Jeritan seorang lelaki membuat rumah mewah tersebut gaduh. Beberapa pelayan langsung berlari tergopoh menuju kamar yang ditempati Tuan Besar, wajah mereka pucat saat mendapati Samuel terpuruk di lantai, sisa-sisa jeritannya terdengar menyedihkan, pipi merahnya dibasahi oleh air mata. Beberapa kepala mendongak ke arah plafon, semua kaki langsung selembut jelly, beberapa dari mereka berpegangan atau terjatuh, terpuruk dan ikut menjerit seperti Samuel. Aland mati gantung diri. Tetesan darah dari luka di lehernya membasahi kemeja putih yang dia kenakan. Matanya tertutup rapat, seakan mati dalam keadaan damai. Samuel menepuk-nepuk lantai, suaranya serak. “Papa … Papa ….” Jeritannya menyusul keras, “PAPA! PAPA!” Seperti memerintah jiwa sang Ayah untuk kembali ke jasadnya, tapi sekeras apapun Samuel menjerit dan memohon, semuanya sia-sia. Samuel terbatuk parau, dadanya sempit. Dengan sebelah tangan dicekramnya kuat. Salahsatu pelayan berusaha membawanya ke ranjang, penyakit Samuel kumat. Samuel butuh inhealer dan obat-obatan, tingkat stres yang tinggi membuat kesehatannya memburuk. “Tak apa-apa, Tuan Muda. Tenangkan dirimu, ikhlaskan Tuan Besar.” Usapan lembut seorang wanita tua di kening Samuel yang memanas. Samuel menggeleng-geleng, dadanya menyempit membuat napasnya tidak beraturan. Bola mata Samuel terus bergerak mengarah ke mayat ayahnya yang masih tergantung, belum ada pelayan yang berani menurunkannya. Pelayan wanita tua tersebut menutup kedua mata Samuel dengan tangan berkeriputnya, sekalipun sudah dewasa, melihat hal-hal yang buruk hanya akan menganggu kesehatan Samuel. Sejak kecil semua orang di sekitar Samuel harus membiasakan hal itu. “PAPA! PAPA!” Samuel masih menjeritkan nama ayahnya. Dia memang bisa hidup tanpa Mama, seharusnya juga begitu jika papanya ikut pergi. Tapi bukan berarti, Samuel tidak akan meratapi jika mereka mati di depan mata Samuel. Akhirnya, warga berdatangan dan membantu para pelayan untuk menurunkan mayat Aland yang tergantung oleh tali yang terikat di plafon. Semua iba dan ada tetangga yang ikut menangis. Samuel yang matanya masih ditutup oleh pengasuhnya mengamuk di atas ranjang, dia memukul-mukul daging kasur tapi tidak berani menepis tangan yang menutupi penglihatannya. Karena Samuel juga takut melihat kenyataan untuk kedua kalinya. “OMAR! OMAR!” Samuel ganti menjeritkan nama itu, yang selama ini dia ketahui dalang kenapa ibunya bisa meninggal. “Awas kamu! AWAS SAJA!” *** “Astaghfirullah.” Saat menurunkan diri dari mobil Abizar menghela napas lelah ketika mendapati ayah dan calon istrinya sama-sama molor. Hari nyaris Subuh, di bangku yang dia duduki sedari masuk ke dalam mobil Abizar Omar terlelap seperti mati, wajahnya terlihat gelisah dan banjir peluh, seperti dihantui oleh mimpi buruk. Abizar berusaha membangunkannya, karena kendaraan mereka sudah sampai tujuan. Tepukan pelan sudah Abizar layangkan berulang kali ke lengan dan pipi Omar, tapi mata yang seakan dilem tersebut tidak kunjung membuka. Omar masih bergerak gelisah dalam tidurnya, rintihan samar terdengar dari bibirnya, gerak mulutnya seperti menyebut nama Melati tanpa suara. “Abi, sudah sampai Abi.” Abizar menarik napas kuat dan menghembuskannya. “Abi,” sedikit ditinggikannya suara, tapi Omar susah sekali dibangunkan. “Tidak mungkin aku meneriakkan nama Melati hidup lagi agar kamu bangun ‘kan?” Berdecak pasrah tak ada pilihan Abizar akhirnya memilih untuk menggendong tubuh kekar Omar. Awalnya nyaris tidak mungkin, tapi Abizar mengusahakannya. Dengan sekuat tenaga diangkatnya tubuh lelaki tua tersebut, nyaris seperti menyeret. Sebelum membawanya ke dalam rumah iris mata Abizar memperingatkan Alif yang berdiri menunggui, “titip Mawar sebentar.” Alif mengangguk, ikut melirik Mawar yang terlelap di dalam mobil. “Jangan diapa-apakan.” Abizar berkata tajam, konsekuensinya besar jika yang satu ini Alif berani melanggar. “Tentu saja Tuan,” Alif membuang napas. Seharusnya Abizar tidak perlu sewaspada itu ‘kan? Tipe Alif bukan wajah lokal. “Satu jejak saja sentuhanmu di kulit Mawar, awas saja. Aku sudah lama tidak menghajar orang.” Alif menelan ludah mendengar kalimat terakhir Abizar. Abizar menyeringai sinis, yang terlihat menakutkan di mata Alif. Setelah memastikan Alif tidak ada keberanian untuk macam-macam Abizar kembali menyeret tubuh super besar tersebut ke dalam rumahnya. Awalnya dihempaskannya tubuh Omar ke atas sofa, lelaki itu tidak kunjung bangun. Seakan mimpi buruk tersebut benar-benar memerangkapnya dalam dunia lain. Abizar membuang napas, ditepuknya pipi Omar beberapa kali lagi. Omar hanya bergumam-gumam tidak jelas, dalam hatinya menjeritkan nama Melati. “Anda merepotkan saya Tuan Omar,” Abizar menggendong tubuh itu kembali—tepatnya menyeretnya menaiki anak tangga, Abizar nyaris jatuh karena Omar terlalu berat. Abizar menendang pintu kamar hingga terbuka, dibaringkannya Omar ke ranjang super besar yang mungkin lembutnya akan membawa Omar ke dalam mimpi indah. Tapi raut sedih di wajah lelaki tua itu tidak kunjung pudar, Abizar penasaran apa yang lelaki itu mimpikan. Abizar ingin pergi, tapi langkahnya tertahan. Rasanya tidak mungkin meninggalkan Omar dalam keadaan seperti ini. Sekali lagi Abizar menghela napas, diusapnya kening dingin sang Ayah, sedikit menyisiri rambutnya dengan sayang. Sebenarnya Abizar menyayangi lelaki ini sebagai ayahnya, tapi jika menyangkut perkara wanita dan Melati, Omar selalu membuatnya sebal dan kecewa. Abizar mendekatkan bibirnya ke daun telinga Omar, membisikkan Al-Fatihah dan beberapa surat untuk memudarkan mimpi buruk lelaki itu, setidaknya ayat Tuhan akan menariknya kembali jika terjebak dalam kenangan buruk yang menjelma menjadi mimpi. Air mata Omar meleleh, tapi berangsur wajah itu damai. Tapi bibirnya masih bergerak-gerak samar, menyebut nama Melati dengan kesan yang berbeda. Abizar tersenyum tipis, kembali diusapnya kening Omar yang menghangat. “Sampai akhir hayatnya, Ibu masih sangat mencintaimu, Tuan Hafshan.” Abizar mengambil selimut tebal di kamar sebelah, sepertinya Mawar juga akan tidur mati seperti Omar—susah dibangunkan. Tak ada pilihan daripada membiarkannya tidur di mobil seharian. Alif bingung saat melihat Abizar membawa selimut lalu membentangkannya di tubuh Mawar. Abizar membalut tubuh Mawar dengan selimut tersebut, lalu dengan sekuat tenaga mengangkat tubuh Mawar. Perlu menghindarkan sentuhan kulit agar otak Abizar tidak berkelana, tapi ternyata posisi seperti ini masih mengusik hatinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (94)
Wati Purnawati
ceritanya bagus kak. lanjut up ceritanya kak.....😊
29/05/2022
0
RamadhaniOcta putri
novel yg bagus dan alur nya gk bikin bingung patut di kasi bintang 5😊😊 btw ada kelanjutannya gk
10/04/2022
2
Syasya Liana
novel nya menarik banget 🥺semngt terus tulis novelnya☺️
ceritanya bagus kak. lanjut up ceritanya kak.....😊
29/05/2022
0novel yg bagus dan alur nya gk bikin bingung patut di kasi bintang 5😊😊 btw ada kelanjutannya gk
10/04/2022
2novel nya menarik banget 🥺semngt terus tulis novelnya☺️
09/04/2022
0Lihat Semua