logo text

54: Perjanjian Dengan Omar

Pukul empat pagi, Abizar melirik spion belakang. Mawar sudah terlelap nyenyak, dengkurannya begitu halus. Dengan suara pelan Abizar memerintah Alif untuk membelok arah ke suatu tempat. Abizar menurunkan diri di makam ibunya, Alif yang awalnya ragu akhirnya mengikuti tuannya. Meninggalkan Mawar seorang diri, yang sebelum Abizar turun sudah diselimuti oleh lelaki itu.
Sebelum ke Saudi membawa Mawar dan entah kapan pulang, Abizar ingin berpamitan ke makam ibunya terlebih dahulu. Langkah Abizar berhenti saat menemukan seseorang duduk bersimpuh di sebelah makam, lelaki yang menjadi tujuan kenapa Abizar ingin berangkat ke Saudi. “Abi?” Omar menoleh kaget, kitab di tangannya langsung ditutup, bait ayat yang dia baca sambil berlinang air mata sudah berhenti.
“Abizar?”
“Abi kenapa di sini? Di Semarang? Di makam Ibu?” Langkah Abizar sedikit mengentak, didekatinya sang Ayah yang tersenyum miris.
“Abi hanya ingin berziarah, entah kenapa Abi mendadak merindukan ibumu ….” Mata merah Omar mengalirkan beberapa aliran sungai kecil.
“Sejak kapan Abi di Indonesia?” Suara Abizar terujar dingin.
“Tadi siang.”
“Dan sejak kapan Abi di makam Ibu?”
“Sejak tadi siang juga.”
Abizar menahan napas, mendengarnya entah kenapa Abizar ikut terluka. “Bukannya Abi bilang hanya akan terluka jika berziarah ke makam Ibu? Karena yang terkubur di sana bukan mantan istrimu seorang.”
“Abi lebih terluka jika tidak mengobati rindu, Abi sudah cukup bodoh karena bertahun-tahun menahan keinginan untuk menemuinya, mendoakannya, membuat kesehatan Abi semakin memburuk, tapi saat Abi menginjakkan kaki di sini, Abi memang cemburu tapi di sisi lain Abi begitu lega ….” Tangan besar Omar mengusap kepala makam, nama Melati terukir rapi di sana meskipun bersanding dengan nama pria lain. Omar tidak bisa menahan air matanya, dengan isakan samar di bibir kepalanya mendekati batu nisan tersebut, menciumi namanya, mengingatkannya pada masa-masa indah dahulu, saat kening dan bibir Melati adalah tempat terfavorit bagi Omar.
“Sudah berapa kali Abi berziarah ke makam Ibu?” Abizar kembali bertanya.
“Sebelas kali termasuk kali ini, untuk pertama kali saat kamu sendiri yang membawa Abi ke sini, Abizar.”
“Berarti sudah sepuluh kali Abi ke Indonesia dari Saudi diam-diam untuk menziarahi makam Ibu?”
Tebakan yang tepat sasaran, Omar mengangguk. Senyumnya terulas.
“Setelah ini apa lagi yang menjanggal hati Abi?” Abizar bertanya.
Omar menarik kepalanya yang bersandar di kepala nisan Melati, lelaki itu menatap Abizar dengan pandangan rumit. “Maksudmu?”
 “Aku tahu Abi pasti mengerti maksudku. Setelah berhasil menahan cemburu untuk berziarah ke makam Ibu, apakah ada hal lain yang masih menjanggal hati Abi?”
“Entahlah,” Omar seperti tidak senang membahasnya. Kedua lengan kokohnya kembali melingkari makam Melati, Omar mencium kepala nisannya dengan sayang. “Hanya saja … apa yang terkubur di sini, bukan Melati yang utuh. Ada bagian terpenting lain yang hilang darinya dan tak tahu dimana, aku ingin mencarinya, melengkapi rasa rinduku.”
Omar menghembuskan napas lelah. Selama ini dia selalu mencari, kepada siapa brengsek itu menjual jantung mantan istrinya? Selain bibir dan kening, jantung Melati adalah tempat favorit Omar. Selama mereka menikah, Omar selalu membenamkan kepalanya ke dada Melati untuk mendengarkan detak jantungnya, apakah berdebar begitu keras saat Omar ada di dekatnya, bukti cinta itu ada.
“Maksud Abi, jantung Ibu?”
Omar menoleh terkejut. Tidak menyangka, Abizar tahu itu. Omar menelan saliva, kepalanya mengangguk.
“Aku tahu kepada siapa lelaki itu menjual jantung Ibu, aku baru saja tahu.”
Omar langsung bangkit berdiri, matanya berkaca-kaca. Dicekramnya kedua bahu Abizar, Omar seperti diberi harapan. “Kamu tidak berbohong, Abizar?”
“Abi ingin tahu?”
Kepala Omar mengangguk kuat, “tentu saja. Akan kulakukan segalanya asal kamu memberitahuku, agar aku bisa menemukan serpihan terakhir dari wanitaku untuk melengkapi rasa rindu ini.” Saat bulu mata lebatnya mengerjap, aliran sungai tersebut pecah. Balik terbayang di kepala Omar, saat dia kembali dari Saudi ke Amerika ditemukannya Melati sudah tidak bernapas dalam keadaan dada kosong, tak ada jantung yang melengkapi di sana. Bayangan itu selalu menjadi mimpi buruk Omar setiap tidur, karena sampai sekarang Omar belum kunjung bisa menemukan jantungnya Melati yang hilang.
“Ada syaratnya, Abi.” Abizar tersenyum misterius. “Maaf jika aku terdengar seperti anak yang durhaka. Tapi, aku harus mengambil sedikit kesempatan di sini, agar saat Abi bahagia aku juga bisa bahagia.”
“Apa?” Omar terlihat tidak sabar.
“Wanita itu,” Abizar mengarahkan kepalanya ke mobil, ada Mawar di sana, yang masih terlelap. “Izinkan aku menikahinya.”
“Silahkan saja, Abizar. Aku tidak pernah melarang—”
“Hanya dia, izinkan aku mengabaikan tradisi.”
Omar terdiam sebentar.
“Jangan dorong aku untuk melakukan kesalahan yang sama denganmu. Biarkan aku bahagia berdua saja dengannya, sampai akhir hayatku jangan memaksaku menikahi wanita manapun lagi. Cuma dia. Dukung aku menikah dan berbahagia hanya dengan dia. Seharusnya ini tidak sulit untukmu, Abi. Sekali lagi maaf jika di matamu aku seperti anak yang durhaka.”
Suara berat Omar menyanggupi, “baiklah … lakukan apapun yang kamu mau, Abizar.” Tubuh Omar bergetar, mata cekungnya terlihat memohon. “Tapi cepat beritahu aku … dimana jantung Melati? Agar aku bisa tenang setelah ini.” Omar terbatuk, Alif panik ingin membawakannya air minum. Omar mengangkat tangannya, meminta Alif untuk mengabaikannya. Omar bersikap seakan dia baik-baik saja.
“Abi masih kurang meyakinkan,” Abizar menyeringai.
“Jadi aku harus bagaimana agar terlihat meyakinkan?” Omar menyahut lantang.
Abizar mengambil Al-Qur’an di pangkuan Omar, lalu membentangkannya di atas kepala Omar, sekalipun kelakuan tersebut cukup kelewatan. Omar hanya bisa menghela napas memaklumi. “Bersumpahlah menggunakan nama tuhanmu, untuk memberikanku restu tanpa berubah pikiran. Dan tidak akan pernah mengusik kehidupan rumah tanggaku dengan Mawar, terlebih menyuruhku menikahi wanita-wanita lain. Bersumpahlah, Abi.”
Sekalipun berat, karena janji menggunakan nama Tuhan itu tidak main-main. Omar akhirnya menyanggupi, diambilnya kitab tersebut dari cekraman tangan Abizar. Oleh Omar, diletakkannya ke atas kepalanya sendiri. “Demi Allah, saya Omar Hafshan bersumpah. Akan memberikan restu untuk Abizar dan pasangan pilihannya. Tidak akan mengusik kehidupan rumah tangga mereka dan tidak akan mencarikan wanita-wanita lagi untuk Abizar.”
Abizar mengulum senyum. Ini berita bahagia, langkah lebar untuk mantap menikahi Mawar.
“Selesai, Abizar. Jika menggunakan nama Allah, aku takkan pernah mengingkarinya. Sekarang kamu yang tepati janjimu.”
“Tenang saja Abi tapi untuk sekarang kita pulang dan istirahatlah lebih dulu, harus ke luar Semarang jika ingin menemuinya.”
“Aku tidak bisa tidur,” Omar menyangkal. “Beritahu saja aku, biar aku pergi sendiri.”
“Ayolah Abi,” Abizar berkata manis, dicekramnya kedua bahu kokoh ayahnya untuk dibawa pergi bersamanya. “Kita pulang dan istirahat, setelah itu baru akan kuberitahu, biar aku yang mengantarmu. Jika dibiarkan Abi bertindak sendiri, jujur saja aku mengkhawatirkanmu.”
“Kamu tidak menipuku ‘kan Abizar?” Omar bertanya curiga. Akan dicabutnya sumpahnya jika ternyata Abizar sengaja membohonginya.
“Tentu saja tidak. Jika aku berbohong, dimana aku tahu yang Abi maksud adalah jantung Ibu yang dijual suaminya saat Ibu koma. Dan dimana aku tahu, kalau sebenarnya Abi ada di tempat saat Ibu kecelakaan, bahkan Abi menetap lama di Amerika menunggu Ibu sadar.” Abizar mendorong tubuh ayahnya perlahan untuk masuk ke dalam mobil.
“Dimana kamu tahu itu, Abizar?” Omar terdengar sendu. Apa yang dia tutupi, akhirnya diketahui oleh anak sulungnya. Padahal Omar sudah berusaha keras merahasiakannya.
“Yang penting aku tahu apa yang Abi cari.” Terdengar santai, Abizar mendudukkan Omar ke bangku sebelah setir yang tadi dia duduki. Abizar berpindah ke belakang, di sebelah Mawar yang masih terlelap. Alif kembali ke posisinya sebagai pengendara.
Omar menoleh ke belakang, memerhatikan Abizar yang sedikit menggeser tubuh agar berjauhan dari Mawar. Igauan gadis itu meresahkan, kepala yang tadinya bersandar di kaca malah terhuyung dan jatuh ke pangkuan Abizar. Sambil menggigit daging mulut Abizar dengan perlahan menyingkirkan kepala Mawar. Abizar mengambil tasnya sebagai bantal pengganti untuk gadis itu. Gerakan Abizar yang salah tingkah karena wanita pujaannya membuat Omar tersenyum tipis.
“Kalian cocok juga, ternyata.” Omar memuji dari tempat duduknya, wajah lelaki itu sedikit pucat.
“Tentu saja,” Abizar membanggakan diri.
“Kamu yakin dengan pilihanmu, Abizar?”
“Sangat yakin,” Abizar tentu saja tidak akan membantah.
“Kamu tidak takut suatu saat dia akan meninggalkanmu?”
“Mawar tidak akan meninggalkanku jika aku tidak membuatnya memiliki alasan untuk itu.”
“Bagaimana jika dia meninggalkanmu? Seperti yang Melati lakukan padaku, padahal kupikir kami akan mengusahakan satusama lain. Tapi aku dan dia ternyata sama-sama menyerah, dia pergi dan aku biarkan dia pergi.”
“Jika Mawar berani meninggalkanku tanpa alasan akan kukejar dia. Kujerat, kutahan dan takkan pernah kulepaskan.” Andai Mawar mendengarnya secara langsung, pasti gadis itu akan bergidik ketakutan. Ancaman Abizar tidak main-main. Dikejar, dijerat dan ditahan oleh Abizar tidak sesederhana yang terdengar di telinga. Abizar akan melakukan hal lebih agar Mawar tidak bisa kemana-mana.
“Emangnya bisa mengejar perempuan yang tidak mau kamu kejar?” Mendengar keteguhan Abizar, Omar menyayangkan masa lalu. Andai dia seegois itu, Melati kabur Omar seharusnya kembali mengejar, menjerat, menahan dan takkan pernah melepaskan seperti yang Abizar katakan. Setidaknya keegoisan membuat rumah tangga mereka kokoh.
“Tangkap dulu, baru nanti dijinakkan.” Abizar tertawa gemas. “Jika nyatanya dia tidak bahagia saat bersamaku, maka akan kulepas. Tapi kupikir, Mawar bahagia. Makanya akan ‘kusekap’ selamanya. Dia adalah bunga yang banyak diincar serangga lain, Beezar tidak mau kalah saing.”

Komentar Buku (94)

  • avatar
    Wati Purnawati

    ceritanya bagus kak. lanjut up ceritanya kak.....😊

    29/05/2022

      0
  • avatar
    RamadhaniOcta putri

    novel yg bagus dan alur nya gk bikin bingung patut di kasi bintang 5😊😊 btw ada kelanjutannya gk

    10/04/2022

      2
  • avatar
    Syasya Liana

    novel nya menarik banget 🥺semngt terus tulis novelnya☺️

    09/04/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru