidur single berukuran seratus empat puluh bersama Samudra. Kepalanya tidak lagi sakit dan tubuhnya mulai berkeringat. Haya tersenyum senang ketika merasa tubuhnya sedikit ringan. Malam ini adalah malam pertama kali ia tidur dengan nyenyak memeluk Samudra, hingga langit subuh menyinari bumi. Bang, Haya sudah sehat. Ajaib sekali, begitu berjauhan dengan Bang Satria, saya sembuh. Sudah tidak demam dan sakit kepala. Ini saya sedang membuat nasi goreng untuk sarapan, karena Bu Fitri sedang keluar mengantar anaknya sekolah. Send Satria yang baru saja berolah raga ringan di teras rumah, langsung tersenyum senang membaca pesan istrinya. Ia berlari keluar rumah untuk melihat Haya yang katanya sudah sehat. Jika begitu, maka ia tidak perlu tidur sendiri lagi malam ini. "Assalamualaikum," seru Satria dari depan rumah Bu Fitri. "Wa'alaykumussalam." Haya mengenal suara suaminya, ia membuka pintu rumah dan tersenyum senang begitu melihat Satria tampil sangat tampan dengan setelan baju olah raga. Namun tiba-tiba saja kepalanya kembali berkunang-kunang dan perutnya merasa mual. "Kenapa, Ya?" tanya Satria heran. "Bang, sepertinya Abang jangan ke sini dulu, kepala saya kembali sakit saat berdekatan dengan Abang," kata Haya sembari membuka tutup matanya untuk menghilangkan pusing. Ia berbalik dan ... Blam! Haya menutup pintu rumah Bu Fitri dengan cepat. Bersambung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (81)
SukarajaCardiman
ceritanya seru banyak nilai yg bisa di jadikan cermin.juga nanyak lucunya bikim ketawa sendiri.
ceritanya seru banyak nilai yg bisa di jadikan cermin.juga nanyak lucunya bikim ketawa sendiri.
05/07/2022
0bagus
12/12
0bagus
21/11
0Lihat Semua